
Karin masuk kedalam rumah selepas kepergian Reynald ke hotel.
Di ruang tamu, Mama Dahlia sedang menelpon kakak pertama Karin yang menetap di Bandung, kota asal keluarga Karin.
Mama Dahlia memang sudah memberi tahukan perihal permasalahan yang menimpa Karin, mama juga menuturkan kalau Karin akan segera menikah dalam waktu dekat. Tapi ternyata harus secepat dan semendadak ini pernikahannya.
"Gimana Bu,? Anton bisa datang.?" Tanya Pak Dadang begitu Mama Dahlia mematikan sambungan telponnya.
"Alhamdulillah bisa, mereka lagi siap - siap mau langsung kesini,,"
Raut wajah keduanya terlihat lega.
Meski pernikahan dengan cara seperti ini tidak pernah di inginkan oleh orang tua manapun di dunia, namun kedua orang tua Karin mencoba untuk ikhlas menerima semua yang sudah terjadi. Tapi bukan berarti mereka tidak kecewa dan terluka. Siapapun pasti akan terluka jika anaknya mengalami kejadian buruk seperti ini.
"Si aa songong, kaku, nggak punya akhlak, kemana neng.?" Tanyanya pada Karin. Pak Dadang menyebutkan 3 julukan sekaligus pada calon menantunya itu. Karin sampai melongo mendengarnya.
"Lagi ke hotel depan komplek Pak, katanya mau pesan kamar,," Jawab Karin santai.
"Pesan kamar buat apa neng.?" Rupanya Pak Dadang juga tidak paham tujuan Reynald memesan kamar di hotel. Mereka tidak berpikir sejauh itu pada pasangan pengantin yang menikah karena terpaksa keadaan, terlebih pernikahannya yang mendadak.
Lain cerita kalau mereka sudah menjalin hubungan sebelumnya, dan sudah lama merencanakan pernikahan. Pasti Pak Dadang akan paham tujuan mempelai pria memesan kamar hotel di hari pernikahannya.
"Ya buat malam pengantin lah Pak, masa gitu aja nggak tau sih Pak,,," Celetuk Radit.
Karin dan kedua orang tuanya nampak kaget dengan mata yang membulat sempurna.
Seketika mereka langsung mengingat Reynald dengan perasaan kesal yang menggebu.
Terlebih Pak Dadang, dia terlihat geram dengan calon menantunya yang masih memikirkan malam pengantin dengan situasi yang rumit seperti ini.
"Dasar calon menantu tidak tau diri.! Sudah berbuat salah, masih sempat - sempatnya memikirkan kesenangan sendiri.! Awas saja nanti!.!" Geram Pak Dadang dengan emosi yang meluap.
"Sabar Pak,, jangan emosi,," Mama Dahlia mengusap - usap punggung Pak Dadang.
"Sabar gimana Bu.? Calon menantu kita itu nggak waras. Kita nikahkan mereka itu tujuannya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, juga untuk menghindari omongan buruk tentang anak kita. Tapi si songong itu malah mencari kesempatan,,!"
Tentu saja Pak Dadang tidak terima kalau Reynald langsung melakukan hubungan suami istri pada Karin.
Sementara itu Karin terlihat melamun dengan raut wajah yang terlihat ketakutan. Dia tidak bisa membayangkan Reynald akan melakukan penyatuan lagi dengannya. Terlebih saat ini dia sedang mengandung. Pasti akan berbahaya untuk kehamilannya. Karna Reynald selalu melakukannya dengan cara yang terbilang kasar.
"Iya tapi Bapak nggak usah marah - marah. Nggak baik buat kesehatan Bapak,," Mama Dahlia mencoba untuk menenangkan suaminya.
"Pokoknya Bapak nggak akan ngijinin dia bawa kamu ke hotel neng.!" Tegas Pak Dadang.
"Biar saja laki - laki songong itu tidur sendirian di hotel.!" Geramnya.
"Radit setuju Pak. Kalau perlu, jangan biarin Karin tinggal serumah sama dia.!" Usul Radit.
"Setidaknya sampai Karin akan melahirkan,,"
Radit mulai mengompori Bapaknya. Sejujurnya Radit juga kesal dan tidak terima Adiknya dihamili oleh laki - laki sombong seperti Reynald.
"Bapak juga kepikiran seperti itu,," Ucapnya lirih.
"Bapak belum percaya sepenuhnya kalau dia bisa menjaga kamu neng. Bagaimana kalau nanti dia nyakitin kamu,," Tuturnya. Ada kecemasan di wajah Pak Dadang.
"Jangan begitu Pak, gimanapun mereka kan nantinya sudah sah menjadi suami istri, kita yang dosa kalau nggak ngijnin mereka tinggal bersama Pak."
"Kalau Karin sudah menikah, berarti bukan menjadi tanggung jawab Bapak lagi. Melainkan tanggung jawab Reynald. Jadi Bapak menyerahkan Karin sepenuhnya pada menantu kita nanti."
