
Baru kali ini Karin merasakan makan di luar bersama Reynald. Dia terlihat canggung sambil sesekali melirik Reynald yang begitu serius menyantap makanannya. Berbeda dengan pengunjung lain yang datang berdua, mereka tidak terlihat canggung sekalipun menunjukan keromantisan meski hanya sekedar bertukar minuman atau saling menyuapi makanan.
Dia dan Reynald lebih mirip orang yang baru pertama kali bertemu dan makan bersama.
Sepertinya tidak akan ada yang percaya jika dia mengaku sebagai sepasang suami istri.
Karin mungkin saja bisa bersikap manja pada Reynald, tapi Reynald sama sekali tidak memberikan celah bagi Karin untuk itu. Lucu rasanya jika Karin merengek dan bersikap manja pada Reynald sedangkan laki - laki itu terus dingin dan kaku.
Terkadang melihat Jeje yang bisa bersikap manja pada Kenzo, membuatnya sedikit iri.
Tapi lagi - lagi Karin harus disadarkan bahwa sikap manis di antara pasangan dimulai dari adanya rasa sayang dan cinta. Meski saat ini dia yakin bahwa Reynald sudah mencintainya, mungkin masih butuh waktu untuk bisa bersikap normal layaknya suami istri.
"Cepet habisin makannya,," Tegur Reynald yang baru selesai menghabiskan makan siangnya. Dia menyeruput minuman sembari menatap Karin yang terlihat malas mengunyah makanan.
"Kita pulang saja kak, aku sudah kenyang,,," Ujarnya sembari meletakan sendok. Makanan di piringnya masih cukup banyak, namun perutnya seakan enggan menampung lebih banyak lagi. Nafsu makannya mulai menurun akhir - akhir ini.
Reynald memberikan tatapan tajam begitu mendengar Karin tidak mau menghabiskan makanannya. Dia langsung pindah duduk di samping Karin dan menarik piring milik Karin ke depannya.
"Kamu itu bukan cuma makan untuk diri sendiri.! Pikirkan juga anakku." Ujar Reynald kesal. Dia menyendokan makanan dan menyuapkannya pada Karin.
"Tapi kak aku sudah kenyang,," Karin berusaha menolak.
"Buka mulutmu atau aku tinggal disini.!" Ancam Reynald dengan mata yang semakin melotot tajam. Karin menghela nafas pelan sebelum akhirnya membuka mulut dan menerima suapan dari Reynald. Karin sempat melihat Reynald menarik tipis sudut bibirnya saat sedang membuka mulut. Tatapan Reynald juga perlahan terlihat teduh.
Dia mirip singa yang baru saja dijinakkan.
Reynald terus menyuapi makanan kedalam mulutnya tanpa berkomentar apapun lagi. Sementara itu Karin terlihat menundukan wajahnya karna malu pada pengunjung lain yang sesekali melihat ke arahnya.
Padahal dia baru sja berharap mendapatkan perlakuan manis dari Reynald, membayangkan bisa bermanja dengannya, dan iri melihat pasangan yang saling menyuapkan makanan. Tapi begitu dia di suapi oleh Reynald, justru merasa malu karna dilihat oleh orang lain.
Reynald tersenyum sinis melihat makanan milik Karin habis tak tersisa. Entah kenapa tadi tidak mau menghabiskan makanannya dengan alasan sudah kenyang. Nyatanya setelah dia menyuapi Karin, wanita itu terus melahapnya.
"Mau nambah.?" Tanya Reynald, suaranya terdengar sedang meledek. Pasalnya Karin menengok kearahnya seperti menunggu suapan dari Reynald. Dia sibuk menundukan wajah sampai tidak tau kalau makanan miliknya sudah habis.
"Hah,,?" Karin bengong dengan mulut yang sedikit terbuka dan ekspresi wajah polosnya yang tidak paham dengan ucapan Reynald.
