
"Kak Kenzo mah,,,," Teriak Jeje dalam dekapan Mama Rissa. Tangisnya tak kunjung berhenti sejak dari kantor sampai saat ini Kenzo sedang melakukan operasi pengangkatan peluru di bagian dadanya. Baju yang dikenakan Jeje bahkan ikut berlumuran darah. Dia terus mendekap tubuh Kenzo saat berada di dalam ambulans.
Dunianya seakan runtuh melihat Kenzo tidak berdaya dengan luka tembak yang terus mengeluarkan darah segar.
Peristiwa ini menjadi hal terburuk dalam hidupnya.
Membuat pikirannya kalut, takut Kenzo akan terus menutup mata dan tidak kembali lagi padanya.
Mama Rissa ikut menangis. Hatinya seperti di cabik - cabik melihat kondisi Jeje yang begitu hancur. Tangisnya tidak bisa di hentikan meski semua orang sudah memintanya untuk tenang. Ibu hamil itu terus menangis, terkadang histeris, memanggil suaminya untuk segera bangun.
"Semuanya akan baik - baik saja sayang. Percaya pada Mama, Kenzo pasti bisa melewati masa kritisnya. Dia tidak akan meninggalkan kamu dan anaknya,," Mama Rissa semakin erat memeluk Jeje. Memberikan kecupan bertubi - tubi pada pucuk kepalanya.
Semua orang yang ada di sana juga ikut cemas. Papa Alex, kedua orang tua Kenzo, Nicho, Sisil, Reynald, Karin, bahkan Fely dan Nathan juga ada di sana. Semua wanita yang ada di sana ikut menangis, terlebih Ibu Grace dan juga Fely. Mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh Jeje.
"Kita harus ambil tindakan Ndre,,!" Seru Papa Alex pada Papa Andreas.
"Sebaiknya bawa Kenzo ke Singapur,," Bukan tanpa Alasan Papa Alex menyuruh membawa Kenzo ke Singapur. Kondisi Kenzo kritis, saat ini dokter hanya melakukan tindakan pertama dengan mengambil peluru yang bersarang di tubuh Kenzo. Selebihnya hanya tinggal menunggu keajaiban untuk kesembuhannya.
"Kamu benar, kita pindahkan Kenzo secepatnya setelah operasinya selesai."
Papa Andreas langsung menyetujui usul Papa Alex. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghubungi pihak rumah sakit di Singapur untuk menyiapkan semua yang di butuhkan oleh Kenzo.
"Kita ganti baju kamu dulu ya sayang,,," Mama Rissa melepaskan pelukannya. Jeje masih saja menangis. dengan mata yang sudah membengkak.
"Kamu harus terlihat rapi kalau Kenzo sadarkan diri nanti. Dia akan sedih kalau melihat kamu seperti ini,," Di usapnya kedua pipi Jeje yang dipenuhi dengan air mata. Mama Rissa berusaha tenang di tengah - tengah hatinya yang hancur. Jeje seperti kehilangan arah dengan pandangan mata yang kosong.
"Ayo sayang,,," Mama Rissa menuntun Jeje ke kamar mandi. Dia mengambil baju yang di bawakan oleh pekerja rumahnya. Jeje mengikuti langkah mama Rissa tanpa berkata apapun. Dia seperti raga tanpa jiwa. Air matanya terus mengalir tanpa lagi mengeluarkan isak tangis.
Sementara itu, Karin terlihat memeluk Reynald. Dia terus menangis sejak sampai di rumah sakit. Karin tidak tega melihat kondisi Jeje yang sangat menyedihkan. Karin bisa merasakan bagaimana perasaan Jeje saat ini. Dia juga akan merasakan kehancuran yang sama jika ada di posisi Jeje.
"Tidak usah menangis, Jeje tidak selemah yang kamu bayangkan. Dia pasti bisa melewati semua ini,," Reynald berusaha menenangkan istrinya. Dia memeluknya erat dan terus mengusap punggung Karin.
"Apa kak Kenzo akan baik - baik saja.? Bagaimana kalau,,," Karin tidak sanggup meneruskan ucapannya.
"Aku tidak tega melihat Jeje hancur,," Dia terisak dalam dekapan Reynald. Tidak bisa membayangkan jika Jeje harus kehilangan suaminya. Entah akan sehancur apa perasaan Jeje.
"Mereka sudah menyiapkan yang terbaik untuk Kenzo. Dia akan baik - baik saja,,," Tuturnya lirih.
Sejujurnya Reynald tidak terlalu yakin, Karna dia tau seberapa dalam peluru itu menembus dada Kenzo hingga membuatnya kritis. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, Kenzo bisa saja mampu bertahan.
"Mama mohon jangan seperti ini sayang, berhenti menangis dan pikirkan anak kamu,,," Pinta Mama Rissa. Dia sedang membersihkan tubuh Jeje, juga membasuh wajahnya sebelum menggantikan baju.
"Kenzo akan baik - baik saja."
"Jangan buat kak Kenzo pergi mah,," Suara Jeje tercekat. Air matanya semakin deras.
"Tidak sayang, Kenzo tidak akan pernah pergi." Mama Rissa langsung memeluk Jeje. Dia tidak sanggup melihat putri seperti ini.
Jeje dan Mama Rissia kembali menunggu di depan ruang operasi. Tidak ada yang bisa tenang sedikitpun. Semua orang terlihat cemas.
Jeje langsung memaksa masuk begitu tim dokter keluar dari ruang operasi.
"Aku mau lihat kak Kenzo mah,,," Teriak Jeje. Mama Rissa sedang menahannya dengan memegangi tangan Jeje.
