My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 89. Jangan sekarang



Om Kenzo seakan tidak menggubris peringatan ku, dia justru semakin menggodaku dengan menyusuri punggungku menggunakan satu tangannya. Ulah om Kenzo semakin membuatku gelisah. Aku jadi takut tidak bisa menahan diri dan pada akhirnya gagal untuk menjahili om Kenzo. Bisa - bisa aku kembali menyerahkan diri dengan suka rela seperti waktu itu.


"Apa bedanya siang sama malem.?" Ujarnya di telingaku. Aku hanya bisa menelan saliva karna suara om Kenzo yang berat dan terdengar seksi.


"Dilakukan siang atau malam, keduanya sama - sama nikmat,," Lanjutnya lagi.


Tangan om Kenzo semakin liar di tubuh bagian belakang ku.


"Tapi om, aku cape. Nanti saja." Tolak ku.


Tubuhku menegang dan terasa kaku, aku hanya bisa bicara tanpa bisa menggerakkan badan.


"Justru karna kamu kecapean, aku mau melakukannya sekarang,,," Tanpa aku duga, om Kenzo mengangkat tubuhku dan berjalan ke arah ranjang. Aku semakin panik, takut pertempuran panas itu akan terjadi dengan mudah.


Sedangkan aku ingin membuat om Kenzo sedikit tersiksa karna harus menahan hasratnya. Aku ingin melihat seperti apa kalau dia tidak bisa menyalurkan keinginannya saat itu juga.


"Jangan sekarang om, di bawah masih ada keluarga inti. Bagaimana kalau,,,


"Mereka pasti paham. Tidak akan ada yang berani menganggu,," Sahutnya cepat.


Om Kenzo membaringkan ku di ranjang.


"Balik badan kamu,,"


"Hah,,?"


"Tengkurap,,"


Aku hanya bengong dengan mata yang melotot. Bermain dengan gaya macam apa ini.? Kenapa om Kenzo menyuruhku untuk tengkurap.


Aku masih diam, enggan menuruti perintah om Kenzo yang aneh itu.


"Keras kepala.!" Ujarnya sembari membalik badanku. Saat itu juga aku mulai merasakan tangan om Kenzo yang memijat punggungku.


Ya ampun,, ternyata om Kenzo hanya ingin memijatku. Bisa - bisanya aku berfikir mesum sampai sejauh ini. Bahkan membayangkan gaya yang ingin om Kenzo lakukan dengan menyuruhku tengkurap.


"Kamu pikir aku akan melakukannya.?"


"Berlaga menolak, tapi pikiran kamu masih mesum seperti dulu,,," Cibir om Kenzo sembari menahan tawa.


Om Kenzo benar - benar menyebalkan, padahal dia yang sudah membuatku berfikir mesum. Mana ada orang yang ingin memijat tapi menggerayangi tubuh bagian belakang lebih dulu. Di tambah ucapannya yang ambigu.


Ini sih bukan aku yang menjahili om Kenzo, tapi om Kenzo yang sudah berhasil menjahili ku.


"Tau ah,, om ngeselin,,," Protesku.


Om Kenzo terkekeh kecil. Aku diam dan mulai menikmati pijatannya yang terasa lembut.


"Ke atas lagi om,, bahuku pegal,," Pintaku.


"Baru beberapa jam jadi istri, udah berani menyuruh ya,," Katanya dengan candaan.


"Kan sekalian om, mumpung om lagi berbaik hati mau mijitin aku,,"


"Nanti kapan - kapan gantian aku yang mijitin om,,"


Ujarku santai, aku memilih untuk memejamkan mata. Menikmati pijatan om Kenzo yang semakin lama terasa enak, sedikit mengurangi rasa pegalku.


Semalam aku tidak bisa tidur karna terus memikirkan acara pernikahan kami. Wajar kalau sekarang aku merasa lelah, bahkan mengantuk.


"Jangan kapan - kapan. Nanti malam saja."


"Pijat bagian tubuhku yang bisa mengeras,," Ucapnya tanpa filter.


"Om,,,!!" Rengekku. Untung saja aku dalam posisi tengkurap, om Kenzo tidak akan bisa melihat wajahku yang merona karna malu. Lagi - lagi ok Kenzo membuatku berfikir mesum. Dulu om Kenzo sering memintaku untuk melakukan itu. Membayangkan miliknya yang membesar, membuatku jadi semakin gelisah. Aku segera menepis pikiran itu, lalu kembali fokus pada pijatan tangan om Kenzo. Perlahan aku mulai kehilangan kesadaran, sekilas aku mendengar om Kenzo berbicara, namun tidak jelas dia bicara apa.


Aku membuka mata perlahan. Badanku terasa lebih ringan, tidak seperti tadi yang terasa berat karna pegal - pegal. Aku berbalik badan, sembari mengedarkan pandangan untuk mencari sosok om Kenzo.


Ku lirik jam weker yang sudah menunjukan pukul 5 sore. Rupanya aku tertidur hampir 3 jam lamanya.


Lalu dimana om Kenzo.?


Aku segera turun dari ranjang, sebelum mencari keberadaan om Kenzo, aku memutuskan untuk mandi lebih dulu.


Berendam air hangat membuat tubuhku semakin rileks.