"Sudah habis makanan kamu,," Reynald terkekeh geli, tangannya mengusap gemas pucuk kepala Karin. Hal itu membuat Karin langsung terdiam, awalnya dia malu karna mengetahui makanannya sudah habis tapi masih menunggu Reynald menyuapinya. Namun usapan tangan Reynald di kepalanya merubah rasa malu menjadi rasa haru.
Untuk pertama kalinya Reynald mengusap kepalanya dengan sorot mata yang teduh, diiringi dengan senyumnya yang terlihat merekah.
Mungkin hal ini akan terlihat biasa bagi wanita lain yang sering mendapatkan perlakuan manis dari pasangannya. Tapi bagi Karin, apa yang baru saja dia rasakan adalah sebuah kebahagiaan yang sulit untuk di jelaskan dengan kata.
Rasanya sangat nyaman dan menyenangkan diperlakukan seperti itu oleh Reynald. Kesan dingin dan kaku yang melekat pada dirinya seketika lenyap begitu saja saat itu.
"Kalau masih laper kita bisa pesan lagi makanannya,," Reynald menyingkirkan tangannya dari kepala Karin. Menatap Karin yang terus diam dengan sorot mata yang sedikit berkaca - kaca memandangnya.
"Nggak usah kak, kita pulang saja."
Reynald mengangguk, keduanya beranjak dari sana.
Reynald meraih tangan Karin dan menggandengnya. Tidak mau menyia - nyiakan kesempatan langka ini, Karin membalas gandengan tangan Reynald dengan mendekap lengan besar suaminya itu. Karin seolah bisa membaca situasi, dia bisa merasakan jika saat ini mood Reynald sedang baik. Apa lagi tadi sempat tersnyum lebar dan mengusap kepalanya.
Merasakan tangannya di dekap oleh Karin, Reynald melirik sekilas dan hanya tersenyum samar.
Mereka langsung pulang ke apartemen. Setelah turun dari mobil, Reynald kembali menggandeng tangan Karin dan Karin mendekap lengan Reynald sampai keduanya masuk kedalam apartemen.
Tidak ada obrolan yang terjadi, namun terlihat hangat dan romantis dengan wajah keduanya yang dihiasi seulas senyum.
"Jangan lupa minum dulu vitaminnya sebelum istirahat,,," Ujar Reynald setelah menutup pintu. Karin mengangguk patuh.
...******...
Jeje menggerak - gerakan bahunya yang sedang di pegang oleh Kenzo dari belakang sembari mendorongnya menuju kamar. Jeje sudah seperti mangsa yang baru saja di tangkap dan akan langsung di lahap saat itu juga.
"Hubby iihh,,," Keluh Jeje sambil terus menggerakan bahunya agar Kenzo melepaskan tangannya.
"Sabar dikit dong by,, jangan dorong - dorong begini. Aku udah kaya kriminal aja yang mau di masukin ke dalam sel.!" Protesnya dengan bibir yang mencebik.
Suaminya itu memang tidak bisa sabar jika soal pergulatan.
Jeje terlihat pasrah dalam dekapan Kenzo saat di bawa ke atas ranjang.
Di baringkannya tubuh Jeje dengan perlahan, tangannya sudah menjalar kemana - mana dengan bibir yang terus menyesap dan melu**t bibir Jeje.
Nafas Kenzo sudah memburu, Jeje bisa merasakan jika Kenzo sudah diselimuti gairah yang menggebu. Pantas saja dia terus menempel saat dalam perjalanan.
"Hubby,,," Desah Jeje tertahan. Dia langsung hanyut hanya dengan beberapa kali sentuhan tangan Kenzo.
Kenzo menghentikan aksinya, duduk di samping Jeje yang sedang berbaring dengan nafas yang mulai memburu.
"Kenapa jadi aku yang bekerja.?" Gumamnya pada Jeje. Raut wajahnya mengatakan bahwa saat ini dia meminta Jeje untuk memuaskannya.
"Ayo,, aku minta imbalan yang pertama sekarang." Ujarnya sembari merebahkan tubuhnya di samping Jeje. Terlentang di atas ranjang dengan wajah yang terlihat tidak sabar untuk menerima imbalan menggiurkan dari Jeje.
