
Om Ken tungguin,,,!" Teriakku sambil berlari kecil untuk mengejarnya. Om Kenzo menoleh kebelakang, dia melambatkan jalannya sampai aku berhasil berjalan di sampingnya.
"Om,,," Panggilku lirih.
"Hemm,," Hanya deheman saja yang keluar dari mulutnya. Dia berjalan tegak, dengan pandangan lurus kedepan. Gayanya sok cool, ya meskipun memang dia sangat cool di mataku.
Beginilah kalau orang jatuh cinta, apa yang ada didalam dirinya akan selalu terlihat sempurna.
"Apa kak Fely sudah menikah,,?" Tanyaku hati - hati. Om Kenzo langsung melirikku.
"Aku nggak akan ngijinin Felicia menikah sebelum dia lulus kuliah,," Jawaban om Kenzo membuatku melongo. Berarti selama ini kak Fely memang belum menikah, lalu kenapa dia mengaku akan menikah saat meninggalkan kak Nicho.?
Berarti benar dugaanku, ada sesuatu yang disembunyikan kak Fely dari kak Nicho.
"Tapi kenapa kak Fely harus ninggalin kak Nicho dengan alasan akan menikah.?" Aku menatap serius pada om Kenzo, berharap om Kenzo bisa memberikan alasan yang sebenarnya. Aku yakin om Kenzo pasti tau tentang percintaan kak Fely.
"Tanya saja sama papa kamu,," Sahutnya cepat.
"Maksud om.?" Aku dibuat bingung dengan jawaban om Kenzo. Memang apa hubungannya papa dengan keputusan kak Fely yang meninggalkan kak Nicho.?
"Apa kamu dan Nicho belum tau.?"
Aku menggeleng. Om Kenzo semakin membuatku penasaran saja.
Aku ikut menghentikan langkah, saat om Kenzo berhenti dan menatapku dengan serius. Aku jadi takut mendapati fakta buruk tentang papa.
"Papa kamu yang sudah membuat Felicia memilih untuk pergi. Om Alex sudah menghinanya, entah apa yang papa kamu katakan pada adikku. Dia enggan bercerita." Tuturnya dengan nada kekesalan.
"Kalau dari awal aku tau yang sudah menghina Felicia adalah om Alex, mungkin aku tidak mau untuk menjalin kerja sama dengannya."
Om Kenzo benar - benar menunjukan ketidak sukaannya terhadap papa.
"Apa kak Fely cerita kalau papaku yang sudah menghinanya.?" Tanyaku lagi. Om Kenzo menggeleng.
"Fely menutup rapat - rapat identitas Nicho dan om alex, dia hanya bilang terpaksa meninggalkan kekasihnya karna sudah di hina oleh papanya."
"Kalau Felicia bilang sejak awal, aku nggak mungkin kaget saat kamu bilang Fely itu mantannya Nicho.".
Jelasnya panjang lebar. Aku mengangguk tanda mengerti penjelasan om Kenzo.
kak Nicho harus tau semua ini. Aku jadi kasihan dengan kak Fely. Dia pasti sangat terluka karna kak Nicho sudah berbuat kasar padanya, padahal perpisahan itu juga bukan keinginannya. Melainkan terpaksa karna hinaan papa yang mungkin menyadarkan kak Fely untuk segera meninggalkan kak Nicho. Aku pikir selama ini papa benar - benar menyukai kak Fely. Karna setiap kak Nicho membawanya kerumah, papa tidak pernah memberikan protes.
"Kenapa papa tega misahin mereka. Padahal papa sudah sempat merestui hubungan mereka."
Saat kak Nicho memilih meninggalkan rumah karna menolak perjodohan, akhirnya papa membebaskan kak Nicho untuk menentukan pilihannya sendiri.
"Kasian mereka, harus berpisah meski saling mencintai." Ujarku lagi. Pasti sangat sakit untuk keduanya, karna aku sempat merasakan hal yang sama.