"Kamu di dalam Je,,?!" Teriak om Kenzo. Aku sedikit was - was, untung saja aku sudah mengunci pintunya. Jika tidak, aku bisa pastikan om Kenzo akan langsung masuk kedalam dan menyergap ku.


"Ya om,,,!"


Aku kaget mendengarnya, aku pikir kami akan tinggal disini untuk beberapa hari ke depan. Rupanya om Kenzo ingin aku tinggal di apartemennya saat ini juga. Aku segera menyelesaikan ritual mandi ku, berharap setelah ini bisa bernegosiasi dengan om Kenzo.


Aku keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono. Rasanya segar sekali setelah berendam, di tambah aku yang baru saja di pijit oleh om Kenzo. Ternyata enak juga menikah, apa lagi kalau bisa menyuruh om Kenzo untuk memijatku kalau aku kelelahan. Aku tersenyum dalam hati.


"Kenapa kamu.?" Tegur om Kenzo tepat di depanku.


"Hah.? Kenapa apanya.?"


"Kamu senyum - senyum. Lagi ngebayangin adegan nanti malem.?" Tanyanya dengan senyum yang menggoda.


"Mesum,,!" Ketusku. Aku berlalu untuk mengambil baju. Sebelum aku masuk ke walk in closet, aku melirik om Kenzo yang berjalan ke arah ranjang dan langsung merebahkan dirinya disana. Sepertinya om Kenzo juga kelelahan.


Saat aku kembali, om Kenzo sudah terlelap dengan suara dengkuran halus yang teratur. Aku ingin membangunkannya tapi tidak tega. Melihat wajah tampannya terlihat damai dan nyenyak, membuatku enggan menggangu tidurnya.


Aku turun kebawah, meninggalkan om Kenzo yang terlelap di kamarku. Sejak masuk ke dalam kamar, aku belum minum sama sekali. Hingga tenggorokan ku terasa kering saat ini.


"Loh,, Kenzo mana Je.?" Tanya mama yang menghampiriku di dapur.


"Katanya mau ke apartemen sekarang,,,"


Aku meneguk air dingin di gelas hingga tandas, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan mama.


"Di kamar mah, ketiduran. Aku mau bangunin nggak tega,,"


"Kalian ini ada - ada saja. Tadi kamu yang ketiduran, sekarang Kenzo." Ujarnya sembari menggelengkan kepala. Agaknya mama heran dengan pasangan suami istri seperti kami.


"Aku tuh tadi malam nggak bisa tidur mah, jadi wajar kalau tadi ketiduran."


"Sepertinya om Kenzo juga begitu,,"


"Lohh,, kok masih manggil om sih.?"


"Kenzo itu udah jadi suami kamu, yang lebih sopan dong manggilnya."


"Nggak apa - apa mah, Jeje belum terbiasa,," Tiba - tiba om Kenzo datang menghampiri kami.


"Kami pamit dulu mah,,,"


"Om,, kita tinggal disini saja untuk beberapa hari,,"


Pintaku.


"Kamu harus ikut apa suami, Je. Lain kali kamu bisa tinggal disini,,," Ujar mama.


Aku hanya bisa pasrah.


Setelah pamit pada mama dan papa, aku dan om Kenzo langsung pergi ke apartemen. Aku hanya membawa sedikit barang dan keperluan kuliahku saja. Lagipula jarak apartemen dan rumah tidak terlalu jauh, aku bisa mengambil baju atau barang milikku kapan saja. Om Kenzo pun sudah membelikan banyak baju untukku. Baju yang sudah tertata rapi di walk in closet miliknya.


"Kita beli makanan dulu buat makan malam nanti."


"Kamu mau makan apa.?"


Om Kenzo melirikku sekilas, kemudian kembali fokus menyetir.


"Aku mau burger aja om, udah lama nggak makan burger di restoran cepat saji. Biasanya dibikin chef dirumah, lebih sehat sih, tapi kurang greget aja rasanya,," Sahutku panjang lebar.


Om Kenzo mengulas senyum.


"Sudah kembali ke mode awal rupanya,," Gumamnya tanpa melihat ke arahku. Aku hanya mengerutkan kening karna tidak tau maksud ucapan om Kenzo.


Aku membawa kantong plastik berisi burger dan es krim yang baru saja om Kenzo beli didekat apartemen. Sedangkan om Kenzo membawakan koper milikku. Aku mengikuti langkahnya, sampai kedalam apartemen.


Sudah lebih dari sebulan aku baru masuk ke apartemen ini. Tempat yang sering aku dan om Kenzo gunakan untuk bermesraan.


"Makan dulu burgernya. Kamu butuh tenaga ekstra untuk malam ini,,," Ujar om Kenzo lalu masuk kedalam kamar, masih dengan membawa koper milikku.


Aku mematung sejenak, mencerna ucapan omjom Kenzo yang ternyata mengarah pada adegan panas.


Haruskah aku melakukannya malam ini.?


Tapi aku ingin membuat om Kenzo kesal lebih dulu, karna dia sudah seenaknya mempermainkan perasaanku.


Aku juga penasaran, apa om Kenzo bisa marah padaku jika aku menolaknya. Selama ini om Kenzo selalu bersikap baik padaku. Padahal om Kenzo sangat menyeramkan jika sedang marah pada orang lain.


...***...