
Awas Hareudang level tinggi,,!
Bijak dalam membaca.
Di skip dulu kalau siang🙏
Sambil terus menggendongku, om Kenzo berkali - kali melu**t bibirku. Sebelah tangannya meraba punggungku yang sudah polos, sesekali dia memberikan remasan kecil disana. Aku begitu pasrah dalam gendongannya.
Om Kenzo merebahkan ku di atas tempat tidurnya, tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Ciumannya turun kebawah, berhenti di leher jenjangku dan terus memberikan kecupan yang mampu membuat tubuhku menegang. Sambil terus mengecupnya, om Kenzo melepaskan kemejanya dan membuangnya asal.
Setelah melepas celana jeans milikku, kini om Kenzo juga melepaskan celana miliknya.
Kami sudah sama - sama polos dengan nafas yang memburu dan keringat yang mulai keluar.
Aku begitu menerima dengan senang hati saat tangan om Kenzo mulai bermain di bawah sana. Aku bahkan sampai membuka lebar kakiku.
Om Kenzo membuatku mengerang panjang, seiring dengan rasa nikmat yang meledak.
Om Kenzo tiba - tiba memposisikan dirinya di antara kedua p*ha ku. Aku yang belum sempat mengatur nafas, dibuat kaget olehnya.
"Om mau apa.?" Tanyaku dengan suara yang tersenggal.
"Menjadikanmu milikku seutuhnya."
Ucapnya lembut. Aku segera menggeleng cepat.
"Jangan om, bukannya om sudah setuju kita akan melakukannya setelah menikah,," Aku mencoba mengingatkan om Kenzo kembali.
Sejujurnya, aku juga ingin melakukannya. Namun ada ketakutan yang tiba - tiba menyeruak dalam hatiku.
"Percaya padaku, aku pasti akan menikahimu. Tetaplah disisiku setelah ini, jangan pernah mencoba untuk pergi,,,"
Aku tidak lagi fokus pada ucapan om Kenzo, karna om Kenzo sudah mengarahkan miliknya, memberikan gesekan pelan dan tekanan di bawah sama. Hal itu menimbulkan gejolak luar biasa, membuat hati dan tubuhku tidak sejalan.
Tubuhku merespon, bahkan meminta lebih. Namun hatiku menolak.
"Tapi aku takut om,, eummm,,," Aku berusaha menahan desahanku yang hampir lolos. Gerakan itu memberikan sensasi panas dingin pada tubuhku juga rasa nikmat yang menjalar.
"Aku tau kamu juga menginginkannya Je. Jadi biarkan aku melakukannya."
"Berjanjilah akan tetap disisiku, agar aku bisa menepati janji untuk menikahimu,,"
Om Kenzo mendekatkan wajahnya.
"Aku sangat mencintaimu Jenifer,,," Bisiknya, lalu meraih bibirku dan melu**tnya.
Tangan om Kenzo mengarahkan miliknya, berusaha memaksa untuk masuk.
"Ahh,,! Sakit om,,!" Teriakku sambil mendorong pelan dada om Kenzo.
"Tahan sayang,, hanya sebentar,,"
Om Kenzo mencoba untuk memberikan rangsangan dikedua bukitku, sambil terus mendorong miliknya.
Cukup lama om Kenzo bekerja keras untuk melakukan penyatuan.
Aku berteriak, menahan rasa sakit dan perih dibawah sana. Buliran bening bahkan menetes dikedua pelupuk mataku. Saat itu juga, aku merasa ada yang pergi dalam diriku. Tidak bisa dipungkiri, ada penyesalan dalam lubuk hatiku.
Namun melihat tatap teduh dari om Kenzo, juga usapan lembut di kepalaku dan kecupan yang mendarat di keningku, membuatku melupakan hal itu.
"Kamu hanya milikku,,," Bisiknya mesra. Aku tersenyum tulus padanya. Om Kenzo kembali memagut bibirku dengan sangat lembut.
"Masih sakit.?" Tanyanya setelah cukup lama mendiamkan miliknya dibawah sana.
Aku mengangguk.
"Perih om, sesak, nggak nyaman,,," Sahutnya sabil meringis menahan sakit. Benda itu memenuhi milikku, terasa sangat sesak dan mengganjal.
"Nanti akan terbiasa. Tahan ya,,,"
Om Kenzo mulai bergerak pelan. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku, menahan sakit dibawah sana.
Om Kenzo tak tinggal diam, dia memberikan kenikmatan di kedua asetku hingga sedikit menutupi rasa sakit dibawah sana.
Setelah cukup lama rasa sakit itu berangsur menghilang dan mulai terasa nikmat. Om Kenzo masih bergerak pelan dan teratur sejak tadi.
