
Sampainya di kedai es krim, Celina memesankan es krim sesuai pesanan yang di request oleh anak dari sugar daddy nya. Mereka juga memilih untuk duduk di salah satu meja dan menunggu Naura menghabiskan es krimnya.
"Gimana ceritanya bisa beralih ke duren ansa.?" Tanya Jeje penasaran, dia sedikit memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Nggak sengaja ketemu di club. Waktu itu si duren lagi galau kayaknya, gue juga gitu karna di tinggal Marvin,,,"
"Kita sama - sama lagi mabuk, nggak lama si duren ngajakin kuda - kudaan. Aku mana bisa nolak kalau ganteng begitu orangnya,," Jeje membulatkan matanya. Temennya itu memang masih gila seperti dulu, bahkan kadar kegilaannya semakin bertambah.
Celina begitu mudahnya making love bersama orang yang tidak dia kenal dan tanpa perjanjian lebih dulu, seperti saat Celina akan di jadikan sugar baby.
"Ampun ya kamu Cel,, gilanya nggak ilang - ilang."
Jeje menggeleng pelan. Celina terkekeh geli.
"Tapi gara - gara cinta satu malam itu, aku jadi punya sugar daddy lagi,," Seloroh Celina dengan senyum lebar.
"Gara - gara anak ini sih tepatnya,," Dia melirik Naura.
"Malam itu aku di bawa pulang kerumahnya karna mabuk berat. Paginya pas mau pulang, anak ini malah mau ngikut dan langsung deket sama aku."
"Tinggal bapaknya nih yang mesti di bikin tergila - gila,,," Celina mendekatkan wajahnya ke telinga Jeje.
"Padahal goyanganku bikin si duren ketagihan sampe merem melek,, tapi belum ada tanda - tanda dia suka sama aku,,"
Bisikan Celina membuat bulu kuduk Jeje meremang. Terlalu vulgar dan frontal.
"Astaga Cecel,,!" Pekik Jeje.
"Kalo ngomongin begituan inget tempat,," Bisiknya Geram.
"Haha sorry Je,, suka nggak ke kontrol mulutnya. Apa lagi yang bawah,,"
Celina langsung mendapat pukulan di lengan kanannya. Ucapan mesum Celina sellau bikin geleng - geleng kepala.
"Bener - bener makin gila,," Gumam Jeje.
Suara ponsel yang berdering membuat Jeje langsung mengambilnya dari dalam tas. Dia langsung mengangkat panggilan telfon dari Kenzo.
"Iya by,, kenapa.?" Tanya Jeje begitu panggilan terhubung.
"Kenapa gimana.?" Kenzo mengulangi pertanyaan Jeje.
"Kamu beli es krim atau ngegosip.? Sekarang dimana.?" Kenzo terdengar menghela nafas berat.
Jeje langsung terkekeh, dia sampai lupa untuk kembali lagi ke tempat semula.
"Hehe maaf by, keasikan ngobrol jadi kelupaan. Ini mau balik, hubby masih di tempat tadi kan,,?"
Jeje mematikan telfon setelah mendengar jawaban dari Kenzo. Dia juga mengajak Celina untuk kembali menghampiri 2 laki - laki itu.
"Papah,,," Naura langsung lari dan menghambur ke pelukan Vano yang sedang duduk. Vano tersenyum lebar, sepertinya Naura hanya satu - satunya sumber kebahagiaan Vano saat ini, setelah belahan jiwanya pergi untuk selama - selamanya dan tak akan pernah kembali lagi.
Celina terlihat mengulum senyum melihat kebahagiaan di antara ayah dan anak itu. Dia selalu terharu setiap kali melihat moment kedekatan Naura dan Vano.
"Aaaa so sweet banget, jadi pengen meluk bapaknya,,," Gumam Celina.
Jeje langsung terbahak - bahak.
"Emang dasar ya otak mesumnya aktif terus, nggak peduli sama situasi dan kondisi,," Celetuk Jeje.
Tapi otak mesum dan ocehan Celina memang selalu membuatnya terhibur sejak dulu.
Celina mendekat pada Jeje, dia berbisik karna jaraknya sudah dekat dengan Kenzo dan Vano.
"Udah seminggu gue nggak ehem - ehem Je, habis kedatangan tamu bulanan. Makanya dari tadi ketemu udah panas dingin, bawaannya pengen langsung hap si duren itu,,"
"Aku mau langsung ngajak pulang, kali aja bisa langsung kuda - kudaan nanti,," Bisikan Celina panjang lebar.
Setelah membisikan hal mesum itu, Celina langsung menjauh dari Jeje, lalu menghampiri Vano dan Naura.
Sementara itu, Jeje hanya bisa memaku karna mendengarkan curhatan panas Celina. Dia jadi ingat dengan kegiatan panasnya bersama Kenzo.
Sepertinya otak mesumnya langsung aktif setelah bertemu dengan biangnya otak mesum.
Mereka berpisah di tempat itu untuk pulang, Jeje pun terpaksa membatalkan acara menontonnya karna waktunya yang tidak akan cukup.
Kenzo dan Vano terlibat obrolan serius saat akan pulang, rupanya keduanya akan menjalin kerja sama bisnis dan akan bertemu minggu depan.
...***...
Keesokan paginya, Jeje dan Kenzo terlihat sudah bersiap untuk pergi ke rumah baru yang ditempati oleh Karin dan keluarganya. Semalam, keduanya sama - sama mendapat pesan dari Karin dan Reynald. Baik Reynald maupun Karin, meminta sepasang suami istri itu untuk membahas pernikahannya.
