My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
53. Season2



Jeje membuang pandangan ke luar jendela. Menatap jalanan yang ramai dengan pandangan mata nanar. Kakaknya yang patah hati dan kecewa, namun dia seperti ikut merasakan hal yang sama.


Hatinya ikut terluka melihat kisah percintaan sang kakak yang akhirnya harus kandas setelah melalui banyak kesulitan sebelumnya.


Jeje tau betul bagaimana rasanya kehilangan orang yang dia cintai. Tidak mungkin jika saat ini kakaknya baik - baik saja setelah hubungannya dengan Fely berakhir dan mengetahui bahwa Fely telah bermalam dengan laki - laki lain, meskipun tidak di sengaja.


Entah bagaimana kondisi Nicho sekarang. Jeje sangat mengkhawatirkan kakak satu - satunya yang begitu baik padanya. Kakak yang begitu sempurna di matanya, bahkan sangat sempurna sebagai kekasih menurutnya. Di mata Jeje, Nicho laki - laki yang baik selama menjalin hubungan dengan Fely. Meski dia pencemburu, namun tidak pernah mengekang Fely dan membatasi pertemanan Fely selama masih dalam batas wajar.


Kakaknya itu juga sangat menghargai Fely dan menjaganya dengan baik. Dia memperlakukan Fely layaknya wanita yang paling berharga dalam hidupnya, seperti memperlakukan Jeje dan Mama Grace.


Sebesar itu rasa cinta dan kasih sayang Nicho pada Fely, tapi akhirnya harus hancur karna perbuatan terlarang itu.


"Kondisi kamu belum stabil, jangan memikirkan hal yang bisa membuat kondisi kamu memburuk lagi,,," Tutur Kenzo lembut. Setelah cukup lama membiarkan Jeje melamun, Kenzo mulai melarang Jeje untuk memikirkan persoalan yang sedang di hadapi oleh kakaknya. Bukan karna dia melarang Jeje untuk tidak peduli pada Nicho, tapi Kenzo hanya ingin menjaga kesehatan Jeje dan calon anak mereka. Mengingat Jeje yang baru saja keluar dari rumah sakit.


Mendapat teguran dari Kenzo, Jeje justru semakin merasakan kepedihan di hatinya. Dia semakin cemas memikirkan keadaan kakaknya. Jeje hanya bisa berharap Nicho mampu dan sanggup menerima kenyataan ini tanpa harus berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirinya sendiri. Meski Jeje tau Nicho bukan tipe laki - laki yang suka bertindak tanpa berfikir lebih dulu. Namun tetap saja ada kekhawatiran dalam dirinya, khawatir jika Nicho akan bertindak diluar kesadarannya saat sedang sakit hati seperti ini.


"Bagaimana aku bisa berhenti memikirkan kak Nicho.?" Jeje menatap Kenzo. Wajahnya cantik itu sudah dibanjiri air mata yang masih terus mengalir.


"Saat dia terluka, aku ikut merasakannya." Jeje bicara sambil terisak. Suaranya bahkan terbata.


Kenzo terlihat tidak tega melihat istrinya sesedih itu.


"Bagaimana kalau kak Nicho berbuat sesuatu yang bisa membahayakan dirinya.?" Tangis Jeje semakin pecah.


Kenzo yang tidak sanggup melihat istrinya menangis, langsung menepikan mobilnya. Dia melepas seatbelt dan langsung mendekap erat tubuh Jeje dalam pelukannya. Berusaha untuk memberikan ketenangan padanya tanpa berkata apa. Kenzo ingin menunggu Jeje mengungkapkan kesedihannya.


"Kak Nicho bukan orang jahat, dia bahkan sangat mencintai kak Fely.!" Seru Jeje setengah berteriak. Dia meluapkan kekesalannya karna merasa apa yang di alami oleh Nicho tidak layak untuk orang sebaik kakaknya itu.


"Kenapa harus seperti ini.? Kenapa hubby menyuruh laki - laki itu menikahi kak Fely.?! Lalu bagaimana dengan kakakku.?!!" Teriaknya lagi, kali ini Jeje memukul dada Kenzo berulang kali.


Jeje merasa kecewa dengan keputusan yang sudah di ambil oleh Kenzo tanpa mempertimbangkannya lebih dulu, dan tanpa melibatkan Nicho.


Suaminya itu meminta Nathan untuk bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap Fely. Meski Fely memohon untuk tidak dinikahkan dengan Nathan karna merasa yakin tidak melakukannya, namun permintaan Fely di abaikan oleh Kenzo.


Kenzo bahkan meradang dan semakin yakin untuk menikahkan mereka saat mendengar pengakuan Nathan. Laki - laki itu memberikan penuturan yang berbeda dengan Fely, dia merasa sudah melakukan perbuatan kotor itu pada Fely meski tidak terlalu jelas karna dipengaruhi alkohol.


Nathan bahkan bersedia untuk bertanggung jawab, dia berjanji pada Kenzo dan Mama Grace akan menikahi Fely secepatnya setelah memberitahukan perbuatannya pada kedua orang tuanya.


"Sayang,,," Panggil Kenzo lirih, dia baru berani berbicara setelah Jeje terdiam cukup lama dalam dekapannya.


"Aku yakin Nicho tidak akan berbuat sesuatu yang dapat membahayakan dirinya, dia bukan pria cengeng, kamu pasti itu,,," Kenzo dengan perlahan mencoba untuk menyakinkan dan menenangkan Jeje agar tidak larut dalam kesedihannya.


