My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
13. Season2



Setelah mengambil koper milik Reynald di ruang keluarga, Karin bergegas kembali ke kamarnya.


Wanita itu sedang memikirkan saran Jeje, dan mencoba untuk mempraktekannya setelah ini. Meski sejujurnya Karin tidak terlalu paham dengan apa yang diperintahkan oleh Jeje padanya.


Remaja itu hanya memahami perintah Jeje yang menyuruhnya untuk melayani Reynald dengan baik, namun harus bersikap cuek padanya.


Saat masuk ke dalam kamar, Reynald belum juga keluar dari kamar mandi. Dengan perasaan yang was - was dan gugup, Karin berusaha tetap bersikap tenang duduk di sisi ranjang.


Di sebelahnya sudah aja baju ganti lengkap miliki suaminya.


Karin tersenyum miris jika mengingat kata suami. Seharusnya dia masih bisa melanjutkan kuliah untuk membuat kedua orang tuanya bangga padanya, namun kenyataannya dia harus terjebak dalam permainan laki - laki pemburu kenikmatan.


Begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka, Karin langsung menundukkan kepalanya. Jari - jarinya memainkan ujung kaos yang dia kenakan. Meski tadi sudah mencoba untuk tenang, kini Karin kembali merasa gugup karena membayangkan reynald yang akan menghampirinya.


"Berikan bajuku." Perintah Reynald datar.


Karin mengambil baju itu, lalu memberikannya pada Reynald tanpa menatap wajahnya.


Karin bisa melihat sekilas dada bidang dan perut sixpack Reynald yang terekspose sempurna.


"Malam ini kita tidur di hotel. Jangan sampai malam pengantin kita di ganggu oleh keluarga kamu yang menyebalkan itu." Geram Reynald kesal.


Rupanya insting laki - laki mesum itu sangat kuat, dia sampai bisa menebak kalau nantinya keluarga Karin akan merusak malam pengantin mereka.


"Tapi kak,,,


" Nggak ada tapi - tapian." Ujar Reynald memotong ucapan Karin.


"Kamu sudah jadi istriku.! Jadi turuti semua perkataanku tanpa terkecuali.!" Tegasnya.


Karin hanya menghela nafas kecil. Dia memilih menganggu pelan tanpa merespon lebih jauh.


Wanita hamil itu malas berdebat dengan Reynald yang tidak mau kalah.


Reynald tersenyum licik, dia menatap Karin dengan tatapan mata yang seolah sedang menelanjangi.


"Kak Rey liat apa.?!" Seru Karin, dia langsung menyilangkan kedua tangannya di kedua gundukan kembarnya yang semakin besar karena hormon kehamilan.


Reynald tidak menjawabnya, dia justru semakin mendekatkan wajahnya.


"Kak.!" Pekik Karin. Meski awalnya berniat untuk menjalankan saran Jeje, nyatanya remaja itu masih takut saja berbuat lebih dengan Reynald.


Reynald meletakan kembali baju gantinya di atas ranjang, dia langsung mendorong pelan bahu Karin hingga wanita itu berbaring di ranjang.


Karin hanya bisa pasrah sembari memejamkan matanya. Menolak pun percuma, karena kalau sudah dalam mode on seperti itu, Reynald seolah tuli dan hanya fokus pada kenikmatannya.


"Kak,,," Desah Karin pelan. Dia hanya bisa meremas kuat seprai di kedua sisinya. Hisapan lembut di lehernya, juga remasan di aset kembarnya, membuat Karin akhirnya hanyut.


Wanita itu pun tidak tau kenapa bisa semudah itu terbawa suasana hingga mengeluarkan desahan.


"Lebih kencang lagi,," Bisik Reynald. Desahan Karin seakan menjadi semangat untuknya.


Laki - laki yang sudah diselimuti gairah itu, langsung melucuti pakaian Karin hingga tertanggal seluruhnya. Tubuh lolos nanti seksi itu semakin. membuat gairah Reynal membara. Terlebih kedua aset Karin yang benar - benar membesar seperti yang dia pikirkan tadi saat memperhatikan Karin.


Reynald mencium bibir Karin dengan luma*an yang sedikit kasar dan rakus. Karin yang awalnya diam, kini mencoba untuk membalas ciuman Reynald.


Entah kemana perginya rasa malu dan takut yang selama ini dia alami saat bermain dengan Reynald.


Remaja itu bahkan tidak ragu untuk memeluk erat tubuh Reynald yang berada di atasnya.


Ini cumbuan Reynald yang paling terasa nikmat, hingga tanpa sadar Karin terus mengeluarkan desahan tertahan.


Sepertinya hormon kehamilan membuat remaja itu jadi menyukai pergulatan panas yang memabukkan itu.


Reynald membawa tubuh polos Karin ke tengah ranjang. Nafas keduanya terdengar memburu setelah melakukan pemanasan.


Tanpa memberikan aba - aba, Reynald menghentakkan miliknya begitu saja.


Saat itu juga Karin berteriak kesakitan.


"Shit.!!" Umpat Reynald kesal. Dia langsung membungkam mulut Karin dengan telapak tangannya.


"Kenapa teriak.! Mereka bisa kesini nanti.!" Geram Reynald.


Karin membulatkan matanya, dia lupa kalau pintu kamar tidak di kunci.


Entah apa jadinya kalau mereka panik mendengar teriakannya dan langsung membuka pintu kamar.


Dengan cepat Karin menyingkirkan tangan Reynald dari mulutnya.


"Kak, pintu kamarnya nggak aku kunci,," Tutur Karin. dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.


Reynald langsung melotot dengan tatapan tajam.


