My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 93. My hubby



Kenzo hanya bisa menghela nafas kasar, melihat Clara yang tidak percaya kalau Jeje adalah istrinya.


Dia memilih untuk pergi dari hadapan Clara, dari pada harus panjang lebar menjelaskannya pada Clara yang begitu terobsesi padanya. Rasanya percuma saja, karna wanita itu tidak mudah mempercayai tentang pernikahannya.


"Terserah kau saja.!" Ketus Kenzo. Dari raut wajahnya, tentu saja Kenzo terlihat kesal dengan wanita itu.


"Ayo sayang,,," Ujarnya pada Jeje. Kenzo mendorong troli dan berlalu dari hadapan Clara.


"Tunggu Ken,,," Aksi Clara yang akan mengejar Kenzo, dihadang oleh tangan Jeje. Jeje mendelik menatap wanita dewasa yang berpotensi menjadi rivalnya.


"Tante nggak denger My hubby ngomong apa.?!" Ketus Jeje.


"Aku istrinya.! Jangan coba - coba deketin my hubby,,!" Ujarnya tegas dengan suara lantang. Jeje berlalu untuk menyusul Kenzo, meninggalkan Clara yang hanya diam mematung. Dia masih bingung melihat kakak beradik yang menurutnya bersikap aneh itu.


Meski Jeje sudah mempertegas, tetap saja Clara tidak percaya.


Jeje berjalan santai di samping Kenzo. Dia sama sekali tidak merasa takut sedikitpun dengan kedatangan wanita yang jelas - jelas terlihat menyukai suaminya. Dia begitu percaya sepenuhnya pada Kenzo, yakin bahwa Kenzo tidak akan pernah berpaling darinya.


Karna cinta yang selama ini di tunjukan Kenzo padanya, sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau suaminya itu akan setia padanya.


Terlebih, Jeje meyakini kalau wanita kecentilan itu tidak akan masuk dalam daftar kriteria wanita idaman Kenzo. Jadi sudah di pastikan, kalau Kenzo tidak akan melirik wanita itu sedikitpun.


"Sepertinya tante - tante itu terobsesi sama suamiku,," Ujar Jeje, dia melirik Kenzo yang terus mendorong troli ke arah kasir.


Jeje hanya basa - basi membuka obrolan tentang Clara. Walaupun ada sedikit keingintahuan seperti apa reaksi Kenzo jika dia membahas tentang Clara.


"Kenapa.? Kamu cemburu.?"


Kenzo mengulas senyum. Sejak tadi dia memang sudah menunggu saat dimana Jeje akan menanyakan perihal Clara. Meskipun dia tidak menyukai kehadiran Clara, tapi dia menginginkan Jeje cemburu melihat ada perempuan yang mendekatinya.


"Memangnya apa yang harus aku cemburui.? Kecuali kalau kalian memiliki hubungan." Jawab Jeje santai. Selagi suaminya dan wanita itu tidak kelewat batas dalam berinteraksi, tentu saja dia tidak akan cemburu. Kecuali kalau kedekatan mereka terlihat intim, apa lagi kalau sampai menjalin hubungan, bukan hanya cemburu saja yang akan dia rasakan, tapi sakit hati dan kehancuran untuk kedua kalinya.


Kenzo hanya mengulas senyum, dia meletakan satu tangan di kepala Jeje dan mengacaknya pelan.


Meski usia Jeje jauh lebih muda darinya, Kenzo menyadari kalau Jeje lebih banyak memiliki sifat dewasa, ketimbang sifat remajanya yang seharusnya masih labil.


Untuk soal kecemburuan, Kenzo mengaku kalah.


Dia bahkan sangat cemburu setiap kali melihat Jeje didekati oleh Gerald. Bukan tidak percaya kalau Jeje tidak setia padanya, hanya saja dia tidak suka wanitanya dekat dengan pria lain.


...**...


4 kantong belanjaan sudah di masukan Kenzo kedalam bagasi mobilnya. Sedangkan Jeje lebih dulu masuk ke dalam mobil. Dia sedang meneguk air mineral dingin di tangannya.


Saat Kenzo masuk, Jeje tersenyum lebar padanya.


Rasanya benih - benih cinta terus tumbuh setiap detik, membuat perasaan keduanya semakin kuat.


"Minum by,,,?" Tawar Jeje sembari menyodorkan botol air mineral di tangannya.


Kenzo mengambilnya, dia terus meneguknya hingga air itu hampir tak tersisa. Jeje membulatkan matanya.


"Stop by.!! Aku masih mau,,," Cegahnya sembari menahan botol di tangan Kenzo agar air di dalamnya tidak habis seluruhnya. Jeje baru saja meminum beberapa teguk, tenggorokannya masih terasa kering setelah tadi berkeliling untuk belanja.


"Kenapa nggak bilang dari tadi. Aku pikir kamu sudah selesai minumnya."


"Tinggal sedikit,," Kenzo menyerahkan botol itu pada Jeje. Wanita cantik disebelahnya hanya menyengir kuda, lalu menghabiskan sisa air ditangannya.


"Masih haus,,,?"


Jeje menggeleng.


"Kalau masih haus, kita bisa bertukar saliva,,," Ujar Kenzo dengan entengnya. Dia bahkan mengulas senyum mesum.


Jeje tersenyum malu. Jika saja mereka tidak sedang berada di parkiran mall, mungkin dia akan menerima usul Kenzo dengan senang hati. Dia sudah bisa merasakan kembali, bibir Kenzo yang menjadi candu baginya.


