
"Kenapa Papa masih menyuruh kak Kenzo pulang.? Bukannya Papa senang akan memilki cucu.?" Tanya Jeje heran. Dia sedang berdebat dengan Papa Alex karna sang Papa menyuruh Kenzo untuk segera pergi dari rumahnya, padahal mereka baru saja makan malam dan belum beranjak dari meja makan.
"Senang karna akan memiliki cucu dan konsekuensi untuk orang yang melanggar peraturan tidak ada hubungannya Je, jadi Kenzo harus tetap menjalani hukumannya." Jawaban Papa Alex yang tegas seakan tidak mau di bantah lagi.
Keputusannya sudah bulat untuk memisahkan Jeje dan Kenzo sementara waktu. Bukan tanpa alasan Papa Alex membuat mereka tinggal terpisah, kehamilan Jeje masih terlalu muda jika harus menuruti keinginan suaminya. Papa Alex seakan sudah paham dengan kebutuhan menantunya yang usianya sudah sangat matang. Kegiatan suami istri itu pasti tidak akan mudah di hindari oleh Kenzo, itu sebabnya papa Alex memilih hukuman yang tepat.
Selain untuk memberikan hukuman pada Kenzo, juga untuk mencegah resiko yang mungkin akan berbahaya bagi kehamilan Jeje.
"Tapi Pah,,, Jeje nggak bisa tidur kalau belum peluk kak Ken,,," Protes Jeje sedikit merengek. Dia masih saja berharap sang Papa menarik hukuman untuk suaminya.
"Ada mama, kamu bisa peluk mama mu selama 2 minggu ke depan,," Sahut Papa Alex enteng. Wajar saja karna dia tidak tau apa yang di rasakan oleh Jeje. Pasti akan sulit meninggalkan rutinitas yang selama ini menjadi kebiasaan Jeje sebelum tidur.
"Mah,,," Jeje berusaha meminta pembelaan pada Mama Rissa. Meski dia tidak yakin Mama Rissa bisa membuat Papa Alex membatalkan hukumannya, karna apa yang sudah keluar dari mulut sang Papa tidak akan dengan mudah bisa ditarik kembali.
"Pah, biarkan saja Jeje pulang sama Kenzo. Kenzo pasti tidak akan membuat kandungan Jeje bermasalah. Bukan begitu nak Ken.?" Mama Rissa langsung memberikan tatapan mendadak pada Kenzo. Kenzo yang mendapat tatapan dari mama Rissa hampir saja tersedak minuman yang baru masuk kedalam mulutnya.
Ucapan mama Rissa tentu saja membuat Kenzo sedikit terkejut, pasalnya mengarah pada hal intim. Sedangkan Jeje masih memiliki imbalan yang harus di tagih olehnya.
"Te,,tentu saja, saya tau apa yang baik dan tidak untuk kehamilan Jeje,,," Sahut Kenzo. Dia terlihat gugup di awal tapi kemudian bisa bersikap tenang.
"Papa percaya kamu tau, tapi apa kamu bisa menahan ***** kamu,,,?!" Semua orang menatap Papa Alex. Mereka terlihat bengong mendengar ucapan Papa Alex yang mungkin tidak seharusnya di ucapkan di depan semua orang.
"Kenapa Papa bicara seperti itu.?" Protes Jeje.
"Pokoknya Jeje nggak mau pisah rumah sama kak Ken.!" Karna kesal, suara Jeje semakin meninggi. Kenzo hanya bisa menghela nafas, dia meraih tangan Jeje untuk di genggam.
"Sudah tidak apa, lagipula hanya 2 minggu."
"Minggu depan aku juga harus ke Paris,,,"
Jeje berusaha menengahi dan membujuk Jeje agar menerima keputusan Papa Alex, namun Kenzo juga memberikan kode dengan kedipan mata. Dia berusaha mengingatkan Jeje kalau mereka masih bisa bertemu setiap hari secara diam - diam.
"Kalian lihat sendiri, Kenzo juga tidak mempermasalahkannya.!" Seru Papa Alex dengan entengnya. Dia tidak memikirkan perasaan Jeje dan Kenzo yang sebenarnya tersiksa karna harus pisah rumah.
Pada akhirnya Jeje harus merelakan Kenzo pulang seorang diri ke apartemennya. Dia mengantar Kenzo sampai ke depan rumah. Tangan Kenzo tak pernah lepas dari dekapan Jeje.
"Bagaimana rasanya tidur tanpa hubby,," Gumam Jeje dengan wajah sedih. Kenzo tersenyum, tangannya menepuk - nepuk pelan pipi Jeje.
"Jangan khawatir, besok aku akan kesini sebelum orang tua kamu pulang dari kantor."
Jeje hanya mengulas senyum dan mengangguk pelan, kemudian memeluk erat tubuh Kenzo.
"Hati - hati di jalan by,,,"
"Jangan bawa wanita lain ke apartemen selama aku tidak ada.!" Peringatan Jeje terdengar menakutkan, namun Kenzo justru terkekeh geli.
"Pikiran buruk macam apa yang ada di kepala kamu.?!" Ujar Kenzo sembari mendorong dahi Jeje menggunakan telunjuknya.
"Apa aku segila itu di mata kamu,," Ujarnya lagi dengan gelengan kepala. Istrinya itu benar - benar membuatnya heran.
