My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
42. Season2



Reynald melirik arloji di tangannya. Baru pukul 4 sore tapi Kenzo sudah memperbolehkannya pulang.


Dia sudah selesai menjalankan perintah Kenzo untuk menyetujui kerjasama dengan perusahaan Mirna's Group. Reynald juga baru selesai mengantarkan laptop milik Kenzo ke rumah sakit.


Dia bahkan baru saja keluar dari kamar rawat inap Jeje. Meski sering adu mulut dengan Jeje, dan kadang merasa jengkel dengan istri bosnya itu, namun Reynald terlihat penasaran dengan kondisi Jeje. Reynald bahkan bertanya banyak hal mengenai penyebab kandungan Jeje bisa lemah.


Rupanya rasa penasaran Reynald langsung dimanfaatkan oleh Jeje. Banyak hal yang dibicarakan Jeje pada Reynald, termasuk memberikan ancaman untuk laki - laki dingin itu.


Saat ini ucapan Jeje bahkan terus menari - nari di kepalanya. Terasa sangat mengganggu pikirannya, dan membuatnya jadi gelisah memikirkan sikapnya yang selalu cuek dan dingin pada Karin.


Reynald juga dilanda ketakutan, takut Karin akan mengalami hal serupa yang dialami oleh Jeje karena terlalu tertekan dan stres.


Reynald mulai menyadari kesalahannya. Dia mengakui selama ini belum pernah bersikap baik pada Karin sebagaimana mestinya seorang suami memperlakukan istrinya. Namun dia masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri, juga butuh waktu untuk menyembuhkan luka dan menghapus rasa cintanya pada Angel yang masih melekat di hatinya.


Bukan perkara mudah bagi Reynald untuk menjalani kehidupannya saat ini dengan perasaan yang masih kacau. Dia bahkan masih bingung harus bagaimana menjalani hidupnya.


Begitu masuk kedalam mobil, Reynald langsung melakukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan terdengar suara Jeje yang terus menggema di pikirannya.


'Karin mengalami kesulitan karna perbuatan jahat kak Reynald. Masa depannya hancur karena mengandung anak dari laki - laki tidak berhati seperti kakak.'


'Harusnya saat ini dia masih bahagia menjalani hari - harinya untuk meraih masa depan yang cerah, bukan malah sebaliknya.'


'Apa kak Rey tidak kasihan pada Karin.? Dia terlihat terluka dan tertekan setelah menikah dengan kakak. Bagaimana kalau sampai dia mengalami kejadian yang aku alami saat ini. Apa kakak tidak akan menyesal nantinya.?'


'Maaf kalau aku terlalu ikut campur, tapi Karin sahabatku. Aku tidak bisa melihatnya menderita.!'


'Jika sampai terjadi sesuatu pada Karin, aku tidak akan tinggal diam.!'


Reynald terlihat frustasi. Dia memukul stir dengan kepalan tangannya. Dia tidak sadar jika kehidupan rumit yang sedang dia jalani ada buah dari perbuatannya sendiri.


Reynald memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tua Karin. Dia menatap Karin dari dalam mobilnya. Karin sedang menyapu teras dan saat ini berdiri memaku menatap mobil Reynald yang baru saja terparkir.


Karin menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia sudah menyiapkan diri dan mentalnya jika nanti Reynald berbicara ketus padanya.


Reynald turun dari mobil, langkahnya terlihat tegas dengan sorot mata yang tajam. Karin tersenyum miris melihatnya. Reynald memang tidak akan berubah, sepertinya sikapnya akan terus seperti itu. Menatapnya dengan tajam dengan penuh kekesalan dan sikapnya yang dingin.


Reynald baru saja membuka mulutnya untuk bicara, namun Karin mengulurkan tangan ke arahnya. Laki - laki itu membalas uluran tangan Karin. Dia hanya diam saja saat Karin mencium punggung tangannya. Namun tatapan mata Reynald tak lepas dari wajah Karin yang terlihat datar.


"Masuk kak, nanti aku buatin minum." Ucap Karin datar. Dia melepaskan tangan Reynald dan melanjutkan menyapu teras yang baru sebagian dia sapu. Reynald masih diam di tempat, namun matanya mengikuti pergerakan Karin. Dia terlihat bingung dengan perubahan sikap Karin.


"Kenapa harus menyapu.?" Reynald merebut paksa sapu dari tangan Karin.


"Kamu bisa kelelahan nanti." Nada bicara Reynald terdengar kesal. Dia merasa Karin sulit diberi tau dan enggan mendengarkan perintahnya.


"Lelah apanya.? Aku cuma menyapu." Karin mengambil kembali sapu itu. Tapa menghiraukan Reynald, dia kembali menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak peduli Reynald akan marah atau tidak.


"Kamu ini keras kepala sekali." Reynald terlihat geram, namun dia mengontrol nada bicaranya hingga tidak terdengar ketus seperti biasa.


"Berikan padaku, biar aku yang melanjutkan." Lagi - lagi Reynald merebut sapu dari tangan Karin. Hal itu membuat Karin sedikit kesal dengan sikap Reynald yang menurutnya berlebihan. Bagaimana bisa hanya menyapu membuatnya kelelahan, sedangkan dari tadi pagi dia tidak melakukan apapun.


"Kak Rey terlalu berlebihan. Aku cuma menyapu, ini pekerjaan ringan,," Karin berusaha merebut sapu itu lagi, namun Reynald memegangnya kuat. Mereka jadi saling tarik menarik memperebutkan sapu, keduanya tidak ada yang mau mengalah.


"Lepas.! Kamu ini sudah sekali dibilangin.!" Seru Reynald dengan mata yang mendelik.


