My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 110. Bab terakhir My sugar



Karin berjalan mendekati rumah petak kecil yang sederhana namun rapi dan bersih. Halaman rumah yang kecil di isi dengan beberapa pot bunga yang tertata rapi. Teras minimalisnya pun hanya di isi dengan kursi panjang dari kayu tanpa cat, dan terlihat sudah usang.


Jeje menatap iba pada kondisi rumah Karin yang sangat jauh berbeda dengan istananya. Karin benar - benar berasal dari keluarga yang sederhana. Jeje tidak habis pikir, masa depan Karin harus berakhir seperti ini karna perbuatan Reynald.


"Ini rumah kamu,,?" Tanya Reynald saat mereka masuk ke halaman rumah Karin. Wanita itu mengangguk, masih dengan wajahnya yang tegang karna takut menghadapi kedua orang tuanya.


Reynald sedikit merasa kasihan pada gadis yang sudah dia renggut kesuciannya hingga mengandung. Rumah Karin sangat sederhana, pantas saja gadis itu menurut saat dia meminta Karin untuk menggantinya dengan keperawanannya


Tapi tetap saja Reynald tidak menyesal sudah menghancurkan masa depan Karin.


"De,,! Kamu itu kemana aja.?! Kenapa baru pulang jam segini,," Seru laki - laki muda yang usianya tak jauh dari Karin.


Namun dia terlihat bingung melihat ketiga orang yang ikut bersama Karin. Dia menatap satu persatu dari atas sampai bawah. Penampilan Reynald dan Kenzo menarik perhatiannya karna memakai setelan jas yang terlihat mewah, dan terlihat seperti orang penting.


"Siapa mereka,,?" Tanya lagi.


"Temen aku kak."


"Bapak sama Ibu udah pulang.?" Karin mendekat dan mencium tangan kakaknya itu.


"Udah, kakak telfon mereka karna kamu nggak pulang - pulang."


"Kamu itu jangan bikin Bapak sama Ibu khawatir lagi, jangan kaya yang udah - udah sampe nggak pulang ke rumah.!" Tegurnya.


Karin mengangguk lemah.


"Maaf kak,,"


"Itu temen aku mau ketemu sama Bapak,," Karin menengok kebelakang. Menatap ketiganya yang sejak tadi diam mendengarkan pembicaraan dia dan kakaknya.


"Kamu punya urusan apa sama orang - orang kaya itu,,?" Bisik kakaknya.


Belum sempat menjawab, suara laki - laki paruh baya terdengar dari dalam.


"Kenapa nggak masuk neng, aa,," Serunya. Bersamaan dengan itu, dia keluar dari rumah.


"Eh,, ada tamu rupanya." Dia tersenyum ramah pada ketiga orang yang berada di belakang Karin.


"Kok nggak disuruh masuk neng,," Katanya lagi pada Karin.


"Iya Pak. Mereka temen Karin,," Karin lebih dulu mencium tangan Bapaknya.


"Ayo masuk Je,,," Karin menyuruh Jeje untuk masuk lebih dulu.


"Sore Pak,," Sapanya ramah, Jeje menundukan badan.


"Loh ini neng Jenifer kan,,?!" Seru Bapak Karin dengan senyum yang merekah.


Semua orang di sana nampak bingung karna orang tua Karin mengenali Jeje. Termasuk Jeje yang juga terlihat bingung.


"Iya Pak,, kok Bapak tau nama saya,,?" Tanyanya bingung, pasalnya Jeje merasa tidak pernah bertemu dengan orang tua Karin.


"Saya supir taksi yang waktu itu di kasih uang sama neng Jenifer,,"


Jeje nampak diam, mencoba untuk mengingatnya kembali.


"Oh iya Pak,, maaf saya baru inget,,"


"Wahh,, ternyata Bapak ini orang tuanya Karin."


Jeje tidak menyangka, orang yang pernah dia bantu adalah orang tua Karin. Ah,, dunia memang selebar daun kelor.