"Aku sudah mengambil keputusan yang tepat, meski memang sudah menghancurkan harapan Nicho dan Fely. Saat ini bukan hanya Nicho saja yang terluka, bukankah kamu lihat sendiri bagaimana kondisi Fely sekarang.?" Kenzo menarik nafas dalam, dia baru bisa merasakan berada di posisi Nicho rupanya tidak mudah. Membayangkan jika itu terjadi pada Jeje dan dirinya, mungkin saat ini dia sudah menghabisi Nathan. Tapi tidak dengan Nicho, laki - laki itu justru memilih pergi dari sana.


"Aku yakin Fely juga hancur, karna dia juga mencintai kakakmu itu." Turunnya lagi.


"Kamu tau.?" Tanya Kenzo lembut.


"Fely sempat meminta ijin padaku untuk menikah dengan Nicho secepatnya. Dia rela berhenti kuliah, asal aku mengijinkannya menikah."


"Karna perjanjian di awal saat aku membiayainya untuk melanjutkan magister, aku memberikan syarat padanya untuk tidak menikah sebelum dia menyelesaikan pendidikannya. Dengan dia memilih untuk menikah sebelum menyelesaikan magisternya, itu artinya dia lebih memilih Nicho daripada pendidikannya."


Jeje terlihat lebih tenang, tangisnya juga perlahan mulai mereda. Apa yang di ucapkan Kenzo benar - benar masuk dalam hati dan pikirannya. Pada akhirnya dia mengerti bahwa tidak hanya Nicho yang terluka, tidak hanya Nicho yang kehilangan orang yang dia cintai. Bukan hanya harapan dan rencana Nicho saja yang hancur.


Kenzo melepaskan pelukannya, menetap Jeje dengan lekat sembari menghapus sisa air mata di pipi istrinya itu.


"Kamu harus belajar dari kisah ku, dan percaya jika bukan kita atau orang lain yang menentukan siapa yang akan menikah dengan kita pada akhirnya."


"Kalau saat itu aku tidak bertemu dengan gadis cantik yang menggemaskan, mungkin aku akan tetap menikah dengan Nadine,,"


Raut wajah Jeje seketika berubah kesal saat Kenzo menyebutkan nama Nadine.


"Hubby.!" Tegur Jeje dengan wajah cemberut.


Kenzo yang tau kalau Jeje sedang cemburu, hanya bisa terkekeh kecil. Dia mengusap lembut pucuk kepala Jeje dan menatapnya teduh.


"Ini bukan akhir segalanya bagi Nicho."


"Kamu bilang kakakmu bukan orang jahat, kamu harus yakin kalau dia akan menemukan seseorang yang lebih tepat untuknya." Kenzo berkata dengan penuh keyakinan.


"Memang harus seperti ini jalannya, mereka tidak di takdirkan untuk bersama."


"Kalau kamu bertanya kenapa aku menyuruh laki - laki itu menikahi Fely, jawabannya adalah untuk kebaikan mereka dan juga Nicho."


"Kamu pikir kalau Nicho bisa menerima semua itu dan tetap mau menikahi Fely, apa kamu bisa menjamin rumah tangga mereka akan baik - baik saja tanpa bayang - bayang kejadian yang menimpa Fely.?" Tanya Kenzo, raut wajahnya berubah serius. Begitu juga dengan Jeje yang serius memikirkan jawabannya hingga banyak pendapat yang bermunculan dalam benaknya.


"Lagipula Nicho lebih memilih mengakhiri hubungan mereka dan pergi dari sana tanpa mau tau keputusan kami selanjutnya."


"Kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan Nicho. Dengan sikap Nicho yang sudah mengambil keputusan dengan cepat dan tegas, aku yakin dia bisa mengatasi rasa sakitnya dengan baik."


"Nicho tidak lemah sepertiku yang mungkin akan gila jika itu terjadi padaku." Kenzo masih berusaha untuk membuat Jeje lebih tenang. Berusaha menyakinkan istrinya bahwa Nicho mampu melewati semua ini dengan baik.


"Tapi aku tetap mencemaskannya, ponsel kak Nicho bahkan tidak bisa di hubungi."


Jeje sudah mencoba menghubungi Nicho sejak dia keluar dari apartemen Fely, dia hanya ingin memastikan kalau Nicho baik - baik saja. Tapi rupanya Nicho mematikan ponselnya.


"Aku yang akan menjamin kalau Nicho baik - baik saja, percaya padaku,,," Kenzo menangkup sebelah pipi Jeje.


"Saat ini aku hanya minta padamu untuk tidak terlalu memikirkan masalah Nicho, ada calon anak kita yang harus kamu jaga."


Jeje mengangguk patuh. Meski masih mengkhawatirkan keadaan Nicho, tapi dia berusaha untuk tidak terlalu larut. Apa yang dikatakan Kenzo memang benar, dia harus tetap menjaga kondisi calon anak mereka dengan tidak memikirkan banyak hal yang bisa membuatnya stres.


"Kita pulang sekarang, kamu masih harus istirahat."


Kenzo mulai melakukan kembali mobilnya.


Jodoh memang misteri. Dulu Jeje sangat yakin kalau Nicho akan menikah dengan Fely, dia sudah berharap Fely akan menjadi kakak iparnya. Tapi pada akhirnya Nicho dan Fely tidak bisa bersatu.


...*****...


Cerita Nicho nanti dibuat terpisah. Mau namatin novel ini dulu.