"Kakak yang lebay.! Berikan padaku sapunya, aku belum selsai menyapu.!" Karin tak mau kalah, dia juga mendelik pada Reynald dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Loh kalian itu lagi ngapain.? Kok malah berebut sapu, kayak anak kecil aja." Ibu Dahlia baru saja keluar, dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Reynald dan Karin.


Pasangan suami istri itu berhenti saling menarik dan kompak menatap Ibu Dahlia, namun tangan mereka masih memegang gagang sapu itu dengan erat.


"Ini loh bu, kak Reynald gangguin orang lagi nyapu." Karin mengadu sembari melirik Reynald sinis.


Reynald tersenyum puas, dia terlihat senang karena Karin tidak bisa menyapu lagi.


"Makasih bu, saya kedalam dulu." Reynald pamit sopan sembari membungkukkan badannya. Dia tersenyum mengejek pada Karin sebelum masuk kedalam rumah. Melihat tingkah aneh Reynald, Karin hanya menatapnya bingung dengan dahi yang mengkerut.


"Kenapa masih disini.? Sana masuk dan buatin suami kamu minum." Ujar Ibu Dahlia. Lagi - lagi dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap aneh sepasang suami istri itu.


"Iya bu, Karin masuk dulu."


Karin masuk kedalam, namun dia tidak mendapati Reynald di sana. Karin bisa menduga kalau saat ini Reynald sudah masuk kedalam kamar.


Dia bergegas ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk Reynald.


Karin membuka pintu kamar perlahan dan menjulurkan kepalanya kedalam. Dia sudah mengetuk pintu namun Reynald tidak menjawabnya. Pantas saja tidak ada jawaban, rupanya laki - laki itu sedang berbaring di atas ranjang dengan mata yang terpejam.


Karin menggelengkan kepalanya, dia heran melihat Reynald yang mudah sekali tertidur. Padahal dia baru saja masuk ke kamar beberapa menit yang lalu, tapi sudah terlelap.


Karin meletakan teh di atas nakas. Dia berdiri menghadap Reynald, rasanya tidak tega untuk membangunkan laki - laki tampan itu. Namun dia sudah terlanjur membuatkan teh, pasti akan dingin kalau menunggu Reynald bangun.


Meski tidak tega, tapi pada akhirnya Karin membangunkan Reynald. Dia sedikit menunduk, mengulurkan tangan dan menggoncang pelan lengan Reynald.


"Bangun kak,," Ujar Karin pelan.


Reynald langsung membuka matanya. Dia baru saja terlelap, jadi masih bisa mendengar suara Karin dengan jelas.


"Minum dulu tehnya, nanti keburu dingin." Ujarnya lagi. Karin mengambil cangkir di atas nakas, sementara itu Reynald bangun dari ranjang sambil terus menatap Karin. Tatapan yang penuh arti, namun juga penuh misteri. Ada perasaan yang sulit untuk diungkapkan, bahkan Reynald saja tidak tau perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Kak ih.! Malah ngelamun." Tegur Karin ketus. Dia sudah menyodorkan teh dari tadi, tapi Reynald hanya diam saja menatapnya.


"Ini tehnya,,," Karin mengeraskan suaranya karena Reynald tak kunjung menerima tehnya.


"Hemmm,,," Reynald mengambilnya, dia meneguk teh itu hingga tandas dan menyodorkan cangkir kosongnya pada Karin.


"Haus.?" Tanya Karin sembari menerima cangkir itu.


"Masih mau minum nggak.?" Tawarnya. Namun suara datar Karin terdengar seolah dia tidak tulus menawarkan minum pada Reynald.


"Nggak usah." Reynald hanya menjawabnya singkat.


"Oh, kirain masih haus. Maksudnya kalau masih mau minum kakak bisa ambil sendiri di dapur." Sahut Karin cuek. Dia langsung beranjak dari hadapan Reynald tanpa memperdulikan reaksi Reynald yang saat ini sedang memberikan tatapan tajam padanya. Selain berubah jadi lebih cuek, Karin juga jadi berani padanya. Namun laki - laki itu justru tidak berani lagi berbicara ketus lagi pada Karin. Seakan ada rem yang membuatnya berfikir berulang kali untuk berbicara ketus.


"Aku mau pulang ke apartemen, kamu mau ikut atau masih mau disini.?" Langkah Karin terhenti didepan pintu. Tiba - tiba saja hatinya seperti diremas mendengar Reynald memberikan pilihan padanya.


Kenapa harus memberikan pilihan seperti itu, seolah dia merasa tidak berarti sampai tidak mengajaknya untuk ikut. Tapi malah memberikan pilihan.


Jika Reynald menganggapnya sebagai istri, bukankah dia akan mengajaknya untuk pulang bersama.?


Karin hanya berbalik badan dan menatap Reynald dengan pandangan mata yang menerawang.


"Nggak masalah kalau kamu masih mau disini. Aku kesini lagi besok setelah pulang dari kantor."


"Aku belum menemui Alisha sejak kemarin. Aku akan ke rumah sakit nanti."


Tutur Reynald. Alisha darah dagingnya, dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Terlebih sampai saat ini dia belum sempat berbicara dengannya. Reynald juga ingin merasakan berbicara dengan dengan putri kandungnya, ingin mendengar suara Alisha yang pasti menggemaskan seperti anak kecil pada umumnya.


"Aku akan ikut ke rumah sakit." Ujar Karin datar, dia bergegas keluar dari kamar. Tadi sempat melihat ekspresi wajahnya Reynald yang terlihat kebingungan. Mungkin Reynald bingung bagaimana bisa berduaan dengan Angel jika dia ikut, pikir Karin.


...****...


Yang like ribuan, tapi vote mingguan gak sampe seribu 😅


Hayoo siapa yg nggak vote.?