"Masih sakit,,?"
Aku menggeleng pelan dengan seulas senyum.
"Kamu sudah haid bulan ini.?"
Aku sempat bengong mendengar pertanyaan om Kenzo. Namun beberapa detik kemudian aku mulai paham. Om Kenzo pasti tidak ingin membuatku sampai hamil. Aku pun belum menginginkan itu terjadi saat ini.
Aku mulai mengingat jadwal haidku. Kurang lebih 3 sampai 5 hari lagi aku baru akan haid.
"Belum om,,"
Om Kenzo mengulas senyum, terlihat sekali dia sangat senang.
"Aman kalau di dalam,,," Bisiknya menggoda. Aku langsung mengalihkan pandangan karna malu.
Om Kenzo mulai memacu dirinya dengan gerakan cepat. Aku tidak mampu lagi berkata - kata.
Ternyata seperti ini rasanya. Kenikmatan yang begitu di dambakan oleh Celina dan Natasha.
Rasanya berkali - kali lipat dari yang biasa om Kenzo lakukan padaku.
Kamar ini dipenuhi oleh desahan kami yang saling bersautan.
Erangan panjang mengakhiri permainan memabukkan ini.
Om Kenzo mendekapku, mengecup keningku penuh cinta.
"Makasih sayang,,," Ucapnya. Om Kenzo terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Seakan beban pikirannya hilang begitu saja.
"Kamu hanya milikku. Jangan pernah pergi dan tetap percaya padaku,,,,"
Aku mengangguk cepat. Tentu saja aku tidak akan pergi, hatiku sudah di genggam olehnya. Bagaimana bisa aku pergi tanpa membawa hatiku.
Om Kenzo berbaring si sampingku, menarik selimut untuk menutupi rubuh polos kami. Aku mendekat, memeluknya dan membenamkan wajah didadanya.
Aku tidak percaya sudah melakukannya dengan om Kenzo. Meski aku menerimanya, tapi tetap saja ada sesal di hatiku. Aku berharap tidak akan pernah menyesal dengan keputusanku ini.
"Tidur saja,," Perintahnya. Dia terus menepuk - nepuk tubuh belakang ku, seperti sedang menidurkan bayi.
Aku mengangguk tanpa bersuara, lalu memeluk om Kenzo semakin erat.
Aku semakin nyaman saja dalam dekapannya. Penyatuan yang baru saja kami lakukan, membuatku merasa sudah memiliki dan dimiliki seutuhnya.
Semoga saja om Kenzo bisa secepatnya memberitahukan hubungan ini pada orang tuaku.
Rasanya aku tidak sabar untuk menjadi istrinya.
Aku jadi ingin menikah sebelum lulus kuliah.
...****...
"Bangun Je,,,"
Suara om Kenzo terdengar nyaring di telinga ku. Aku menggeliat, membuka mata perlahan.
"Mandi dulu, udah hampir malam,," Katanya lagi.
Aku tidak menjawabnya, masih sibuk menatap wajah tampan itu yang beberapa jam lalu baru mengambil kesucianku. Ada perasaan malu, takut, bahagia, semuanya bercampur aduk.
"Mau lagi.?" Tanya om Kenzo dengan mengedipkan sebelah matanya. Aku memukul gemas dadanya.
Wajah om Kenzo sangat lucu saat mengedipkan matanya.
"Udah jam berapa om.?"
Aku langsung menarik selimut hingga sebatas leher, karna selimut tadi hampir merosot dan membuat om Kenzo terus menatap kesana.
"Jam 5 lewat." Sahutnya. Namun tangan om Kenzo menurunkan selimut ku.
"Kenapa ditutup. Aku sudah sering melihatnya."
"Jangan om,, nanti om Ken khilaf lagi,,"
Kutarik kembali. selimut itu dan memeganginya dengan kedua tanganku.
Om Kenzo mengulum senyum tertahan.
"Bagian mana yang khilaf.? Aku sangat sadar. Begitu juga kamu,," Om Kenzo meraih daguku. Melu""t bibirku tanpa permisi.
"Manis dan memabukkan,," Ujarnya setelah melepaskan ciumannya.
"Ayo mandi. Malam ini tidur disini saja,,,"
Om Kenzo menyibak selimut, lalu turun dari ranjang dalam keadaan polos.
"Tapi aku nggak bawa baju om,,,"
"Baju kamu ada di lemari,,"
"Bajuku yang mana.? Aku nggak pernah ninggalin baju disini om,"
"Aku beli 1 minggu yang lalu,,"
Ya ampun,,, rupanya om Kenzo sudah menyiapkan baju ganti untukku.
Seniat itu om Kenzo yang ingin membuatku menginap disini.
