My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 79. Pencerahan



Melihat kak Nicho yang tidak bereaksi apapun saat ada om Kenzo, bahkan kak Nicho terkesan menyambutnya, aku jadi curiga pada om Kenzo. Apa mungkin dia sudah mengancam kak Nicho.?


Aku yakin om Kenzo pasti sudah membawa - bawa nama kak Fely dalam mengancam kak Nicho. Jika tidak membawa nama kak Fely, tidak mungkin kak Nicho bersikap santai padanya. Padahal dia terlihat sangat marah saat mengetahui aku dan om Kenzo menjalin hubungan, namun om Kenzo bertunangan dengan wanita lain.


Sebagai kakak, tentu saja kak Nicho tidak terima adiknya dipermainkan seperti itu.


Tapi mana janji kak Nicho yang katanya akan menghajar om Kenzo jika bertemu dengannya.?


Om Kenzo benar - benar pintar dalam soal mengancam.! Seperti saat dia mengancamku akan membongkar hubungan kami di depan publik.


"Ya, aku harus menyelesaikan masalah kami secepatnya Nich."


"Apa aku boleh membawa Jeje ke apartemen ku,,?"


Aku membulatkan mata mendengar om Kenzo yang meminta ijin pada kak Nicho untuk membawa ku.


Segera ku tatap kak Nicho, lalu memberinya kode dengan menggelengkan kepala. Aku harap kak Nicho tidak memberikan ijin pada om Kenzo, karna saat ini aku belum siap untuk kembali berinteraksi dengannya, apalagi hanya bicara berdua saja.


Aku benar - benar sudah lelah dengan permasalahan yang mampu menguras perasaan dan emosiku. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan tenang dan jauh lebih baik lagi.


"Masalah kalian belum selesai Je, sebaiknya kalian selesaikan dulu." Ujar kak Nicho.


"Jangan macem - macem sama Jeje, Ken.! Waktu kamu hanya 30 menit dari sekarang.!" Tegasnya.


Aku langsung mengajukan protes pada kak Nicho, entah kenapa dia begitu mudah mengijinkan ku pergi bersama om Kenzo.


"Kak.!" Seruku.


"Kenapa kak Nicho ada di pihaknya.? Kakak tau sendiri aku nggak mau ada urusan lagi sama om Kenzo."


"Aku sudah cukup sakit hati dengan kebohongannya, tolong jangan membuka kembali luka yang sedang berusaha aku sembuhkan."


Aku memilih untuk beranjak, air mataku lolos tanpa bisa aku bendung. Hatiku terlalu sakit untuk mengingat kejadian itu lagi. Apapun alasannya, dia sudah membohongi ku, memainkan perasaanku yang terlalu rapuh karna sangat mencintainya saat itu.


"Je,, dengerin penjelasan aku dulu,,," Om Kenzo sigap menahanku.


"Jangan dipaksa Ken, biar Jeje nenangin diri dulu,,"


Ujar kak Nicho. Saat itu juga om Kenzo melepaskan tanganku. Aku segera keluar dari apartemen kak Nicho.


"Biar aku yang awasi Jeje,," Aku mendengar suara kak Fatih saat baru keluar dari apartemen kak Nicho.


"Tunggu Je,," Seru kak Fatih. Ternyata dia benar - benar mengikutiku.


"Kita ke taman bawah, kamu butuh udara segar buat nenangin pikiran,," Katanya setelah berhasil menyusulku. Aku hanya mengangguk, sembari mengusap air mata yang masih tersisa di pipiku.


Kecewa karna di bohongi, rasanya sangat menyakitkan.


Aku dan kak Fatih duduk di bangku taman. Mungkin sudah lebih dari 30 menit berlalu, kami tidak berbicara apapun. Sepertinya kak Fatih ingin membiarkanku menenangkan diri lebih dulu.


Aku tidak tau kenapa perasaan ku pada om Kenzo lenyap begitu saja, padahal aku sangat mencintainya sebelum dia bertunangan dengan Nadine. Aku bahkan merasa tidak sanggup berlama - lama tanpa om Kenzo. Tapi sekarang.? hanya ada kekecewaan saat aku melihatnya.


Aku menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Aku menundukkan kepala, masih mencoba untuk mengendalikan rasa kecewa yang bersarang dalam hatiku.


"Sudah lebih tenang,,?" Tanyanya dengan suara lembut. Tidak, memang seperti itu suara kak Fatih. Lembut dan menenangkan.


"Sudah, cuma masih terasa sesak,,,"


Aku memegang dadaku yang terasa terhimpit.


Jika tau sakit hati akan sesakit ini, mungkin aku akan berpikir puluhan kali untuk jatuh cinta.


"Jadi ini asalan kamu pindah kuliah disini.?. Untuk menghindari masalah dengan pacar kamu,,?"


Aku menatap kak Fatih, dia yang tadinya menatapku, kini mengalihkan pandangan dengan menatap lurus kedepan.


"Bukan untuk menghindari masalah. Hubungan kami sudah berakhir, aku hanya ingin menenangkan diri dan menyembuhkan luka yang aku rasakan, tanpa ada gangguan darinya."


Aku menunduk lesu, lagi - lagi aku hanya bisa meneteskan air mata atas kerapuhan hati yang sudah terluka ini.


