My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
1. Season 2



Setelah melihat sikap bijak dan kedewasaan Kenzo dalam membantu Reynald, Jeje seakan lupa kalau dia sedang memberikan hukuman untuk Kenzo dengan bersikap cuek padanya. Remaja itu justru terus tersenyum melirik Kenzo yang terus menggenggam tangannya hingga keluar dari gang rumah Karin.


Rupanya Kenzo memperhatikan Jeje yang sejak tadi mencuri pandang ke arahnya.


"Kenapa.? Kangen.?Atau aku terlihat semakin tampan.?" Tanya Kenzo dengan rasa percaya diri yang tinggi. Tak lupa dia memamerkan senyum smirknya yang mampu memabukkan mata dan melelehkan hati siapa saja yang melihatnya.


Jeje mencubit gemas pinggang Kenzo dengan senyum yang mengembang. Namun setelah itu memperlihatkan wajah tak suka. Saat ini Jeje baru sadar kalau hukuman untuk suaminya itu masih berlanjut. Seharusnya dia masih bersikap cuek dan dingin pada Kenzo.


"Jangan kepedean by.!" Ketusnya. Jeje segera menarik tangannya dari genggaman Kenzo, lalu berjalan cepat menghampiri mobil Kenzo.


Kenzo hanya menggeleng melihat sikap Jeje seperti itu, sejujurnya dia sudah tau kalau Jeje sudah tidak kesal lagi padanya. Kenzo tau kalau sikap cuek Jeje hanya untuk membalas kekesalannya yang sudah membuat Jeje cemburu.


Jeje masuk kedalam mobil begitu kunci pintu di buka, disusul dengan Kenzo dan mulai melajukan mobilnya.


"Aku mau jalan - jalan by." Seru Jeje masih dengan suara ketusnya. Pandangannya pun tak beralih dari jalanan.


"Jalan - jalan kemana.?" Kenzo masih konsisten dengan suara lembut penuh kasih sayang pada istri remajanya itu.


"Ke mall, mau nonton, mau cobain banyak makanan dan shopping." Sahutnya detail.


Kenzo nampak mengerutkan Keningnya, sedikit curiga dengan permintaan Jeje yang menurutnya aneh. Tidak biasa ya Jeje minta untuk shopping. Sepertinya balas dendam Jeje belum berakhir, dia masih mau mengerjai Kenzo.


Laki - laki dewasa itu tersenyum licik. Jeje belum tau siapa orang yang sedang di jadikan lawan olehnya.


"Oke,, tapi kita pulang ke apertemen dulu ya. Aku gerah, harus mandi dan ganti baju dulu."


"Nggak enak kalau ke mall pake setelan jas seperti ini,," Jelas Kenzo.


Jeje mengangguk pasrah. Lagi pula dia juga ingin mandi lebih dulu agar lebih segar dan punya ide cemerlang untuk mengerjai Kenzo habis -. habisan di mall nanti.


...***...


Sementara itu Reynald masih berada di teras rumah Karin, dia duduk di kursi panjang yang ada di sana. Pintu itu tak kunjung di buka meski dia sudah mengetuknya puluhan kali.


Karin melihat Reynald dari jendela ruang tamu yang tidak tertutup tirai. Sejujurnya dia kasihan pada Reynald, tapi kedua orang tuanya bersikeras tak mau membukakan pintu untuk Reynald.


"Sudah neng biarkan saja.! Laki - laki seperti itu nggak pantes di jadikan suami."


"Bapak sama Ibu memang kecewa sama kamu, karna kamu nggak cerita sama Bapak dari awal. "


"Kalau kamu cerita sama Bapak, pasti Bapak bakal usahain cari pinjaman buat bayar ganti rugi mobilnya,,"


"Sekarang liat jadinya.! Kamu harus mengandung anak dari laki - laki jahat seperti dia. Masa depan kamu juga harus hancur seperti ini neng,,,"


"Ya Allah, Bapak harus gimana kalau kaya gini.?"


"Malu juga sama tetangga neng, apa kata orang nanti kalau liat perut kamu semakin besar,,"


Bapak mengusap dadanya berulang kali, dada yang terasa sesak dan terhimpit.