"Jangan macam - macam by,, ini di tempat umum,,"


Jeje memutar tubuhnya ke belakang, meletakan botol di tangannya ke dalam tempat sampah yang ada di jok belakang.


Tanpa dia sadari, Kenzo melepaskan jaket kulit yang dia kenakan. Saat Jeje berbalik, Kenzo melebarkan jaketnya untuk menghalangi kaca depan agar aksinya tidak terlihat orang lain atau terekam kamera CCTV.


"By,, mau apa..?" Jeje bengong menatapnya.


"Mendekat,,," Pintar Kenzo. Ucapan Kenzo bak magnet yang dapat menariknya.


Begitu Jeje mendekat, Kenzo langsung melahap bibir merah muda yang menggoda itu.


Jeje memejamkan mata, menikmati setiap pagutan bibir Kenzo yang begitu dalam namun lembut.


Rasanya dia tidak ingin mengakhiri ciuman yang memabukkan ini.


Kenzo melepaskan ciumannya, keduanya kembali ke posisi semula. Jeje hanya menunduk malu setelahnya.


"Apa haidnya nggak bisa di percepat,,?" Tanya Kenzo sedikit kesal. Dia melemparkan jaket kulitnya di jok belakang, lalu mulai menyalakan mesin mobil.


Jeje sudah bisa membayangkan kalau dia sudah selesai haid, pasti Kenzo tidak akan membiarkan dirinya turun dari ranjang.


"Mana bisa begitu. Haid ku paling cepat 7 hari,,"


Kenzo menghela nafas.


"Sayang,,, aku,,,


"Aku tau by,, tidak usah mengatakannya." Cegah Jeje. Dia pasti akan mendengar 'aku sudah tidak tahan lagi' dari mulut Kenzo.


"Kita bisa main sepuasnya setelah aku selesai haid. Ayo jalan, sebentar lagi jam makan siang,,"


Dia butuh waktu untuk memasak di apartemen Fely.


Tampa berbicara apapun, Kenzo segera melajukan mobilnya.


...***...


Kenzo menenteng 3 kantong belanjaan di tangannya. Sedangkan Jeje hanya di perbolehkan membawa 1 kantong belanjaan. Itu pun yang paling ringan di antara ke 4 kantong belanjaan itu.


Sesekali Jeje melirik Kenzo yang berjalan di sampingnya. Buliran keringat sudah muncul di pelipisnya.


Cuaca siang ini memang terasa lebih panas. Naik ke apartemen Fely membutuhkan cukup tenaga meski dibantu menggunakan lift.


Jeje mengambil tisu di tas kecilnya. Dia mencegah Kenzo yang akan memencet bel apartemen Fely.


"Sebentar by,,," Dia menyeka keringat di pelipis Kenzo dengan lembut. Juga dengan tatapan dalam yang penuh cinta pada sosok laki - laki tampan yang sudah berstatus sebagai suaminya.


"Istri idaman. Apalagi kalau aku bisa cepat - cepat melahapmu,," Ujar Kenzo dengan menahan tawa.


Jeje hanya bisa mencebikan bibirnya.


Kenzo sudah memencet bel berkali - kali, namun Fely belum juga membukanya.


"Mungkin kak Fely pergi by,,"


"Dia akan bilang kalau mau pergi,," Sahut Kenzo.


Dia mengambil ponsel, mengirim pesan pada Fely untuk segera membukanya.


Kenzo memang tidak bilang kalau dia kan datang. Tapi dia yakin kalau Fely ada di dalam.


Karna jika Fely akan pergi di luar jam kuliah, adiknya itu pasti akan mengirim pesan untuk meminta ijin.


Itu peraturan yang diberikan oleh Kenzo pada Fely. Dia hanya ingin melindungi Fely dari papanya yang mungkin saja bisa berbuat jahat pada adiknya itu.


Tak berselang lama, pintu terbuka. Fely terlihat gugup dan gelisah melihat Kenzo dan Jeje datang ke apartemennya.


"Haii adik ipar,,," Sapa Jeje dengan senyum lebarnya.


Fely tersenyum kaku.


"Kalian datang, kenapa nggak bilang dulu,," Ujarnya.


"Memangnya kenapa.?" Jeje menerobos masuk kedalam.


"Aku mau masak disini kak, boleh kan,," Ujarnya sambil terus melangkah. Fely hanya mematung di tempat.


"Kenapa lama sekali buka pintunya,," Protes Kenzo. Dia menyusul istrinya ke dalam.


"Siapa sayaa,,,ng,,,,"


"Ya ampun kak Nicho.!!" Pekik Jeje dengan mata yang melotot, menatap kakaknya yang baru saja keluar dari kamar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Dia terlihat baru selesai mandi, dengan rambut yang setengah basah.


"Nicho.!! Felicia.!!" Geram Kenzo. Dia meletakkan begitu saja belanjaannya di lantai.


"Apa yang kalian lakukan,,?!!" Kenzo menatap keduanya bergantian, dengan sorot mata tajamnya.


Wajah Fely terlihat pucat karna ketakutan, sedangkan Nicho terlihat santai dengan wajah coolnya. Perbedaan reaksi yang berbanding terbalik di antara keduanya.


...****...


Jangan lupa selalu tinggalkan like☺.


Jumlah like menandakan jumlah orang yang masih setia baca. Biar othor nggak ragu buat lanjut novel ini.


Kadang emang suka mikir, kok yang like tambah dikit.?. Apa bener mereka udah pada bosen.


Makanya kemaren othor bikin vote like, untuk menentukan novel ini lanjut atau nggak.


Jadi bukan karna terpengaruh sama yang komen "bosen". Othor juga ngeliat dari likenya.