My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
31. Season2



Dari arah dapur Fely berjalan cepat untuk membukakan pintu. Sejak tadi bel apartemennya terus berbunyi. Dia baru saja selesai membuat sarapan. Asisten rumah tangga yang di janjikan Kenzo tidak datang lebih awal, hingga dia memutuskan untuk memasak sendiri. Belum lagi mama Grace yang tidak boleh telat makan.


"Iyaa,,,!" Fely sedikit menekankan suaranya karena terlanjur kesal dengan orang yang terus menekan bel.


Begitu membuka pintu, Fely hanya bisa bengong menatap Nicho yang berdiri tegap dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


"Bukain pintu aja lama banget,," Protesnya sembari menyelonong masuk. Fely menutup pintu sembari berdecak kesal. Tamunya yang satu itu memang tidak sabaran.


Dengan kaki yang setengah di hentakkan ke lantai, Fely mengikuti langkah Nicho. Namun laki - laki itu berhenti mendadak dan berbalik badan.


"Aww,,," Pekik Fely sembari memijat keningnya yang membentur dada Nicho. Laki - laki yang sudah membuat gaduh itu hanya menatap Fely dengan wajah datar.


"Kamu masak apa.? Aku laper."


Fely membulatkan matanya. Kekasihnya itu selain tidak sabaran, juga selalu berbuat seenaknya.


"Aku cuma masak sedikit buat mama sama aku.! Kamu masak sendiri kalau mau makan," Fely berlalu dengan tangan yang masih mengusap keningnya. Dada Nicho terlalu keras, bahkan semua badannya keras karena berotot.


Nicho berjalan cepat mengejar Fely, dia menarik tangan Fely dan mendorongnya ke dinding. Seketika wajah Fely berubah cemas saat Nicho mengungkungnya. Dia segara melirik pintu kamar yang ditempati oleh mama Grace, takut jika sang mama keluar dan melihat mereka dalam posisi seperti itu.


Melihat kecemasan di wajah Fely, Nicho hanya mengembangkan senyum smirknya.


"Mau masakin atau mau cium.?" Ancam Nicho sembari mendekatkan wajahnya. Fely menggeleng cepat sebagai penolakan.


"Jangan macem - macem Nich.! Ada mama,," Ujarnya lirih. Tangannya berusaha mendorong dada Nicho agar menjauh.


"Ok,, ok,, aku masakin buat kamu." Ujarnya lagi. Dia memilih untuk pasrah menuruti permintaan Nicho, daripada harus dicium oleh Nicho disaat ada sang mama disana.


Rupanya Nicho tidak melepaskan Fely begitu saja. Laki - laki itu tetap mencium Fely dengan melu**t sekilas bibir wanitanya yang merekah itu.


"Nicho.!!"


Teriakan Fely langsung membuat Nicho menjauh, namun dia tersenyum puas karena bisa mencium Fely sepagi ini.


Nicho bisa menebak kalau teriakan Fely akan membuat mama Grace keluar dari kamar, hingga laki - laki itu bergegas pergi ke dapur.


Fely menatap kepergian Nicho dengan bibir yang mencebik.


"Ada apa Fel,,? Kenapa teriak - teriak.?"


Fely menatap mama Grace yang baru saja keluar dari kamar. Beruntung sang mama tidak melihatnya saat sedang di cium oleh Nicho. Bisa - bisa kondisi mama Grace akan drop jika melihatnya.


"I,,itu mah ada Nicho,," Fely terlihat kikuk sembari menunjuk ke arah dapur.


"Nicho datang.?"


Fely mengangguk pelan. Mama Grace memang sudah tau kalau hubungan Fely dan Nicho kembali seperti dulu. Fely sering bercerita setiap kali menelfon mama Grace, saat sang mama masih berada di Singapur.


Mama Grace memang tidak melarang kedekatan Fely dengan Nicho, tapi mama Grace juga belum memberikan tanggapan apapun perihal kembalinya hubungan mereka yang membaik.


