My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
91. Season2



Tidak ada kesabaran dan penantian yang sia - sia. Setelah merasakan kepahitan dan merasa cintanya bertepuk sebelah tangan, kini Karin bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Air mata kesedihan berubah jadi air mata kebahagiaan.


Ingat bagaimana dulu Reynald begitu acuh padanya dan hanya memikirkan anak yang ada dalam kandungannya saja. Rasa sakit itu kini berubah manis.


Sudah 1 minggu berlalu sejak Reynald mengucapkan cinta padanya, perlakuan lembut Reynald membuat Karin semakin tidak bisa jauh dari laki - laki tampan itu. Karin mulai menunjukan sifat manjanya. Selalu menghambur kepelukan Reynald setiap kali di pulang dari kantor. Begitu pun sebaliknya saat Reynald akan berangkat. Karin akan terus bergelayut di lengan Reynald.


Meski Karin merupakan anak bungsu, sejak dulu dia tidak bisa bersikap manja pada keluarganya karna keadaan. Karin harus menahan diri untuk bermanja dan berusaha bersikap dewasa sebelum waktunya.


Namun terkadang, Karin juga ingin merasakan hal itu.


"Sini biar aku saja,," Reynald mengambil hairdryer dari tangan Karin. Lalu mengeringkan rambutnya.


Mereka baru saja mandi bersama setelah tadi jalan - jalan di taman.


Pergi ke taman setiap pagi jadi rutinitas keduanya yang tidak pernah mereka lewatkan sejak 1 minggu yang lalu. Mereka sudah lebih banyak berbicara, saling mengutarakan isi hati dan terbuka dalam segala hal.


Bisa dibilang hubungan mereka mengalami kemajuan yang pesat. Tidak ada lagi kecanggungan yang Karin rasakan. Tidak ada lagi keraguan dan pikiran buruk tentang Reynald.


2 kata yang Reynald ucapkan kala itu, mampu mengubah segalanya menjadi lebih baik.


"Rambut kamu terlalu panjang, tidak ada niatan untuk memotongnya sedikit.?" Ujar Reynald. Satu tangannya memegang rambut Karin dan satu lagi mengarahkan hairdryer ke rambut Karin.


"Apa jelek kalau terlalu panjang.?" Ucap Karin meminta pendapat pada Reynald. Dia memang menyukai rambut panjang dan bisa dihitung hanya beberapa kali memotong rambutnya sejak kecil sampai saat ini.


"Tidak, kamu akan cantik dengan rambut panjang atau pendek, hanya saja ini terlalu panjang. Apa tidak gerah,,?" Reynald mematikan hairdryer, kemudian mengambil sisir.


Karin menggelengkan kepalanya.


"Sejak kecil rambutku selalu panjang, jadi sudah terbiasa." Jelasnya.


Reynald mengangguk paham.


Selesai merapikan rambut Karin, keduanya pergi ke ruang makan. Reynald juga sudah rapi dengan setelan jasnya. Dia akan berangkat ke kantor setelah sarapan. Keduanya menghabiskan sarapan tanpa banyak bicara.


Karin mengantar Reynald sampai ke depan pintu begitu selesai sarapan.


"Pulang jam berapa kak.?"


Reynald selalu menahan senyum setiap kali Karin menanyakan hal itu saat dia akan berangkat ke kantor. Dulu istrinya tidak pernah bertanya apapun saat mengantarnya ke depan pintu. Tapi sudah 1 minggu terakhir pertanyaan itu selalu keluar dari mulut manisnya.


"Memangnya kenapa.?" Reynald bertanya dengan suara datar. Dia sudah tau kalau istrinya mulai tidak bisa berlama - lama jauh darinya.


"Jangan malam - malam pulangnya,,," Jawab Karin malu - malu. Wajahnya sudah bersemu merah dan tidak berani menatap Reynald.


Reynald mengembangkan senyum smirk. Dia menarik Karin dalam dekapannya. Memeluknya dengan perasaan penuh cinta.


"Secinta itu kamu padaku.? Sampai tidak mau lama - lama di tinggal sendiri di sini,," Goda Reynald. Karin bisa merasakan dada Reynald bergetar, laki - laki itu pasti sedang terkekeh tanpa suara.


"Apa kakak tidak seperti itu.?" Karin membalikkan pertanyaan.


"Tentu saja aku juga merasakan apa yang kamu rasakan. Hanya saja aku tidak bisa berbuat apapun kalau memang sedang banyak pekerjaan." Reynald mendaratkan kecupan di kening Karin. Dia merasa kasihan karna 3 hari belakangan ini sering pulang malam.


Karin mengangguk. Dia mencoba untuk memahami pekerjaan suaminya yang memang punya tanggung jawab besar dalam pekerjaannya yang cukup banyak.


"Aku akan segera pulang begitu pekerjaanku selesai,,," Reynald mengusap lembut perut Karin, kemudian mendaratkan ciuman disana.


"Jangan nakal anak daddy, jangan buat mommy susah,,," Bisiknya lembut. Karin mengulum senyum.


Kebahagiaannya akan semakin lengkap jika anaknya terlahir ke dunia. Dia sudah tidak sabar melihat bagaimana Reynald menjaga dan merawat anaknya dengan penuh cinta dan perhatian. Sepertinya yang dia lakukan pada Alisha.


