My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
73. Season2



"Hubby,,,," Jeje merengek. Di peluknya Kenzo dari samping. Hukuman yang di berikan Papa Alex pada Kenzo bukan hanya memberatkan Kenzo saja, tapi juga memberatkan Jeje.


2 minggu berpisah rumah dengan Kenzo rasanya tidak sanggup untuk di jalani. 2 minggu bukanlah waktu yang sebentar bagi Jeje.


Siapa yang akan dia peluk setiap malam menjelang tidur.? Siapa yang akan dia gelayuti untuk bermanja seperti saat ini. Terbiasa bersama Kenzo membuatnya sulit untuk Jauh darinya meski pun hanya 1 hari.


Kenzo tersenyum, dia menepuk - nepuk pelan punggung Jeje.


"Tidak masalah, kamu disini dulu untuk sementara waktu. Lagipula besok aku harus ke Paris, ada pekerjaan yang harus di selesaikan." Jelasnya dengan suara tenang. Jeje langsung melepaskan pelukannya, dahinya mengkerut menatap Kenzo.


"Ke Paris.? Kenapa mendadak.?" Wajah Jeje semakin sendu setelah mendengar Kenzo akan pergi ke Paris.


"Tidak lama kan.?" Tanyanya lagi. Jeje benar - benar tidak ingin berpisah rumah dengan Kenzo, apalagi harus jauh dari Kenzo seperti itu.


"Tidak mendadak, aku saja yang belum sempat bilang sama kamu." Kenzo mengusap kepala Jeje penuh sayang. Memanjakannya seperti yang diharapkan oleh Jeje.


"Hanya 1 minggu, kita bisa bertemu lagi setelah itu." Jeje cemberut mendengarnya. 1 minggu waktu yang cukup lama untuk berpisah dalam negara yang berbeda, di tambah dengan 1 minggu lagi karna harus berpisah rumah.


"Tapi by, Papa menyuruh kita pisah rumah selama 2 minggu. Bagaimana bisa bertemu,,," Rengek Jeje kesal. Kenzo hanya terkekeh.


Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Jeje.


"Papa hanya menyuruh pisah rumah, tidak melarang kita untuk bertemu. Aku bisa datang ke sini kalau mereka pergi ke kantor,,," Bisikan Kenzo langsung membuat mata Jeje berbinar. Suaminya itu memang selalu punya cara untuk hal seperti ini.


"Wahh hubby pintar sekali." Jeje tersenyum senang, dia kembali memeluk Kenzo. Untuk 1 minggu pertama, dia mungkin harus menguatkan diri jauh dari Kenzo, tapi setelah itu masih bisa bertemu secara diam - diam saat kedua orang tuanya tidak ada di rumah.


"Pintar dan tampan,,," Ujar Kenzo memperjelas.


"Of course.!" Seru Jeje.


Keduanya sama - sama tertawa geli.


"Eh,,,! Sedang apa kalian.?!!" Teguran Papa Alex membuat keduanya melepaskan pelukan.


"Pantas saja Jeje hamil secepat ini.!" Gerutunya. Papa Alex memberikan tatapan intimidasi pada Kenzo.


"Pah, jangan seperti itu. Wajar saja kalo cepat hamil, Kenzo itu sudah dewasa. Lagipula mereka sudah menikah, bukannya Papa senang akan mendapatkan cucu pertama.?" Mama Rissa memberikan pembelaan. Meski dia juga mengkhawatirkan kondisi Jeje yang harus hamil di usia muda, tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Jeje.


Wajah Papa Alex memucat. Dia baru saja akan menyangkal ucapan mama Rissa, tapi Jeje lebih dulu berbicara.


"Mamah benar pah. Lagipula kenapa Papa marah - marah hanya karna aku hamil.? Apa Papa tidak senang akan punya cucu.?" Tanya Jeje. Bibirnya mencebik karna kesal dan sedih.


Papa Alex terlihat kikuk mendengar pertanyaan Jeje.


