
Kenzo Pov
Berpisah selama hampir 20 tahun dengan mama dan adikku, rasanya begitu menyiksa. Aku menjalani hari bersama papa tanpa lepas dari bayangan kedua wanita yang sangat aku cintai. Tidak mudah memendam semua ini selama belasan tahun. Aku yang saat itu hanya bocah laki - laki berumur 10 tahun, hanya bisa menangis setiap malam karna merindukan mama dan adik kecilku yang saat itu baru berusia 3 tahun.
Aku rindu kasih sayang mama, rindu akan perhatian dan kelembutannya.
Dulu mama mengurus ku dengan saat baik. Bahkan ketika aku sudah berumur 10 tahun, mama masih selalu datang ke kamarku setiap malam. Hanya untuk memastikan aku sudah tidur atau belum.
Tak jarang mama menemaniku sampai aku terlelap, sekalipun saat itu sudah ada Felicia. Mama tidak pernah menomor duakan ku. Perhatian dan kasih sayang mama pada ku dan Felicia tidak pernah dibedakan. Kami sama - sama menjadi prioritasnya.
Selama ini kami berempat hidup dengan bahagia. Papa bahkan sangat senang dengan hadirnya Felicia kedunia ini. Memiliki putri yang cantik dan menggemaskan adalah kebanggaannya. Terlebih wajah Felicia sangat mirip dengan mama, wanita yang sangat papa cintai seumur hidupnya.
Kehancuran keluarga kami berawal pada saat Felicia sakit dan mengharuskan dirinya untuk dilakukan tes darah. Saat itulah kenyataan pahit membuat papa sangat murka dan hancur.
Felicia memiliki golongan darah yang tidak dimiliki oleh mama dan papa.
Mengetahui ada sesuatu yang janggal, papa langsung melakukan tes DNA terhadap Felicia.
Dan seperti inilah faktanya. Keluarga kami tidak akan mungkin berpisah jika Felicia adalah anak papa.
Ternyata saat itu bukan hanya papa saja yang tidak percaya, mama pun tidak percaya akan hal itu.
Papa langsung memberikan tuduhan pada mama. Menuduhnya berselingkuh di belakangnya. Namun mama membantah, dan memberikan penuturan yang mengejutkan.
Orang kepercayaan papa lah yang sudah melakukan perbuatan biadab pada mama. Berawal dari rasa sakit hatinya terhadap papa, karna papa pernah mengeluarkan kata - kata kasar saat dia melakukan kesalahan. Hingga akhirnya dia balas dendam dengan cara melakukan hubungan terlarang bersama mama. Dia memberikan mama obat perangsang dan memaksanya untuk melakukan hubungan terlarang itu.
Mama yang saat itu ketakutan, hanya bisa menyuruh papa untuk tidak lagi mempekerjakan orang itu dengan alasan dia tidak lagi lagi dan seenaknya sendiri.
Mama tidak berani berkata jujur pada papa, karna dia juga merasa bersalah padanya. Mama takut papa akan meninggalkannya jika menceritakan kebenaran yang terjadi.
Mama tidak pernah berfikir jika perbuatan biadab orang itu akan menumbuhkan benih di rahimnya.
Meskipun papa sudah memenjarakan orang itu, lantas tidak membuat papa bisa memaafkan dan menerima mama begitu saja, meskipun itu bukan kesalahan mama.
Papa menyuruh mama untuk meninggalkan Felicia di panti asuhan dan menyuruh mama untuk melupakan Felicia selamanya. Dalam artian, menganggap bahwa Felicia tidak pernah terlahir dari rahimnya.
Sebagai seorang ibu, mama tentu saja keberatan dengan persyaratan yang di ajukan oleh papa.
Meskipun mama membenci ayah biologis Felicia, tapi Felicia tetaplah darah dagingnya. Anak yang keluar dari rahimnya dalam keadaan suci.
Aku menemukan keberadaan mama dan Felicia, 1 tahun yang lalu. Keadaan mereka berbanding terbalik denganku yang serba mewah. Sedangkan mereka hanya tinggal dirumah yang sangat kecil dan tidak layak menurutku. Di tambah kondisi mama yang sakit keras. Beruntung aku tidak terlambat menemukan mereka, jika saja aku terlambat, mungkin aku tidak akan bisa melihat mama lagi.
