
Jarak dari ruang keluarga ke ruang tamu lumayan jauh, tapi karna hanya sedikit dinding yang membatasi kedua ruangan itu, membuat Karin masih bisa melihat ruang tamu dari tempat duduknya saat ini.
Tubuh Reynald tidak seluruhnya terlihat karna posisinya sedang berjongkok dan terhalang sofa. Hanya bagian bahu dan kepala saja yang masih bisa Karin lihat dengan jelas.
Semakin lama menatap Reynald, semakin besar getaran yang dia rasakan hingga sampai ke hatinya.
Perasaannya terhadap Reynald tidak bisa berkurang, melainkan selalu bertambah setiap harinya. Meski sikap Reynald masih kaku dan dingin seperti dulu, tapi akhir - akhir ini seperti ada yang berbeda dari tatapan matanya. Ada yang berbeda dari setuhan tangannya. Ada yang berbeda saat memarahinya.
Rasanya ingin mengatakan bahwa sudah ada cinta di hati Reynald untuknya, mengingat ada beberapa perbedaan yang dia rasakan akhir - akhir ini.
Namun Karin tidak berani menyimpulkan secepat itu, dia takut akan kecewa jika tidak seperti itu kenyataannya.
Perasaan Reynald terhadapnya masih menjadi misteri yang sulit untuk di ketahui.
Perlahan rasa sakit, haru, sekaligus rasa bahagia menyelimuti hatinya dalam waktu yang bersamaan.
Pandangan matanya semakin jauh menerawang saat sudah berkabut dan mulai menitikkan air mata.
Air mata yang menggambarkan rasa sesak di hatinya, sekaligus rasa bahagia.
"Kenapa.? Sakit.?"
Suara datar Reynald membuat Karin tersentak. Entah sejak kapan laki - laki itu berdiri di depannya.
Karin segera mengusap air matanya, sembari menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Reynald.
"Nggak,,," Ucap Karin lirih.
Reynald menghbuskan nafas pelan. Dia meletakan wadah berisi pecahan guci, kemudian duduk di samping Karin.
"Angkat kaki kamu.!" Perintahnya tegas. Dia juga menepuk pahanya, menyuruh Karin untuk meletakan kakinya di pangkuannya.
"Kaki aku baik - baik saja kak, udah nggak sakit sama sekali. Lagipula cuma luka goresan,,,"
Karin menolak halus. Dia memang tidak merasakan sakit di kakinya, bahkan sempat lupa kalau kakinya terluka.
"Kalau nggak sakit kenapa nangis.?!" Seru Reynald kesal. Dia langsung mengangkat kedua kaki Karin dan meletakkannya di atas paha.
Tangan Karin refleks memeluk leher Reynald agar tidak terjatuh dari sofa saat Reynald menarik kakinya tanpa aba - aba lebih dulu.
Dalam jarak yang sangat dekat, Karin menatap mata tajam Reynald. Mata yang selalu membuatnya merasa jatuh cinta setiap kali sedang menatapnya.
Reynald tidak menyadari hal itu, atau mungkin dia pura - pura tidak tau kalau Karin sedang menatapnya.
Dia fokus mengusap - usap kaki Karin, tepat di sekitar luka goresan. Mengusapnya dengan sedikit pijatan lembut.
"Apa yang kamu pikirkan.?" Tanya Reynald tanpa menatap Karin.
Karin langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Reynald seolah tau apa yang sedang dia rasakan.
"Rumah tangga kita,," Sahut Karin lirih. Dia menundukan pandangannya, ada rasa sesak yang kembali menyelimuti hatinya. Rasa sesak yang di akibatkan oleh hubungannya dan Reynald yang tidak memiliki kepastian kedepannya.
Reynald menghentikan pijatannya di kaki Karin. Kini dia menatap satu - satunya wanita yang ada dalam kehidupannya saat ini.
"Setelah aku melahirkan, bagaimana dengan rumah tangga kita.?" Karin mulai berani menatap Reynald. Keduanya saling menatap dengan sorot mata yang dalam.
"Bagaimana apanya.? Tentu saja kita akan merawatnya bersama."
"Atau kamu langsung mau memberikan adik untuknya.?" Reynald sedikit menggoda, namun Karin tidak menanggapinya. Dia sedang dalam mode serius, ingin memastikan hubungan mereka kedepannya.