"Te,,tentu saja Papa senang, hanya saja Papa kecewa pada suamimu karna tidak mau mendengarkan peringatan Papa. Kehamilan di usia muda itu cenderung lebih beresiko, itu sebabnya Papa meminta kalian untuk menundanya selama beberapa waktu." Jelasnya.


"Jeje yakin semuanya akan baik - baik saja. Jeje sudah sangat siap dengan kehamilan ini." Jeje mengusap lembut perutnya.


"Papa tidak usah khawatir,,," Tambahnya dengan senyum yang mengembang. Melihat Jeje yang terlihat bahagia mengusap perutnya, Papa Alex juga terlihat ingin ikut mengusapnya. Namun dia menahan diri agar Kenzo tidak curiga kalau kemarahannya hanya pura - pura.


"Ok, tapi kalau kesehatan kamu terganggu, suamimu harus lebih lama lagi tinggal di apartemen seorang diri.!"


Kenzo membulatkan matanya. Papa mertuanya itu benar - benar ingin menyiksanya. Bagaimana mungkin bisa lebih lama lagi tinggal terpisah dengan Jeje, membayangkan selama 1 minggu akan pergi ke Paris saja sudah membuatnya pusing.


"Papa,,,,!" Rengek Jeje dengan wajah yang cemberut.


"Kamu lihat sendiri Pah, anak kita itu sudah tidak bisa jauh dari suaminya. Kalau Papa menghukum Ken untuk tinggal sendiri, sama saja Papa sudah membuat Jeje tersiksa.!"


Mama Rissa menatap Papa Alex dengan sorot mata tajam. Suaminya itu terlampau jahil mengerjai menantunya. Kehamilan Jeje membuatnya senang dan terlihat bahagia, tapi malah menghukum laki - laki yang sudah membuat Jeje hamil.


"Papa memang menyebalkan Mah.!" Celetuk Jeje. Dia beranjak dari duduknya sembari menggandeng tangan Kenzo.


"Loh kalian mau kemana.?" Papa Alex terlihat panik melihat Jeje bangun dari duduknya.


"Jeje mau istirahat Pah,,"


"Ya sudah kamu saja yang ke kamar." Ujar papa Alex, kemudian menunjuk Kenzo.


"Kamu tetap disini Ken, ada yang ingin Papa bicarakan.!" Tegasnya.


"Tapi Pah,,, Jeje nggak bisa tidur kalau nggak peluk kak Ken." Jeje mendekap erat lengan Kenzo.


"Lagipula besok kak Kenzo harus pergi ke Paris selama 1 minggu,," Wajah Jeje cemberut. Dia juga terlihat sangat sedih karna harus berpisah sementara dengan Kenzo.


"Ke Paris.? Untuk apa Ken.?" Tanya Papa Alex dengan nada bicara yang seolah sedang mengintimidasi. Begitu juga dengan tatapan matanya.


"Nanti Ken jelaskan Pah,,,"


"Ayo hubby,," Jeje menarik paksa tangan Kenzo.


"Papa nanti saja bicara sama kak Ken, kalau aku sudah tidur,,,"


Mama Rissa dan Papa Alex hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Jeje.


"Iya sayang, sebentar,,," Sahut Kenzo lirih.


"Kita ke atas dulu Pah, Mah,," Pamit Kenzo sopan.


Kenzo hanya mengangguk pelan. Mereka langsung meninggalkan ruang makan.


"Mana mungkin hubby tidak macam - macam,,," Gumam Jeje pada Kenzo.


"Yang ada justru berbagai macam." Tambahnya lagi dengan khayalan.


Kenzo terkekeh mendengarnya.


"Itu tandanya normal, masih semangat dan kuat,," Sahut Kenzo menimpali. Dia sedang membela diri sekaligus menyombongkan diri.


"Iya,, tapi itu terlalu bersemangat by." Celetuk Jeje.


