
Karin terlihat menghela nafas pelan. Sudah pukul 5 sore tapi dia masih di atas ranjang dan baru selesai menuntaskan permainan panas itu.
Di lihatnya Reynald yang sudah mulai terlelap, dengan dengkuran halus yang terdengar teratur.
Setalah 1 jam mendominasi permainan, suaminya itu langsung terkapar. Mungkin tadi siang dia tidak ikut tidur dan hanya menemaninya tidur dengan terus memeluknya, sampai akhirnya tangan jahilnya menjalar kemana - mana.
Kegiatan yang awalnya Reynald bilang hanya sebentar, padahal akhirnya sampai memakan waktu 1 jam dan sampai melakukan babak ke dua.
Karin memang tidak pernah yakin setiap kali Reynald bicara seperti itu. Jika sudah menyangkut urusan ranjang, tidak ada yang namanya sebentar. Reynald pasti akan melakukannya di atas 1 jam.
Karin menarik selimut untuk menutupi dada bidang Reynald yang terbuka. Suhu di kamar cukup dingin dan tidak akan baik untuknya tidur bertelanjang dada seperti itu.
Aura yang terpancar dari wajah Reynald bagaikan bumi dan langit saat dalam keadaan tertidur dan saat tidak tidur.
Dalam keadaan seperti itu, Reynald terlihat sangat polos, lembut dan penuh cinta. Jauh berbeda ketika dia terbangun nanti. Aura dingin, tegas dan ketusnya langsung terpancar dari wajahnya.
Setelah memunguti baju miliknya dan juga baju milik Reynald yang semuanya berserakan di lantai, Karin langsung meletakan nya di keranjang baju kotor, kemudian bergegas mandi.
Dia harus membuat makan malam setelah ini, sebelum Reynald bangun dan melarangnya memasak.
ART sudah di pulangkan sejak tadi siang saat mereka baru kembali setelah bertemu Alisha. Malam ini Karin harus membuat makanan untuk bisa dia makan bersama Reynald.
Karin terlihat serius membuat hidangan makan malam. Dia sedang membuat menu ke dua dan setelah ini akan menatanya di meja makan.
Karin menoleh ke belakang setelah mendengar suara derap langkah yang semakin dekat. Reynald menghampirinya dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek.
"Masak apa.? Nanti gosong,,," tegur Reynald. Dia langsung memeluk Karin dari belakang dan meletakan dagu di pundak Karin.
"A,,aayam teriyaki,,," Karin terlihat gugup karna tiba - tiba di peluk Reynald. Dia langsung mengaduk masakannya sebelum benar - benar gosong.
Tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut Reynald. Laki - laki itu masih diam dalam posisinya, namun tidak dengan tangannya yang kini mengusap perut Karin dengan perlahan.
Karin sudah cemas di buatnya, dia berfikir kalau Reynald akan memarahinya setelah melihatnya sedang memasak, tapi yang ada laki - laki itu justru menempel padanya.
"Mandi dulu kak, nanti makin malem,,," Ujar Karin. Dia mematikan kompor, harusnya dia sudah mengambil piring sejak tadi untuk menaruh ayam teriyaki, tapi karna Reynald mengunci badannya dengan terus memeluknya, Karin sama sekali tidak bisa bergeser sedikitpun.
"Kamu sudah mandi.?" Reynald berbicara tanpa mengangkat dagunya sedikitpun dari bahu Karin. Gerakan dagu Reynald bahkan sampai membuat Karin menggeliat geli.
"Udah lepas ih,, geli kak,,," Karin menggoyangkan bahunya berkali - kali untuk membuat Reynald melepaskan diri.
"Aku udah mandi 2 jam yang lulu. Sebaiknya kakak mandi sekarang, aku sudah lapar,,,"
Karin berbalik badan dan mendorong pelan dada Reynald hingga dia melepaskan pelukannya.
"Mandiin,,," Pinta Reynald. Dia. Meriah pinggang Karin dan kembali memeluknya.
