
Sejak tadi Kenzo beberapa kali melirik istrinya yang hanya diam saja setelah masuk ke dalam mobil. Sikapnya berubah 180 derajat dibanding saat sedang makan malam tadi.
Padahal istrinya itu masih ceria saat makan, bahkan terus mengulas senyum karena puas dengan makanannya yang menurutnya sangat enak itu.
Kenzo merasa khawatir dengan diamnya Jeje. Dia tidak ingin istrinya sedih karena memikirkan ibu kandungnya. Ibu kandung yang rela menukarnya dengan anak perusahaan milik Papa Alex di luar negeri. Ya meskipun Kenzo tau kalau selama ini ibu kandung Jeje masih terus memantau perkembangan anaknya.
Entah ada urusan apa, hingga Mirna datang ke Indonesia.
Dari informasi yang Kenzo dapatkan, Papa Alex tidak mengijinkan Mirna untuk datang ke Indonesia lagi sejak 17 tahun terakhir. Apa lagi sampai muncul di hadapan Jeje.
Sepertinya papa Alex sudah kecolongan, sampai dia tidak tau kalau Mirna sudah berada di Indonesia sejak 1 minggu terakhir.
"Je,,," Panggil Kenzo lirih, dia menggenggam tangan Jeje yang berada di pangkuan.
"Kamu baik - baik saja.?" Tanyanya cemas.
Jeje melirik Kenzo dengan mata sendu yang berkaca - kaca. Kenzo bisa merasakan hatinya ikut perih melihat kesedihan di mata istrinya.
Laki - laki itu benar - benar tidak bisa melihat Jeje sedih.
"I'm fine by,," Sahut Jeje. Remaja itu mengulas senyum tipis pada Kenzo. Dia sadar kalau saat ini Kenzo sedang mencemaskannya. Itu sebabnya Jeje berusaha untuk tersenyum, meski sejujurnya pikirannya sedang kacau karna kemunculan ibu kandungnya.
"Kamu nggak bisa bohong Je,," Sanggah Kenzo. Jeje bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan perasaannya. Remaja itu terlalu ekspresif, hingga dengan mudah Kenzo bisa menebak apa yang Jeje rasakan sejak pertama kali bertemu.
Jeje menunduk lesu.
"Aku mau pulang ke rumah mama by,," Lirih Jeje.
Saat ini dia ingin memeluk mama Rissa. Entah kenapa dia justru lebih memikirkan perasaan maaf Rissa, ketimbang memikirkan pertemuannya dengan ibu kandungnya.
Jeje benar - benar merasa bersalah atas perbuatan yang sudah di lakukan ibu kandungnya terhadap mama Rissa dan Papa Alex, yang berusaha untuk menghancurkan rumah tangga mereka.
Entah apa yang akan di rasakan oleh mama Rissa kalau tau dia baru saja bertemu dengan ibu kandungnya.
"Oke,, kita pulang sekarang. Tapi kita harus ke hotel dulu untuk cek out." Ujar Kenzo lembut. Sambil menyetir, dia terus menggenggam sebelah tangan Jeje dan mengusapnya lembut.
"Makasih by,," Jeje tersenyum tulus. Lagi - lagi dia harus memuji sikap baik dan lembut Kenzo yang luar biasa itu. Kenzo selalu berusaha menuruti keinginannya, bahkan selalu membuatnya tenang saat sedang dalam situasi menyedihkan seperti ini.
...***...
Sementara itu, Reynald terlihat santai berbaring di atas ranjang dengan tubuh polosnya yang hanya di balut selimut dari pinggang hingga kaki. Dada bidangnya dibiarkan terekspose.
Karin keluar kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. Dia tidak menghiraukan Reynald yang terlihat sedang menatap ke arahnya.
"Siapa yang nyuruh kamu pakai baju.?!" Tegur Reynald ketus. Karin langsung meliriknya dengan tatapan kesal. Lagi - lagi Reynald selalu bersikap seenaknya padanya, nada bicaranya pun selalu ketus ataupun datar.
"Aku nggak mungkin keluar tanpa baju kak.!" Ketus Karin. Dia sedang memberanikan diri untuk melawan Reynald dan bersikap cuek padanya. Karin mencoba untuk mengikuti saran dari Jeje. Mungkin selama ini dia terlalu diam dan menurut semua perintah Reynald, itu sebabnya Reynald selalu bersikap seenaknya padanya.
"Aku nggak nyuruh kamu keluar.!"
"Cepat kesini.!" Perintahnya tegas. Reynald bahkan sudah duduk di sisi ranjang.
"kakak mau apa.?! Aku sedang hamil muda, nggak boleh terlalu sering berhubungan karna bahaya untuk calon anakku.!" Jelas Karin tegas.
Reynald terlihat mengerutkan keningnya.
"Jangan sok tau kamu.! Itu cuma akal - akalan kamu saja untuk menolak.!" Ketus Reynald. Dia beranjak dari duduknya, Karin membulatkan mata saat selimut yang menutupi bagian bawah Reynald terjatuh ke lantai.
Pantas saja Reynald melarangnya keluar, rupanya benda miliknya sudah kembali on.
"Kalau kakak nggak percaya, baca saja di google.!" Ujar Karin sembari melangkah mundur.
"Terlalu sering berhubungan saat hamil muda bisa membuat keguguran, apa lagi kakak itu sangat kasar.!!" Geram Karin kesal.