Hidupnya seakan hancur, perjuangannya selama ini untuk menjadikan Karin sebagai wanita sukses agar tidak seperti dirinya, kini hancur begitu saja karna perbuatan Reynald.


Karin kembali menunduk, air matanya kembali tumpah. Ibu yang duduk di sampingnya, langsung memeluk putri satu - satunya itu.


"Kenapa harus kamu yang mengalami semua ini neng,, Bagaimana masa depan kamu nanti,," Ucapnya dengan isakan.


Sebagai seorang ibu, tentu saja hatinya hancur. Kehamilan yang seharusnya menjadi kabar bahagia, justru menjadi kabar duka bagi keluarga Karin.


Bukan mereka tidak menerima kehamilan Karin, namun status Karin yang belum menikah, tentu kehamilan adalah aib dan musibah terbesar dalam keluarga.


"Pak, Bu, tolong terima saja kak Reynald. Dia sudah bersedia tanggung jawab." Ujar Karin.


"Aku nggak mau anak ini lahir tanpa ayah Pak, Bu. Belum lagi Karin akan membuat ibu sama Bapak malu karna hamil tanpa suami,," Suara Karin bergetar, sejujurnya dia tidak yakin untuk menikah dengan Reynald. Tapi Karin juga tidak mau semakin membuat malu kedua orang tuanya, dan enggan membiarkan anaknya terlahir tanpa seorang ayah disisinya.


"Tapi neng, dia bukan laki - laki baik.!" Tegas Bapak.


"Selama ini kak Reynald baik sama Karin Pak." Karin berusaha memberikan pembelaan.


"Kalau baik nggak mungkin dia menghamili kamu dengan cara seperti ini, menjadikan kehormatan kamu sebagai jaminan untuk membayar ganti rugi."


"Dimana baiknya neng.?! Itu sudah termasuk kejahatan namanya.!" Geram Bapak dengan wajah yang memerah.


"Sudah Pak, biar aku hajar saja laki - laki brengsek itu.!!. Sekalian ngusir biar pergi." Geram kakak Karin, dia beranjak dari duduknya. Sejak tadi dia ingin menghajar Reynald, tapi selalu di larang oleh Bapak karna takut akan di laporkan ke polisi. Bapak Karin sangat menghindari masalah dengan orang kaya yang memiliki banyak uang.


"Jangan a,, biarin aja, nanti juga dia pergi sendiri.!" Cegah Bapak. Namun anak keduanya itu tak mau mendengar peringatannya. Dia membuka pintu dan langsung keluar menghampiri Reynald.


"Dasar brengsek,,,!!" Geramnya dengan mencengkram kerah kemeja Reynald.


"Bajingan,,,!!!"


Bugghhh,,!


Satu tinjuan mendarat di wajah Reynald.


"A Radit sudah,,!" Cegah Bapak yang langsung memisahkan mereka.


Reynald hanya bisa menatap tajam pada kakak Karin.


Setelah itu, Karin dan Ibunya juga keluar. Karin menatap jengah laki - laki yang sudah membuat keluarganya kacau seperti ini. Membuat mereka sakit hati.


Kini tatapan tajam Reynald beralih pada Karin.


Dia terlihat tidak suka dengan pernyataan wanita yang sedang mengandung anaknya.


"Saya datang kesini dengan niat yang baik, mau bertanggung jawab untuk menikahi anak Bapak."


"Bapak bisa menolak saya kalau keadaan Karin tidak sedang hamil seperti ini."


"Anak Bapak sudah hamil,," Tegas Reynald penuh penekanan.


"Dia mengandung anak saya dan itu jadi tanggung jawab saya."


"Terlepas kesalahan saya yang sudah memanfaatkan Karin, saya tulus minta maaf untuk itu. Tolong ijinkan saya untuk bertanggung jawab,,"


Mereka terlihat diam mendengarkan ucapan Reynald. Memang terlihat tulus, tapi Bapak Karin masih tidak rela untuk melepaskan anaknya pada laki - laki tidak bermoral seperti itu.