Reynald berdiri di tempat dan memperhatikan Karin sampai wanita itu benar - benar selesai menata makanan di atas meja. Begitu selsai, dia langsung menghampiri Karin, menggendongnya dan mendudukkannya di atas meja makan.
"Ya ampun kak.!" Pekik Karin kaget.
"Lepas ih,, mau turun,,," Karin memukul bahu Reynald. Laki - laki itu mengurungnya dengan kedua tangan.
"Mau mandiin atau mau main lagi tapi di sini.?!" Ujarnya sembari mengetuk meja.
Mata karin terbelalak.
"Jangan bercanda.! Mana bisa di sini,," Sahut Karin sewot.
"Kenapa tidak bisa.?" Tanya Reynald dengan seringai mesum.
"Kamu hanya perlu melebarkan paha seperti ini,,," Reynald membuka kedua paha Karin, dan otomatis dress yang dipakai Karin langsung tersingkap ke atas.
"Selanjutnya tinggal membuka celana dal*m,,," Suara Reynald seperti sedang menggoda Karin. Begitu juga dengan tatapannya yang membuat Karin meremang.
"Nggak mau kak.! Aku cape,,"
Tolak Karin dengan wajah cemberut, bahkan matanya berkaca - kaca dan hampir menangis.
"Ok,,, tidak sekarang. Kita lakukan besok,,," Ujar Reynald datar. Dia menurunkan Karin sembari ******* sekilas bibir Karin, kemudian beranjak pergi meninggalkan Karin yang memaku.
...****...
Jeje menatap Papa Alex sejak tadi. Dia tidak fokus menyantap makan malamnya karna ingin membicarakan tentang Nicho pada kedua orang tuanya. Nicho sudah kehilangan orang yang selama ini dia pertahankan hingga membuat hubungannya dan sang papa renggang. Kini Jeje ingin membuat hubungan Nicho dan Papa Alex kembali hangat seperti dulu.
"Lihat putri kita pah, baru satu hari pisah rumah sama suaminya sudah tidak ***** makan seperti itu." Ujar Mama Rissa.
"Papa harus tanggung jawab kalau sampai kesehatan Jeje dan calon cucu kita justru memburuk akibat ulah Papa.!" Nada ancaman Mama Rissa terdengar menyeramkan. Terlebih tatapan tajamnya juga tidak lepas dari Papa Alex.
Papa Alex yang sedang mengunyah makanan terlihat kesulitan untuk menelannya. Sementara itu, Jeje hanya menatap bingung.
"Kenapa mama bicara seperti itu.? Papa pisahin mereka sementara juga untuk kebaikan Jeje dan calon cucu kita."
"Jeje terlihat baik - baik saja, Mama saja yang berlebihan."
"Kamu tidak apa kan sayang,,,?" Tanyanya pada Jeje.
Mendengar penjelasan dari istrinya, Papa Alex langsung mengarahkan pandangannya ke piring Jeje. Ternyata memang benar apa yang di katakan oleh istrinya. Tapi Papa Alex tidak yakin kalau itu ada kaitannya dengan pisah rumah.
"Kenapa tidak di makan Je.? Kamu tidak lapar.?" Tanya Papa Alex lembut. Namun mama Rissa langsung memukul lengannya.
"Papa ini bagaimana.?!! Mana ada orang hamil tidak lapar, kecuali dia baru makan 1 jam yang lalu. Jeje itu belum makan sejak sore,," Mama Rissa terlihat semakin geram, dan Jeje justru semakin kebingungan. Kedua orang tuanya terus berdebat, padahal yang mereka perdebatan tidak benar.
"Pokoknya kalau Jeje mau kembali ke apartemen, Papa tidak boleh melarangnya.!"
"Lagi pula kenapa harus khawatir, Kenzo pasti akan menjaga anak dan cucu kita.!" Seru Mama Rissa tak mau di bantah. Mendengar hal itu, Jeje langsung bersorak riang dalam hati. Saat ini Dia punya kesempatan untuk bisa tinggal bersama lagi dengan Kenzo.
