My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 102. Siapa pelakunya



Polisi menyuruh kerumunan untuk menjauh dari mobil itu. Jeje semakin syok begitu melihat orang yang di keluarkan dari dalam mobil benar - benar Clara. Sama seperti yang muncul dalam pikirannya. Karna sebelum di keluarkan dari mobil, Jeje sempat melihat wanita di dalam mobil itu memakai baju yang sama dengan baju yang di pakai oleh Clara.


Darah segar mengalir dari sisi kanan perut Clara. Meski mata Clara terpejam, namun Jeje melihat jelas kalau Clara masih menggerakkan tangannya.


Jeje sedikit lega mengetahui bahwa Clara masih hidup.


Clara langsung di larikan ke rumah sakit. Namun beberapa orang masih berkerumun di tempat kejadian perkara. Begitu juga dengan petugas kepolisian yang sedang menyelidiki kasus itu.


"Je,," Kenzo menepuk pelan bahu Jeje.


"Ada apa,,?" Kenzo terlihat bingung.


Dia bergantian menatap Jeje dan kerumunan orang yang ada di seberangnya.


"Hubby,,," Ucap Jeje dengan suara bergetar. Air matanya bahkan tumpah. Dia menghambur ke pelukan Kenzo dan semakin terisak.


"Sayang,, kamu kenapa.?"


Kenzo semakin bingung melihat Jeje yang justru histeris dalam pelukannya.


"Kenapa harus melakukan itu by," Ujar Jeje di sela - sela isaknya.


"Clara hanya menghinaku, kenapa harus di balas dengan kekerasan seperti itu."


Meski Jeje mencoba untuk tidak berfikir buruk pada suaminya, namun keadaan yang baru saja terjadi memaksanya untuk mencurigai Kenzo sebagai pelaku atas kekerasan yang di alami oleh Clara.


Terlebih orang yang terakhir di temui Clara adalah Kenzo dan dirinya. Mereka sempat berdebat, bahkan menampar Clara.


Jeje juga ingat pada ancaman Kenzo yang di tunjukan untuk Clara, kalau Clara bisa berakhir disini.


Bukankah itu ancaman yang mengarah pada pembu*uhan.?


Kenzo juga pergi dari apartemen selepas kepergian Clara.


Bagaimana mungkin Jeje masih berfikir positif pada suaminya.


Kenzo langsung melepaskan pelukan Jeje. Dia mengambil paperbag yang ada di samping Jeje, kemudian merangkul istrinya.


Kenzo mulai paham maksud ucapan Jeje. Terlebih dengan kerumunan yang ada di depan matanya, juga ambulance yang baru saja berpapasan dengan mobilnya saat dia akan masuk ke basement.


Dia tau pasti terjadi sesuatu dengan Clara.


"Sebaiknya kita ke atas dulu,," Pinta Kenzo.


"Kamu pasti sudah salah sangka padaku,,,"


Kenzo tentu saja paham dengan apa yang ada di pikiran istrinya itu. Apa lagi kalau bukan mengira bahwa dirinya yang sudah mencelakai Clara.


Jeje menurut, dia berjalan gontai sambil terus di rangkul oleh Kenzo.


sangat jelas kalau Jeje begitu syok. Ini pertama kalinya dia melihat korban kekerasan dengan keadaan yang mengenaskan berlumuran darah.


Kenzo menurunkan Jeje di ruang tamu. Dia pergi ke dapur untuk menaruh belanjaan milik istrinya, juga mengambilkan air minum.


"Minum dulu,,," Kenzo duduk di samping Jeje, menyodorkan air minum padanya.


Jeje menerima gelas itu, meneguk air di dalamnya dengan perlahan. Pandangan matanya kosong, menerawang jauh dalam pikiran buruk yang terus berkecambuk.


Jeje meletakan gelas itu di atas meja. Di menoleh, menatap Kenzo yang masih setia di sampingnya dengan raut wajahnya yang panik.


"Aku mau pulang,," Ucapnya memohon. Remaja itu terlihat takut menatap Kenzo, dia bahkan bergeser menjauh saat Kenzo akan menghapus air matanya.


Jeje masih sulit untuk percaya bahwa Kenzo pelakunya. Namun sudah berkali - kali Jeje mendengar Kenzo mengancam seseorang dengan melenyapkan nyawa sebagai ancamannya.


"Kamu mengira aku pelakunya.?" Kenzo menatap intens manik mata Jeje. Remaja itu mengangguk, tapi tidak berani menatap Kenzo.


"Bukan aku Je. Aku bahkan baru pulang dari kantor."


"Reynald mengirim pesan, memintaku untuk datang karna ada berkas yang harus aku tanda tangani saat itu juga,," Jelasnya.


