
Aku kembali teringat pada ucapan om Kenzo yang mengatakan kalau dia juga mencintaiku.
Antara percaya dan tidak, tapi yang jelas aku sangat bahagia dan lega saat ini.
Bahagia karna ternyata selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Pantas saja om Kenzo sangat perhatian padaku, dan setiap kali menatapku seakan ada cinta di matanya. Hanya saja saat itu aku terlalu takut untuk meyakininya.
Itu artinya saat om Kenzo marah padaku karna aku berkomunikasi dengan kak Gerald, dia sedang meluapkan kecemburuannya.?
Ya ampun, kenapa aku jadi sesenang ini.
Dan kejelasan hubungan antara om Kenzo dan kak Fely yang ternyata hanya sebatas kakak beradik, membuatku bisa bernafas lega. Itu artinya aku masih memiliki kesempatan untuk bisa memiliki om Kenzo. Namun masih ada sedikit yang mengganjal pikiranku. Jika om Kenzo dan kak Fely kakak beradik, lalu cincin milik siapa yang ada di jari manis om Kenzo.?
Aku hanya tau ada 2 nama wanita yang ada di kehidupan om Kenzo, yaitu Kak Fely dan Nadine.
Kak Fely sudah jelas statusnya adalah adik kak Kenzo. Lalu Nadine.? Apa mungkin dia,,,
Ah,, tidak mungkin. Bukankah dia sedang berkencan dengan sepupu Celina.
"Kenapa bengong.?" Tanya om Kenzo, dia meletakan satu tangannya di pipiku, lalu mengusap air mataku yang masih tersisa disana.
"Lalu itu cincin apa om,,?" Tanyaku sambil menunjuk tangan om Kenzo.
"Kenapa terus membahas soal cincin ini.? Bukannya aku sudah pernah bilang, cincin ini tidak penting,,"
"Tapi om,,,"
"Hanya karna sebuah cincin kamu jadi ragu dengan perasaanku.?" Ujarnya memotong ucapanku.
Sejujurnya bukan tentang ragu atau tidaknya, aku hanya ingin memastikan kalau om Kenzo tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita lain.
Aku tidak ingin terluka lagi untuk kedua kalinya. Cukup kesalahpahaman ini yang sudah membuat hatiku hancur berkeping-keping.
Aku terpaku saat om Kenzo mengangkat daguku. Jarak wajah kami begitu dekat, aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya.
"Aku mencintaimu Jenifer Alexander,,," Ucapnya berbisik. Om Kenzo mendekat dan m*lum*t sekilas bib*rku.
"Tetap di sisiku, jangan pernah coba untuk pergi. Dan ingat, jangan cemburu buta sampai harus menguras air mata seperti ini,," Om Kenzo kembali menghapus air mata di sisi pipiku yang lain.
"Apa artinya kita pacaran om,,?" Tanyaku malu - malu. Aku tidak sepenuhnya menatap om Kenzo.
"Apa umur 30 tahun masih pantas pacaran.?" Ujarnya dengan menahan tawa. Memangnya apa yang salah dengan usia.? Aku rasa tidak ada yang melarang pacaran di usia yang matang seperti itu.
"Emangnya kenapa om.? Lagian om itu masih keliatan muda, nggak kayak umur 30 tahun,,," Ujarku santai.
"Udah pinter ngegombal kamu ya." Om Kenzo mencubit gemas hidungku.
"Iih,,, siapa yang ngegombal. Aku tuh serius om. Jadi kita pacaran kan om.?" Aku masih saja ingin memastikan hubungan kami. Sebelum om Kenzo menjawabnya, aku tidak akan berhenti untuk bertanya. Aku hanya ingin status hubungan kami jelas, tidak lagi menjadi sugar baby atau sugar daddy.
"Jadi kamu maunya kita pacaran.? Apa kamu tau, pacaran itu bisa putus kapan saja. Aku nggak mau seperti itu. Jadi tetap disini sebagai calon istriku,,"
Aku meleleh mendengar penuturan om Kenzo.
"Kita akan menikah nanti, kamu harus tetap disisiku sampai waktu itu tiba,," Lanjutnya.
Aku tidak mampu lagi berkata - kata, semua ini bagaikan mimpi. Apa aku dan om Kenzo benar - benar akan menikah suatu saat nanti.?
Semudah itu Tuhan mengabulkan keinginanku selama ini.?
Aku benar - benar merasa bahagia, sangat bahagia.
Aku harap apa yang om Kenzo katakan benar - benar terjadi. Tidak sabar rasanya untuk menunggu hari bahagia itu.
"Tetap rahasiakan hubungan kita, sampai aku sendiri yang akan mengatakannya pada mereka nanti. Kamu mengerti kan,,?" Ujarnya lembut.
Aku hanya mengangguk saja.
Aku percaya sepenuhnya dengan om Kenzo.
Mungkin memang belum saatnya hubungan kami diketahui oleh keluarga masing - masing. Terlebih awal pertemuan kita yang akan sulit untuk di jelaskan pada mereka. Belum lagi usia kami yang terpaut 12 tahun.
Aku juga sedikit ragu mama dan papa akan merestui kami, meskipun hubungan mereka dan om Kenzo sangat baik.
"My sugar is smart,," Kayanya dengan mengusap lembut kepalaku.
"Om baru tau kalau aku pintar.?" Sahutku bangga.
"Aku baru tau saat kamu memuaskanku di kamarmu waktu itu. Kamu memang pintar,,," Bisiknya.
Aku hanya bisa menelan kasar saliva ku. Rasanya malu sekali mengingat kejadian malam itu.
"Om.!" Pekikku sembari mendorong dada om Kenzo agar menjauh.