Sejujurnya aku sulit percaya kalau papa sudah menghina kak Fely, tapi melihat kenyataan yang ada bahwa kak Fely pergi bukan karna untuk menikah, dan aku bisa melihat masih ada cinta dimatanya, pasti karna memang ada sesuatu yang terjadi yang akhirnya membuat kak Fely pergi.
Entah hinaan apa saja yang papa lontarkan pada kak Fely. Dia bahkan enggan memberi tahu aku maupun kak Nicho.
"Nggak usah terlalu di pikirin, mereka pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." Om Kenzo mengusap pelan bahuku.
"Apa om marah sama papa karna sudah menghina kak Fely.?" Tanyaku cemas. Aku takut om Kenzo akan melakukan sesuatu terhadap papa.
"Tentu saja. Siapa yang akan terima kalau adiknya di hina. Papa kamu sudah keterlaluan.!" Aku bisa merasakan ketidak sukaan om Kenzo dengan papa.
Aku menggenggam tangan om Kenzo, lalu menatapnya dengan tatapan memohon.
"Maafin papa ya om. Aku mohon jangan benci papa, apalagi kalau sampai om membalas perbuatan papa,,," Ucapku. Om Kenzo terus diam dengan menatapku. Perlahan tangannya terangkat, dia mengusap lembut pipiku.
"Aku nggak akan membalas perbuatan papa kamu, demi kamu." Ujarnya lembut.
"Semoga kenyataan tidak akan membuatmu kecewa nanti,," Katanya dengan tatapan sendu padaku. Aku tidak tau apa maksud dari ucapan om Kenzo.
Kenyataan apa.? Kenyataan tentang papa.? Apa ada hal yang lebih parah dari sekedar menghina kak Fely.?
"Kenyataan apa maksud om.? Kenapa aku harus kecewa.?"
Setelah di buat penasaran olehnya, om Kenzo justru enggan membahas hal itu lagi.
"Sebaiknya kita susul mereka sekarang. Jangan sampai kakak kamu juga menghina Felicia karna dia belum tau kebenarannya,," Ujarnya.
Om Kenzo menggandeng tanganku, menarikku untuk mengikuti langkahnya.
"Ekheem,,,! Nggak pengen jauh - jauh dari aku ya om,," Ujarku menahan senyum. Aku terus menatap tangan om Kenzo yang menggenggam ku.
"Dasar burung beo.! Kumat lagi pedenya.!" Ketus om Kenzo, dia langsung melepaskan genggaman tangannya saat menyadari akan hal itu.
"Hehehe,, bercanda kok om. Jangan dilepas dong om, gandengan aja biar keliatan romantis,," Kataku. Aku menarik tangan om Kenzo dan menggenggamnya.
"Kamu pengen Nicho liat kita kayak gini.?" Ujarnya dengan mengangkat ke atas tangan kami.
Ah,,, ya ampun.! Kenapa aku bisa lupa akan hal itu. Padahal saat masih di resort, aku yang sudah menyuruh om Kenzo agar kita berdua tidak pergi bersama. Sekarang aku malah ingin menggandeng tangannya. Apa kata kak Nicho nanti kalau melihatku dan om Kenzo sedekat ini.
Memang dasar hatiku ini mudah sekali berbunga - bunga. Terlebih saat ini status kami bukan lagi sebagai sugar baby dan sugar baby. Kami benar - benar sudah memperjelas status hubungan ini.
"Ya ampun,,, aku lupa om." Seruku. Aku segera melepaskan tangan om Kenzo dengan helaan nafas berat.
"Huffftt,,,!"
"Kenapa.?" Om Kenzo terlihat cemas.
"Aku kan juga pengen di gandengan tangan kayak orang - orang om,,," Keluhku.
Melihat banyak sepasang kekasih dan suami istri yang lalu lalang dengan bergandengan tangan, membuatku iri saja.
"Astaga, aku pikir kenapa." Keluhnya.
"Nanti malam kamu bisa menggandengku, bahkan bisa memelukku sepanjang malam,," Bisik om Kenzo.
Aku tersipu malu dibuatnya. Ah,, jadi tidak sabar untuk menikah dengan om Kenzo. Menghabiskan waktu bersama setiap hari.
