My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 54. Takdir macam apa ini.?



Aku yang sedang menonton tv di ruang keluarga, dibuat terusik oleh kehadiran perempuan centil itu.


"Pagi Je,,," Sapanya sok ramah dengan suara manja.


Aku menatap geli kak Sherly dari atas sampai bawah. Pakaian yang dikenakan sangat minim, lebih cocok di pakai untuk ke club malam ketimbang untuk bertamu.


"Ada apa kak pagi - pagi udah dateng,?" Tanyaku tak suka. Namun sepertinya kak Sherly tidak peka, dia masih saja bersikap santai dengan duduk disebelahku.


"Mau ketemu calon suami lah Je,, emangnya mau apa lagi,," Jawabnya begitu bangga.


'Calon suami dalam mimpi.!!'


Batinku kesal. Siapa juga yang mau punya kakak ipar menggelikan seperti itu.


"Dimana Nicho.? Dia udah bangun kan.?" Mata kak Sherly menatap ke lantai dua, mengedarkan pandangan mencari sosok yang ingin dia temui.


"Kak Nicho di kamar, dia lagi siap - siap mau ke kantor. Ada panggilan mendadak dari papa,,!" Jawabku ketus.


"Loh kok gitu sih.? Kan udah ada janji mau pergi sama aku. Malah jadi pergi ke kantor,," Ucapnya merajuk. Dia beranjak dan berjalan cepat.


"Eh,, kak Sherly mau kemana.?" Aku menahannya yang akan menaiki tangga.


"Mau ke kamar calon suami lah adik iparku yang cantik,," Perut ini tiba - tiba terasa mual, geli sekali mendengar dia menyebutku adik ipar.


"No.! Mana boleh perempuan masuk ke kamar cowo.!" Tegasku. Sejujurnya aku sedang tertawa dalam hati, menertawakan diriku yang bahkan sudah pernah tidur satu ranjang dengan laki - laki. Namun aku melarang kak Sherly yang hanya ingin masuk ke kamar kak Nicho.


Bukan tanpa alasan, aku tidak mau kak Nicho khilaf dengan perempuan berbaju minim ini. Bisa - bisa mereka akan cepat dinikahkan. Aku tidak mau itu terjadi.


"Ya ampun, pelit banget sih kamu. Aku cuma mau ketemu kakak kamu, bukan mau mesum,," Sahutnya kesal.


"Asal kak Sherly tau yah, nggak baik cewe sama. cowo berduaan di dalem kamar. Bisa - bisa dateng makhluk ketiga yang tak lain kembaran kakak,,,"


Ucapku menahan tawa. Kak Sherly mengerutkan kening, terlihat tidak paham dengan ucapanku.


"Ihh ngomong apaan sih kamu. Lagian kita itu sebentar lagi mau nikah, apa salahnya cuma masuk kedalam kamarnya doang,," Kak Sherly masih saja kekeuh ingin naik ke lantai dua. Dia berjalan cepat menaiki tangga.


"Stop kak.! Jangan masuk ke kamar kak Nicho.!" Teriakku sembari mengejar langkahnya. Kak Sherly seakan tidak peduli dan terus naik ke lantai atas menuju kamar kak Nicho.


Aku hanya bisa pasrah saat kak Sherly membuka pintu kamar kak Nicho tanpa mengetuknya lebih dulu.


"Aaaaa,,,," Jeritan manja menggelikan itu menggema di lantai dua.


"Kau.! Siapa yang ngijinin kamu masuk ke kamarku.!" Teriak kak Nicho.


Aku segera berlari untuk menarik kak Sherly agar keluar dari kamar kak Nicho.


Pantas saja kak Sherly berteriak, karna kak Nicho hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Dia baru saja selesai mandi.


"Tuh, aku bilang juga apa kak.! Jangan masuk ke kamar kak Nicho.!" Tegur ku.


Aku dibuat kesal karna kak Sherly justru sedang melongo, matanya terus menatap ke bagian perut kak Nicho yang seperti roti sobek itu.


