
Saat aku kembali menatap ke arah mereka, saat itu juga om Kenzo sedang menatapku. Rupanya om Kenzo sudah menyadari keberadaanku. Aku langsung mengalihkan pandangan, mencoba mencari alasan untuk mengajak kak Nicho agar kembali ke resort.
"Aduh kak,, perut aku sakit banget,," Aku pura - pura memegangi perutku, dan memasang wajah yang seolah sedang menahan sakit.
"Sakit kenapa Je.? Tadi juga baik - baik aja."
"Mules.? Atau mau datang bulan.?"
Ya ampun, dalam situasi seperti ini kak Nicho hampir membuatku tertawa. Tapi rasa ingin tertawa ku lenyap begitu saja saat kembali melihat om Kenzo dan kak Fely.
"Bukan kak. Nggak tau nih tiba - tiba aja sakit,,"
"Yaudah buruan balik ke resort, minta penjaga buat beliin obat. Kakak nanggung nih kalo balik ke resort lagi, nanti nggak sempet liat sunset,,"
Benar - benar ya kak Nicho menyebalkan sekali, bisa - bisanya dia tidak mau mengantarku ke resort. Padahal aku melakukan semua ini juga demi kebaikannya, agar dia tidak terluka nantinya.
"Ayo anterin kak, aku nggak mau balik ke resort sendirian. kalo aku pingsan di jalan gimana.?"
"Aduh beneran kak ini sakit banget,,"
"Paling sakit karna mules, udah sana cepetan balik. Kamu mau nanti keluar disini.?"
"Ii'hh..! Ngeselin banget sih kak.!"
Malas berdebat dengan kak Nicho dan enggan berlama - lama melihat kemesaran mereka, aku memilih untuk segera pergi. Entah bagaimana nantinya kalau kak Nicho melihat mereka. Karna saat ini hatiku juga sedang butuh pertolongan. Tidak sanggup lagi rasanya melihat mereka berdua.
Aku berlari menjauhi pantai dengan air mata yang terus bercucuran. Tidak peduli dengan tatapan orang - orang yang heran melihatku.
Saat ini menangis adalah cara satu - satunya untuk menghilangkan sesak didada yang terasa mencekat.
Bayangan kebersamaan om Kenzo dan kak Fely yang terlihat sangat mesra, menjadi sebuah tombak besar yang menghujani dadaku. Sakit sekali rasanya.
Aku tidak mampu lagi menggambarkan seperti apa hancurnya hatiku saat ini. Aku tau, tidak seharusnya aku terluka melihat mereka bersama. Karna aku yang sudah hadir di antara mereka. Aku yang masuk kedalam kehidupan om Kenzo dan pada akhirnya aku jatuh cinta padanya, walaupun aku tau kalau om Kenzo sudah memiliki hubungan dengan orang lain.
Aku yang salah, salah karna sudah lancang mencintai sesorang yang telah dimiliki.
Kenapa aku harus bodoh karna cinta.! Kenapa aku membiarkan cinta tulus ini terbuang sia - sia tanpa pernah terbalaskan.
Jika aku boleh memilih, aku ingin mengulang waktu. Kalau tau akan seperti ini akhirnya, aku tidak akan pernah memutuskan untuk menjadi sugar baby.
Aku terlalu bodoh karna tidak bisa memahami diri ini. Aku terlalu naif, yang sejak awal dengan rasa percaya diri tinggi yakin bahwa aku tidak akan pernah menyesal memberikan cinta ini untuknya. Nyata detik ini aku sangat menyesal.
Aku masuk ke kamar dengan membanting pintu, meluapkan rasa kecewaku yang amat besar hingga tidak bisa di gambarkan dengan kata.
Menangis sejadi - jadinya adalah obat terbaik untuk mengurangi sakit hatiku saat ini. Walaupun aku tau, sebanyak apapun air mata yang keluar dari mataku, tidak akan pernah mampu untuk menghapus luka di hatiku.
Aku terus menangis, meringkuk di atas tempat tidur.
Tidak seharusnya aku bermain - main dengan cinta. Pada akhirnya aku sendiri yang terluka oleh rasa yang aku ciptakan sendiri.
"Je,, are you oke,,?"