Aku langsung membawa ke Singapura untuk mendapatkan pengobatan medis. Beberapa bulan yang lalu Beliau sempat kritis dan koma, namun kini kondisinya sudah membaik dan hanya butuh waktu untuk pemulihan.
...***...
Saat ini aku sedang mengajak Felicia berlibur ke Bali. Sejak bertemu kembali dengannya, aku memang sering mengajaknya berlibur atau sekedar makan diluar. Aku yakin selama ini Felicia jarang berlibur ataupun makan di luar. Karna selama ini mereka hidup sederhana, bahkan kekurangan.
Aku tidak bisa membayangkan sesulit apa kehidupan mama dan Felicia selama ini. Terlebih mama yang harus berjuang sendiri untuk menghidupi Felicia.
Wajar saja kalau mama sakit. Aku yakin mama tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, dia terus bekerja keras demi Felicia.
Liburanku bersama Felicia ternyata mampu membuat Jeje terbakar cemburu. Pertemuan tidak sengaja itu membuatku akhirnya mengutarakan perasaanku padanya. Aku melupakan satu hal yang penting, bahwa Jeje gadis remaja yang memang butuh pengakuan langsung.
Aku pikir dia tau arti dari perhatian dan kasih sayangku padanya selama ini karna aku memiliki perasaan padanya. Nyatanya dia tidak pernah berfikir sejauh itu. Dia masih saja menganggap hubungan kami hanya sebatas tanda tangan diatas kertas sebagai sugar baby dan sugar daddy.
Padahal sudah lama aku merobek surat perjanjian itu.
Dan disinilah gadis cantik yang menggemaskan itu. Dia memelukku dengan erat, membenamkan wajahnya di dadaku. Aku hanya bisa mengulas senyum, juga memberikan usapan lembut pada punggungnya. Gadis cantikku yang malang,,, meski tidak semalang Felicia yang harus hidup kesusahan.
"Bukannya mau beresin baju.? Kenapa malah ikut tiduran,,"
Jeje langsung mendongakkan wajahnya untuk menatapku. Mata beningnya selalu memberikan keteduhan dalam hatiku.
"Males banget om. Nggak pengen pulang dulu,," Tuturnya dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih.
Aku paham dia masih ingin menghabiskan waktu bersamaku setelah beberapa minggu kami tidak bertemu.
"Besok aku pulang. Kamu bisa tunggu di apartemen jam 10,,"
Matanya berbinar setelah mendengarku menyuruhnya untuk datang ke apartemen besok pagi.
Burung beo ini benar - benar sangat ekspresif. Aku bisa dengan mudah menebak apa yang sedang dia rasakan. Dia tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Tapi aku lebih suka dia seperti itu. Aku akan lebih mudah memahaminya.
"Siap boss,,,!" Ujarnya sembari hormat. Senyumnya merekah, tidak ada lagi kesedihan dimatanya.
"Aku beresin baju dulu yah, om Ken jangan kemana - kemana, tetep disini,," Dia mengecup singkat pipiku, kemudian langsung turun dari ranjang.
Seperti itulah dia. Sikapnya membuatku ingin terus tersenyum saat berada di dekatnya.
Aku merasa hampir 90 persen keberuntungan berpihak padaku, karna hadirnya dia dalam hidupku.
Aneh memang, tidak pernah terbayangkan olehku cinta ini akan berlabuh pada gadis belia yang baru berusia 18 tahun. Perbedaan usia yang sangat jauh denganku, yaitu 12 tahun. Tapi itulah cinta, tak mandang usia. Dimana ada kenyamanan dan kebahagiaan, disitu akan tumbuh rasa cinta.
Aku hanya memperhatikan dia yang sedang sibuk memasukan baju kedalam koper berwana pink miliknya.
Aku tau selama ini dia merasa tidak dipedulikan dan di perhatikan oleh kedua orang tuanya. Sampai akhirnya dia memilih untuk mencari kebahagiaan dengan menjadi sugar babyku.
Begitu selesai memasukan semua baju dan barang - barang miliknya, dia menyeret koper hingga berhenti didekat pintu. Membiarkan koper itu berdiri disana, lalu berjalan menghampiriku.
"Om,,, nanti bujuk kak Fely biar mau kembali sama kak Nicho lagi ya,," Pintanya memohon.