Benarkah om Kenzo akan menikahiku.?
Tentu saja.! Aku yakin dia akan menepati janjinya.
Kami jalan beriringan dengan membuat jarak, bahkan saling diam. Aku tidak mau membuat kak Nicho curiga dengan keakraban kami. Sedangkan kak Nicho hanya tau kalau aku dan om Kenzo baru pertama kali bertemu saat acara makan malam dirumah.
Kami menghampiri kak Nicho dan kak Fely yang ternyata masih ada di tempat semula, saat terakhir kali aku meninggalkan kak Nicho.
Keduanya sedang duduk beriringan di tepi pantai dengan jarak lumayan jauh.
Aku penasaran, apa saja yang mereka bicarakan selama om Kenzo menitipkan kak Fely pada kak Nicho.
Apa mereka ribut lagi.? Semoga saja tidak.
Ternyata mereka berdua hanya saling diam.
"Kak,,," Sapaku pada keduanya. Mereka kompak menoleh ke arahku.
Aku tersenyum lebar pada mereka, namun kak Fely hanya mengulas senyum tipis. Dan kak Nicho menatapku datar tanpa ekspresi.
Kak Nicho terlihat kaget saat melihat om Kenzo ada di sebelahku.
"Kalian kenapa bisa bersama.?" Tanyanya.
"Aku dan Fely menginap di resort milik keluargamu. Aku bertemu adikku di sana saat di keluar resort." Jelas om Kenzo datar.
"Apa.?! Jadi kalian yang mengisi resort sebelah.?" Kak Nicho semakin kaget, namun dia juga terlihat senang. Apa dia juga memikirkan hal yang serupa dengan aku dan om Kenzo.?
Aaaa,,!! Ada apa dengan otakku ini.!
"Ya."
"Apa kalian mau tetap disini.? Aku dan Felicia akan makan malam,," Ujar om Kenzo, dia menatap kak Nicho dan ber akting melirikku.
"Ayo Fel,,," Ujarnya mengajak kak Fely untuk pergi.
"Aku pergi dulu,," Ucapnya lirih pada kak Nicho. Dia segera bangun dari duduknya.
"Kamu mau ikut kami Je.?" Tawarnya. Aku melihat tatapan sendu dari matanya. Entah apa yang baru saja mereka bicarakan tadi.
"Apa aku boleh mengajak kak Nicho.?" Tanyaku antusias. Aku harus bersikap seperti biasa agar kak Fely dan kak Nicho tidak curiga.
"Kita makan malam berdua saja Je,," Ujar kak Nicho, dia juga berdiri dan berjalan ke arahku. Melewati kak Fely begitu saja.
"Aku duluan Ken,," Pamitnya pada om Kenzo. Kak Nicho menggandeng tanganku, mengajakku untuk pergi, namun aku masih diam di tempat.
"Mending makan bareng mereka aja kak, biar rame. Nggak enak tau makan berdua doang. Boleh kan,,, kak,,? " Aku meminta ijin pada om Kenzo.
Lidahku terasa kaku memanggil om Kenzo dengan sebutan kak.
"Boleh,," Jawabnya singkat padat dan jelas, tak lupa dengan suara datarnya.
Aku jadi gemas sendiri, rasanya ingin ku cubit pipinya itu. Om Kenzo jago juga ber akting.
"Tuh,, dibolehin kok sama kakaknya kak Fely. Kita makan bareng mereka aja ya kak,," Ujarku pada kak Nicho. Dia menghela nafas berat sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
Ah,,, senang sekali rasanya. Aku jadi bisa makan malam dengan om Kenzo, sekaligus untuk mendekatkan kembali mereka berdua.
Sepertinya kak Nicho juga tidak curiga dengan modus yang aku gunakan ini.
...****...
Ehh,,, ternyata seru juga ya kalo mereka berempat di kumpulin jadi satu.
Om Kenzo emang paling bisa bikin othor gemes, eh maksudnya jeje yang gemes sama om,🤣
Terus dukung novel othor yah🥰
Boleh juga di follow akun ini (promosi). Hihi.