Suaminya itu tidak bisa melihat bajunya tersingkap sedikit, langsung saja di terkam.


"Tapi bukannya kamu suka dan menikmati.? Kenapa sekarang protes.?"


Jeje mencubit gemas pinggang Kenzo.


"Kalau sekali atau dua kali tidak masalah, tapi kalau. kali - kali namanya kelewatan by.! Aku kan sedang hamil, jangan disamakan waktu aku belum hamil."


Protes Jeje dengan bibir yang semakin maju. Dia terus menyerocos untuk menceramahi Kenzo.


"Diem.!" Seru Kenzo. Dia mengunci bibir Jeje menggunakan jari tangannya.


"Kalau kamu bawel kayak gini, aku malah makin semangat." Ujar Kenzo berbisik. Jeje melirik malas.


Sampainya di kamar, Jeje langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Sejak tadi dia sudah mengantuk karna kelelahan. Dia tidak sempat tidur setelah Kenzo menyerangnya tadi pagi. Berbeda dengan Kenzo yang langsung terlelap setelah menyelesaikan permainan yang kedua.


"Aku ngantuk by, mau tidur."


"Hubby jangan pergi sebelum aku tidur,,," Pinta Jeje. Kenzo mengangguk, kemudian ikut berbaring di samping Jeje dan langsung di sambut oleh tangan Jeje yang memeluknya erat.


"Hemm,, tidur saja,,,"


Kenzo menepuk - nepuk pantat Jeje bak bayi yang sedang di tidurkan oleh ibunya.


"2 minggu, lama sekali,," Gumam Jeje sendu.


"Aku tidak bisa peluk hubby lagi kalau mau tidur."


Jeje semakin mengeratkan pelukannya.


"Papa kamu memang kelewatan,,," Ujar Kenzo sedikit kesal. Jeje mengangguk setuju, tapi dia juga tidak bisa menentang keputusannya.


"Sebentar sayang,,," Kenzo melepaskan pelukan Jeje, dia bangun untuk merogoh ponsel di dalam saku celananya yang terus bergetar.


"Siapa by.?" Tanya Jeje setelah melihat Kenzo berdecak kesal melihat layar ponselnya.


"Reynald,,," Jawabnya singkat, lalu mengangkat panggilan.


"Ada apa.?!"


"Ya sudah,, cuti saja sampai keadaannya membaik."


"Tidak masalah, aku bisa menundanya minggu depan."


"Hemm,,!"


Kenzo mematikan sambungan telfonnya dan meletakan ponsel di atas nakas.


"Kenapa by.?" Tanya Jeje penasaran.


"Apanya yang di tunda.?"


"Reynald tidak bisa menghandle pekerjaan minggu ini karna Bapak Karin kritis dan sekarang keadaan Karin juga drop. Aku tidak bisa berangkat ke Paris kalau tidak ada yang menghandle pekerjaan disini,,"


"Apa.?!! Bagaimana keadaan Karin by.?!"


Jeje terlihat syok mendengar kabar buruk dari keluarga Karin, namun Jeje juga lega karna Kenzo tidak jadi pergi besok pagi.


"Tidak tau, Reynald hanya bilang kalau Karin pingsan."


Jeje langsung bangun dan turun dari ranjang.


"Aku mau jenguk Karin sekarang by,,," Pintanya.


"Tidur.!" Kenzo menarik tangan Jeje dan mendudukkannya disisi ranjang.


"Kamu itu sedang kelelahan, setidaknya tidur dulu biar kondisi kamu juga memungkinkan untuk pergi. Pikirkan dulu kondisi kamu sebelum mementingkan orang lain.!" Suara tegas Kenzo langsung membuat Jeje mengangguk patuh.


Kenzo menghela nafas. Ini yang tidak dia suka dari Jeje. Istrinya itu terlalu baik sampai lebih mengutamakan orang lain ketimbang dirinya sendiri.


...****...


Yang belum mampir ke Nicholas, mana suaranya.? 🤣