"Ya ampun, aku baru tau tertanya kamu seseksi ini,," Kak Sherly mendekat dan hampir menyentuh perut kak Nicho, beruntung kak Nicho langsung menghindar dan aku langsung menarik tangan kak Sherly untuk keluar dari kamar.


"Jangan sampe dia masuk lagi Je.!!" Geram kak Nicho.


"Beres kak.!"


Setelah aku berhasil membawa kak Sherly keluar, aku langsung mengajaknya belanja dengan dalih untuk membelikan keperluan kak Nicho dan makanan kesukaannya. Makanan yang biasa kak Nicho bawa ke New York. Ternyata kak Sherly mudah di bohongi, dia menurut begitu saja dan langsung menyetujui ajakanku.


"Kamu yakin Nicho akan semakin baik padaku.?" Tanyanya ragu.


"Tentu saja kak. Kak Nicho paling suka dengan perempuan yang bisa mengurus keperluannya. Aku jamin kak Nicho bakal makin cinta,," Ujarku penuh keyakinan. Tentu saja aku bohong. Mana mungkin kak Nicho cinta dengan perempuan seperti ini.


...****...


Hari ini kak Nicho mengajakku berlibur di Bali. Untuk menepati janjinya beberapa bulan yang lalu.


Sebelum kak Nicho kembali lagi ke New York, dan sebelum aku mulai masuk kuliah.


Sejujurnya aku sudah tidak sabar untuk mulai kuliah. Bertemu dengan orang - orang baru dan lingkungan yang baru, aku sudah bisa membayangkan akan menyenangkan nantinya.


Meskipun sedikit sedih karna tidak bisa satu kampus dengan Celina dan Natasha.


Beberapa baju dan keperluan yang lain sudah tertata rapi di dalam koper. Kami tinggal berangkat saja ke bandara 30 menit lagi.


Kak Nicho mengambil jadwal penerbangan sore hari, katanya agar bisa langsung melihat sunset begitu sampai.


Tadinya ada kendala dalam rencana berlibur kami, karna perempuan kecentilan itu memaksa untuk ikut berlibur. Alhasil aku terpaksa bohong kalau kami mengambil penerbangan esok harinya. Biarkan saja besok dia datang sendirian ke Bali.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dengan jalur udara, kami sampai di Bali. Taksi yang kami tumpangi langsung menuju ke resort keluarga yang terletak tidak jauh dari pantai. Biasa setiap berlibur ke Bali, kami memang akan menginap di resort miliki papa.


"Kita langsung ke pantai aja Je, bagus nih buat ambil foto,," Ujar kak Nicho setelah kami sampai di resort.


"Iya terserah kakak aja, aku ke kamar dulu,," Aku bergegas masuk ke kamar yang biasa aku tempati saat menginap disini.


Resort ini terdiri dari dua bangunan yang cukup besar, setiap satu bangunan memiliki 5 kamar.


1 bangunan di kosongkan sejak jauh - jauh hari, sebelum kami akan kesini. Sedangkan satu lagi di sewakan seperti biasa.


Aku keluar kamar dengan mamakai dress longgar motif bunga kecil - kecil. Dress selutut dengan model mekar dibawah. Sepertinya akan cantik kalau berfoto memakai dress ini.


Kak Nicho juga sudah mengganti bajunya, dia memakai celana pendek dan kemeja lengan pendek. Tak lupa membawa kamera yang di kalungkan pada lehernya.


Kami keluar dari resort untuk menuju ke pantai.


Aku melirik kak Nicho yang sedang menatap ponselnya. Ponsel yang sejak tadi berdering namun dia hanya mendiamkannya saja.


"Dari si centil ya kak.?" Pertanyaanku langsung membuat kak Nicho menoleh.


"Si centil siapa.?" Ujarnya bingung.


"Iishh,, siapa lagi kalau bukan kak Sherly.!" Jawabku kesal.