Aku semakin histeris saat mendengar suara om Kenzo. Kenapa disaat aku terluka karnanya, aku masih bisa mendengerkan suaranya yang begitu menenangkan jiwa. Sebesar itu cintaku pada om Kenzo, atau aku yang terlalu bodoh.?
"Je,, kamu sakit,,?"
Aku benci dengan halusinasiku. Kini bukan hanya suara om Kenzo yang bisa aku dengar, tapi sentuhan lembut tangannya di belakang kepalaku pun bisa aku rasakan.
"Aku mohon buat aku membencimu.!"
Teriakku masih dengan isakan.
"Kenapa.? Kenapa harus membenciku,?"
Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin. Aku tidak sanggup lagi mendengar suaranya. Hati ini semakin sakit saja.
Aku segera berbalik badan untuk memastikan jika saat ini aku sedang berhalusinasi. Aku merasa kesal karna terus mendengar suara dan sentuhan tangannya, yang terasa menenangkan hati namun juga mampu melukai hati.
"O,,, om,,!" Aku terperanjat hingga langsung terduduk. Aku menatap om Kenzo tak percaya. Entah aku hanya halusianasi, atau memang om Kenzo benar - benar ada di depan mataku.
"Katakan, kenapa kamu ingin membenciku.?!" Suara datar om Kenzo dan tatapan tajamnya mampu membuatku yakin kalau dia benar - benar om Kenzo.
"Kenapa om ada disini.? Cepat keluar om.! Jangan buat masalah, aku mohon.! Tunangan om akan salah paham kalau melihat om ada di kamar ini bersamaku.!" Bentakku sambil mendorong badan om Kenzo agar dia keluar dari kamarku.
Aku tidak tau kenapa tiba - tiba dia ada disini. Apa mungkin om Kenzo langsung menyusulku begitu melihat aku pergi dari pantai.?
"Tunanganku.? Memang siapa tunanganku.?"
Kenapa aku semakin sakit mendengarnya, mungkinkah kak Fely bukan tunangan om Kenzo.? Melainkan istrinya.
"Perempuan tadi, perempuan yang bersama om di pantai. Dia tunangan om kan.?"
"Cepetan keluar om.! Aku nggak mau kena masalah,,!"
Rasa kesal ku sudah sampai di ubun - ubun, namun om Kenzo tidak bergeming. Dia masih santai duduk disisi ranjang sambil menatapku. Saat ini dia justru tersenyum, seakan sedang meledekku.
"Kamu cemburu liat aku sama dia.? Jadi kamu pergi dari pantai sambil nangis karna cemburu.?" Ujarnya dengan menahan tawa. Om Kenzo benar - benar menguji hatiku.
"Cemburu.?! Untuk apa aku cemburu. Aku sadar posisiku om.!" Jawabku tegas. Tantu saja aku harus berbohong, lagipula apa untungnya berkata jujur padanya. Karna meski jujur sekalipun, om Kenzo pasti tidak akan peduli.
Om Kenzo terkekeh.
"Kenapa harus ngaku kalau memang kenyataannya nggak seperti itu.!" Aku semakin kesal menjawabnya.
"Jangan bohong kamu.! Kamu pikir selama ini aku nggak tau kalau kamu suka sama aku,," Ujar om Kenzo dengan keyakinan tinggi.
Meskipun memang benar seperti itu kenyataannya, tapi aku sangat malu sekaligus kesal. Ternyata selama ini om Kenzo tau kalau aku punya perasaan padanya, tapi selama ini dia seolah tidak tau akan hal itu. Bagaimana aku tidak malu dan kesal. Pasti aku terlihat seperti orang bodoh di matanya.
Aku menarik nafas berat, kemudian menghembuskannya perlahan. Mungkin sudah waktunya aku mengungkapkan isi hatiku yang selama ini hanya bisa aku pendam.
"Ya.! Aku memang cemburu melihat om sama tunangan om.! Aku cemburu karna selama ini aku mencintai om.! Tapi aku sadar dengan kebodohanku. Aku sadar sudah salah menaruh hati pada orang yang tidak akan mungkin menjadi milikku. Aku terlalu berharap pada sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi.! Selama ini aku hanya bisa memendam perasaan ku, aku tidak punya keberanian untuk,,,
Om Kenzo meletakkan jari telunjuknya di bibirku. Memintaku untuk tidak lagi bicara.
"Kata siapa nggak mungkin.?"