"Bukan seperti ini caranya menyembuhkan luka. Kamu harus berdamai dulu dengan keadaan, baru bisa menyembuhkan luka."


"Kalau seperti ini caranya, sampai kapanpun kamu akan terus merasa terluka dan nggak akan bisa tenang."


Ucapan kak Fatih membuatku tertarik, aku kembali menoleh untuk menatap nya. Lagi - lagi kak Fatih mengalihkan pandangan matanya, meski wajahnya menghadap ke arahku.


Aku penasaran maksud ucapan kak Fatih. Aku ingin dia menjelaskannya lebih detail lagi.


"Yang aku lihat, masalah kalian belum selsai."


"Nggak mungkin kamu menghindar kalau masalahnya sudah selesai, dan nggak mungkin dia sampai datang menyusul kamu kesini. Pasti ada yang belum kalian selesaikan,,"


Aku hanya diam saja, terus menatap kak Fatih dan berharap dia akan memberikan penjelasan lagi padaku.


"Harusnya menyelesaikan masalah itu mampu membuat kita tenang dan ikhlas, bukan malah sebaliknya. Apalagi kalau sampai ada benci dan dendam di dalamnya. Itu artinya belum ada masalah yang di selesaikan,,"


Perlahan aku mulai paham dengan penjelasan kaka Fatih. Aku kagum dengan cara berpikirnya, sangat bijak dan dewasa. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, bahkan terasa menyejukkan.


"Aku memang nggak tau permasalahan kalian berdua. Tapi ada baiknya dibicarakan baik - baik dengan kepala dingin dan hati yang tenang, dalam artian menyingkirkan ego dari sumber permasalahan,,,"


"Jangan fokus pada pada sumber permasalahan itu, apalagi sampai membahasnya berulang kali. Yang ada permasalahan kalian nggak akan selesai secara baik - baik,,"


Aku semakin paham sekarang. Tapi rasanya tidak sanggup jika harus berbicara empat mata dengan om Kenzo.


"Aku butuh waktu kak, aku belum siap untuk bicara dengannya,,,"


"Itu karna kamu belum bisa berdamai dengan keadaan,,,"


"Kalau terus seperti itu, kamu hanya akan menyiksa diri sendiri dengan terus merasakan sakit,,"


"Jangan terlalu berlebihan mencintai seseorang, karna kita bisa membencinya jika dikecewakan. Membenci seseorang hanya akan membuat kita tidak tenang,,"


Kak Fatih benar, pada akhirnya aku sendiri yang tersiksa. Terlebih aku jadi membenci orang yang pernah sangat aku cintai.


Sepertinya aku harus mengikuti saran dan nasehat dari kak Fatih, aku harus benar - benar membuka lembaran baru dari awal tanpa rasa benci dan sakit hati yang masih ada di hati.


"Udah malem Je, balik ke atas aja ya. Makin dingin juga,,"


Aku mengangguk. Kak Fatih beranjak dari duduknya, begitu juga aku yang kini sudah sejajar dengannya.


"Makasih kak, aku jauh lebih tenang sekarang,," Ucapku tulus, aku menoleh sembari mengembangkan senyum padanya.


"Iya, percaya. Senyum kamu jauh lebih lepas dari sebelumnya,," Ujarnya sambil tersenyum, kak Fatih mengangkat tangannya dan hampir mengusap kepalaku, tapi dia menahannya dan kembali ke posisi semula.


"Maaf,," Ucapnya tanpa menatap ke arahku.


Setelah itu, hanya ada keheningan yang mengiringi langkah kami hingga sampai ke apartemen kak Nicho.


Dari kejauhan, aku melihat om Kenzo yang sedang berdiri di depan apartemen kak Nicho sembari menyenderkan punggungnya. Tatapan tajamnya langsung di arahkan pada kak Fatih begitu melihat kami datang.


"Sepertinya dia cemburu,,"


Ujar kak Fatih. Aku tersenyum miris. Untuk apa cemburu padaku kalau 1 minggu lagi dia akan menikah.


"Aku masuk dulu Je. Selesaikan saja disini atau di dalam, jangan berduaan didalam satu ruangan,,"


Ucapan kak Fatih membuat om Kenzo semakin tajam menatapnya.


Aku mengangguk.


"Makasih kak,,"


Kak Fatih mengulas senyum sebelum akhirnya masuk ke apartemen kak Nicho.


Aku menghela nafas berat saat menatap om Kenzo. Apa aku harus benar - benar berdamai dengan keadaan dan melupakan kebohongannya padaku.?


Aku akan mencoba untuk mengikuti saran kak Fatih. Berharap setelah ini aku bisa menerima kenyataan dan bisa membuka hati untuk orang lain.


"Kamu harus tau kebenarannya Je,," Ujar om Kenzo dengan suara yang terdengar putus asa.


"Kita perlu bicara berdua. Ayo ke apartemenku, ada di lantai atas."


Aku hanya diam saja, ragu untuk ikut dengan om Kenzo. Terlebih peringatan yang diberikan kak Fatih padaku tadi.


"Aku nggak akan macem - macem Je,, kita selesaikan dulu masalah kita,,," Om Kenzo menggandeng tanganku, menggandengku pelan menuju lift.


...*****...


jangan lupa vote😊