My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
44. Season2



Suasana di dalam mobil terlihat canggung. Keributan yang sempat terjadi di antara mereka membuat Reynald dan Karin tidak lagi bersuara.


Reynald hanya sesekali melirik Karin yang membuang pandangannya ke luar jendela. Laki - laki itu perlahan mulai mengerti dengan isi hati Karin selama ini. Apa yang baru saja di ungkapkan oleh Karin adalah bukti bahwa selama ini wanita itu merasa menderita dan tertekan karenanya.


Reynald tau, dia sudah menghancurkan masa depan Karin. Dia sudah membuat wanita berusia 18 tahun itu mengalami kesulitan dan kehilangan masa mudanya yang menyenangkan.


Reynald menarik nafas panjang, hatinya tiba - tiba sesak teringat kembali raut wajah Karin saat tangisnya pecah. Reynald bisa melihat kehancuran di mata wanita cantik yang sedang mengandung anaknya itu.


Namun sikap cuek dan dinginnya Reynald pada Karin bukan berarti dia tidak peduli. Tentu saja dia memikirkan kondisi Karin dan kandungannya.


Reynald bahkan tidak pernah absen menanyakan atau menyuruh Karin untuk makan dan meminum obat serta vitamin. Sejujurnya itu adalah bentuk kepedulian dan perhatian Reynald, hanya saja Reynald tidak tau bagaimana cara menyampaikannya dengan benar.


Sakit hati yang pernah dia rasakan membuatnya jadi bersikap cuek dan dingin pada wanita.


"Apa seburuk itu menikah denganku.?" Reynald bertanya dengan suara lirih. Entah kenapa tiba - tiba dia melontarkan pertanyaan seperti itu pada Karin.


Sepertinya setelah mendengarkan ungkapan hati Karin, Reynald ingin mengetahui lebih jauh apa saja yang ada dibenak Karin tentang menjalani rumah tangga bersamanya.


Karin menoleh, menatap Reynald dengan dahi yang mengkerut. Meski sejak tadi dia sedang melamun, tapi dia masih bisa mendengar jelas suara Reynald.


Karin diam sejenak, antara bingung dan tidak tau harus menjawab apa. Sedangkan dia baru saja meluapkan isi hatinya yang selama ini tersiksa dan menderita karena Reynald. Seharusnya Reynald tidak perlu lagi menanyakan hal itu padanya.


"Apa aku terlihat bahagia.?!" Tanya Karin sinis. Sudut bibirnya terangkat membentuk gurat senyum yang menyayat hati. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Rasanya sudah habis kesabaran yang dia miliki untuk berhadapan dengan Reynald. Entah kapan laki - laki itu bisa mengerti perasaannya, dan bisa memperlakukannya sebagaimana mestinya.


"Jika Tuhan memberiku satu kesempatan untuk mengulang waktu, aku tidak akan pergi hari itu."


Karin memejamkan matanya. Mengingat awal pertemuannya dengan Reynald hanya membuatnya sakit. Pertemuan tidak sengaja yang akhirnya membuat mereka terikat pernikahan tanpa cinta.


"Aku tidak pernah jahat pada siapapun, tapi kenapa,,,"


Karin menghentikan ucapannya saat Reynald menggenggam tangannya. Genggaman yang terasa hangat, dan sentuhan yang lembut. Karin kembali menoleh, saat itu Reynald tengah menatapnya dengan sorot mata yang dalam penuh arti.


"Aku benar - benar minta maaf." Reynald terlihat sangat tulus meminta maaf pada Karin atas kesalahannya.


Karin diam sejenak, dia ingin menunggu ucapan Reynald berikutnya yang mungkin akan menjadi angin segar dalam hubungan mereka. Permintaan maaf yang tulus dari Reynald hampir membuatnya luluh. Namun apa yang dia tunggu tak kunjung keluar dari mulut Reynald. Laki - laki itu kembali diam dan fokus menyetir.


Harapan Karin kembali pupus, dia menarik tangannya perlahan dari genggaman Reynald.


Karin pikir laki - laki itu akan mengajaknya untuk memulai hubungan dari awal, agar rumah tangganya bisa berjalan dengan semestinya.