"Aku nggak mau ikut campur Je, Fely berhak menentukan pilihannya sendiri. Aku hanya akan turun tangan kalau kakak kamu menyakitinya,,"
Aku tidak tau kenapa Jeje sangat berharap mereka bersatu lagi.
"Tapi om,, mereka itu saling mencintai. Asal om tau, kak Fely itu cinta pertamanya kak Nicho."
"Masa om tega sih ya membiarkan cinta pertama nggak bersatu."
Dia terus percaya untuk membuatku mengabulkan keinginannya.
"Kamu nggak perlu mengkhawatirkan hubungan mereka. Kalau kakak kamu benar - benar mencintai Fely, dia pasti akan membuat Fely kembali lagi,,"
Aku bangun dan ikut duduk di sebelahnya, lalu merangkul bahunya.
"Berhenti memikirkan mereka. Apa gunanya ada aku disampingmu kalau kamu memikirkan orang lain,,"
Ujarku untuk menggodanya. Tidak segala rasanya melihatnya terus terlihat sedih.
"Ya ampun om,, kenapa jadi puitis begini,," Katanya sembari menahan tawa.
Aku mendekat dan langsung mencium singkat bibirnya.
"Aku serius. Pikirkan aku saja, jangan pikirkan orang lain."
Dia masih diam mematung setelah aku menciumnya secara tiba - tiba.
"Aku keluar dulu, mungkin sebentar lagi Nicho bakal manggil kamu,," Ku usap pucuk kepalanya dengan lembut. Entah kenapa aku sangat suka mengusap kepalanya. Ada kebahagian tersendiri saat aku melakukannya dan melihat mata teduhnya memancarkan sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh hati.
"Hati - hati dijalan, kabari aku kalau sudah sampai,,,"
Saat aku akan beranjak, dia menahan tanganku. Dalam hitungan detik, dia sudah menghambur ke pelukanku dalam keadaan masih duduk di sisi ranjang. Sedangkan aku berdiri didepannya.
"Makasih om,,," Ucapnya terdengar tulus dengan suara yang sedikit bergetar menahan tangis.
Aku membalas pelukannya, mengusap punggungnya dengan perlahan.
"Untuk apa.?"
Wajah yang tadinya dia benamkan di perutku, kini mendongak menatapku. Aku bisa melihat matanya yang berkaca - kaca, senyum bahagia terpancar dari wajahnya.
"Untuk semua kebahagiaan yang sudah om berikan padaku." Aku bisa melihat kejujuran dalam pengakuannya.
"Om tau.? Bertemu dengan om Ken adalah kebahagiaan terindah yang belum pernah aku rasakan seumur hidupku,,"
Astaga,, Kenapa pengakuannya seakan menjadi benda tajam yang menggores hati. Aku takut, takut jika suatu saat akan menyakitinya.
Aku takut semua kebahagiaan yang sedang dia rasakan akan terenggut karena ku.
Buliran bening mulai menetes dari sudut matanya.
Walaupun aku tau itu adalah air mata kebahagiaan, tapi bagiku tangisnya seperti air garam yang di teteskan pada luka yang menganga.
Apa aku salah sudah memintanya untuk tetap disisiku.?
Ku hapus air matanya yang semakin deras mengalir. Sebesar itu kebahagiaan yang dia rasakan karena ku.
"Jangan menangis." Ucapku sembari menangkup kedua pipinya.
"Kamu harus percaya padaku. Apapun yang akan terjadi nantinya, tetaplah percaya bahwa aku akan membahagiakanmu. Tetap disisiku agar aku bisa membahagiakanmu,,,"
Kuraih dagunya, aku melu**t lembut bibirnya dengan penuh perasaan yang mendalam untuknya.
"Berhenti menangis. Aku keluar dulu,,," Ucapku sebelum keluar dari kamar.
Dia hanya mengangguk dengan seulas senyum yang merekah.
...*****...
Part ini othor baper sendiri. Ngetik sambil netesin air mata 🤣
Sabar ya abang Ken yang gantengnya nggak ketulungan, kamu pasti bisa bahagiain Jeje.
Asal mau berusaha dan berdo'a.
😁
Jangan lupa sempatkan like setelah membaca.
Buat yang belum vote, bantu vote yah🙏
Makasih yang masih stay,,,