"Iya neng, ayo masuk,,"


"Bapak seneng Karin punya temen sebaik neng Jenifer,,"


Jeje tersenyum hormat.


Ruang tamu minimalis terlihat sangat sempit saat semua orang masuk ke dalam.


Karpet tebal itu penuh di duduk oleh Reynald, Kenzo dan Jeje. Karin dan keluarganya duduk berhadapan dengan mereka.


Keluarga Karin menyambut hangat tamu itu dengan menyuguhkan teh hangat dan cemilan yang hanya ada 2 macam.


"Di minum dulu neng geulis, aa kasep,," Ibu Karin sama ramahnya dengan sang suami. Ketiganya tersenyum kikuk, terlebih Jeje yang merasa paling tidak enak hati. Dia tidak tega melihat orang tua sebaik itu mendapatkan kabar menyakitkan dari anaknya.


"Maaf, ini sebenarnya ada apa ya.? Kok sepertinya serius sekali,," Ujar Bapak Karin. Bagaimana dia tidak curiga, melihat raut wajah anaknya yang pucat ketakutan, juga ketiga tamu yang juga terlihat sangat serius.


"Ehmm,,!" Reynald berdehem untuk membuat suaranya terdengar lebih tegas.


"Saya datang kesini mau menikahi anak Bapak." Ucapnya tegas dengan raut wajah datarnya.


Baik Karin, Jeje dan Kenzo, ketiganya melotot menatap Reynald yang tidak ada basa - basinya sedikitpun. Mereka tidak habis pikir ada orang seperti Reynald yang terlihat cuek saat meminta putri seseorang untuk di jadikan istrinya, terlebih dia sudah melakukan kesalahan.


Bapak dan Ibu Karin terkekeh kecil.


"Yang benar saja kasep,, anak Bapak yang pertama laki - laki dan sudah menikah. Yang kedua juga laki - laki, masih semester 7." Bapak Karin menengok anak laki - lakinya yang duduk di sebelah Karin.


Seketika suasana menjadi pecah saat tawa Kenzo dan Jeje menggema. Dia menertawakan kebodohan Reynald yang tidak menyebutkan nama Karin, hingga jawaban orang tua Karin seketika membuat wajah Reynald merah menahan malu. Apa mereka pikir Reynald akan menikahi laki - laki.


"Kenapa tidak di ijinkan.? Karin harus menikah, karna dia sedang mengandung anak saya." Sahut Reynald cepat. Karin menatapnya tajam, tapi kemudian menunduk sedih saat melihat kedua orang tuanya seketika diam, sisa senyum di wajahnya langsung meredup.


"Lu nggak waras ya.?!!" Bisik Kenzo geram.


"Kenapa langsung to the point.! Paling nggak minta maaf lebih dulu dan jelaskan kronologinya.! Akui kesalahan kamu.!" Geramnya lagi.


Kenzo tak habis pikir memiliki sekretaris sebiadab Reynald yang masih bersikap santai meski sudah menghamili seseorang.


"Gimana ini maksudnya neng.? Siapa yang hamil,,?" Tanya Bapak. Saat itu juga Karin menangis, dia langsung bersimpuh di depan kedua orang tuanya.


"Maafin Karin Pak, Bu,,," Suara Karin tercekat, jika dia boleh memilih, ingin rasanya dia pergi sejauh mungkin untuk menyembunyikan kehamilannya di depan kedua orang tuanya. Dia tidak sanggup melihat kehancuran di mata kedua orang tua yang sudah bekerja keras untuk menghidupi dan menyekolahkannya.


"Kamu hamil.?!" Bahu Karin di angkat oleh orang tuanya, dia menatap tajam pada anak bungsunya itu.


"Jawab Bapak.!!" Teriaknya.


Karin hanya bisa mengangguk.


Anggukan Karin membuat kedua orang tuanya menangis.