Reynald langsung menoleh, dia hampir saja mengatakan sesuatu pada Karin namun wanita itu menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata.


Reynald terpaksa mengurungkan niatnya untuk bicara. Dia merasa kondisi Karin saat ini sedang tidak stabil dan bukan waktu yang tepat jika harus membahasnya saat ini.


Mereka kembali terdiam, tidak ada lagi yang berani bersuara. Suasana canggung itu terjadi hingga keduanya sampai di rumah sakit.


Reynald turun dari mobil, dia bermaksud membukakan pintu untuk Karin. Namun Karin sudah turun lebih dulu. Dia membuang muka saat Reynald menatapnya. Reynald hanya menghela nafas pelan, dia bergegas ke belakang mobil dan membuka bagasi.


Karin sempat melihat Reynald mengeluarkan boneka besar berwarna pink dan 2 paper bag. Dia mengalihkan pandangan saat Reynald berjalan ke arahnya.


Keduanya memasuki rumah sakit tanpa saling bicara. Karin mengikuti langkah Reynald, sedikit membuat jarak di belakang laki - laki itu.


Dia hanya bisa memandangi Reynald yang terlihat antusias. Laki - laki itu terlihat sangat peduli dan sayang pada Alisha. Reynald terlihat sangat sempurna sebagai seorang ayah, tapi tidak sebagai suami.


Atau mungkin dia merasa Alisha sangat berharga karena darah dagingnya itu terlahir dari rahim Angel.


Lagi - lagi Karin tersenyum miris setelah dugaannya itu muncul. Dia tidak yakin Reynald akan memperlakukan anaknya seperti dia memperlakukan anak Angel.


"Aaaaa,,,!!" Karin berteriak sembari memejamkan matanya. Tubuh terhuyung ke belakang karena ada anak kecil yang berlari dan menabraknya.


Saat itu Reynald berjarak 2 meter di depan Karin, dia langsung menoleh begitu mendengar teriakan Karin. Boneka dan paper bag yang dia pegang dijatuhkan begitu saja saat melihat Karin hampir terjatuh.


Beruntung seseorang dengan sigap menangkap Karin sebelum tubuh wanita itu ambruk ke lantai.


"Kamu aman,," Karin langsung membuka matanya. Pemilik suara yang tidak familiar itu sedang mendekap tubuhnya dengan jarak wajah yang sangat dekat. Hembusan nafasnya bahkan terasa hingga ke kulit wajah. Keduanya saling pandang beberapa detik, sampai akhirnya Reynald meraih tubuh Karin dan mendorong laki - laki yang baru saja menolong istrinya itu.


"Kamu nggak papa.?" Reynald terlihat panik.


"Apa perut kamu sakit.?" Tanya lagi. Karin hanya menggeleng pelan.


"Lain kali harus fokus kalau jalan, jangan melamun,,"


Karin dan Reynald menatap laki - laki itu bersamaan, namun dengan tatapan yang berbeda.


"Kak Edwin, makasih,,," Ucap Karin tulus. Dia juga sedikit membungkukkan badannya pada senior di kampusnya itu.


Edwin hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Aku nggak pernah liat kamu lagi di kampus, temen kamu yang cerewet itu juga hilang di telan bumi,," Edwin terkekeh geli mengingat Jeje yang banyak bicara itu. Yang selalu mengganggu setiap kali dia ingin mendekati Karin.


Perkataan Edwin membuat Reynald semakin membulatkan matanya. Dia seolah mengibarkan bendera perang pada Edwin.


"Aku dan Jeje baik - baik saja kak. Kita akan cuti, mungkin tahun depan baru masuk lagi,,," Karin menjawabnya dengan santai, dia tidak menyadari jika saat ini wajah Reynald sudah memerah.


Laki - laki itu menatap Karin dan Edwin dengan tatapan tajam.


"Lanjutkan saja ngobrolnya.! Sepertinya seru.!" Ketus Reynald dengan tatapan sinis. Dia beranjak, mengambil paper bag dan boneka yang sempat dia jatuhkan tadi. Suasana hatinya langsung memburuk karena melihat interaksi Karin dengan laki - laki,


Karin bengong menatap Reynald, dia juga sedikit kesal karena laki - laki itu meninggalkannya.