"Apa kak Reynald nggak akan nyakitin Karin by.?"
"Aku takut dia hanya akan membuat Karin terluka nantinya. Terlebih pernikahan mereka di buat karna terpaksa keadaan."
"Karin itu sangat baik dan polos by, kasian kalau harus terluka,,"
Sejak tadi malam Jeje terus memikirkan nasib Karin. Meskipun dia yang sudah bersikeras untuk membuat Reynald bertanggung jawab pada Karin, namun tak lantas membuat Jeje tenang. Dia memikirkan seperti apa nasib Karin setelah menikah dengan laki - laki pemain wanita seperti Reynald.
"Kamu tenang saja, aku yang akan mengurus Reynald kalau dia berbuat macam - macam pada Karin,," Ucapan Kenzo mampu membuat Jeje tersenyum lebar, gurat kecemasan di wajahnya pun semakin memudar. Remaja itu sangat yakin pada suaminya, dia pasti akan selalu membantu menyelesaikan masalahnya.
Jeje menghambur ke pelukan Kenzo, memeluk laki - laki dewasa nan tampan itu dengan erat.
"Makasih om tampan,,," Seru Jeje dengan tawa kecil.
Kenzo mendorong pelan kedua bahu Jeje, dia menatap istrinya dengan kening yang mengkerut.
"Kenapa panggil om,," Protes Kenzo.
Jeje menyengir kuda.
"Aku kangen memanggil hubby dengan sebutan om. Bukannya itu terdengar menggoda,," Ucap Jeje dengan senyum manisnya.
Kenzo mengacak gemas rambut Jeje.
"Asal kamu senang dan bahagia,,," Ujar Kenzo lembut.
Keduanya saling melempar senyum penuh cinta dan kasih sayang.
...***...
Sementara itu Karin terlihat gugup. Dia sudah di kabari Reynald kalau 10 menit lagi akan sampai.
Remaja yang berasal dari keluarga sederhana itu nampak khawatir dan takut untuk bertemu dengan kedua orang tua Reynald.
Karin tidak bisa membayangkan kalau seandainya kedua orang tua Reynald tidak setuju anaknya menikah dengan perempuan sederhana sepertinya.
Karin bahkan takut jika nantinya harus mendapat hinaan dari kedua orang tua Reynald.
Karin sudah berpikir negatif, karna biasanya orang kaya tidak akan semudah itu menikahkan anaknya dengan orang tak punya sepertinya.
"Neng ayo keluar, itu mobil si aa udah berhenti depan rumah,,"
Sura Bapak membuat Karin langsung beranjak dari depan meja rias.
Remaja itu hanya mengenakan sederhana dress sebatas lutut dengan lengan panjang.
Karin sedikit memoles wajahnya dengan makeup tipis.
"Iya Pak,,,"
Karin berjalan menyusul orang tuanya.
Perasaannya saat ini semakin tidak bisa di ungkapkan dengan kata - kata. Berbagai perasaan bisa dia rasakan dalam 1 waktu sekaligus.
Di teras, Ibu dan Radit sudah menyambut kedatangan Reynald dan orang tuanya.
Dari ruang tamu, Karin bisa melihat orang tua Reynald yang tersenyum ramah pada Ibu dan kakaknya.
"Perkenalkan saya Laras, ini suami saya Joseph."
Ujarnya memperkenalkan diri dengan menyodorkan tangan pada Ibunya Karin.
Karin yang baru keluar, terlihat tertunduk malu.
"Saya Dahlia, Ibunya Karin,,"
Ibu membalas uluran tangan Bu Laras, kemudian beralih pada Pak Joseph.
Begitu juga dengan Radit yang ikut memperkenalkan diri.
Setelah itu, Bapak Karin ikut memperkenalkan diri.
"Dadang,, Bapaknya Karin." Ucapnya.
Kedua orang tua Reynald mengangguk dan tersenyum ramah.
"Salim dulu neng,," Ujar Bapak. Karin langsung mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap kedua orang tua Reynald.
"Karin tante, om,," Ucapnya sembari menjabat tangan mereka bergantian.
"Ini calon menantu kita Pah, cantik sekali,," Puji Bu Laras.
"Bagaimana kabar kamu dan calon cucu saya,,?"
Bu Laras mengusap lembut perut Karin yang masih rata. Remaja itu hanya bengong, dia terlihat bingung harus bereaksi seperti apa.
Sementara itu, Reynald meliriknya datar.
"Ba,,baik tante,," Sahut Karin gugup.
"Mari masuk dulu,," Bapak Karin menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumah.
Mereka masuk kedalam rumah, kecuali Karin dan Reynald yang masih tertinggal.
Karin ingin bertanya pada Reynald, namun dia mengurungkan niatnya karna laki - laki itu terus menatapnya tajam.
"Kenapa masih disini.?!" Tegur Reynald.
"Ayo masuk,,!" Dia menggandeng tangan Karin dan menariknya pelan ke dalam rumah.
Karin tidak memberikan respon apapun, menurut begitu saja mengikuti langkah Reynald.
Laki - laki itu masih saja bersikap datar dan seenaknya. Entah Reynald benar - benar serius ingin bertanggung jawab, atau hanya karna terpaksa dan takut karna mendapat ancaman dari Jeje juga Kenzo.
...***...
Ditujukan buat yang mau mampir aja ke akun pertama othor (Ratna Wullandarrie).
No promo panjang lebar, nanti di serang.