
Setelah mengetahui jika ada hubungan antara om Kenzo dan kak Fely, keinginanku untuk memiliki om Kenzo justru semakin kuat. Mulai saat ini aku akan jadi orang yang egois demi merebut om Kenzo dari kak Fely. Jika bukan kak Fely yang menjalin hubungan dengan om Kenzo, mungkin aku tidak akan merebutnya.
Rasa cemburu dan sakit hatiku pada kak Fely, yang akhirnya membuatku berfikir untuk mengambil om Kenzo.
Ya,,, jujur saja aku sangat cemburu karna kak Fely yang menjadi wanita spesial di hidup om Kenzo. Aku juga sakit hati padanya karna dia sudah membuat kak Nicho hancur.
Aku menunggu om Kenzo di seberang rumahku seperti biasa. Sore ini kami akan ke pantai. Tidak sabar rasanya menghabiskan waktu berlibur bersama om Kenzo walaupun hanya 1 malam.
Namun aku takut, takut jika om Kenzo meminta haknya.
Entah kenapa setelah mengetahui om Kenzo memiliki hubungan dengan kak Fely, aku jadi berfikir ulang untuk menyerahkan kesucian ku pada om Kenzo. Bagaimana jika nanti akhirnya aku tidak bisa merebut om Kenzo.? Aku akan kehilangan kesucian dan om Kenzo yang selamanya akan bersama kak Fely. Aku tidak mau kalau sampai itu terjadi.
Padahal sejak awal aku sudah ingin melakukannya, aku tidak pernah mengira bahwa kak Fely yang menjadi wanita om Kenzo.
Aku berusaha untuk bersikap seperti biasa. Aku tersenyum tulus saat om Kenzo membukakan pintu mobilnya untukku.
"Sore om,,,," Sapaku ramah. Meskipun aku sempat kesal pada om Kenzo, namun hanya dengan melihat matanya yang berbinar itu, aku lupa begitu saja pada kekesalanku padanya.
"Udah ijin sama orang tua kamu,,?"
Sembari bertanya, om Kenzo masih sempat mengusap kepalaku. Kegiatan itu yang kadang membuatku terbawa suasana. Mungkin sepele hanya mengusap rambut atau kepala, namun aku jadi merasa kalau om Kenzo sayang padaku.
Karna kak Nicho juga begitu, dia selalu mengusap kepalaku sebagai bentuk sayang seorang kakak pada adiknya. Bukan tidak mungkin jika om Kenzo juga menaruh sayang padaku. Terlebih tatapan matanya yang berbinar, seakan banyak cinta di dalamnya.
"Udah dong om. Mereka nggak pernah ngelarang aku pergi, bahkan mau menginap seminggu pun mereka nggak pernah mempermasalahkan itu."
Jawabku jujur. Om Kenzo hanya mengulas senyum tipis, lalu mulai melajukan mobilnya.
"Tapi kamu hebat,," Dia memuji dengan tangan yang kembali mengusap kepalaku dengan setengah mengacaknya.
Aku menatap bingung pada om Kenzo.
"Hebat kenapa om,?"
"Kamu bisa menjaga diri walaupun orang tua kamu membebaskan pergaulan kamu. Memang sudah seharusnya seperti itu. Toh apa yang kamu jaga, untuk kebaikan kamu sendiri,,,"
Om Kenzo kembali fokus menyetir setelah sempat melirikku sekilas.
"Tapi saat ini aku sudah salah om. Aku sudah jadi sugar baby nya om Ken. Dan sekarang om pasti akan meminta itu kan,,,?" Aku sengaja memancing om Kenzo, karna aku juga penasaran apa yang membuat om Kenzo sampai mengajakku berlibur. Jika bukan karna ingin meminta haknya, lalu apa.?
Sedangkan dia pernah bilang padaku "nanti ada waktunya" melakukan hubungan terlarang itu, apa mungkin sekarang waktunya.?