"Sial.!" Lagi - lagi Reynald mengumpat kesal. Dia paling tidak suka kalau kesenangannya di ganggu.


Reynald mencabut miliknya, dia bergegas turun ranjang dengan langkah lebar. Setelah sampai di depan pintu, dia langsung mengunci pintu dan kembali mendekati Karin.


Reynald kembali memposisikan dirinya di depan Karin.


Dia menggigit bibir bawahnya begitu merasakan milik Reynald perlahan masuk.


Wanita itu sedikit kesal, kenapa tadi tidak menggunakan cara lembut seperti ini.


"Neng,,, kamu kenapa.??" Suara gedoran pintu dan teriakan Bapak membuat Reynald dan Karin saling menatap. Keduanya terlihat kaget, namun berbeda dengan Reynald yang kembali bersikap santai. Laki - laki itu justru memejamkan matanya dan mulai bergerak pelan.


"Kak.!" Tegur Karin. Dia menahan dada Reynald agar berhenti.


"Udahan, itu Bapak manggil,," Ujar Karin memohon.


"Udahan.?!" Geram Reynald kesal.


"Ini baru masuk.!" Tambahnya lagi dengan wajah yang semakin terlihat kesal.


"Neng.! Reynald.!" Seru Pak Dadang memanggil keduanya yang tak kunjung bersuara.


"Itu Karin kenapa.??!!" Teriaknya cemas.


"Pak sudah, jangan ganggu mereka,," Tegur Ibu Dahlia pelan. Dia menarik tangan suaminya agar pergi dari depan kapan Karin.


"Tapi Bu, anak kita sedang hamil muda. Bapak cuma khawatir." Raut wajah Pak Dadang memang kelihatan sangat cemas. Dia takut Reynald tidak bisa mengontrol dirinya dan pada akhirnya menyakiti Karin dan calon cucunya.


"Cepat jawab.! Bilang kalau kamu baik - baik saja.!" Reynald terlihat sangat kesal. Malam pengantinnya harus dilewati dengan drama yang menguras emosi seperti ini.


"Tapi kak,,,


Karin tidak meneruskan ucapannya Karna Reynald kembali memacu dirinya, bahkan dengan gerakan yang lebih kencang.


"Aku nggak peduli kamu jawab mereka atau nggak, jangan harap aku akan berhenti sebelum selesai,,!"


Geramnya.


Tubuh Karin terguncang karena gerakan Reynald yang semakin cepat.


Lagi - lagi Karin terbawa suasana, terlebih Reynald juga meremas kedua aset ya bersamaan.


Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Karin dan Reynald, di tambah dengan istrinya yang terus menyuruhnya untuk pergi, akhirnya pak Dadang kembali keruang tamu dengan kekesalan di wajahnya. Dia gagal untuk mencegah Karin. dan Reynald melakukan hubungan.


Laki - laki paruh baya itu terlihat mencemaskan. kondisi Karin dan calon cucunya.


Hawa panas semakin menguar di kamar itu. Diaman kedua pasangan suami istri itu tengah bergulat mencari kenikmatan.


Karin. tidak malu lagi untuk mengeluarkan desahan kecil. Dia bahkan tidak takut lagi saat Reynald menyuruhnya memposisikan diri di atas tubuhnya.


Erangan panjang mengakhiri permainan panas mereka. Karin langsung menyingkir dari atas tubuh Reynald, dia mengambil bajunya yang berserakan, laku bergegas ke kamar mandi dengan wajah yang merona. Terlebih Reynald terus menatapnya sejak dia bergerak di atas tubuh kekar itu.


...****...


"Kamu yakin nggak mau pulang.?" Sekali lagi Kenzo menawarkan Jeje untuk pulang. Dia merasa khawatir dengan kondisi istrinya yang baru saja bertemu dengan ibu kandungnya.


Jeje menggeleng cepat.


"Nggak mau by, aku mau makan dulu,,"


Jeje mulai menyantap makanannya yang baru saja datang.


Makanan di hadapannya lebih menggugah selera ketimbang harus pulang dan memikirkan tentang ibu kandungnya yang ternyata masih hidup tapi tidak pernah menemuinya.


Kenzo hanya diam, menatap wajah cantik itu dari samping dengan tatapan dalam penuh iba.


Asal usul istrinya itu memang menyakitkan untuk diketahui.


Jeje bahkan sudah tau akan hal itu, tapi berusaha untuk tidak mengingatnya.


Memiliki mama Rissa, Papa Alex dan kak Nicho, sudah lebih dari cukup untuk remaja cantik yang selalu ceria itu. Kini ditambah dengan hadirnya Kenzo yang akan selalu ada di sampingnya, membuat Jeje semakin tidak peduli pada perihnya asal usulnya.


"Pelan - pelan sayang,," Tegur Kenzo lembut. Dia menyeka sudut bibir Jeje dengan tisu. Istrinya itu makan dengan lahap. Jeje hanya menyengir kuda, lalu kembali mengunyah makanan di mulutnya.


"Ayo makan by,, ini enak,," Seru Jeje masih sambil mengunyah makanan.


Kenzo mengangguk dengan seulas senyum, kemudian mengusap lembut pucuk kepala Jeje.


Dia merasa lega karna kesedihan Jeje tidak berlarut - larut setelah bertemu dengan ibu kandungnya.


...***...


Akhirnya bisa di ganti lagi covernya😁. Rupanya harus komplain dulu lewat WA.


Yang belum vote, sempetin vote dulu yah. 🙏


Btw, makasih banyak buat yang udah mampir di novel baru othor. Terharu banget karena dapet rangking ke 15 kategori karya baru 🥰.


Sekali lagi makasih banyak 😘 sayang kalian semua.