"Pak, sepertinya dia serius. Suruh masuk kedalam saja dan kita bicarakan lagi baik -baik,,"


"Kasian Karin juga kalau harus hamil dan melahirkan tanpa suami,," Bisik ibu Karin.


Helaan nafas keluar dari mulut laki - laki paruh baya itu. Dia nampak sedang memikirkan baik - baik ucapan istrinya.


"Kamu serius mau tanggung jawab.? Yakin bisa menjaga anak dan cucu saya nanti.?!!" Tegas Bapak.


"Saya tidak akan langsung kesini kalau tidak serius." Sahut Reynald cepat.


"Ya sudah.! Kita bicarakan lagi di dalam.!" Ketusnya lalu masuk kedalam, disusul dengan Ibu Karin dan Radit.


"Kamu ini kenapa nggak coba bujuk mereka,,!" Geram Reynald di telinga Karin. Karin hanya melirik malas, kemudian masuk kedalam rumah.


Reynald mendengus kesal, dan menyusul mereka ke dalam.


...***...


Jeje langsung masuk ke dalam kamar begitu sampai di apartemen. Kenzo menyusul dengan membawa dua minuman kaleng dingin di tangannya .


"Mau ngapain.?" Tegur Kenzo saat Jeje akan masuk ke kamar mandi.


"Mau mandi lah by, memangnya apa lagi." Jawabnya ketus.


Kenzo berjalan mendekat ke arahnya.


"Minum dulu kamu belum minum dari tadi,,"


Jeje menerima minuman kaleng yang disodorkan oleh Kenzo, meneguknya beberapa kali dan memberikannya lagi pada Kenzo.


"Makasih." Ucapnya datar. Jeje menyelonong masuk ke kamar mandi, namun Kenzo ikut masuk kedalam dan mengunci pintunya.


"Hubby.! Jangan bercanda, aku mau mandi." Protes Jeje sambil berusaha untuk membuka pintu kembali.


"Aku juga mau mandi, kita mandi berdua saja,,"


Kenzo mencabut kunci dan memasukannya kedalam saku celana di bagian belakang.


Dengan santainya berjalan ke arah wash tafel untuk menaruh minuman kaleng di sana.


Jeje langsung mengikuti Kenzo.


"Berikan kuncinya by.! Kalau begitu hubby saja yang mandi duluan,," Katanya sembari mengulurkan tangan.


"Memangnya kenapa kalau mandi berdua.?" Kenzo terus membuat Jeje mundur perlahan.


Remaja itu mendengus kesal dalam hati, dia merasa sedang di kerjai oleh Kenzo saat ini.


"Stop by.!" Pintanya. Tubuh Jeje sudah menempel di pintu dan tidak bisa lagi bergerak mundur.


"Nggak akan,," Kenzo mendekat dan mengurung tubuh Jeje.


"Minggir by,,,


Bibir Jeje langsung dibungkam dengan ciuman panas dan sedikit kasar. Kenzo melu**t dan menyesapnya tanpa henti.


Jeje berusaha memberontak, namun sentuhan tangan Kenzo di aset kembarnya dan pada daerah intinya, membuat Jeje justru mengeluarkan desahan tertahan.


Kenzo tertawa puas dalam hati karna berhasil membalas Jeje.


Tubuh Jeje sudah tidak terkendali, di bahkan melupakan semuanya dan hanya fokus pada nikmat yang terus menjalar di tubuhnya. Terlebih tangan Kenzo terus bergerak di bawah sana, membuat desahnya semakin menggema di kamar mandi.


Tak berselang lama mereka langsung melakukan penyatuan. Mereka bahkan melakukannya berulang kali, hingga bermain di bawah guyuran shower.


Dan kini berakhir dengan Jeje yang ambruk di atas tubuh Kenzo. Rupanya keduanya kembali melakukan kegiatan panas itu di atas ranjang.


...***...


Bonus season2, bab pertama othor banyakin nih upnya 😁😁


Tapi jangan lupa like ya,, mau liat berapa yang masih stay disini.