"Kita tanyakan dulu sama Jeje, siapa tau itu hanya perasaan Mama saja. Papa yakin Jeje tidak keberatan pisah sementara dengan Kenzo, iya kan sayang,,,?" Papa Alex masih saja menahan Jeje agar tidak tinggal bersama dengan Kenzo.
"Tentu saja keberatan Pah. Jeje tidak bisa tidur nyenyak tanpa kak Ken,," Wajah Jeje berubah sendu.
"Ini baru 1 malam. Mungkin nanti malam dan seterusnya Jeje tidak akan bisa tidur,,," Tambahnya lagi. Wajah Jeje terlihat semakin menyedihkan, dan hal itu mampu membuat Papa Alex merasa bersalah.
"Tuh,,, Papa dengar sendiri kan apa kata Jeje.?"
"Papa itu memang keterlaluan.!" Ujar Mama Rissa sewot.
Papa Alex menghela nafas kasar.
"Oke,,, Papa ijinkan kalian tinggal bersama lagi. Tapi,,,,"
"Tapi apa Pah.?" Tanya Jeje cepat.
"Kalian harus tinggal di sini sampai cucu Papa lahir,,,"
"Dan Papa akan terus mengawasi suamimu itu.!"
Ucapan Papa Alex sempat membuat Jeje terdiam. Dia takut Kenzo tidak akan setuju untuk tinggal bersama di rumah Papa Alex.
"Tidak ada pilihan lain Je,,," Ujarnya lagi.
"Nanti Jeje bilang sama kak Ken dulu Pah,,,"
Jeje langsung menyelasaikan makam malamnya dan pergi ke kamar untuk menghubungi Kenzo.
Dia jadi mengurungkan niatnya untuk membahas tentang Nicho. Akibat kesalah pahaman mama Rissa, Jeje jadi punya kesempatan untuk tinggal bersama lagi dengan Kenzo. Itu sebabnya Jeje memilih untuk tidak membicarakan tentang Nicho dan memilih untuk membicarakannya besok.
"Hubby,,," Seru Jeje sambil melambaikan tangan ke layar ponsel nya. Dia tersenyum lebar pada Kenzo.
"Kenapa masih di kantor.?" Ujarnya lagi.
"Kamu sudah makan.?"
Jeje mengangguk.
"Masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan,,,"
"Kamu,,,
"Ini berkasnya Pak,,," Terdengar suara perempuan yang membuat Kenzo menghentikan ucapannya.
"Oh, Pak Kenzo sedang menelfon.? Maaf saya tidak tau."
"Kembali saja ke ruangan kamu,,"
"Baik Pak, permisi,,,"
Jeje hanya diam saja menyimak pembicaraan Kenzo dan seorang perempuan yang tidak terlihat wujudnya.
"Hubby hanya berdua.?"
Kenzo mengangguk pelan. Dia menunduk, memeriksa berkas yang, diberikan oleh perempuan tadi.
Jeje menarik nafas dalam. Tiba - tiba saja pikiran buruk muncul dalam kepalanya. Seorang atasan memiliki hubungan gelap dengan bawahannya, seperti yang sering dia lihat di drama ataupun baca di novel. Namun Jeje langsung menepis pikiran buruk itu, dia yakin Kenzo tidak akan membuatnya terluka.
"Papa sudah mengijinkan kita tinggal besama lagi, asal kita harus tinggal disini sampai aku melahirkan,,," Jeje bersuara setelah tadi hanya memandangi wajah Kenzo yang sedang serius membaca.
"Benarkah.?" Kenzo menatap Jeje dengan mata berbinar.
"Hu'um,," Sahut Jeje sambil mengangguk.
"On the way sayang,,, Aku pulang sekarang,,,"
Kenzo langsung mematikan sambungan telfonnya secara sepihak. Jeje hanya bisa melongo menatap layar ponselnya.
"Astaga my hubby,,,!" Seru Jeje sembari menepuk keningnya.
...****...
...Covernya di ganti lagi sama pihak NT...