"Kamu sudah buat kami malu dan kecewa, Bapak lepas tangan.!! Sekarang kamu tentukan sendiri jalan hidup kamu.!"


"Selama ini Bapak menjaga kamu agar tidak terjadi hal seperti ini, tapi kamu mengecewakan kami,,"


"Maaf Pak,,, ini bukan kesalahan anak Bapak." Sanggah Kenzo. Seketika suasana hening.


Perlahan Kenzo mulai menceritakan kejadian buruk yang menimpa Karin, sedikitpun dia tidak memberikan pembelaan pada sekretarisnya. Karna memang Reynald yang bersalah sepenuhnya akan hal ini.


"Jadi ini bukan kesalahan anak Bapak, sepenuhnya kesalahan Reynald, sekretaris saya."


"Kami datang kesini untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah di perbuat oleh Reynlad."


"Dia bersedia untuk menikahi putri Bapak." Sambungnya lagi.


Jeje menatap bangga pada suaminya, dia mengulas senyum penuh haru. Suaminya itu sangat bijak dan dewasa dalam menyikapi permasalahan. Dia bahkan mau turun tangan untuk menyelesaikan masalah sekretarisnya yang tidak tau diri itu.


"Saya tidak akan menikahkan anak saya dengan laki - laki biadab sepertinya.!" Bentaknya dengan menunjuk Reynald.


"Bagaimana bisa dia menghamili anak saya hanya karna tidak bisa mengganti rugi.!"


"Apa uang lebih berharga dari pada harga diri.??!!"


"Lebih baik kalian pulang saja.!! Saja tidak mau berurusan dengan orang kaya yang tidak punya hati nurani pada orang miskin seperti kami.!!"


"Pak,,," Karin menatap sendu orang tuanya.


"Bapak nggak setuju kamu menikah sama laki - laki brengsek itu.!!"


"Tapi aku hamil Pak,," Lirih Karin dengan sesak di dadanya. Dia memikirkan nasibnya yang hamil dan memiliki anak tanpa suami.


"Ada Bapak dan Ibu, kamu nggak usah khawatir. Bapak akan lebih hancur kalau memberikan kamu pada laki - laki seperti itu,,"


"Maafkan saya Pak. Tapi saya benar - benar serius untuk menikahi Karin. Bagaimanapun ada anak saya di rahimnya,,"


"Diam kamu.!!"


"Lebih baik kalian pulang saja.!" Bapak Karin berdiri, dia menarik kerah Reynald dan menyeretnya keluar.


Kenzo pun menyuruh Jeje untuk beranjak, tapi sebelum itu dia menghampiri Karin dan memeluknya.


"Aku yakin ada jalan keluar yang terbaik,, hubungi aku ya kalau perlu sesuatu,," Karin mengangguk , dengan tangis yang tak kunjung reda.


Sampainya di luar, Reynald terus di dorong menjauh dari halaman rumah. Bapak Karin terlihat sangat emosi, namun dia menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan. Baginya menghadapi orang kaya hanya akan membuatnya kalah meski dia benar.


"Kalian pulang saja, aku akan menyelesaikannya sendiri,," Ujar Reynald pada Kenzo dan Jeje.


"Baiklah,," Kenzo menepuk pundak Reynald.


"Kamu harus lebih gantle lagi.! Akui kesalahan dan yakinkan kedua orang tuanya.!"


"Ada darah daging kamu disana,,!" Ucap Kenzo tegas. Dia menggandeng Jeje dan berlalu dari sana.


Sementara itu rumah Karin sudah tertutup rapat, Reynald masih diam berdiri di halaman rumah itu.


Entah harus dengan cara apa agar dia di ijinkan untuk masuk ke dalam lagi.


...****...


Masih banyak yang belum mampir ke novel baru, ayo dong jadiin favorit.


Awas aja kalo masih banyak yang belum mampir abis ini,, eehh kok maksa🤣🤣 becanda ya gaess


Ada di akun pertama "Ratna wullandarrie"