
Saling mencintai, sudah berjuang dan yakin bahwa dia adalah orang yang akan menjadi pendamping hidup kita, namun bukan berarti pada akhirnya akan bersatu dalam ikatan suci pernikahan.
Kita tidak pernah tau siapa yang akan menjadi jodoh kita, mesti kita sudah memiliki komitmen dan berencana untuk menikah, tapi tak lantas bahwa dia akan menjadi pasangan hidup kita.
Jodoh adalah rahasia terbesar yang Tuhan gariskan untuk kita. Kita bebas berencana dan memilih siapapun untuk kita jadikan sebagai pasangan hidup, tapi jika Tuhan berkehendak lain, maka semua itu hanyalah angan - angan.
Wajah cantik itu mengulas senyum tipis, terlihat jelas dari pantulan cermin jika dia sedang bahagia saat ini. Tadi siang saat Nicho mengantarnya pulang, Nicho bilang dia akan meminta restu secara baik - baik pada sang Papa. Dan akan segera menikahinya jika Papa Alex sudah merestui hubungan mereka.
Fely tentu saja sangat bahagia, setidaknya sikap keras kepala Nicho perlahan mulai berkurang. Dia rela menyingkirkan ego untuk berdamai dengan sang Papa.
Selama bertahun - tahun mengenal dan menjalin hubungan dengan Nicho, laki - laki itu memang memiliki sifat seenaknya dan keras kepala, bahkan terkesan arogan. Namun bukan berarti Nicho tidak memperlakukan Fely dengan baik. Dia selalu punya cara untuk mengungkapkan rasa cintanya yang begitu besar hingga membuat Fely tidak pernah bisa berpaling darinya. Rasa cintanya terhadap Nicho bahkan masih sama seperti dulu meski hubungannya pernah berakhir selama 1 tahun.
Fely tidak merasa keberatan saat Nicho mengajaknya menikah meski sama - sama masih kuliah. Bagi Fely rencana pernikahan itu jauh lebih baik daripada mereka harus berlama - lama pacaran dan selalu berbuat hal mesum yang sudah jelas di tentang. Fely hanya takut dia dan Nicho akan berbuat hal diluar batas yang pada akhirnya hanya akan memperburuk keadaan.
Lebih baik segera menikah dengan Nicho untuk menghindari hal yang tidak dia inginkan.
Fely beranjak dari duduknya, dia baru saja selesai merias wajah dan menata rambutnya yang dibuat curly bagian bawah. Meski hanya menggunakan make up tips, Fely tetap terlihat elegant dan sangat cantik. Dipadukan dengan dress berwana peach sebatas lutut, tubuh ideal Fely semakin terlihat sempurna.
Dia meraih tas kecil yang berisi ponsel dan dompet.
Karin sudah meminta ijin pada mama Grace dan di ijinkan untuk pergi dengan syarat pulang lebih awal.
Fely menaiki taksi online menuju tempat party yang berlokasi di apartemen mewah milik Nathan.
Grup chat di aplikasi sudah ramai, beberapa temannya mengunggah foto saat baru sampai di apartemen Nathan. Rupanya di sana sudah mulai ramai, bahkan ada beberapa anak laki - laki yang terlihat sedang meneguk alkohol.
Fely menghembuskan nafas berat, sejujurnya dia tidak nyaman datang ke acara seperti itu.
Pasti ada saja keributan yang terjadi karena terlalu banyak meminum alkohol.
Fely sampai setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Dia jalan seorang diri menuju apartemen Nathan. Baru jam setengah 10, tapi teman - temannya sudah stanby di sana. Terakhir membuka grup chat, hanya dia dan 3 orang temannya yang belum datang.
Karin langsung membuka pintu dan masuk kedalam. Karna sejak awal sudah di infokan kalau mereka bisa langsung masuk kedalam apartemen. Di dalam sangat bising karna dentuman musik yang cukup kencang, jadi suara bel pun tidak akan terdengar.
"Ah payah kamu Fel, mereka udah pada oleng tapi kamu baru dateng,,," Tiba - tiba Siska beberapa temannya datang menghampiri Karin.
Dia menarik Fely dan membawanya ke tempat kerumunan.
"Sengaja, biar aku bisa pulang lebih awal." Sahut Karin. Dia terlihat risih dengan pemandangan di sekitar, juga dengan suasana apartemen yang redup disertai suara musik yang cukup kencang.
Banyak dari mereka yang menggerakkan tubuhnya seirama dengan musik yang menggema di sana.
"Lihat tuh, badboy di kelas kita lagi lomba ketahanan sama Nathan." Siska menunjuk kearah 3 orang laki - laki yang menjadi pusat perhatian.
Disana ada Felix, Andre dan juga Nathan yang sedang meneguk Vodka dalam jumlah banyak.
Masing - masing di sediakan 3 botol vodka didepan mereka.
Suara riuh dan tepuk tangan saling bersautan. Banyak di antara mereka yang meneriaki nama Nathan untuk mendukungnya. Mereka terlihat yakin jika Nathan yang akan memenangkan perlombaan itu.
Fely hanya bisa geleng - geleng kepala. Entah apa enaknya meminum alkohol seperti itu. Bukan kebaikan yang akan didapat, justru hal itu hanya akan merusak tubuhnya sendiri.
Fely beruntung karna Nicho tidak hoby meminum alkohol, laki - kaki itu hanya pernah kedapatan meminum alkohol 1 kali dan setelah itu Fely tidak pernah lagi melihat Nicho meminum alkohol.
"Mereka sudah biasa gila,,," Sahut Fely acuh. Dia juga tidak mau memperdulikan apa yang mereka lakukan.
