
Aku terus diam, berjalan pelan mengikuti langkah om Kenzo hingga sampai ke tempat yang dia bilang apartemennya. Aku tidak tau kenapa om Kenzo juga menyewa apartemen di gedung yang sama denganku dan kak Nicho. Dan hanya beda 1 lantai saja.
Sepertinya kak Nicho menyembunyikan sesuatu dariku. Mereka pasti sudah bersekongkol di belakangku.
Menyebalkan sekali kak Nicho.!
"Jangan mendiamkanku seperti ini Je,," Ucapnya saat kami baru masuk ke dalam.
Apa aku salah karna bersikap dingin padanya.? Sedangkan om Kenzo yang sudah membuatku terluka dan jadi bersikap seperti ini. Aku merasa asing dan canggung terhadapnya.
"Waktu om cuma 30 menit. Sebaiknya jangan buang - buang waktu om."
"Lagipula bukannya om akan menikah, kenapa malah menemuiku,,"
Aku tidak punya niatan untuk menatapnya yang saat ini duduk di sebelahku. Aku merasa ada pembatas di antara kami. Tidak seperti sebelum kejadian itu, aku dengan mudahnya duduk disebelah om Kenzo dengan jarak yang sangat dekat, bahkan tak jarang aku duduk di pangkuannya.
"Je,, aku pernah bilang sama kamu kalau aku akan membatalkan pernikahanku dengan Nadine."
"Aku datang kesini buat jemput kamu, seperti janjiku 3 minggu yang lalu."
"Pernikahanku dan Nadine nggak akan pernah terjadi karna aku sudah membatalkannya,,"
"Kami di jodohkan lebih dari 1 tahun yang lalu bisnis, hubungan kami nggak seperti yang kamu bayangkan. Nadine bahkan memiliki kekasih, dan saat ini dia sedang hamil,,"
Setelah cukup lama aku diam untuk mendengarkan penjelasan om Kenzo, kini aku mulai menatapnya karna penasaran dengan kalimat terakhir yang di ucapkan oleh om Kenzo.
"Apa kak Alex.?" Tanyaku lirih.
"Kamu kenal Alex.?" Om Kenzo balik bertanya padaku dengan ekspresi yang terlihat kaget.
Aku mengangguk pelan.
"Dia kakak sepupu Celina,," Sahutku.
Rupanya hubungan Nadine dan Kak Alex sudah sejauh itu.
Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa setelah mendengar pernikahan om Kenzo yang ternyata sudah di batalkan.
Memang ada sedikit rasa senang yang menyelinap dalam hatiku, namun aku juga tidak berharap apapun padanya. Aku sudah lelah, aku benar - benar ingin menenangkan diri dan memulai hidup lebih baik lagi.
Saat ini urusan percintaan tidak lagi masuk dalam daftar prioritas ku untuk jangka waktu yang tidak bisa aku tentukan.
Sakit hati dan kecewa, mampu memberikan dampak besar pada hidupku.
"Aku nggak bermaksud membohongi kamu Je. Maaf kalau sudah membuat kamu kecewa."
Om Kenzo meraih tanganku, menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Kita mulai lagi hubungan ini, aku sungguh - sungguh Je."
"Apa perlu kita menikah secepatnya,,?"
Om Kenzo menatapku penuh harap, juga terlihat penyesalan dari sorot matanya.
Dia sudah membohongiku hingga membuatku terluka seperti ini, memang sudah sepantasnya dia memiliki penyesalan akan hal itu.
Ku tarik tanganku dari genggaman om Kenzo.
"Apapun alasannya, membohongi seseorang tidak dibenarkan. Terlebih menyangkut perasaan."
"Aku sudah terlanjur kecewa om, saat ini aku bahkan tidak ingin membicarakan soal percintaan, apa lagi pernikahan,," Ucapku tegas tanpa keraguan.
"Sekarang kita anggap aja permasalahan ini selesai. Nggak perlu lagi membahasnya."
"Aku mau fokus kuliah disini om." Ku tarik tangan om Kenzo untuk menjabat tangannya.
"Kita temenan sekarang. Aku pengen tenang tanpa ada kebencian dan sakit hati yang masih tersisa."
Pada akhirnya aku lebih memilih untuk menutup buku. Menganggap tidak ada yang pernah terjadi antara aku dan om Kenzo. Ini satu - satunya cara agar aku bisa menjalani hidup seperti dulu, saat aku belum mencintainya dan terluka olehnya.