Mama Grace berjalan ke arah dapur, Fely mengikutinya di belakang. Raut wajah mama Grace membuat Fely merasa cemas. Seperti ada sesuatu yang tidak beres.


Nicho berdiri begitu melihat kedatangan mama Grace. Dia tersenyum ramah pada orang tua kekasihnya.


"Pagi tante. Saya senang tante sudah sehat."


"Maaf pagi - pagi sudah bertamu,," Nicho mengangguk hormat.


"Nggak masalah nak Nicho."


"Ayo duduk lagi, kita sarapan dulu,,"


Ketiganya memulai sarapan dengan tenang. Fely terpaksa membagi 2 jatah sarapannya untuk Nicho. Dia sudah terlanjur malas untuk memasak lagi.


"Sudah waktunya diet,," Bisik Nicho dengan senyum mengejek. Fely terlihat tidak terima, matanya membulat sempurna melirik Nicho yang duduk disebelahnya.


"Nanti nggak bisa gerak aktif pas malam pertama,,"


Bisikan Nicho hampir membuat Fely menyemburkan makanannya. Wanita itu langsung mengambil air minum dan meneguknya cepat.


Otak Nicho memang sudah geser sejak mereka kembali bersama. Dia lebih sering melontarkan kata - kata vulgar dibanding dulu. Bahkan Nicho yang sekarang jauh lebih mesum.


...***...


"Saya permisi dulu tante. Sekalian mau antar Fely ke kampus,,"


Nicho menjabat sopan tangan mama Grace.


Setelah sarapan dan mengutarakan tujuannya untuk segera menikahi Fely, Nicho sedikit kecewa dengan keputusan mama Grace dan juga Fely.


"Fely berangkat dulu mah. Kalau ada apa - apa, suruh si mbanya telfon aku,," Fely memeluk mama Grace sekilas.


Asisten rumah tangga yang dikirimkan Kenzo sudah datang 2 jam lalu. Fely bisa bernafas lega karena ada yang menjaga sang mama selama dia kuliah


Baik Fely dan Nicho, keduanya hanya mengangguk dan keluar dari apartemen.


"Kita ke apartemenku sebentar,," Nicho melirik jam di tangannya, memastikan jika masih ada waktu 1 jam dari jadwal kuliah Fely.


Fely menghentikan langkahnya, sedikit curiga dengan sikap Nicho yang mengajaknya singgah ke apartemen. Dia jadi berfikir macam - macam setelah niat Nicho di tolak oleh sang mama.


"Kenapa harus ke apartemen kamu.?" Nada bicara Fely penuh curiga. Dia hanya takut Nicho akan menggunakan jalan pintas agar mereka diijinkan menikah lebih awal.


"Aku harus mengurus kepindahan kuliahku."


"Kita akan satu kampus nanti,,"


Nicho berjalan cepat ke arah basemen, Fely segera menyusulnya dengan setengah berlari. Dia terlihat kaget mendengar penuturan Nicho. Laki - laki itu benar - benar penuh kejutan. Baru saja dia mengajaknya menikah secara mendadak, kini dia juga tiba - tiba pindah kuliah ke Indonesia tanpa bercerita lebih dulu.


"Kamu pindah kuliah.? Kenapa.?" Tanya Fely setelah berhasil berjalan di samping Nicho.


"Kamu pikir aku bisa tinggal terpisah dengan istriku nanti.?" Sahutnya dengan lirikan tajam, namun hal itu membuat wajah Fely memerah karena malu.


Hanya karena Nicho menyebut kata istriku, hatinya langsung menghangat.


"Tapi itu masih lama. Kamu bahkan belum bisa membujuk om Alex."


"Mama nggak akan mengijinkan kita menikah tanpa restu orang tua kamu,,"


Fely mencoba mengingatkan kembali ucapan mama Grace pada Nicho.


Laki - laki tampan itu hanya diam sambil terus melangkahkan kaki panjangnya.