Sini biar aku gendong,,," Katanya dengan mengulurkan kedua tangan ke arahku.
"Aku bisa jalan sendiri om, nggak usah di gandong,,"
Sahutku malu. Dalam keadaan sama - sama polos seperti ini, malu sekali kalau harus di gendong oleh om Kenzo.
"Kamu masih sakit Je. Pasti nggak nyaman buat jalan. Ayo sini, jangan banyak protes,,"
Om Kenzo menarikku agar mendekat, lalu mengangkat ku dalam dekapannya. Aku hanya bisa menyembunyikan wajah di dadanya.
Malu sekali rasanya.
Ritual mandi bersama dipenuhi oleh desahan kami berdua. Aku tidak bisa menolak saat om Kenzo kembali memberikan sentuhan padaku.
Rasa nikmat membuatku pasrah begitu saja, bahkan terus menuntut lebih.
Selesai mandi, om Kenzo membawaku ke walk in closet miliknya. Rupanya om Kenzo benar - benar membelikan baju untukku. Bahkan bukan hanya 1 pasang saja, melainkan ada banyak baju di lemari khusus yang dipakai untuk menaruh semua baju - baju seukuranku dan sesuai dengan seleraku.
"Om beliin baju sebanyak ini.?" Om Kenzo yang sedang mengambil baju miliknya, hanya menjawab singkat.
"Ini sih bukan buat baju ganti om, tapi bisa buat tinggal disini setiap hari,,," Celukku.
"Setelah menikah kita akan tinggal disini,,," Sahutnya cepat.
Jawaban om Kenzo membuatku tersipu malu. Aku juga merasa sangat bahagia. Rasanya tidak sabar untuk menikah dan tinggal bersama dengannya.
Aku segera mengambil baju dan memakainya. Sedangkan om Kenzo sudah keluar lebih dulu.
Saat aku keluar, om Kenzo sedang melepaskan seprei. Aku menghampiri nya. Aku melihat ada bercak merah di seprei berwarna putih itu.
"Mau di cuci ya om, sini biar aku aja,,"
Aku berjalan mendekat ke arah om Kenzo.
"Kenapa harus di cuci. Aku akan menyimpannya."
Om Kenzo melipat rapi seperi itu.
"Ngapain di simpan om.? Itu kan ada bekas darahnya."
Aku nggak habis pikir dengan om Kenzo. Untuk apa menyimpan seprei kotor itu. Bahkan sudah bercampur dengan cairan milik ku dan om Kenzo.
"Ini sangat berharga, sama sepertimu,,," Ujarnya setelah mendekat padaku.
Aku hanya bisa mengulum senyum mendengar gombalan om Kenzo yang membuatku melambung.
Apa benar aku berharga untuknya.?
"Om Ken paling bisa merayu,,"
"Siapa yang merayu.?" Tanya dengan tatapan dalam, satu tangannya bahkan menarik pinggangku hingga badan kami menempel.
"Kamu memang sangat berharga. Jadi tetaplah disampingku,,," Pintanya.
Om Kenzo memelukku dengan erat. Aku hanyut dan ikut memeluknya. Pelukan yang terasa berbeda dari biasanya. Aku bahagia, namun ada perasaan sedih yang tiba - tiba menyeruak dalam hatiku. Aku segera menepisnya dan semakin erat memeluk om Kenzo.
Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan bersamanya. Tidak akan aku biarkan kesedihan itu terus ada dan merusak kebahagiaanku saat ini.
"Aku sangat mencintaimu,,," Bisik om Kenzo lirih.
"Aku lebih mencintai om Ken,," Jawabku tanpa ragu.
Aku yakin perasaanku padanya jauh lebih besar. Seluruh hidupku bahkan sudah aku gantungkan padanya. Aku menaruh harapan besar pada om Kenzo atas hubungan ini. Harapan akan status hubungan yang lebih jelas, hingga akhirnya kita benar - benar hidup bersama dalam ikatan pernikahan.
...*****...
Maaf othor harus membuat Jeje kehilangan sesuatu yang berharga. Jeje nggak akan lemah😁
jangan lupa vote yah, biar othor makin semangat ngetiknya dan bisa cepet nyelesain novel ini sampai end.
Para readers harap sabar🥰
BTW yang udah nggak suka, dengan lapang dada othor mempersilahkan hengkang dari sini.
Baca kalo udah nggak suka, bosen, dan lain sebagainya, pasti bikin enek. Mending jangan di paksain lanjut dari pada nanti tiba - tiba muntah 🙈cari novel lain aja yang sesuai keinginan. Lebih bagus lagi kalau bikin sendiri🥰 udah pasti tuh sesuai sama keinginan sendiri.