"Pokoknya aku nggak mau yah kak punya ipar kayak dia, ogah banget.!"


"Lagian kenapa kakak jadi menerima perjodohan itu.?"


"Selera kakak tuh turun drastis tau nggak. Dari kak Fely yang kalem, lembut, baik, ehh sekarang ke cewe centil kayak gitu,,,"


Aku langsung diam saat kak Nicho menatapku tajam. Tanpa di sadari, aku sudah menyebut nama kak Fely dan memujinya.


"Kakak kan udah bilang, jangan sebut nama dia lagi di depan kakak.! Bukannya kamu sendiri yang nyuruh kakak buat lupain dia. Kenapa sekarang kamu malah muji - muji dia.!"


Kak Nicho terlihat kesal, tapi aku yakin dia masih memiliki cinta yang besar untuk kak Fely.


Kak Fely membuat aku dan kak Nicho patah hati. Membuat kami akhirnya harus mengubur cinta yang kami miliki. Membuat kami merasakan lara dan kecewa.


Aku berharap kak Nicho tidak akan pernah tau fakta tentang kak Fely dan om Kenzo. Aku tidak mau melihatnya terluka untuk kedua kalinya.


"Iya maaf kak. Abisnya aku nggak suka sama kak Sherly. Kakak juga pasti begitu kan.? Apa lagi kemaren dia main nyelonong masuk aja ke kamar kakak, sengaja banget kayaknya."


Aku masih saja mengompor - ngompori kak Nicho agar mata dan hatinya semakin terbuka lebar untuk melihat wanita seperti apa kak Sherly itu.


"Udah buruan, ngapain jadi bahas cewe,," Kak Nicho menarik tanganku, berjalan cepat menuju pantai.


Suasana pantai di sore hari sangat sesak, banyak orang yang mengabadikan moment dengan melakukan pemotretan berlatar belakang hamparan laut dan matahari yang akan terbenam.


"Ayo kak fotoin aku,," Aku berpose di tepi pantai, meminta kak Nicho untuk segera memotretku.


"Iya bawel.! Tapi gantian setelah ini,,"


"OK,," Kataku sembari membentuk ok dengan jari tangan.


Aku sudah mengambil foto dengan berbagai gaya dan backgraound yang berbeda. Kini giliran aku yang memotrek kak Nicho. Awalnya aku masih asik memotret kak Nicho, tapi tiba - tiba mataku terasa perih seiring dengan rasa sesak di dada yang semakin menghimpit.


Takdir macam apa ini,? Kenapa kami berempat harus dipertemukan dalam tempat yang sama, hanya berjarak beberapa meter saja.


Rasanya aku ingin berlari menghampiri mereka, membongkar hubungan antara aku dan om Kenzo. Agar kak Fely bisa meninggalkan om Kenzo.


"Buruan Je.! Kenapa bengong,,!" Tegur kak Nicho. Aku langsung menatapnya agar dia tidak curiga. Bisa - bisa kak Nicho melihat mereka kalau aku terus menatap ke arah om Kenzo dan kak Fely.


Aku melanjutkan memotret kak Nicho dengan kondisi hati yang hancur berkeping - keping.


Dada ini sudah tidak mampu lagi menahan sesak yang semakin menyiksa. Mataku bahkan mulai kesulitan untuk membentung air mata yang sejak tadi memaksa ingin keluar.


Aku jadi menyesal, kenapa saat itu aku tidak jadi mengakhiri kontak kami. Aku membiarkan hubungan ini berlanjut hanya untuk merasakan luka.


Saat aku kembali menatap ke arah mereka, saat itu juga om Kenzo sedang menatapku. Rupanya om Kenzo sudah menyadari keberadaanku. Aku langsung mengalihkan pandangan, mencoba mencari alasan untuk mengajak kak Nicho kembali ke resort.


...***...


Yahh ketauan kan lagi liburan berdua om Kenzo sama Fely😁


Happy reading.


pokoknya dukung terus karya othor yah,, love u all🥰