
Rupanya hanya sesaat Reynald berhenti makan, setelah itu dia kembali melahap rujak yang makin lama terasa semakin enak di mulutnya. Dia seolah tidak peduli dengan tatapan ketiga orang yang ada di sana. Belum lagi Karin yang terpaksa bengong karna rujak buah miliknya di kuasai oleh Reynald. Beruntung Karin sudah tidak lagi menginginkan rujak itu setelah memakan beberapa potong buah.
Melihat tidak ada pergerakan dari tangan Karin, Reynald melirik kikuk ke arahnya.
"Kamu nggak mau makan lagi,,?" Tanyanya dengan sedikit menahan malu, meskipun laki - laki itu hampir tidak memiliki rasa malu.
Karin menggeleng sebagai jawaban.
"Baguslah,," Ujar Reynald cuek, kemudian kembali menyantap rujak itu hingga habis tanpa sisa.
"Kemasukan setan apa kamu.?!" Cibir Kenzo. Giginya terasa ngilu melihat Reynald mengunyah mangga muda dan kedondong dengan lahap hingga potongan terakhir.
"By,,,!" Tegur Jeje. Dia menyikut pinggang suaminya.
"Kak Reynald itu lagi ngidam, nanti juga bakal ikut muntah - muntah kaya Karin." Jeje terlihat menahan tawa, berharap ucapannya benar - benar terjadi agar Reynald juga merasakan apa yang dirasakan oleh Karin.
"Jangan sok tau kamu,," Sanggah Reynald yang tidak percaya pada ucapan Jeje. Dia menyambar minuman milik Karin dan menyeruputnya.
"Kak itu punyaku,,," Tangan Karin hendak merebut kembali minuman miliknya, namun sudah terlambat.
"Minta sedikit.! Jangan pelit kamu,,!" Ketusnya. Karin mendelik, terlihat kesal dengan ucapan Reynald.
"Sedikit tapi sampai habis,," Protes Karin.
Padahal minuman yang di belikan Reynald baru dia minum sedikit.
"Nanti aku beliin lagi.!" Ketus Reynald.
"Mau sekalian sama cafenya.?" Laki - laki yang sering bermain wanita itu terlihat sombong. Karin hanya memutar bola matanya malas, enggan menanggapi kesombongan Reynald.
"Udah nggak usah banyak omong lu, beresin tuh bekas makanannya. Kita ke rumah Karin sekarang,," Tegur Kenzo.
...**...
Saat ini mereka sedang menuju ke basement. Karin lebih memilih jalan di samping Jeje, ketimbang di dekat Reynald. Wanita polos itu masih saja bingung untuk menentukan masa depannya.
Memiliki suami seperti Reynald pasti akan banyak menguras emosi dan perasaannya. Entah bagaimana dia menjalani hari - harinya jika itu terjadi. Namun Karin juga tidak mungkin membiarkan dirinya hamil dan memiliki anak tanpa seorang suami.
"Siapa yang nyuruh kamu ikut mereka. ?!" Tegur Reynald. Dia sudah berada di belakang mobil miliknya, menatap tajam pada Karin yang mengikuti Jeje hingga ke mobil milik Kenzo.
"Ya ampun kak.! Apa nggak bisa lembut sedikit sama perempuan.!" Protes Jeje. Dia berdecak kesal melihat sikap kasar Reynald pada Karin. Remaja itu jadi membandingkan sikap Reynald dan Kenzo yang sangat jauh berbeda. Jeje merasa bersyukur karna memiliki suami yang bersikap lembut dan sangat penyayang seperti Kenzo.
"Maksud kamu, aku harus bersikap seperti laki - laki bucin yang takut perempuan.?" Reynald melirik Kenzo, tentu saja dia sedang menyindir bosnya itu.
Orang yang di sindir justru terlihat cuek, dia membuka pintu mobil dan masuk kedalam. Sebagai laki - laki yang masih memiliki kewarasan, dia lebih memilih untuk tidak menanggapi ucapan Reynald.
Lagipula Kenzo tidak merasa takut pada perempuan, kalaupun dia banyak mengalah dan menuruti semua keinginan Jeje, itu karna dia menyayangi istrinya.
"Aku sumpahin kak Reynald bucin akut sama Karin.!!" Geram Jeje kesal. Dia yang merasa tidak Terima karna Reynald terlihat menyindir suaminya.
Karin menghela nafas melihat dua orang itu yang sejak tadi lebih banyak berdebat.
"Nggak usah ditanggepin Je, dia itu nggak mau kalah dan seenaknya sendiri,," Ujar Karin pelan.
"Aku kesana ya,," Karin berjalan mendekati Reynald.
Mobil Reynald melaju lebih dulu. Dia terlihat dingin dengan pandangan mata yang lurus ke depan.
Saat ini laki - laki yang hobi mencari kepuasan itu tidak menyangka benih miliknya akan tubuh di rahim gadis belia seperti Karin.
Ada sedikit sesal di hatinya, namun ada perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata saat melihat hasil USG milik Karin. Yang membuat Reynald akhirnya pasrah begitu saat Jeje mendesaknya untuk bertanggung jawab.
"Kalau kakak nggak mau tanggung jawab, lebih baik nggak usah di paksakan." Karin memecah keheningan dengan memberanikan diri berbicara tegas pada Reynald, meskipun tanpa melihat ke arahnya.