"Dia siapa.? Kayaknya nggak suka liat kita ngobrol. Malah terkesan cemburu,,," Edwin terkekeh geli melihat tingkah Reynald yang terlihat sangat aneh.


"Di,,dia,,,


"Aku hitung sampai 3.! Mau ikut atau aku tinggal.!" Seru Reynald.


"Satu,,, dua,,,


"Aku duluan kak,,," Karin langsung bergegas menghampiri Reynald dengan langkah cepat.


"Tiga,,,!"


Saat hitungan ketiga Karin sudah berada di samping Reynald. Dia terlihat mengatur nafasnya yang tersenggal. Reynald meliriknya tajam, laki - laki itu memelankan langkahnya. Rupanya dia tidak tega melihat nafas Karin yang tersenggal karena mengejarnya.


"Mana ponsel kamu.?!" Reynald menyodorkan tangannya pada Karin. Tatapannya masih tajam seperti tadi. Nada bicaranya pun seperti orang yang sedang merampas paksa.


Karin bengong karena tiba - tiba Reynald menanyakan ponselnya.


"Ponselku.? Untuk apa.?" Melihat Karin yang justru balik melontarkan pertanyaan padanya, Reynald langsung meletakan barang bawaannya di lantai. Dia memegang paksa tas Karin, membuka dan mengambil ponsel milik Karin.


Karin semakin bengong melihatnya. Entah apa yang di inginkan Reynald dari ponsel jadulnya itu.


"Kak buat apa.?" Tanya Karin penasaran.


"Diem dulu kamu.!" Tegur Reynald tegas. Dia sibuk mengotak atik ponsel milik Karin. Membuka aplikasi chat dan memeriksanya satu persatu.


Banyak pesan masuk dari laki - laki yang baru saja bertemu dengan mereka. Reynald ingat betul Karin memanggilnya kak Edwin. Dan di sana pun tertera nama yang sama. Dia terus mengirimkan pesan pada Karin, namun Karin hanya sesekali membalasnya. Dan terakhir dia tidak membuka pesan itu hampir 2 minggu yang lalu.


"Untuk apa ponsel jelek seperti ini masih pake."


Reynald menonaktifkan ponsel itu. Dia berjalan menuju tempat sampah.


Mata Karin terbelalak saat Reynald hendak menjatuhkan ponsel miliknya ke dalam tempat sampah.


"Kak mau di apain ponsel ku.?!" Teriak Karin sembari menghampiri Reynald. Dia berusaha menarik tangan Reynald untuk merebut ponselnya, namun Reynald sudah lebih dulu membuangnya.


"Ya ampun kak.!! Kenapa di buang.!! Apa kakak tau aku harus menabung selama 1 tahun untuk membeli ponsel itu.!!" Karin terlihat sangat kesal, matanya bahkan berkaca - kaca. Ponsel yang dia dapatkan dari menyisihkan sebagian gajinya saat berkerja paruh waktu, di buang begitu saja oleh Reynald di tempat sampah.


"Aku bisa membelikan yang jauh lebih bagus dan mahal dari itu.!"


"Kita akan beli setelah pulang dari sini."


"Ayo,,," Reynald menggandeng tangan Karin, dia mengambil lebih dulu barang bawaan yang akan diberikan untuk Alisha.


"Aku tau kakak banyak uang untuk membeli puluhan bahkan ratusan ponsel yang jauh lebih mahal dari ponselku.! Tapi ini bukan soal lebih bagus dan mahal.! Ini soal,,,,


Karin langsung diam saat mendapat tatapan tajam dari Reynald.


"Mau diam atau mau aku cium disini.!" Tegasnya dengan nada ancaman.


Karin mendengus kesal.


"Menyebalkan.!!" Ketus Karin sembari menarik tangannya dari genggaman Reynald.


...****...


Maaf ga nongol 2 hari, ada yang harus di kerjain πŸ™. Jadi ga sempet ngetik karna udah kecapean plus nggak bisa mikir kelanjutannya. 😁


Othor cuma bisa kasih bonus foto bang Rey🀣


Dia nitip salam, katanya saranghae buat kalian semua. haha,,,,