"Haus nih, ada minuman yang bisa aku minum nggak.?" Tanyanya pada Siska, tentu saja wanita itu minuman apa yang dimaksud oleh Fely. Bukan alkohol pastinya
"Tuh,, minta aja sama bartendernya." Siska menunjuk ruangan yang sudah disulap seperti tempat hiburan malam. Beberapa minuman berjejer rapi di rak. Bahkan ada bartender khusus yang minta Nathan untuk menyediakan minum di sana.
"Emang ada minuman lain.?" Tanya Fely ragu. Melihat vodka berderet di meja dan rak, membuatnya tidak yakin ada minuman lain yang tidak mengandung alkohol.
"Ada, tenang aja. Ayo aku anterin,,," Mila Menarik tangan Fely dan mengajaknya ke sana.
Ke empat wanita itu duduk didepan meja dengan jus jeruk di depannya. Sesekali mereka menatap ke arah Nathan dan teman - temannya yang masih asik menengguk vodka.
"Wah parah tuh mereka, lagi ngerjain Nathan." Seru Mila sambil terkekeh geli.
"Kurang ajar memang tuh si Felix,,," Celetuk Siska.
Nathan terus di cekoki vodka meski sudah kehilangan kesadaran. Semua yang berkerumun di sana hanya menertawakan aksi Felix yang sedang mengerjai Nathan.
"Wah bisa sekarat tuh Nathan." Teriak salah satu dari mereka, namun setelah itu terdengar gelak tawa mereka.
"Udah bro, nggak kuat dia,,," Seru Andre, dia tertawa puas melihat Nathan yang sudah kehilangan kesadaran.
Felix berhenti mencekoki alkohol, dia menyenderkan tubuh Nathan di sofa.
"Aku ke toilet sebentar ya,," Fely beranjak dari duduknya.
"Toiletnya dimana.?"
"Payah kamu, baru diisi udah bocor,,," Ledek Siska.
Fely hanya mengulum senyum.
"Tuh lurus aja, deket dapur." Siska menunjuk ke arah dapur. Fely mengangguk dan pergi ke sana melewati segerombolan temannya yang sedang asik bejoget.
Fely berniat akan pulang setelah ini, rasanya dia tidak nyaman datang ke party yang di penuhi aroma alkohol dan suara bising, juga orang - orang yang asik melenggak lenggokan badannya.
Dia berhenti di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Saat akan membuka pintu, Fely di kagetkan dengan suara - suara yang membuat bulu kuduk nya merinding.
"Ahhh,,, lebih keras Al,,,"
Fely memaku di depan pintu kamar mandi. Teman sekelasnya benar - benar gila. Dalam keadaan ramai seperti ini masih sempat untuk berhubungan badan. Dan yang lebih parahnya mereka melakukan di dalam kamar mandi.
"Ya ampun,, sempat - sempatnya begituan di kamar mandi,," Gumam Fely heran, dia berlalu dari sana dan bergegas mencari kamar mandi lain.
"Mau kemana Fel.?" Fely tersentak kaget, dia segera berbalik badan.
"Rena.! Ngagetin aja ih,,," Fely hanya bisa memegangi dadanya yang berdetak kencang.
"Aku mau ke toilet tapi,,,
"Aldo lagi goyang sama Nitha,,," Sambung Rena sambil tertawa geli. Fely tersenyum kikuk, rupanya Nitha juga barus saja memergoki pasangan mesum itu di toilet.
"Di kamarnya Nathan aja, kamar tamu juga di kunci tuh,,," Nitha menunjuk satu kamar yang tertutup rapat.
"Tau deh siapa yang lagi mesum di dalam,,," Nitha mengangkat kedua bahunya acuh. Teman - temannya memang sudah gila, tidak tau tempat.
"Terus aku harus ke kamar Nathan gitu.?" Ujar Fely.
"Nggak enak ah, nanti di kira mau maling lagi,,!" Gerutunya.
"Ya udah kalau nggak mau tahan aja pipisnya,," Ledek Nitha sambil terkekeh.
"Dari tadi yang lain juga ke kamar Nathan kalau mau ke toilet. Aku ke sana dulu ya,,," Nitha langsung kabur, dalam hitungan detik sudah hilang dari hadapan Fely.
"Gimana ini.? Mana udah kebelet,,," Gumamnya.
Pada akhirnya dia pergi ke kamar Nathan untuk buang air kecil, karna tidak mungkin dia menahannya sampai pulang ke rumah.
Sementara itu kondisi Nathan semakin tak sadarkan diri karna pengaruh alkohol yang berlebihan. Dia terkapar di sofa akibat ulah Felix dan Andre.
"Bawa ke kamarnya aja sana, kasian tuh udah nggak sadar,,," Seru Andre. Mereka terlihat setuju dengan usul Andre.
"Lempar aja ke luar jendela,," Ujar Felix dengan candaan, namun dia membantu Nathan untuk berdiri.
"Buruan bantuin gue, berat nih. Kebanyakan duit kayaknya ni bocah.!" Gerutunya. Teman - tamannya hanya tertawa.
Mereka memapah Nathan dan membawanya ke kamar. Di baringkannya tubuh Nathan di atas ranjang, mereka segera keluar dan menutup rapat kamar itu.
...****...
Pada bosen kah.? Apa masih semangat baca.?
Othor lagi nggak bisa crazy up karna nggak bisa terlalu lama mantengin layar, suka sakit kepala plus mata pegel. Dan lagi banyak juga yang harus dikerjain.
Yang masih semangat baca novel ini jangan lupa vote yah, kali aja othornya bisa bikin bab lebih banyak kalo yang vote minggu ini sampai ribuan. 🤣
.