"Aku serius kak.!"
"Pernikahan kita terjadi karna,,," Karin menggantungkan ucapannya. Dia tidak mau menyeret anak yang ada di dalam kandungannya, karna bagaimanapun dia tidak pernah menyesali kehadiran darah dagingnya.
"Kakak menikahiku hanya karna bentuk dari tanggung jawab, pernikahan ini mungkin tidak di harapkan."
"Aku hanya ingin meminta kejelasan, apa yang akan kakak lakukan dengan pernikahan kita setelah anak ini lahir.?"
"Apa kita akan bercerai.?"
Reynald menyimak ucapan Karin dengan seksama. Matanya semakin tajam, menatap Karin tak suka.
"Jadi kamu punya pikiran seperti itu.?"
"Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk mengakhiri sebuah pernikahan."
"Kamu pikir pernikahan bisa dipermainkan seperti itu.?"
"Jangan memikirkan hal yang tidak masuk akal.!" Reynald menurunkan kaki Karin, kemudian beranjak dari duduknya.
"Aku buat sarapan dulu,,," Ujarnya sembari membawa pecahan guci tadi dan pergi ke dapur.
"Kenapa susah sekali bicara serius dengannya." Gumam Karin lirih.
Dia belum mendapatkan jawaban yang pasti.
Reynald tidak akan mengakhiri pernikahan mereka, tapi perasaan Reynald padanya masih belum dia ketahui.
Kalau tidak ada cinta di hatinya, kenapa harus memaksakan melanjutkan pernikahan dengan alasan pernikahan tidak bisa di permainkan.
Kalaupun sudah ada cinta di hatinya, kenapa tidak mengungkapkannya.
Karin beranjak dari duduknya saat mencium bau gosong. Dia berjalan cepat menuju dapur, disana sudah banyak kepulan asap yang membumbung di atap dapur.
"Uhukk,,, uhukkk,,,"
Karin hampir saja tertawa melihat Reynald batuk - batuk sembari mengibaskan tangannya untuk menyingkirkan asap di depan wajahnya.
"Kenapa kak.?" Reynald terlihat salah tingkah saat melihat Karin sudah berdiri di sampingnya. Dia langsung mengambil teflon berisi telur mata sapi yang gosong dan membuang telur itu ke tempat sampah.
"Loh kok di buang.?" Karin menatap Reynald heran.
"Kamu nggak liat telurnya gosong.?!" Sahut Reynald ketus.
"Oo,,," Karin hanya melihat sekilas telur itu, bagian atasnya tidak terlihat gosong. Tapi sepertinya terbakar di bagian bawah karna sampai menimbulkan kepulan asap.
"Aku panggil nanti kalau sudah jadi.!"
"Biar aku saja kak."
"Sepertinya kak Rey tidak biasa memasak,,"
Karin mengambil teflon baru dan mengambil 1 butir telur.
"Aku bilang tunggu disana.!" Seru Reynald. Dia mendorong Karin, membawanya keluar dari dapur.
"Tapi kak, sayang kalau nanti gosong lagi telurnya,,"
"Kamu ini berisik.! Tadi gosong karna aku tinggal ke toilet.! Apinya ke gedean.!"
"Diam disana.!" Reynald menunjuk sofa, menyuruh Karin untuk kembali duduk di sofa.
Karin hanya menggelengkan kepalanya, menatap Reynald yang kembali ke dapur.
Jelas - jelas tidak bisa memasak, tapi bersikeras untuk memasak.
Cukup lama dia menunggu Reynald, tapi laki - laki itu tak kunjung memanggilnya. Yang ada dia justru kembali mencium bau gosong. Karin snagat yakin kalau Reynald gagal lagi untuk membuat telur mata sapi.
"Sial.!!" Geram Reynald, suaranya sampai bisa di dengar oleh Karin. Tapi lama laki - laki itu menghampirinya dengan wajah yang terlihat kesal. Bisa dipastikan kalau tidak ada satupun yang berhasil.
"Aku masih bisa memasak kak, jangan khawatir." Karin berdiri dari duduknya. Dia memang sudah berencana untuk membuat sarapan, sayangnya Reynald bangun lebih awal.