Terlihat Reynald melirik tajam, seolah tidak suka dengan pernyataan yang terlontar dari mulut Karin.
"Kapan aku bilang nggak mau tanggung jawab.?!" Sahutnya ketus.
"Kabar ini juga seperti menjadi beban besar buat kakak,," Ucap Karin lirih.
Sejak di kantor, Karin terus memperhatikan raut wajah Reynald yang seakan tidak suka mendengar kabar kehamilannya.
Bahkan saat Reynald mengajak Karin berbicara 4 mata, dia tidak percaya jika Karin benar - benar hamil. Laki - laki itu menuduh Karin mencari keuntungan dengan memanfaatkan kebaikan Jeje yang selalu membantunya. Dia beranggapan kalau Karin juga akan seperti wanita lain yang akan memanfaatkan uangnya.
Sedangkan Reynald tidak berkaca pada kesalahannya yang sudah memanfaatkan kelemahan Karin. Dia menghancurkan masa depan Karin hanya karna Karin tidak mampu membayar ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
"Kalau aku bersedia menemui orang tua kamu, itu artinya aku bersedia tanggung jawab. Jangan menyimpulkan sesuatu hanya dari apa yang kamu lihat..!"
Mendapat balasan ketus dari Reynald, Karin langsung terdiam. Dia tidak tau harus berkata apa lagi.
Kini suasana di dalam mobil kembali hening.
Sementara itu, Kenzo hanya bisa menghela nafas berat berulang kali. Sejak tadi Jeje lebih banyak diam, tidak seperti biasanya yang selalu cerewet saat mereka sedang berduaan di dalam mobil.
Remaja cantik itu hanya bersuara saat Kenzo bertanya, itupun tak lebih dari sekedar jawaban singkat.
"Kamu masih marah.?" Tanya Kenzo lembut. Namun hanya mendapat lirikan datar dari Jeje.
"Dia sudah bersuami dan punya anak, dulu kami berteman dekat,," Jelasnya. Seakan meminta Jeje untuk mengakhiri kecemburuannya.
"Sudah bersuami dan punya anak tapi nggak ada jarak sama laki - laki lain. Pegang - pegang dan mau peluk seenaknya.!" Ketus Jeje. Dia kembali geram saat membayangkan sikap wanita itu yang menurutnya kelewat batas. Meski dulunya mereka teman dekat, tapi saat ini sudah ada pasangan yang seharusnya menjadi jarak agar tidak terlalu dekat dengan lawan jenis.
Jeje tidak mempermasalahkan kalau mereka hanya makan siang bersama dan sekedar mengobrol. Tapi kalau sudah ada kontak fisik yang menurutnya berlebihan, rasanya wajar kalau dia cemburu.
"Aku minta maaf. Aku janji ini terakhir kalinya aku ketemu sama dia."
"Untuk masalah kerjasama perusahaan, biar nanti Reynald yang menghandle kalau terpaksa harus bertatap muka sama dia,,"
Kenzo jadi merasa bersalah pada istrinya itu. Setelah di pikir - pikir, apa yang di katakan Jeje memang benar. Dia sudah kelewat batas berinteraksi dengan temannya itu.
Jeje tidak menanggapi, dia sibuk menatap jalanan di sisi kirinya. Biar saja Kenzo semakin bersalah melihatnya diam seperti ini. Suaminya itu harus di beri pelajaran agar lebih peka terhadap perasaannya.
"Sayang,,," Panggil Kenzo lembut. Dia meraih tangan Jeje dan menggenggamnya.
"Aku benar - benar minta maaf,," Ucapnya tulus.
"Sebaiknya fokus menyetir by,," Jeje menarik tangannya dari genggaman Kenzo.
Sejujurnya dia tidak terlalu marah pada Kenzo, bahkan rasa cemburunya perlahan sudah memudar. Tapi Jeje masih belum puas untuk memberi pelajaran pada Kenzo. Dengan begini Kenzo akan berfikir puluhan kali untuk berinteraksi dengan wanita lain hingga melewati batas.
Istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya asik bercanda dengan wanita lain hingga ada kontak fisik. Bahkan akan berpelukan sebagai salam perpisahan.
...*...
Karin menyuruh Reynald untuk memarkirkan mobilnya di depan gang.
"Memangnya rumah kamu dimana.?" Reynald celingukan.
"Masuk ke gang itu,," Karin menunjuk gang kecil yang tidak bisa di lewati oleh mobil.
Tanpa bicara lagi, Reynald langsung memarkirkan mobilnya.
Rupanya mobil Kenzo juga sudah terparkir, mereka bahkan baru saja keluar dari mobil.
Ke tiga orang itu mengikuti langkah Karin. Sejujurnya Karin menahan ketakutan yang luar biasa. Dia tidak sanggup melihat reaksi kedua orang tuanya. Entah akan sehancur apa hati mereka, saat mereka menggantungkan harapannya pada Karin namun dia menghancurkan harapan mereka.
Berbeda dengan Reynald yang terlihat santai, laki - laki tidak berhati itu bersikap seolah tidak memiliki kesalahan. Sedikitpun tidak ada rasa takut dari raut wajahnya, yang ada laki - laki itu terlihat percaya diri dan arogan.
...***...
Mampir di novel baru dong 😁 ada di akun Ratna wullandarrie