"Hubby perhitungan sekali. Aku atau hubby yang memulai, bukannya sama saja.?" Jeje bangun, terlihat malas untuk memulai aksi liarnya.
"Sama apanya.?" Manik mata Kenzo terus mengarah pada leher dan bagian dada Jeje yang terekspos. Nadanya terlihat naik turun dengan cepat.
"Tentu saja sama - sama enak, memangnya apa lagi,," Sahut Jeje enteng.
Kenzo mengulum senyum.
"Memang sama - sama enak, tapi lebih enak lagi kalau terima beres." Kenzo menarik tangan Jeje, membuat wanita itu berada di atas tubuhnya.
"Nanti saja ngobrolnya, selesaikan dulu tugas kamu,," Suara Kenzo semakin terdengar serak.
Jeje mengangguk pasrah, memang sudah seharusnya dia melakukan tugas ini untuk membayar imbalan yang dia janjikan atas kerja sama Kenzo karna mau mendukung rencananya dalam mengerjai Reynald.
Hampir 30 menit, Kenzo masih bertahan di bawah tubuh Jeje. Dia begitu menikmati permainan yang diberikan oleh istri cantiknya itu.
Melihat Jeje yang mulai kelelahan, Kenzo langsung mengambil alih dan menyelesaikan permainan panas mereka.
Nafas keduanya masih memburu. Jeje memeluk Kenzo dalam balutan selimut yang sama. Permainan yang lembut namun banyak menguras energi. Jeje bahkan sampai diam tak bergerak sedikitpun saat ini dan hanya berusaha untuk menormalkan nafasnya.
"Kamu harus ingat, masih ada 3 kali imbalan yang harus kamu penuhi." Bisik Kenzo. Jeje hanya mengangguk pelan. Dia sedang tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Kenzo. Asalkan Kenzo tidak memintanya sekaligus dalam 1 hari, dia tidak akan keberatan untuk imbalan sebanyak yang Kenzo minta.
Keduanya kembali diam, hanya terdengar deru nafas yang sudah mulai teratur. Jeje juga sedikit menggeser tubuhnya dan tidak lagi memeluk Kenzo, namun masih menempel rapat di sampingnya sambil menatap langit - langit kamar.
Meski Nicho mengatakan bahwa dia baik - baik saja, tapi sebagai adiknya, Jeje tidak bisa percaya begitu saja. Dulu dia melihat bagaimana hancurnya Nicho saat Fely memutuskan hubungan mereka. Jadi hal itu membuat Jeje ragu dengan kondisi Nicho.
Bohong jika kakaknya itu bilang baik - baik saja. Kehilangan orang yang kita cintai dengan cara yang menyakitkan seperti itu, tentu saja mampu menggoreskan luka di hati.
"Aku tidak yakin kak Nicho baik - baik saja. Hatinya pasti sangat hancur. Mungkin saja dia rapuh saat ini tapi hanya pura - pura baik di depan kita,," Gumam Jeje dengan pandangan mata yang menerawang.
Dia bisa merasakan ada di posisi Nicho, karna dulu pernah mengalaminya. Rasanya pasti sama seperti saat dia akan di tinggalkan Kenzo untuk menikah dengan Nadine. Bukan hanya hati yang terasa hancur, tapi dunia ini seperti ikut hancur bersamanya.
"Nicho hanya butuh waktu Je, kamu dengar sendiri kan."
"Biarkan dia menenangkan diri untuk sementara waktu. Aku yakin dia bisa menjalani hidupnya dengan baik setelah ini." Ujar Kenzo lembut. Dia hanya tidak ingin melihat Jeje terus terbebani dengan permasalahan yang sedang di hadapi oleh Nicho.
"Aku harap begitu,," Jeje kembali memeluk Kenzo dan memejamkan matanya.
Dia berharap yang terbaik untuk Nicho.
...****...
Biar pada mabok visual, nih othor kasih banyak fotonya om Kenzo 🤣