"Jangan bohong by.!" Ketus Jeje. Dia mendelik menatap Kenzo.


"Lalu siapa lagi yang mencelakainya.?" Tatapan Jeje seakan memaksa Kenzo untuk mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan.


"Jika pihak kepolisian datang meminta kesaksian, mereka juga pasti akan berfikir seperti itu by.!" Geram Jeje.


Seperti apapun perbuatan Clara yang begitu kejam menghina dan mengganggu suaminya, tetap saja tindakan kekerasan yang kelewat batas untuk membalas perbuatan Clara, tidak bisa di benarkan.


Jeje sangat menyayangkan jika Kenzo benar - benar pelakunya.


Kenzo menghela nafas berat, rasanya percuma saja jika dia menjelaskan pada Jeje tanpa bukti. Istrinya itu pasti tidak akan percaya padanya.


Kenzo merogoh ponsel di kantong jaketnya, dia menyalakan ponsel yang baru saja di charger dalam mobil saat perjalanan pulang.


Setelah mencari kontak Reynald, Kenzo langsung menghubunginya.


"Salin rekaman CCTV di kantor saat aku baru datang sampai pulang tadi. Bawa ke apartemen ku sekarang.!"


Perintah Kenzo begitu sambungan telfonnya terhubung. Dia bahkan tidak memberikan kesempatan pada Reynald untuk berbicara.


Mendengar ucapan Kenzo, Jeje di buat semakin kebingungan. Entah dia harus percaya pada Kenzo atau yakin pada kecurigaannya.


"Kamu mau pulang ke rumah mama.?" Tanya Kenzo.


"Aku pesenin taksi sekarang. Pasti sebentar lagi polisi datang ke apartemen kita."


"Aku nggak mau kamu terlibat dan harus menjadi saksi nantinya,," Jelas Kenzo.


Memulangkan Jeje untuk sementara adalah keputusan yang tepat. Dia tidak mau istrinya harus di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan sebagai saksi. Gadis remaja itu pasti akan syok jika harus berhadapan dengan polisi, meskipun dia tidak ada kaitannya dengan kejadian yang sudah menimpa Clara.


"Tapi by,,," Jeje terlihat sendu menatap Kenzo. Entah kenapa dia jadi tidak tega untuk meninggalkan suaminya itu seorang diri di apartemen. Dia takut akan terjadi sesuatu pada suaminya saat polisi datang dan membawanya.


"Nggak usah khawatir. Aku akan baik - baik saja." Kenzo berusaha untuk menenangkan Jeje yang terlihat cemas.


"Reynald akan membawakan bukti kalau aku nggak ada kaitannya dengan kejadian itu,,"


Kenzo meraih bahu Jeje, menariknya pelan dan membawanya kedalam dekapan.


"Jangan ceritakan masalah ini pada mama dan papa, mereka pasti akan khawatir." Pintanya. Jeje mengangguk.


Jeje sudah bersiap untuk pulang ke rumah orang tuanya. Kenzo hanya mengantarnya sampai di depan pintu. Wanita cantik itu memeluk erat suaminya. Dia sangat takut untuk menerima kenyataan buruk. Jeje berharap, Kenzo memang bukan pelakunya.


"Aku nggak bersalah Je. Kamu nggak akan kehilangan suami tampan mu ini,," Ujar Kenzo meledek.


Jeje mencubit kesal perut Kenzo.


"Kenapa masih bercanda dalam situasi seperti ini.!" Ketusnya. Kenzo hanya terkekeh kecil.


"Hati - hati. Kabari aku kalo udah sampe,,"


Jeje mengangguk kecil, dia melemparkan senyum tipis dan berlalu dari sana.


Hanya selang beberapa menit, dua orang polisi datang ke apartemen Kenzo. Mereka benar - benar menahan Kenzo untuk di jadikan saksi.


Dari rekaman CCTV di apartemen itu, hanya apartemen Kenzo yang di datangi oleh Clara.


Terlebih Kenzo juga keluar setelah Clara pergi.


Kenzo langsung menghubungi Reynald untuk mengantarkan salinan rekaman CCTV ke kantor polisi. Dia juga memintanya untuk mendatangkan pengacara. Kenzo tidak mau berlama - lama di interogasi oleh pihak kepolisian. Dia enggan membuat Jeje semakin khawatir padanya.


...*...


Sementara itu, Jeje terus melamun sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah orang tuanya.


Dia terus memikirkan nasib suaminya.


Beruntung saat sampai di rumah, mama dan papanya belum pulang dari kantor. Jeje memang menghindari hal itu, dia masih bingung untuk memberikan alasan kenapa mendadak datang ke rumah.


Mama dan papanya pasti akan berfikir jika dia sedang ada masalah dengan Kenzo.