Tawa kecil yang keluar dari mulut om Kenzo, membuatku semakin bingung menatapnya.
"Kata siapa kita pergi buat begituan.? Makanya punya pikiran jangan mesum terus,," Ledek om Kenzo, dia menjentikan jarinya ke pelipis ku.
"Awww,, sakit om.!" Keluhku sembari memanyunkan bibir padanya.
"Jangan lebay, pelan begitu mana sakit. Sakit itu kalau di jebol nanti,," Selorohnya lalu terkekeh.
Aku semakin melotot padanya. Bisa melucu juga dia.
Aku melirik om Kenzo yang saat ini diam dan fokus menyetir. Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan padanya perihal hubungannya dengan kak Fely. Aku rasa om Kenzo tidak tau jika kak Fely adalah mantan pacar kak Nicho. Orang yang beberapa kali aku ceritakan padanya. Bagaimana jika om Kenzo tau akan hal ini.?
Tapi sepertinya akan muncul masalah baru jika menceritakan hubungan rumit ini dengan om Kenzo.
Mungkin sebaiknya aku juga pura - pura tidak tau tentang hal ini.
Om Kenzo memarkirkan mobilnya di depan sebuah resort dengan design yang cukup elegant namun minimalis.
Tiba - tiba saja hatiku serasa dipenuhi bunga yang bermekaran. Aku membayangkan akan menghabiskan waktu bersama om Kenzo di dalam sana. Apa kami juga akan tidur satu ranjang.?
Ya ampun,,, om Kenzo memang benar. Pikiranku memang mesum sekali.
Aku terus membayangkan adegan panas jika akan berduaan bersama om Kenzo di dalam ruangan.
"Nggak mau turun,,?" Suara om Kenzo yang terdengar tepat di sampingku, membuatku tersentak kaget. Saat ini om Kenzo sudah berada di luar mobil, dia berdiri tepat di samping pintu mobil dengan kepala yang di sejajarkan dengan kaca jendela yang terbuka.
Malu sekali rasanya, aku sampai tidak tau kalau om Kenzo sudah keluar dari mobil. Sekarang dia bahkan menertawakanku.
"Kebiasaan suka ngelamun,,," Katanya sembari membukakan pintu mobil untukku.
"Maklum om, lagi banyak pikiran,," Sahutku asal.
"Apa yang dipikirin.?" Om Kenzo membuka pintu belakang, mengambil tasku dan tas miliknya yang sudah pasti berisi baju ganti kami. Aku terus memperhatikan apa yang di lakukan om Kenzo.
"Lagi mikirin jodoh, om. Kira - kira siapa ya yang bakal jadi suamiku. Aku penasaran seperti apa wajahnya,? Lalu bagaimana sikapnya. Kau berharap akan memiliki pendamping yang baik,," Aku berbicara sambil terus mengikuti langkah om Kenzo yang akan masuk ke dalam resort.
"Berapa umur kamu,,?" Tanya om Kenzo namun masih terus melangkah tanpa menoleh padaku.
"Delapan belas tahun om,,"
Aku melihatnya mengeluarkan kunci dari saku jaketnya, lalu membuka pintu resort.
Tunggu,,? Jadi resort ini milik om Kenzo.? Pantas saja dia begitu santai langsung masuk ke halaman resort.
"Baru delapan belas tahun udah mikirin jodoh."
Ujarnya.
Aku terus mengikuti om Kenzo yang sudah masuk ke dalam.
"Aku pengen nikah muda om,,,"
"Kamu yakin,,?" Kini om Kenzo menatapku.
Aku mengangguk tanpa keraguan. Ya, aku memang ingin menikah muda. Sepertinya aku akan jauh lebih bahagia jika hidup dengan orang yang bisa memberiku perhatian.
"Kalau begitu persiapkan diri mulai sekarang,,"
Katanya dengan mengulas senyum tipis, lalu bergegas menaiki tangga.