...****...


Jeje sudah menata makanan yang baru saja dia masak. Dia menaruhnya dalam lunch box.


Siang ini dia harus menemui suaminya yang sepertinya sedang tidak ingin jauh darinya. Baru 4 jam Kenzo berangkat ke kantor, tapi sudah puluhan kali menghubunginya. Ada saja yang ingin Kenzo tanyakan meski hanya sekedar menanyakannya sedang apa. Dan juga ungkapan manis yang terus keluar dari mulutnya saat menelfonnya.


Berkali - kali mengatakan rindu dan sayang, mengungkapkan cinta, dan masih banyak lagi kata - kata pujian yang Kenzo utarakan untuknya.


'Aku sangat mencintaimu, juga anak kita,,'


Ucapan manis Kenzo masih terngiang - ngiang di kepalanya. Kenzo mengatakan hal itu beberapa kali saat sama - sama sedang berada di depan cermin. Jeje bahkan bisa melihat rona bahagia di wajah Kenzo kalau itu, dan membuat Jeje yakin bahwa Kenzo memang benar - benar mencintainya.


Jeje sudah rapi dengan memakai dress yang longgar di bagian perut. Perutnya semakin membuncit dan sudah tidak nyaman jika memakai dress yang pas dengan tubuhnya.


"Saatnya bawa makan siang untuk daddy, sayang,,," Seru Jeje pada anak yang ada di dalam kandungannya. Dia mengusap perutnya dengan penuh rasa cinta.


Mobil yang di kendarai oleh supir pribadinya sudah memasuki area gedung perkantoran milik Kenzo.


Jeje tidak bilang kalau siang ini dia akan datang ke kantor karna ingin memberikan kejutan untuk suaminya yang terus menghubunginya sejak pagi.


"Pak Amir pulang saja, aku akan pulang dengan kak Kenzo,,," Perintah Jeje begitu mobil berhenti di depan pintu masuk.


Jeje segera turun dari mobil, lalu bergegas masuk ke dalam.


Suara alarm darurat berbunyi nyaring di dalam gedung. Semua orang yang ada di dalam gedung terlihat panik.


"Cepat hubungi ambulans dan polisi.!!!"


"Tutup akses keluar masuk.!! Sekarang juga.!!"


Jeje langsung berhenti tepat didepan meja resepsionis. Suara Reynald terdengar menggema di setiap sudut kantor.


Suasana di dalam gedung semakin kacau. Mereka tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana. Mereka saling bertanya satu sama lain.


Jeje mengambil ponsel untuk menghubungi Kenzo. Dia terjebak di sana karna tidak mungkin memaksa untuk tetap pergi keruangan Kenzo saat keadaan sedang kacau seperti ini. Semua karyawan bahkan berhamburan keluar dari ruang kerjanya.


"Angkat by.!" Seru Jeje panik. Kenzo tak kunjung mengangkat panggilan telfonnya.


"Awas minggir,,,!!" Semua orang menghalangi jalan segera menepi begitu diteriaki oleh Reynald. Jeje terlihat bengong melihat Reynald berlari dari kejauhan , dan dibelakangnya ada 3 orang yang sedang mendorong brankar.


Sirine ambulans sudah terdengar didepan.


Jeje mulai tau apa yang sedang terjadi di kantor suaminya. Pasti ada tindak kejahatan yang sampai melukai seseorang.


Karna Reynald meminta untuk menghubungi polisi dan menutup akses keluar masuk.


"Hubby,,," Suara Jeje tercekat. Ponsel dan lunch box yang ada di tangannya langsung merosot dan jatuh ke lantai.


Tubuhnya melemas, dunianya seketika terasa gelap.


"Hubby,,,!!!" Teriak Jeje dengan air mata yang sudah deras mengalir di pipinya. Dia berlari menggunakan sisa tenaga yang dia miliki untuk mengejar Kenzo yang saat ini berbaring tak sadarkan diri di atas brankar yang sedang di dorong.


Jeje bisa melihat banyak darah di bagian dada Kenzo.


"Hubby bangun,,!!!" Tangis Jeje pecah saat dia berhasil mendekati brankar dan meraih tangan Kenzo.


"Jeje,,," Reynald menghampiri Jeje. Dia terlihat semakin cemas karna melihat Jeje ada disana.


"Hubby aku mohon, bangun by,,," Jeje mengusap pipi Kenzo sambil terus berjalan cepat karna mereka terus mendorong brankar untuk sampai di ambulans yang sudah terparkir di depan pintu masuk.


"Lepas Je, Kenzo harus segera dibawa ke rumah sakit,," Reynald menarik Jeje agar melepaskan tangan Kenzo.


"Lepasin kak.!! Aku harus menemaninya,,,!!" Tangis Jeje semakin menjadi. Terdengar pilu dan menyayat hati.


"Aku tau, tapi kita tidak punya banyak waktu. Jangan membuatnya sampai terlambat sampai di rumah sakit.!" Seru Reynald.


Jeje seolah tidak peduli dengan peringatan Reynald, dia melepaskan diri dan berlari menyusul Kenzo.


Jeje memaksa untuk ikut masuk kedalam ambulans.


...*****...


Othor tamatin ya besok😊. Mau fokus ke Nicholas dan Novelnya Celina sama duda keren yang bakal launcing nanti.