My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
21. Season2



Karin mengerjapkan mata beberapa kali, sampai kedua matanya benar - benar terbuka sempurna dan mendapati sosok laki - laki tampan yang tertidur disampingnya. Satu tangannya memeluk erat pinggang Karin, terlihat sangat nyaman dan damai dalam tidurnya.


Karin terdiam untuk beberapa saat. Kenyataan ini seperti mimpi baginya. Dia masih saja tidak percaya sudah menjadi seorang istri, bahkan akan menjadi seorang ibu.


Takdirnya terlalu meleset jauh dari impian dan ekspektasi.


Menikah di usia muda apa lagi karena accident, tentu saja bukan keinginannya.


Namun apa yang sudah terjadi tidak bisa kembali lagi. Pernikahan yang dia dan Reynald lakukan bukan hanya sekedar untuk menutupi aib ataupun hanya sebatas tanggung jawab.


Ikatan pernikahan yang suci dan sakral harus dijalani dengan hati yang tulus dan ikhlas. Berharap akan menghadirkan banyak kebaikan dan kebahagiaan di dalamnya.


Karin mengangkat kedua sudut bibirnya. Senyum yang mengembang sempurna tulus dari hatinya. Pagi ini dia awali hari dengan senyum untuk menjalani semua kewajibannya dengan ikhlas.


Meski pernikahannya terpaksa karena keadaan, Karin berharap pernikahannya dengan Reynald bisa dijalani dengan semestinya. Dia berharap keluarga kecil yang utuh dan bahagia.


Karin menyingkirkan perlahan tangan Reynald yang melilit di pinggangnya. Sedikitpun laki - laki itu tidak terusik dengan apa yang dilakukan oleh Karin.


Wanita itu turun dari ranjang dengan hati - hati.


Pagi ini Karin akan membuatkan sarapan untuk Reynald. Dia bergegas ke dapur dan mulai membuat menu dengan bahan yang tersedia di lemari es.


"Lagi ngapain kamu.?" Suara berat dan datar itu sempat mengagetkan Karin yang menuangkan makanan ke piring.


Reynald berdiri di samping Karin, tangannya menjulur ke atas untuk mengambil gelas di dalam lemari kitchen set.


Meski laki - laki itu baru bangun tidur, namun harum maskulin yang menguar dari tubuhnya masih terasa sangat wangi.


"Kamu nggak denger.?!" Ketus Reynald sembari menutup kasar lemari itu dan berjalan menuju dispenser.


Karin membulatkan matanya. Bisa - bisa sepagi ini sudah bersikap kasar.


"Emangnya kakak nggak liat.?!" Sahut Karin cuek.


Mendengar jawaban cuek dari karin, Reynald melirik tajam ke arahnya.


"Kalau di tanya suami jawabnya yang lembut dan sopan.!" Geram Reynald kesal.


"Kalau nanya sama istri itu harus lembut dan penuh perhatian,," Balas Karin tanpa menoleh sedikitpun pada Reynald. Dia fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Kamu,,!!" Geram Reynald, namun laki - laki itu langsung terdiam saay melihat Karin menatapnya dengan seulas senyum.


"Sarapan dulu kak,," Ucapnya Dengan kedua tangan yang memegang piring berisi nasi goreng seafood.


"Aku mau mandi, taruh saja di meja,,"


Reynald meneguk air putih hingga tandas, lalu meletakan gelas itu di meja.


"Makan dulu kak, tanggung sudah di dapur. Nanti keburu dingin nasi gorengnya,,," Desak Karin.


Reynald terdiam, terlihat sedang memikirkan ucapan Karin.


Tanpa berkata apapun, Reynald menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursi yang sudah terdapat nasi goreng di depannya.


Melihat hal itu, Karin hanya bisa mengulas senyum tipis. Dia juga ikut duduk di samping Reynald.


Meski wanita itu masih ragu dengan perasaannya, setidaknya dia akan tetap bersikap baik dan melayani Reynald dengan baik sebagaimana mestinya kewajiban seorang istri.


Baik Karin maupun Reynald, keduanya mulai menyantap nasi goreng itu. Sesekali Karin melirik Reynald yang begitu tenang dan lahap menyantap nasi goreng buatannya. Ada kepuasan tersendiri karna nasi goreng buatannya bisa diterima oleh mulut Reynald.


Nasi goreng di piring Reynald sudah habis tak tersisa. Karin beranjak dari duduknya meski di piringnya masih menyisakan banyak nasi goreng. Dia berniat untuk menyiapkan air dan baju kerja Reynald.


"Mau kemana kamu.?" Reynald menahan pergelangan tangan Karin. Laki - laki itu sedikit mendongak untuk menatap Karin yang sudah berdiri.


"Nyiapin air sama baju kerja kakak,,,"


Jawaban Karin membuat Reynald mendelik.


"Duduk.! Habiskan makanan kamu dan minum obatnya.!" Titahnya tegas tidak mau di bantah.


"Aku bisa melakukannya sendiri.!"


Reynald berdiri, menyuruh Karin untuk duduk kembali dengan isyarat mata, kemudian berlalu dari sana.


Karin menghembuskan nafas pelan sembari duduk kembali dan menghabiskan sarapannya.


