My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
83. Season2



Reynald melirik arloji di pergelangan tangannya. Sudah pukul setengah 11 lewat, sebentar lagi sudah waktunya makan siang tapi Angel dan Dion belum juga kembali. Reynald memilih untuk mengajak Alisha makan siang di luar saat ini juga. Rasanya akan memakan waktu lama kalau harus menunggu Angel dan Dion pulang ke hotel.


Dengan malas, Reynald terpaksa meminta ijin pada Edwin.


"Beri tau Angel dan Dion, aku akan mengajak Alisha makan siang di luar. Kami akan kembali 2 jam lagi,," Tutur Reynald tegas. Dia berdiri dari duduknya dan menghampiri Karin yang masih asik memangku Alisha, juga mengajak adik Alisha berbicara.


"Kenapa tidak ijin sendiri saja. Bukannya punya nomor ponselnya kak Angel.?" Tanya Edwin nada bicara yang tidak enak di telinga Reynald. Terkesan sombong dengan menekankan kalimat terakhirnya.


"Aku sudah mengirimkan pesan padanya, kamu bisa memberitahukan lagi padanya setelah pulang.!" Ujar Reynald tegas. Dia seakan enggan untuk membahas dan berbicara lagi pada Edwin.


"Alisha ikut om sama tante dulu ya, kita makan siang di luar,,," Reynald mengambil Alisha dari pangkuan Karin dan menggendongnya.


"Tapi Alisha belum ijin sama mama dan papa om,,," Raut wajah Alisha sangat polos, khas anak - anak seusianya.


"Mama sama papa Alisha sudah kasih ijin. Kita boleh pergi sekarang,,," Reynald menjelaskannya dengan perlahan dan lembut. Juga memberikan tatapan teduh penuh kasih sayang seorang ayah terhadap putrinya. Hal itu membuat Alisha langsung mengangguk tanpa ragu.


"Ayo,,," Reynald meraih tangan Karin, meminta Karin untuk berdiri. Karin berdiri, dia menatap Edwin yang saat itu juga sedang menatapnya.


"Aku pergi dulu kak,,," Pamit Karin pada Edwin. Dia tersenyum ramah seperti biasa.


"Ya,, hati - hati di jalan. Aku titip Alisha,,"


Ucapan Edwin langsung mendapat tatapan tajam dari Reynald. Dia terlihat tidak terima karna Edwin bicara seolah - olah Alisha bukan bagian dari dirinya. Padahal Alisha adalah darah dagingnya.


"Kamu menitipkan seorang anak pada orang tuanya.?!" Reynald menyeletuk ketus. Wajahnya terlihat kesal dengan sorot mata yang tajam.


Edwin hanya melirik malas, sepertinya dia tidak berminat untuk menanggapi ucapan Reynald.


"Kak,,," Karin memanggil Reynald dan mengajaknya untuk segera keluar dengan berjalan mendahului Reynald. Kalau tidak menyuruhnya untuk cepat - cepat keluar, mungkin Reynald akan terus menatap Edwin dengan sorot mata penuh amarah.


Bukannya tidak ada yang salah dengan ucapan Edwin. Dia hanya menitipkan Alisha padanya, dalam artian memintanya untuk menjaga Alisha baik - baik. Lalu kenapa Reynald harus marah seperti itu.?


Karin paham, semua orang tua pasti sensitif jika menyangkut anaknya.


"Alisha mau di depan om,,," Pinta Alisha saat Reynald sudah membuka pintu belakang dan akan mendudukkan Alisha di sana.


"Mau sama tante,,," Ujarnya lagi. Reynald melirik Karin yang sudah berdiri di samping pintu depan, pandangan matanya kemudian turun ke bawah, tepat di bagian perut Karin.


Mendengar Alisha yang ingin duduk di depan bersama Karin, Reynald terlihat cemas memikirkan kondisi calon anaknya.


Membiarkan Alisha duduk di pangkuan Karin saat di dalam mobil, rasanya bukan ke keputusan yang tepat. Alisha pasti akan bersender pada Karin dan itu akan membuat perut Karin di tekan oleh badan Alisha.


"Kamu di belakang, temani Alisha,,," Pinta Reynald. Dia menyuruh Karin masuk lebih dulu.


"Tidak apa kalau Alisha mau di depan, aku bisa memangkunya seperti tadi,,," Kata Karin yakin. Dia paham apa yang ada di dalam pikiran Reynald saat ini. Dari cara Reynald menatap perutnya dan wajahnya yang terlihat cemas, Karin tau kalau Reynald sedang mengkhawatirkan kandungannya.


"Turuti saja perintah ku,,," Ujarnya tegas tak mau di bantah lagi. Dia kembali menyuruh Karin masuk kedalam mobil dengan menggerakan kepalanya ke arah mobil.


Karin mengangguk dan langsung masuk ke dalam. Dia langsung mengulurkan kedua tangan pada Alisha begitu sudah duduk.


"Sini Alisha, kita di belakang saja,,," Karin mengajak Alisha dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Reynald langsung memberikan Alisha pada Karin, kemudian menutup pintu mobil setelah Alisha ikut duduk di samping Karin.


"Tante, kenapa kita tidak di depan.?" Tanya Alisha. Sepertinya dia lebih tertarik untuk duduk di depan.