"Buruan keluar om, nanti kak Nicho keburu balik ke resort." Aku baru teringat kembali dengan kak Nicho.
Bisa - bisa om Kenzo di hajar sampai babak belur, kalau sampai kak Nicho melihatnya ada di kamar ini bersamaku.
Perkataan om Kenzo justru membuatku jadi memikirkan mereka berdua. Aku takut akan terjadi perdebatan lagi di antara mereka seperti saat di restoran. waktu itu.
"Om,, sebaiknya kita susul mereka saja. Aku takut mereka berantem om,," Aku hendak turun dari ranjang, namun om Kenzo menahanku.
"Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya."
Ucapnya datar.
"Sini,,!" Om Kenzo menepuk pahanya, memintaku untuk duduk di sana. Aku yang memang sudah dibuat candu olehnya, langsung menurut begitu saja dengan duduk menyamping di pangkuan om Kenzo. Tanganku bergelayut di lehernya.
Jantungku mulai berdebar, hawa panas mulai menyelimuti meski kami belum melakukan apapun.
Otak mesum ini sudah membayangkan hal - hal panas yang akan terjadi sesaat lagi.
Om Kenzo mulai mendekat dan melu**t bib*rku dengan gerakan lembut namun dalam. Aku hanya bisa memejamkan mata, menikmati c*umannya yang memabukkan itu.
Badanku menegang saat tangan om Kenzo menyusuri pahaku hingga terus naik keatas, menyusup dibalik dress milikku dan berhenti di kedua benda favoritnya.
"Omm,,," Desahan ku tertahan oleh bibirnya.
Om Kenzo mer*masnya bergantian sambil terus mencium ku. Cukup lama memainkannya, tangan om Kenzo berpindah ke bawah. Aku refleks membuka pahaku untuk memudahkan tangan om Kenzo bermain di sana.
Aku semakin terbakar gairah oleh ulah om Kenzo.
Hal itu membuatku tidak tinggal diam. Segera ku buka kancing kemeja om Kenzo satu - persatu.
om Kenzo melepaskan ciumannya, dia tersenyum padaku setelah aku berhasil menanggalkan kemeja dari tubuhnya.
Jari om Kenzo semakin kencang memainkannya, membuat badanku semakin menegang dan terus mendesah di buatnya.
"Ahh,,, om,,,," Erangku saat sesuatu di bawah sana meledak dengan rasa nikmat yang luar biasa.
Aku memeluk om Kenzo, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya. Aku berusaha mengatur nafasku yang masih memburu.
"Sudah siap memuaskan ini.?" Kata om Kenzo sembari mengangkat pahanya hingga membuat miliknya semakin terasa menyembul di b*k*ngku.
Aku mengangguk dengan seulas senyum. Om Kenzo segera mengangkatku, lalu merebahkan tubuhku di ranjang. Dia melucuti semua kain yang menempel di tubuhku, dan kembali menyerang ku hingga aku mencapai puncak untuk kedua kalinya.
Kini giliran aku yang mendominasi adegan panas ini. Aku tidak malu lagi untuk melakukan hal yang membuat om Kenzo semakin terbakar gairah.
Namun aku bangga padanya, dia masih saja bisa menahan diri. Enggan melakukan penyatuan.
...****...
"Kamu mau tetap disini atau kembali ke pantai.?" Tanya om Kenzo setelah kami membersihkan diri dan memakai baju kembali.
"Ke pantai lagi om,,".Jawabku antusias.
Tidak ada lagi alasan untuk mengurung diri di kamar. Karna semua permasalahan yang aku hadapi sendiri, nyatanya hanya sebuah kesalahpahaman saja.
"Om duluan aja ya, nanti aku nyusul. Takut kak Nicho curiga kalau kita muncul bareng - bareng,,"
Aku membukakan pintu kamar, mengintip sedikit untuk memastikan kalau kak Nicho belum kembali.
"Kenapa Nicho harus curiga.? Bilang saja kita tidak sengaja bertemu di resort. Asal kamu tau, aku menginap di resort sebelah. Ini Resort milik om Alex bukan.?"
Aku tercengang di buatnya, antara kaget dan senang. Tapi sejujurnya lebih banyak senangnya karna itu artinya kami bebas bertemu selama berada di resort. Terlebih jendela kaca di kamarku terhubung dengan halaman belakang resort yang di tempati om Kenzo. Dan itu bisa membuat om Kenzo bebas datang ke kamarku.
Ah dasar otak mesumku ini tidak ada hentinya menginginkan kami terus menghabiskan waktu bersama.
"Kenapa senyum - senyum.? Masih mikirin hal mesum setelah tadi baru saja berbuat mesum.?" Ledek om Kenzo.
"Iihh,, apaan sih om,,!" Protesku dengan mencebikkan bibir. Aku memukul lengannya. Om Kenzo paling bisa kalau membaca pikiran mesumku.
"Nanti malam jangan kunci jendelanya,," Bisik om Kenzo di telingaku. Dia tersenyum sebelum akhirnya keluar dari kamar. Aku hanya bisa mematung dengan segala perasaan yang berkecambuk. Dan yang pastinya pipiku merona dibuatnya.
"Om Ken tungguin,,,!" Teriakku sambil berlari kecil untuk mengejarnya. Om Kenzo menoleh kebelakang, dia melambatkan jalannya sampai aku berhasil berjalan di sampingnya.
"Om,,," Panggilku lirih.
...*****...
Eh ada yang jadian😁 nggak jadi sugar baby & sugar daddy lagi.
Seneng nggak.? seneng nggak.?
Seneng dong, masa enggak. 😁
Jangan lupa VOTE buat yang belum vote (1 vote sangat berarti buat othor).
Pokoknya dukung terus karya othor ya🥰