"Mulai dari nol ya om,,," Kataku dengan seulas senyum, kemudian melepaskan jabatan tanganku. Aku merasakan jauh lebih baik saat ini.
"Je,,," Serunya dengan tatapan sendu. Aku tau om Kenzo pasti keberatan dengan keputusanku. Dia ingin agar hubungan kita bisa berlanjut lagi, sedangkan aku malah memintanya untuk memulai dari awal seperti saat baru pertama kali bertemu.
"Aku akan memberikan kamu waktu untuk menenangkan diri, tapi jangan seperti ini caranya.,,"
"Bagaimana bisa kita mulai dari awal.? Setelah apa yang sudah kita lakukan Je." Untuk kesekian kalinya om Kenzo kembali menggenggam tanganku.
"Aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan. Jadi tetap disisiku,,"
Om Kenzo membawaku kedalam dekapannya, dia memelukku erat.
"Tapi om,,, aku,,,
"Aku akan tunggu sampai kamu selesai kuliah."
"Tetap disisiku karna aku sangat mencintaimu,,,"
Aku hanya mematung dalam dekapan om Kenzo, tidak tau harus menjawab apa.
Om Kenzo melepaskan pelukannya, menempelkan satu tangan di pipi kiriku.
"Lihat aku Je,," Pintanya sambil terus menatap kedua manik mataku. Aku menurut hingga pandangan mata kami saling beradu untuk beberapa saat.
"Kamu hanya kecewa Je, aku yakin kamu masih memiliki perasaan padaku." Ujarnya setelah cukup lama menatapku.
Aku menggeleng pelan.
"Om salah, aku nggak punya perasaan apa - apa lagi sekarang. Yang ada sakit dan kecewa, tapi aku berusaha untuk tidak lagi terjebak dalam rasa sakit dan kecewa yang sudah om berikan padaku,,"
Perlahan aku menyingkirkan tangan om Kenzo dari pipiku. Aku memilih untuk beranjak dari duduk ku.
"Aku harus kembali ke apartemen kak Nicho,,,"
Om Kenzo menahan tanganku, dia ikut berdiri tepat didepanku.
Saat itu juga om Kenzo meraih pinggang dan tengkukku, ciumannya tidak bisa aku hindari karna tiba - tiba saja memagut bibirku.
Jantung ini terasa akan meledak, aku tidak bisa mengendalikan detak jantungku yang semakin cepat.
Segera ku dorong dada om Kenzo.
"Jangan seperti ini om.!"
"Kenapa.? Kamu takut karna ternyata masih memiliki perasaan padaku.?" Tatapan mata om Kenzo tak lepas dari kedua manik mataku, dia bahkan masih menahanku dengan melingkarkan tangan di pinggangku.
Aku tidak tau perasaan apa yang aku rasakan saat ini hingga membuat jantungku berdebar. Mungkin karna om Kenzo yang menciumku tiba - tiba. Apa lagi setelah kejadian penuh luka itu, yang membuatku merasa asing dengan om Kenzo, tapi kemudian dia menciumku. Wajar jika jantungku berdetak kencang, seperti merasakan ciuman utnuk pertama kalinya.
"Aku sudah bilang om, nggak ada perasaan apapun lagi." Jawabku yakin. Aku melepaskan diri dari om Kenzo.
"Om mau disini atau mau ikut aku balik ke apartemen kak Nicho..?" Tawarku.
Ini salah satu cara untuk berdamai dengan keadaan. Bersikap seperti biasa pada om Kenzo, seperti saat pertama kali bertemu dengannya.
Om Kenzo terlihat menghela nafas berat.
"Kamu saja, aku cape. Baru sampai tadi," Ujarnya datar.
Om Kenzo langsung merebahkan diri di sofa.
"Aku keluar dulu om,,," Tanpa menunggu sahutan darinya, aku segera keluar.
Saat aku kembali ke apartemen kak Nicho, suasana terdengar ricuh. Sepertinya kak Edwin sudah berulah lagi.
"Gaya - gayaan ngabisin 2 botol,,!" Cibir kak Marchel.
"Heh.! 2 boto tuh nggak ada apa - apanya. Gue bisa lebih dari itu,,!" Kak Edwin terlihat mulai mabuk, aku jadi ragu untuk bergabung lagi. Masih diam berdiri tak jauh dari mereka.
...****...