Saat itu juga Reynald berhenti melangkah. Mendengar kata keguguran membuat pikirannya seketika kacau. Ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan.
"Lalu aku harus bagaimana.?!" Tanya Reynald Kesal, matanya melirik kebawah, begitu juga dengan Karin yang mengikuti pergerakan manik mata Reynald. Saat itu juga Karin langsung mengalihkan pandangannya.
"Sebentar saja, aku akan pelan - pelan,," Reynald menarik tangan Karin dan menggiringnya ke ranjang. Karin berusaha untuk menolak, namun Reynald terus memaksa dengan jaminan semuanya akan baik - baik saja karna dia akan bermain halus.
Karin hanya bisa pasrah. Rupanya Reynald benar - benar memegang ucapannya. Ini pertama kalinya Reynald bermain lembut dengannya. Karin bahkan sampai bisa menikmati permainan Reynald.
Entah sudah keberapa kalinya Karin mencapai puncak, berbeda dengan Reynald yang baru 1 kali.
Karin meminta Reynald untuk tidak melakukannya lagi. Wanita itu sudah kelelahan.
Karin berbaring dengan selimut yang berbalut rapat hingga sebatas leher. Dia kelelahan hingga akhirnya terlelap.
"Bangun,," Reynald mengguncang pelan lengan Karin. Cara dia membangunkan Karin sama sekali tidak manis sedikitpun. Padahal wanita cantik itu adalah istrinya, bahkan sedang mengandung anaknya.
"Karin.!" Suara Reynald lebih kencang lagi, membuat Karin langsung terjaga dan menetap Reynald dengan mata yang masih buram.
"Kenapa kak.?"
"Bangun dan siap - siap pindah ke hotel." Perintahnya. Karin mendengus kesal.
"Aku cape kak, dan ngantuk banget. Rasanya nggak sanggup bangun, apa lagi harus pindah ke hotel." Tuturnya. Seluruh badannya sudah lemas, dia belum istirahat sejak pagi tadi, si tambah dengan ulah Reynald yang langsung menghajarnya hingga beberapa kali.
"Kalau kakak mau ke hotel, pergi saja. Aku mau tidur disini,," Karin merapatkan selimutnya, berbalik badan membelakangi Reynald dan kembali memejamkan mata.
Dengkuran halus kembali terdengar, Karin benar - benar kelelahan. Reynald sama sekali tidak peka dan tidak bisa mengerti kondisinya yang tengah hamil muda.
Melihat Karin yang kembali tertidur, Reynald hanya bisa menghela nafas kasar. Rupanya hanya sampai disini saja malam pengantinnya. Padahal laki - laki itu sudah meminta Kenzo untuk memesankan kamar hotel, berharap dia dan Karin bisa menghabiskan malam hingga larut. Tapi baru pukul 9 malam Karin sudah tidak berdaya.
Reynald membaringkan dirinya di samping Karin, dia memeluk Karin dari belakang. Lalu mengusap lembut perut Karin yang masih rata itu.
Dia tidak pernah menyangka benih yang disebar di rahim Karin bisa berkembang dengan cepat. Bahkan tidak menyangka Karin akan hamil karna perbuatannya.
Sampai saat ini Reynald masih bingung dengan apa yang sudah terjadi. Dia bahkan tidak tau harus seperti apa menjalani rumah tangganya. Tidak ada cinta dan perasaan apapun di dalamnya. Laki - kaki itu hanya memikirkan tentang kepuasan dan kenikmatannya semata.
...****...
Jeje dan Kenzo baru selesai cek out dari hotel. Saat ini mereka sedang menuju ke rumah mama Rissa.
Keduanya memutuskan untuk menginap di sana. Kenzo bahkan menawarkan pada Jeje untuk menginap di rumah mama Rissa selama beberapa hari. Kenzo berharap istrinya itu bisa tenang jika berada di rumah kedua orang tuanya untuk sementara.
"Kamu bisa menginap di rumah mama Rissa untuk beberapa hari." Tutur Kenzo.
"Besok aku harus ke Singapur untuk menjemput mama. Dia sudah diperbolehkan pulang lusa,,"
Jeje menatap cemberut pada suaminya. Laki - laki itu akan menjemput ibu mertuanya, tapi sama sekali tidak menawarinya untuk ikut.
"Aku kok nggak di aja by.!" Keluh Jeje kesal. Dia juga ingin bertemu dengan ibu Grace. Selama menjadi istri Kenzo, Jeje hanya baru 2 kali berkomunikasi dengan ibu Grace lewat telefon.
"Kamu disini saja, aku langsung pulang lusa." Kenzo mengusap lembut kepala Jeje.
"Aku nggak mau kamu kelelahan,,"
"Tapi by,,,"
"Aku tidak suka di bantah Je." Tegas Kenzo.
Jeje langsung diam seketika. Sepertinya dia harus menuruti perintah Kenzo jika tidak ingin kejadian tadi terulang lagi. Mungkin jika dia menurut untuk keluar dari restoran itu, dia tidak akan bertemu dengan ibu kandungnya.
"Aku cuma nggak mau kamu kecapean, karna hanya satu hari di sana. Kamu bisa menjemput kami di bandara nanti,," Ujar Kenzo, dia berfikir kalau Jeje marah padanya.
Jeje tersenyum tipis, lalu mengangguk patuh.
...***...
Votenya turun terus 😁 yuk naik yuk,,,