Jelas mama Dahlia lembut.
"Tapi Bu, keadaan Karin saat ini sedang hamil muda. Kalau dia tinggal satu rumah, takutnya bahaya buat kehamilan Karin,,"
"Karin bisa pasti menjadi diri dan kehamilannya Pak, Bapak nggak usah khawatir,," Ujar mama Dahlia.
Pak Dadang hanya bisa menghela nafas berat.
...***...
Sore itu semua orang sudah berkumpul di rumah Karin. Termasuk keluarga kakak pertama Karin yang baru datang dari bandung.
Kedua orang tua Reynald juga sudah ada di sana.
Sedangkan Jeje dan Kenzo baru saja datang setelah membeli baju formal, juga pergi ke salon untuk memoles sedikit makeup di wajah Jeje.
Sementara itu, Karin sedang di rias oleh MUA. Kebaya elegant warna putih, melekat cantik di tubuhnya. Perutnya masih terlihat rata, memperlihatkan kesan seksi dari pemilik tubuh putih itu.
Reynald sudah rapi dengan setelan jas berwarna navy. Dia menatap sekilas wajah Karin dari pantulan cermin. Cantik dan baik memang, tapi hatinya tidak bisa terbuka untuknya meski ada darah dagingnya di rahim wanita cantik itu.
Menikahi Karin adalah bentuk tanggung jawabnya, juga untuk memberikan kehidupan yang layak bagi calon anaknya.
"Kariiinnn,,," Suara ceria Jeje memecah keheningan di kamar itu. Karin menoleh, tersenyum pada Jeje yang mendekat ke arahhya.
"Ya ampun,,, cantik sekalinya pengantin,," Puji Jeje.
"Kamu lebih cantik Je,," Sahut Karin.
"Itu karna aku ke salon. Aku nggak inget kalau ada MUA disini, harusnya sekalian di make up disini saja tadi,," Ujar Jeje lalu terkekeh.
"Selamat ya Rin, semoga kamu selalu bahagia."
Jeje mendekatkan wajah pada Karin.
"Ingat, kamu harus cuek dan buat kak Reynald yang jatuh cinta lebih dulu sama kamu." Bisik Jeje mengingatkan. Karin mengangguk cepat, meskipun dia masih bingung bagaimana untuk membuat Reynald jatuh cinta padanya.
Kenzo melirik Reynald yang sedang duduk melamun. Kenzo yang awalnya hanya ingin mengantar Jeje ke kamar Karin, kini ikut masuk kedalam dan menghampiri Reynald.
"Kamu tau bagaimana rasanya di khianati, jadi jangan coba - coba untuk bermain - main dengan pernikahan ini. " Suara tegas Kenzo membuyarkan lamunan Reynald. Dia menatap Kenzo masih dengan pikiran kosong.
"Jeje akan ikut terluka kalau melihat sahabatnya terluka. Dan kamu tau apa akibatnya kalau sampai membuat istriku sedih.!" Geram Kenzo penuh penekanan.
Dia sudah bisa menebak ada yang ada dalam pikiran Reynald tentang pernikahan yang akan dia jalani saat ini. Laki - laki itu tidak pernah serius dengan wanita manapun setelah di khianati kekasihnya.
"Jangan bawa - bawa masalah pribadi dengan pekerjaan Ken. Kalian juga tidak bisa seenaknya mengatur hidupku dan perasaanku,," Sahutnya tidak terima.
"Aku bisa melakukan apapun kalau sudah menyangkut istriku. Termasuk mencampur adukan masalah pribadi dan pekerjaan." Tegas Kenzo lagi.
"Jadi berhenti untuk main - main dan mulai tata kembali hatimu yang sudah mengeras.!"
Reynald menghela nafas kasar. Dia saja masih belum bisa menghapus luka di hatinya, tapi Kenzo dengan mudahnya menyuruh untuk menata hati.
Terkadang sakit hatinya orang yang setia akan sulit untuk disembuhkan. Dan akan sulit untuk melupakan.
Memang ada banyak cara untuk melupakan dan menyembuhkan luka, namun tidak mudah untuk menghapus cinta yang sudah lama terpatri. Kecuali ada seseorang yang mampu menghadirkan cinta yang lebih besar.
...****...
Semoga sama - sama suka dengan kisah Jeje - Kenzo dan Karin - Reynald, nggak hanya berpihak pada satu pasangan saja.
othor bingung kalo harus ngikutin kemauan kalian satu². Karna ada yang minta di banyakin ceritanya Kenzo, ada yang minta di banyakin ceritanya Reynald.
Cerita Nicho sama Felly juga sebentar lagi bakal di selepin, karna udah ada beberapa yang minta.
...Sekali lagi tidak ada novel khusus untuk cerita Karin dan Reynald. Cerita mereka bakal tetap gabung disini sampai selesai....