"Tungguin om,,," Aku mengejar langkahnya yang semakin cepat. Entah kenapa ucapan om Kenzo seakan jadi angin segar untukku. Namun aku enggan berpikir terlalu jauh. Takut akan kecewa lebih dalam nantinya.
"Maksud om gimana.?" Tanyaku untuk meminta penjelasan lebih. '
"Pengen nikah muda kan.?" Om Kenzo justru kembali mengajukan pertanyaan. Aku segera mengangguk agar semakin cepat mendapatkan penjelasan.
"Itu artinya hanya ada sedikit waktu yang tersisa. Jadi persiapkan diri mulai sekarang sebelum akhirnya kamu menikah."
Aku hanya mengangguk saja. Meski sebenarnya tidak puas dengan jawaban om Kenzo. karna sejujurnya aku berharap om Kenzo akan menjawab ''Karna sebentar lagi aku akan menikahi kamu'.
Ya ampun,,, harapan gila macam apa yang terlintas di benakku.
Aku terus mengikuti om Kenzo yang kini sudah masuk kedalam kamar. Aku menahan senyum. Pikiranku langsung terjerumus pada adegan 21+.
"Kita tidur satu kamar om,,?"
"Disini ada dua kamar. Kalau kamu mau, bisa pake kamar sebelah." Aku mengerutkan kening. Di tanya apa, jawabnya apa. Aku malah bingung harus bicara apa.
Om Kenzo meletakan tas kami di dalam lemari kayu warna putih yang seperti menyatu dengan dinding.
Aneh sekali om Kenzo. Dia menawariku kamar lain, tapi memasukan tas ku juga kedalam lemari.
Aku hanya memperhatikannya saja tanpa berbicara apapun. Dia beranjak mendekati sofa, mengambil remote untuk menyalakan pendingin udara, kemudian mendudukan dirinya di sofa.
"Duduk Je. Tiga puluh menit lagi kita turun. Masih terlalu terang buat liat sunset,,"
Aku menurut saja dan duduk disebelahnya.
Harum parfum maskulin yang menguar dari tubuh om Kenzo, seakan menarik ku untuk lebih dekat lagi dengannya. Tanpa ragu, aku menyenderkan kepala di bahu om Kenzo.
Tidak salah bukan jika aku bersikap seperti ini padanya.? Karna om Kenzo yang semudah membuatku merasa sangat nyaman berada di sampingnya.
"Aku suka wangi parfum om,, bikin seger,,"
Pundak om Kenzo bergetar. Meski aku tidak melihatnya, tapi aku yakin jika saat om Kenzo sedang tertawa tanpa mengeluarkan suara. Dia pasti menertawakan ucapanku. Entah apa yang ada di dalam om Kenzo.
"Kamu lagi ngerayu.?" Katanya dengan menahan tawa. Aku langsung mengangkat kepala dan menatapnya. Om Kenzo semakin tampan saja dengan tawa yang tertahan di bibirnya. Kenapa orang sebaik om Kenzo harus menjalin hubungan dengan kak Fely. Orang yang sudah menyakiti kak Nicho. Aku benar - benar iri padanya. Sepertinya keputusanku untuk merebut om Kenzo darinya, adalah keputusan yang paling tepat.
"Ngerayu buat apa om.? Buat dapetin cinta om Ken.?" Ujarku lalu tertawa.
Om Kenzo hanya tertawa sembari mengacak gemas rambutku.
Mungkin om Kenzo menganggap ucapanku hanya sekedar candaan.
...****...
**Othor udah tambah 1 bab lagi nih. Jangan lupa Vote buat yang belum🥰.
Ada lebih 1400 pembaca novel ini, othor minta Vote nya min 400 orang🥰
Cinta kalian semua😘 Makin semangat ngetiknya.
Semoga nanti banyak waktu luang dan bisa up 2 bab setiap hari**.
Baru 85 Orang yang VOTE. Yang 1000 orang pade kemane euy🤣