Jeje menyengir kuda dengan wajah yang mendongak.
"Iya aku tau hubby tidak akan berbuat macam - macam, apalagi menyakitiku,,,"
Jeje dengan berani mengecup bibir Kenzo lebih dulu, dia mengalungkan tangan di leher Kenzo dan kembali menciumnya dengan sedikit luma*an.
Kenzo yang mendapat ciuman mendadak, langsung mengimbanginya dengan membalas ciuman itu.
"Astaga,,,!!! Kalian.!!!" Suara teriakan Papa Alex membuat ciuman panas itu berakhir.
"Kamu lihat sendiri mah.! Apa kamu masih mau membiarkan mereka tinggal bersama.!" Keluhnya kesal. Mama Rissa hanya menggeleng saja. Suaminya juga salah karna melarang suami istri berbuat tinggal terpisah, sedangkan Kenzo juga terlihat sulit menahan diri.
"Hubby pulang saja,, biar aku yang mengurus Papa.". Ujar Jeje lirih. Kenzo mengangguk.
"Baik - baik disini, pastikan anak kita juga sehat,," Kenzo mengusap perut Jeje dengan Lembut, kemudian mengecup kening Jeje.
"Saya pulang dulu Mah, Pah,,," Kenzo kembali pamit pada mertuanya.
...****...
Perasaan Reynald padanya terlihat semakin jelas, dan keraguan di hatinya perlahan memudar.
Karin sedang berbaring di tempat tidur. Sudah pukul 10 malam tapi dia belum bisa memejamkan matanya. Karin masih saja berharap Reynald akan menghubunginya lagi.
Selain ingin menanyakan kabar Bapaknya, dia juga mulai merindukan suara Reynald yang khas.
Dering ponsel membuat Karin langsung beranjak. Dia mengambil ponsel dan duduk di sisi ranjang. Matanya berbinar karna melihat nama Reynald yang tertera di layar ponselnya.
Tanpa berfikir lagi, Karin langsung mengangkat telfon dari Reynald.
"kenapa belum tidur juga.?!" Seru Reynald tegas. Karin yang tadinya akan menyapa Reynald lebih dulu, kini kembali mengatupkan mulutnya karna mendengar suara bass Reynald.
"Sudah malam, sebaiknya tidur. Tidak usah menungguku, aku pulang larut malam,,!"
Karin menarik nafas panjang, hembusan nafasnya bahkan sampai terdengar oleh Reynald di seberang sana.
"Ada apa.?" tanya Reynald datar. Karin diam sejenak, Reynald tidak bisa di ajak basa - basi. Dia kesulitan untuk menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya.
"Tidak ada, aku hanya ingin tau kabar Bapak,,"
"Do'a kan saja agar Bapak cepat sembuh, jangan terlalu memikirkannya."
"Apa kamu tidak bisa tidur karna memikirkan hal itu.?!" Nada bicara Reynald mulai meninggi.
"Harus berapa kali aku bi,,,
" Tidak,, bukan itu kak,,," Sanggah Karin cepat.
Meski sejujurnya begitu, tapi Karin tidak mau membuat Reynald kecewa dan mencemaskan kondisinya.
"Lalu apa.?!"
"A,,aku,,," Karin terlihat gugup untuk menjawabnya.
"Aku apa.?!" Seru Reynald.
"Rindu padaku.?" Tebaknya dengan nada yang seakan bangga pada dirinya sendiri karna dirindukan oleh Karin.
Wajah Karin langsung merona. Dia merasa malu pada Reynald meski laki - laki itu tidak ada di hadapannya.
"Iya,,," Sahut Karin setelah beberapa saat terdiam.
"Kau mau tidur,," Ujar Karin lagi. Dia langsung mematikan sambungan telfonnya karna malu. Saat ini jantungnya berdetak kencang. Dia baru saja menelpon suaminya, tapi seperti menelfon laki - laki yang baru saja menjadi kekasihnya.
Setelah mematikan telfonnya, Karin kembali berbaring dan mulai memejamkan mata. Dia sudah tenang setelah mendengar suara Reynald.
Karin mulai mengendus aroma parfum yang sejak tadi malam dia rindukan. Matanya masih terpejam rapat, tapi hidungnya bisa mencium dengan baik.
Aroma parfum Reynald membuat Karin terlihat nyaman, dia menggeliat hanya untuk mencari guling dan memeluknya.
"Serindu itu padaku.?"
Karin langsung membuka matanya, dia tersentak begitu melihat Reynald ada di hadapan matanya. Bahkan tubuh Reynald sedang dia peluk erat. Menyadari hal itu, Karin langsung mundur dan melepaskan pelukannya.
"Ka,,kapan kakak pulang.?" Tanya Karin gugup.
Reynald hanya menarik sudut bibirnya, dia menarik Karin kedalam dekapannya.
"Bukannya kamu rindu.?" Ujar Reynald lembut.
"Masih jam 4, sebaiknya tidur lagi,," Tangan Reynald mengusap - usap kepala dan punggung Karin.
Perlakuan lembut Reynald membuat Karin nyaman hingga akhirnya memejamkan mata.
...******...
Maaf baru up, sibuk dari pagi dan sepertinya gak bisa up Nicholas hari ini. Besok di usahain up.