Selesai sarapan, Karin segera masuk kedalam kamar. Berharap belum terlambat untuk menyiapkan baju Kerja suaminya.


Dia tersenyum saat melihat pintu kamar mandi yang tertutup sempurna, juga mendengar suara gemercik air dari dalam.


Karin masuk ke dalam walk in closet, deretan kemeja lengan panjang dan jas mahal menggantung rapi di lemari berpintu kaca transparan.


Karin pernah masuk 1 kali ke ruangan yang lumayan luas ini.


Dia mengambil kemeja berwana biru muda, celana dan jas berwarna navy. Juga dengan dasi berwarna senada. Lalu meletakan semua itu di atas sofa besar yang terletak di tengah - tengah ruangan.


"Sudah aku bilang, aku bisa melakukannya sendiri.!" Tegur Reynald. Laki - laki itu menatap tajam pada Karin yang baru saja keluar dari wal in closet.


Karin hanya diam, dadanya terasa sesak mendapati Reynald yang masih saja berbicara ketus padanya.


Laki - laki itu seolah tidak mengerti bagaimana caranya bersikap baik dengan orang lain, bahkan dengan istrinya sendiri.


"Maaf,,," Ucap Karin lirih dengan kepala yang menunduk.


"Jangan terlalu lelah, aku akan menyalahkanmu jika terjadi sesuatu padanya,," Ucapnya datar lalu masuk kedalam walk in closet, meninggalkan Karin yang mematung.


Karin langsung mengusap perutnya. Dia paham siapa yang dimaksud oleh Reynald. Tentu saja anak yang ada di dalam kandungannya.


Wanita itu sedikit menarik sudut bibirnya, setidaknya Reynald masih peduli pada anak mereka meski cara penyampaiannya tidak seperti kebanyakan suami diluar sana.


...***...


Di tempat lain, Jeje baru saja bangun pukul 9 pagi.


Wanita cantik itu terlihat malas untuk beranjak dari kasur empuknya yang mewah dan luas.


Bahkan saat pintu di gedor oleh mama Rissa, Jeje tak kunjung membukanya. Dia hanya bilang ingin tidur lagi, sampai akhirnya mama Rissa menyerah dan tidak lagi membangunkan Jeje sampai wanita paruh baya itu berangkat ke kantor.


"Kenapa malas sekali,," Gumam Jeje. Badannya sama sekali enggan untuk bergerak. Masih betah untuk berguling - guling di atas ranjang.


Dering ponsel di atas nakas, membuat Jeje beranjak. Dia terlihat semangat untuk mengangkat panggilan telfon itu. Berharap telfon itu dari suaminya.


"Kak Fely,,," Gumam Jeje setelah membaca nama kontak yang tertera di layar ponselnya. Dia sedikit kecewa karena ternyata panggilan itu bukan dari suaminya, melainkan dari adik suaminya.


"Ya hallo kak,," Seru Jeje setelah dia mengangkat panggilan telfonnya.


"Kamu sedang apa Je,,?" Tanya Fely lembut.


"Aku baru saja bangun. Malas sekali hari ini,," Keluhnya.


"Ya ampun, sesiang ini baru bangun." Cibir Fely meledek.


"Cepat siap - siap, kita jalan - jalan sekarang.."


"Tadi malam Kak Kenzo menyuruhku untuk menemani kamu jalan - jalan."


Jeje terlihat mengerutkan keningnya. Kenapa Kenzo tidak bilang padanya.


"Ayo,, mau nggak.?" Seru Fely.


"Mumpung hari ini aku free. Nggak ada jadwal kuliah juga,,"


"Ok, aku siap - siap dulu. Aku ke apartemen kakak 1 jam lagi.


Setelah mematikan telfon, Jeje langsung mandi dan bersiap.


...***...


"Gimana hubungan kakak sama kak Nicho.?" Tanya Jeje. Jeje baru saja menjemput Fely di apartemen, saat ini keduanya sedang berada di dalam mobil. Jeje melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan.


"Entahlah,,," Dari jawabnya terdengar sangat pasrah.


"Memangnya ada masalah.? Bukannya terakhir ketemu kalian masih baik - baik saja.?"


"Kak Nicho bahkan tidur di apartemen kakak selama 1 minggu,,"


Fely langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Jeje. Dia terlihat kaget karna Jeje tau tentang hal itu.


"Jangan kaget begitu kak. Aku tau dari kak Nicho." Ujar Jeje santai.


"Apa saja yang sudah kalian lakukan.?" Tanya Jeje menggoda.


"Kak Nicho pasti kuat bukan.? Dia itu tahan olah raga lama. Lihat saja otot ototnya yang kekar itu, pasti kak Nicho,,,


"Sudah Je,,!" Potong Fely sembari membekap mulut Jeje. Wajah Fely memerah menahan malu.


"Lebih baik kamu diam saja. Mulut kamu ini nggak punya filter," Tambahnya lagi.


Jeje menyingkirkan tangan Fely, dia terbahak - bahak melihat reaksi Fely.


...****...


Akhirnya othor ganti judul🤣


Sumpah ini tuh nggak seserem yang kalian bayangkan. Yuk intip sampai bab 20 ☺