"Siapa bilang aku nggak bisa jadi milik kamu.?"
"Selama ini kamu cuma fokus pada perasaanmu, sampai kamu nggak sadar kalau aku juga memiliki cinta yang sama."
"Om,,," Ucapku lirih.
Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Apa aku sedang tidak bermimpi.? Apa ini benar - benar nyata.? Benarkah om Kenzo juga mencintaiku.?
Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa. Aku masih belum percaya dengan semua ini.
"I love you,,," Ucapnya lembut.
"Aku sudah pernah mengatakan ini sebelumnya,," Ujarnya lagi dengan mengulum senyum.
Aku paham sekarang, berarti waktu itu aku bukan sedang bermimpi. Om Kenzo benar - benar mengucapkan kata cinta itu padaku, namun dia pura - pura tertidur.
Aku langsung tersadar begitu teringat pada kak Fely.
"Maaf om, nggak seharusnya aku punya perasaan sama om. Begitu juga sebaliknya. Om Kenzo dan kak Felicia sudah,,,
"Kamu kenal Felicia.?" Tanyanya memotong ucapanku. Aku segera mengangguk.
"Di,, dia,,," Aku ragu untuk mengatakan kalau kak Fely pernah menjalin hubungan dengan kak Nicho.
"Dia kenapa.?"
Om Kenzo terlihat sangat penasaran.
Apa tidak akan berdapak buruk pada hubungan mereka bertiga.? Terlebih kak Nicho dan om Kenzo baru saja memulai pertemanan mereka.
"Jawab Je.!"
"Diaa,,, dia mantan kak Nicho yang pernah aku ceritakan pada om waktu itu,," Sahutku dengan menundukan kepala.
"Ya ampun,,, pantas saja.!" Erangnya.
Aku langsung menatap om Kenzo.
"Pantas kenapa om.?" Kini giliran aku yang penasaran. Apa mungkin selama ini om Kenzo curiga kalau kak Fely sempat menjalin hubungan dengan kak Nicho.?
"Pantas saja mereka terlihat dingin saat aku kenalkan tadi. Apa lagi kakakmu itu, dia menatap tajam pada Felicia. Aku pikir karna dia terpesona,,"
"Apa.?!! Jadi om ngenalin mereka.? Lalu gimana reaksi kak Nicho saat tau kalau om Ken adalah tunangan kak Fely.? Kalian nggak berantem kan.?"
Ditengah kepanikanku, om Kenzo justru terbahak - bahak. Dia seolah geli sendiri setelah mendengar ucapanku.
"Mana ada kakak beradik tunangan,," Serunya masih dengan tawa yang belum usai.
Aku dibuat melongo oleh pengakuan om Kenzo. Jadi selama ini aku hanya salah paham dengan kedekatan mereka.? Salah paham yang berujung dengan rasa sakit hati yang harus aku rasakan selama berbulan - bulan. Ya Tuhan,,, aku benar - benar sangat bodoh. Bisa - bisanya aku perang batin hanya karna sesuatu yang belum pasti kebenarannya.
"Jadi kak Fely adik om Kenzo.? Aku pikir om Kenzo anak satu - satunya,,"
Ujarku masih dengan rasa penasaran yang tinggi. Pasalnya selama ini kak Fely dan ibu Grace hanya tinggal berdua. Bagaimana bisa mereka memiliki hubungan keluarga.? Mungkinkah kedua orang tua mereka,,
"Sejak 20 tahun yang lalu kami sudah terpisah. Tepatnya setelah papa mengajakku untuk tinggal di Paris,, "
Ternyata benar dugaanku, mereka harus berpisah karna korban perceraian orang tuanya. Tapi tragis sekali nasib kak Fely. Hidupnya berbanding terbalik 180 derajat dengan om Kenzo yang bergelimang kemewahan. Sedangkan kak Fely dan ibu Grace harus berjuang keras untuk bertahan hidup.
Apa om Andreas tidak memberikan harta sepeserpun pada ibu Grace.?
Hufft,, kenapa aku jadi memikirkan hal itu.
...****...
Nah kan,,, Jeje salah paham. Masa adik om Kenzo dikira tunangannya.
Hayo,,, siapa yang disini salah paham juga.? 😁
Pasti abis baca ini pada ketawa dah karna ikut salah paham juga.
🤣
Dukung novel othor dengan cara vote 🥰