"Siapa yang nyuruh kamu masak.?!" Ujar Reynald cepat.
"Aku tidak akan kebahisan uang untuk memesan makanan.!, Kenapa harus repot - repot memasak."
Serunya lagi sembari masuk ke dalam kamar.
Karin menatapnya dengan dahi yang mengkerut.
"Repot - repot memasak.? Memangnya siapa yang menyuruhnya memasak,," Gumam Karin lirih.
Rupanya Reynald masuk ke kamar untuk mengambil ponsel. Laki - laki itu memesan banyak makanan.
Karin hanya bisa melongo saat semua makanan itu datang. Entah untuk apa makanan sebanyak itu, tidak mungkin habis kalau hanya dimakan oleh 2 orang.
Hanya sekedar sarapan, Reynald memesan 6 menu dalam porsi yang banyak.
...****...
Siang ini Karin dan Reynald akan pergi ke apartemen Kenzo untuk menjenguk Jeje.
Karin sudah siap dengan mengenakan kaos yang di masukan kedalam rok sebatas lutut. Dan memakai sepatu warna putih yang diberikan Reynald kemarin sore, juga menggunakan salah satu tasnya.
Reynald belum tau kalau Karin memakai tas dan sepatu pemberiannya, karna saat ini Reynald masih berada di ruang walk in closet, sementara itu Karin menunggunya di ruang tamu.
Reynald juga tidak menyadari kalau paperbag yang dia buang semalam sudah tidak ada di dekat tempat sampah.
"Ay,,,yooo,,," Suara Reynald menggantung, dia langsung diam saat melihat sepatu dan tas pemberiannya di pakai oleh Karin.
Reynald menarik sudut bibirnya, tersenyum senang namun juga terlihat seperti sedang meledek.
"Kenapa harus menolak kalau akhirnya berguna." Sindirnya halus.
Dia berjalan santai ke arah pintu. Karin berdiri dan membuntuti Reynald.
"Tidak semua orang mudah mendapatkan uang, jadi jangan menghambur - hamburkannya." Balas Karin.
Sendirinya tepat sasaran, terdengar menohok di telinga Reynald. Namun bukan berarti apa yang di bilang Karin itu benar. Reynald tidak bermaksud menghambur - hamburkan uang dengan membuang barang - barang mahal itu. Dia melakukannya karna Karin tidak mau menerima pemberiannya.
"Memangnya siapa yang membuatku menghambur - hamburkan uang.!" Balas Reynald lagi, tak lupa memberikan lirik tajam pada Karin.
Karin langsung kikuk, dia hanya menyengir kuda.
Keduanya pergi ke basement dan masuk ke dalam mobil Reynald.
"Aku mau pinjam uang kak,,," Ujar Karin lirih sembari menahan malu.
Reynald menoleh dengan dahi yang mengkerut.
Kenapa harus meminjam, padahal dia suaminya dan sudah seharusnya memberikan uang pada Karin. Sayangnya Reynald baru sadar kalau samapai saat ini dia belum memberikan uang pada Karin.
Reynald menepikan mobilnya, merogoh dompet dan mengeluarkan salah satu kartu atm miliknya, kemudian menyodorkannya pada Karin.
"Pakai saja." Ucapnya datar.
"Apa yang mau kamu beli.?"
Karin terlihat ragu, tapi kemudian menerima kartu atm itu.
"Mampir dulu ke supermarket, setidaknya bawa buah - buahan untuk Jeje,," Ujar Karin pelan.
"Tidak usah, di apartemnya pasti sudah banyak buah dan makanan. Kalau bisa kita habiskan stok makanan mereka." Sahut Reynald cepat. Karin melongo mendengarnya.
"Kenzo tidak akan kekurangan makanan.!" Tegas Reynald sekali lagi. Dia tidak mau rugi mengeluarkan uang untuk bosnya.
"Tapi kak,,,
"Mereka juga tidak akan menanyakan kita bawa makanan atau tidak."
"Sudah tidak perlu membawa apapun."
"Pakai uang itu untuk keperluan kamu saja.!"
Reynald kembali melajukan mobilnya.
Karin terlihat pasrah, sepertinya dia akan menahan malu karna datang menjenguk Jeje tidak membawa apapun.