Sejujurnya dia sedikit kecewa dengan keputusan mama Grace. Meski Nicho sudah menjelaskan jika sang mama akan merestui hubungan mereka, tapi mama Grace tidak ingin hanya mendapatkan restu dari salah satu orang tua Nicho.


Sepanjang perjalanan ke apartemen, Nicho tidak bersuara sedikitpun. Dia sibuk memikirkan cara untuk mendapatkan restu dari sang papa.


Membujuk sang papa tidak akan ada gunanya. Papa Alex bahkan sudah terlanjur kecewa dan kesal padanya. Bagaimana dia bisa berbicara baik - baik dengannya. Apalagi untuk meminta restu agar mau menerima Fely sebagai menantunya.


Mobil yang di kendarai Nicho memasuki gedung apartemen mewah, meski lebih mewah dari apartemen yang ditempati oleh Nicho sebelumnya.


"Kamu tinggal disini.? Aku pikir di apartemen yang lama,," Fely mulai bersuara setelah keluar dari mobil.


"Aku baru membelinya, masih menyicil."


"Kita akan tinggal disini setelah menikah,," Nicho menyahutinya dengan suara yang santai dan raut wajah tanpa ekspresi. Berbeda dengan Fely yang kembali terpaku mendengar jawaban manis dari mulut Nicho. Wanita itu jadi tidak sabar untuk menjalani pernikahannya dengan laki - laki arogan namun sangat perhatian dan terkadang bersikap manis.


"Kenapa senyum - senyum.?" Fely terkesiap begitu mendapat teguran dari Nicho. Wanita itu langsung mengalihkan wajahnya, enggan membuat Nicho melihat pipinya yang merona.


"Kamu salah liat." Sahut Fely cuek.


Nicho hanya berdecak dengan senyum tengilnya.


Nicho membawa Fely masuk ke dalam apartemennya. Wanita itu terlihat ragu untuk menunggu di dalam.


"Aku di luar saja,," Ujarnya sembari berjalan untuk keluar apartemen, namun langkahnya kalah cepat dengan Nicho yang sudah menutup dan mengunci pintu.


"Tunggu disini.!" Perintahnya sembari menunjuk sofa di ruang tamu.


"Ingat pesan mamaku tadi, kita dilarang berduaan satu ruangan." Fely masih berusaha untuk membujuk Nicho agar mengijinkannya menunggu di luar.


"Disini nggak ada mama kamu. Beliau nggak akan tau kalau kamu nggak ngadu."


"Atau,,,," Nicho menggantungkan ucapannya sembari berjalan mendekat ke arah Fely. Wanita itu hanya bisa berjalan mundur untuk menghindar.


"Atau apa.? Jangan mengancam lagi Nich.!" Geram Fely kesal.


"Atau adukan saja pada mama kamu agar kita cepat dinikahkan,," Nicho mendorong pelan bahu Fely hingga wanita itu terjerembab di sofa panjang.


"Bagaimana kalau kita buat vidio mesum,?" Tawarnya sembari mengungkung tubuh Fely


"Kita bisa langsung menikah saat itu juga,," Tambahnya dengan seringai licik.


"Nggak lucu Nicho..!!" Teriak Fely. Tangan terus memukul dada bidang Nicho agar menyingkir dari atas tubuhnya.


"Ayolah sayang,,," Ujar Nicho menggoda. Tangannya bahkan mulai membuka kancing kemeja milik Fely.


"Nicho iih,,,! Jagan kayak gitu,,!!" Fely kembali berteriak, dia bahkan hampir menangis dengan wajah dan mata yang sudah memerah.


"Hahaha,,," Nicho tertawa puas melihat Fely yang terlihat kesal. Dia mengacak - acak pucuk kepala Fely, kemudian meninggalkan Fely di ruang tamu.


"Kalau berubah pikiran, susul aku saja ke kamar,,!" Teriak Nicho sebelum akhirnya menghilang di balik. pintu.


"Issh..! Ngeselin.!" Fely hanya bisa menggerutu sembari membenarkan kemejanya yang berantakan.


...****...