"Tunggu dulu sayang, kita belum di perbolehkan masuk,,," Mama Rissa hanya bisa memeluk Jeje.
Papa Alex dan Papa Andreas menghampiri dokter, mereka sedang mendiskusikan untuk segera memindahkan Kenzo ke Singapur.
Setelah mendapat persetujuan dari dokter, juga dari Jeje, Kenzo langsung di bawa ke Singapur.
Pelaku penembakan juga sudah di tahan hari itu juga. Pelaku yang saat itu menyusup masuk ke kantor Kenzo dengan tujuan untuk mencelakai Kenzo.
Polisi juga sudah menangkap dalang di balik penyerangan yang dilakukan oleh 2 orang di kantor itu. Pelaku yang tak lain adalah ibu kandung Jeje.
Dia tidak terima dengan perbuatan Kenzo yang sudah mengambil perusahan miliknya .
...***...
Sekarang sudah lebih dari 2 bulan berlalu, Kenzo masih bertahan dengan kondisinya yang tidak mengalami kemajuan setelah melewati masa kritisnya. Kenzo di nyatakan koma hingga saat ini.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini by,," Suara Jeje begitu pasrah.
"Bagaimana denganku dan anak kita.? Apa kamu tidak merindukan kami.?" Mata Jeje berkaca - kaca, namun tidak bisa lagi meneteskan air matanya.
Dia meraih tangan Kenzo, di genggamnya tangan dingin Kenzo yang begitu lemah.
Jeje menciumnya berkali - kali.
"Kamu tetap tampan meski seperti ini,,," Jeje mengulas senyum. Senyum yang begitu menyayat hati. Tangannya mengusap lembut wajah Kenzo.
Suaminya itu masih gagah meski wajahnya memucat.
"Kamu lihat by,, dia sudah semakin membesar." Jeje bangun dari duduknya, lalu mengarahkan tangan Kenzo ke perutnya yang sudah membesar. Dia menggerakkan tangan Kenzo, membuatnya seolah sedang mengusap perut.
"Aku mohon buka mata kamu by, bangun sebelum anak kita terlahir ke dunia." Jeje menarik nafas dalam. Dadanya begitu sesak dan terhimpit. Dia tidak pernah membayangkan akan mengalami hal buruk seperti ini.
"Kamu sudah janji padaku, kamu akan ada di sampingku saat aku melahirkan nanti." Lanjutnya lagi. Meski sudah tidak sanggup lagi berkata - kata, Jeje masih berusaha mengeluarkan suara meski tercekat. Dia ingin Kenzo mendengarnya dan segara bangun dari koma.
"Aku tidak tau kenapa wanita itu tega melukai kamu by,,,"
"Dia seakan belum puas setelah menukarku dengan harta, kini membuatku hancur dengan membuat kamu seperti ini,," Jeje mengepalkan tangannya. Sorot matanya dipenuhi kebencian yang mendalam pada sosok ibu kandungnya.
Sampai detik ini Jeje bahkan belum menemui Mirna di tahanan. Dia takut akan bertindak diluar batas jika bertemu dengan ibu kandungnya itu.
"Kamu tau by.? Aku sudah bisa melihat jenis kelamin anak kita,," Jeje langsung tersenyum lebar sambil menatap wajah Kenzo, meski Kenzo tidak bisa melihat senyumnya, dia berharap Kenzo bisa merasakan kebahagiaannya saat ini.
"Dia akan memakai nama yang berikan oleh kamu by,,,"
"Aku yakin dia sangat tampan dan sempurna sepertimu,,," Jeje begitu antusias menceritakan anak yang ada didalam kandungannya.
"Hubby,,,,!!!!" Jeje berteriak sejadi - jadinya. Layar monitor menunjukan detak jantung Kenzo yang tidak stabil bahkan melemah.
"Hubby aku mohon jangan seperti ini.!!!" Jeje mengguncang tangan Kenzo dalam genggamannya.
"Mamah,,,,!!!" Jeje langsung berlari keluar.
Dia menghampiri mama Rissa dan memanggil dokter.
"Sabar sayang,," Mama Rissa memeluk Jeje dengan erat.
Tim dokter masuk ke dalam ruang Kenzo dan langsung melakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa Kenzo.
"Kenzo tidak akan meninggalkan kamu,,," Ujar mama Rissa lagi.
Ini pertama kalinya Jeje kembali mengeluarkan air matanya. Tubuhnya terasa sangat lemah hingga Mama Rissa harus menopangnya.
"Jangan biarkan kak Ken pergi Mah,,," Jeje berteriak histeris.
Hampir 30 menit Jeje dan Mama Rissa menunggu di luar. Mereka menunggu kabar baik dari dokter yang sedang menangani Kenzo.
Tubuh Jeje merosot ke lantai setelah mendengar kabar dari dokter. Kenzo kembali di nyatakan kritis bahkan kemungkinan untuk sembuh sangat tipis.
"Kamu boleh pergi kalau memang itu yang terbaik untukmu by, aku tau kamu berjuang dengan rasa sakit." Ujar Jeje dengan rasa sakit yang begitu menyayat hatinya. Dia tidak sanggup kehilangan Kenzo, tapi juga tidak sanggup melihat Kenzo terus merasakan sakit.
...****...
Makasih yang sudah setia sampai akhir 🥰.
Nggak nyangka bakal sebanyak ini yang mampir di novel othor. Jangan lupa pindah ke Nicholas buat yang belum mampir. 🥰
Jangan di unfav dulu yah, nanti othor buat extra partnya.