"Di depan sempit sayang, nanti Alisha tidak bisa seperti ini,,," Karin menyenderkan tubuhnya di jok mobil dan bergaya senyaman mungkin untuk memperlihatkan pada Alisha.


"Hehehe,,,"


Alisha hanya tertawa kecil melihat Karin yang bersender dengan posisi yang terlihat pasrah. Kepala yang mendongak, tangan yang dibiarkan lurus begitu saja. Dia seperti sedang terlentang di atas ranjang.


"Kenapa Alisha tertawa.?" Karin membenarkan posisinya, dia kembali duduk dengan normal. Dia mencubit gemas pipi Alisha yang semakin cubby saat tertawa.


Reynald mulai melajukan mobilnya, dia menatap interaksi Alisha dan Karin dari kaca spion. Ada perasaan bahagia melihat keduanya dekat dengan mudah.


"Tante lucu,,," Sahut Alisha. Dia masih terlihat mengulum senyum.


Entah kenapa ada sedikit sesak di hatinya setiap membicarakan hal tentang Angel.


...****...


"Yeay sampe,,," Alisha terlihat antusias begitu turun dari mobil. Restoran di depannya sudah menarik perhatiannya sejak mobil yang dia tumpangi masuk ke halaman restoran. Ada playground di dalam sana yang pastinya membuat Alisha tidak sabar untuk masuk dan main di dalam.


"Alisha mau main disitu tante,,," Pinta Alisha setengah merengek. Dia juga menarik tangan Karin dan mengajaknya untuk segera masuk.


"Sebentar yah, kita tunggu om dulu,,,," Kata Karin. Dia menatap Reynald, laki - laki itu baru saja keluar dari mobil.


"Om,,," Alisha berlari ke arah Reynald, yang langsung di sambut oleh kedua tangan Reynald dan seketika Alisha berada di dalam gendongannya.


"Alisha mau main itu mo,,," Alisha menunjuk playground yang terlihat jelas dari luar karna hanya tertutup kaca transparan.


"Boleh, tapi Alisha harus makan dulu,," Reynald mengembangkan senyum lembut pada Alisha, dia berjalan sambil terus menatap Alisha dan membenarkan poni Alisha yang menutupi mata.


Laki - laki itu sampai tidak menyadari kalau Karin masih mematung di tempat dan hanya menatapnya dari belakang.


Setelah beberapa langkah, Reynald baru sadar kalau tidak ada yang mengikutinya di belakang. Dia langsung berbalik badan, di tatapnya Karin yang terlihat melamun dengan pandangan mata yang menerawang. Tanpa pikir panjang, Reynald menghampiri Karin dan mengandeng tangannya.


"Kamu mau makan apa,,,?" Tanya Reynald sembari mengajak Karin untuk melangkah.


"Apa saja,,," Karin hanya menjawab singkat, dan mengulas senyum tipis.


Reynald terlihat menarik nafas dan membuangnya perlahan.


"Om ada perosotan panjang,,," Seru Alisha begitu masuk ke dalam resto.


"Alisha mau perosotan om,, mau ayunan juga,," Ujarnya sambil menunjuk perosotan dan ayunan secara bergantian.


Reynald tersenyum, dia terlihat gemas dengan tingkah dan cara bicara Alisha yang cenderung cerewet. Cara bicaranya benar - benar seperti Angel.


"Alisha boleh cobain semuanya, asal harus makan lebih dulu. Oke,,,?"


Alisha langsung mengangguk patuh.


"Ok om,,,," Seru Alisha.


Karin menarik nafas dalam. Alisha tidak bersalah, dia tidak tau apapun tentang apa yang sudah terjadi antara kedua orang tuanya di masa lalu. Sudah sewajarnya Alisha mendapatkan perlakuan yang baik dari Reynald. Sudah seharusnya Reynald memberikan cinta, kasih sayang dan perhatiannya pada Alisha.


Meski berulang kali meyakinkan hatinya untuk ikhlas menerima Alisha yang memang darah daging suaminya, tapi masih ada sedikit rasa cemburu dalam hatinya melihat kedekatan mereka.


Apa salah jika merasa cemburu pada Alisha yang mendapatkan perhatian lebih dari Reynald.? Yang selalu diperlakukan dengan baik dan di ajak bicara dengan suara yang lembut.


Karin jadi merasa jika dia dan Alisha memiliki kedudukan yang jauh berbeda di hati dan kehidupan Reynald.


Dia merasa tidak berarti saat sedang bersama Alisha seperti ini.


"Karin,,!" Teguran Reynald membuat Karin tersentak.


"Duduk,,," Ujar Reynald. Dia sudah menyiapkan kursi untuk Karin, bahkan sudah memanggil Karin beberapa kali tapi Karin terus saja melamun.


Karin mengangguk cepat dan langsung duduk.


"Kamu kenapa.? Mau pulang.?" Tawar Reynald. Dia merasa kalau Karin tidak nyaman.


"Kita bisa pesan makanan dan bawa pulang saja. Tapi antar Alisha dulu,,,"


"Tidak apa, makan disini saja. Kita pulang setelah Alisha main,,," Saut Karin cepat. Dia tidak tega kalau harus pulang, sedangkan Alisha sudah antusias ingin bermain di sana.


Reynald hanya mengangguk pelan dan mengusap punggung Karin.


...*****...