
Karin terlihat tidak berdaya setelah keluar dari ruangan obgyn. Pandangan matanya menerawang jauh, pikirannya berkecambuk. Ada ketakutan yang luar biasa dalam dirinya. Tidak pernah menyangka kalau dia akan mengandung anak dari laki - laki brengsek yang sudah memanfaatkan keadaan.
Selama berkali - kali melakukan hubungan, Reynald memang tidak pernah menggunakan pengaman. Dan bodohnya Karin yang luar meminum pil penunda kehamilan di awal - awal Reynald melakukannya. Rupanya benih yang Reynald taburkan sudah jadi lebih dulu.
Jadi selama ini percuma saja dia meminum pil penunda kehamilan.
Tak hanya takut karna mengandung anak dari Reynald. Dia juga takut akan melukai hati kedua orang tuanya karna sudah melakukan kesalahan sebesar ini. Entah bagaimana reaksi mereka jika tau kalau dirinya sedang hamil.
Karin tidak bisa membayangkan betapa kecewanya kedua orang tuanya nanti. Orang tua yang sejak dulu bekerja keras untuk membiayai sekolahnya, hingga kini dia mendapat beasiswa. Mereka pasti sudah menggantungkan harapannya pada Karin.
Lalu apa jadinya jika orang yang mereka harapkan berbuat kesalahan sebesar ini dan kuliahnya terancam berhenti.
"Aku nggak mau anak ini Je,,," Gumam Karin. Dia sudah putus asa, tidak tau lagi harus berbuat apa.
Karin juga ragu kalau Reynald mau bertanggung jawab. Kalaupun dia mau bertanggung jawab, Karin tidak akan sanggup hidup dengan laki - laki kejam sepertinya. Yang suka memaksa dan menindas dirinya sesuka hati.
"Ya Ampun Rin, apa maksud kamu.?!" Pekik Jeje. Dia mencengkram kuat tangan Karin.
"Jangan bilang kamu mau menyingkirkan anak yang nggak berdosa itu.!" Wajah Jeje memerah, dia tidak habis pikir dengan ucapan gila yang di lontarkan oleh Karin.
Melihat ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya, Jeje jadi teringat pada kisahnya sendiri. Mata Jeje bahkan mulai berkaca - kaca. Ucapan papa Alex yang dulu sempat tidak menginginkannya, teringiang - ngiang di kepalanya.
Memang apa salah dirinya.? Dia tidak pernah meminta dilahirkan dengan cara yang salah. Bahkan tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya. Lalu kenapa mereka tega memiliki pemikiran keji seperti itu. Kenapa banyak orang tua yang tidak menginginkan darah dagingnya sendiri hanya karna hadir dari sebuah kesalahan.
"Aku nggak tau harus gimana lagi Je. Ibu sama Bapak pasti kecewa kalau tau aku,,," Karin tidak meneruskan ucapannya, dia terisak dengan sakit yang begitu menyiksa dadanya.
"Mereka akan lebih kecewa kalau tau kamu menyingkirkan darah daging kamu sendiri.!"
"Aku bakal bantu kamu biar kak Reynald mau tanggung jawab, dan datang langsung ke orang tua kamu,,"
"Kalaupun orang tua kamu kecewa, setidaknya dia nggak akan kecewa sama kamu. Karna kamu cuma korban,,"
Penjelasan Jeje membuat Karin sedikit lebih lega. Apa yang di katakan Jeje memang benar. Tidak seharusnya dia menyelesaikan masalah dengan membuat masalah yang lebih besar lagi.
Lagipula Reynald yang pantas di salahkan dalam hal ini. Dia yang sudah memanfaatkan Karin.
"Makasih Je,,," Karin memeluk Jeje, dia merasa bersyukur memiliki sahabat sebaik Jeje yang bisa mengerti dirinya dan selalu ada untuknya.
"Kamu nggak usah khawatir, aku pasti bakal bantuin kamu sampai kak Reynald nikahin kamu."
"Sekarang kita harus ke kantor om Kenzo buat ketemu kak Reynald."
Karin mengangguk. Keduanya keluar dari rumah sakit dan pergi ke kantor Kenzo.
Hasil USG dan hasil laporan tentang kehamilan Karin, tersimpan rapi di tas Jeje.
Dia akan menunjukannya pada Reynald, untuk meyakinkan Reynald jika Karin benar - benar hamil dan dia tidak bisa mengelak kalau janin yang ada di rahim Karin adalah darah dagingnya.
Ini pertama kalinya Jeje pergi ke kantor Kenzo. Dia terlihat bingung untuk menghadapi resepsionis.
Di depan, dia sudah di hadang oleh satpam. Beruntung satpam meloloskannya saat dia menyebut nama Kenzo dan Reynald.
"Kamu duduk dulu Rin,,,"
Jeje menyuruh Karin untuk duduk di seberang meja resepsionis. Dia enggan membuat sahabatnya kelelahan, terlebih saat ini Karin sedang stres memikirkan kehamilannya.
Karin mengangguk tanpa berkata apapun. Dia sudah tidak mampu lagi memikirkan hal lain, saat ini dia hanya memikirkan kedua orang tuanya.
"Ada yang bisa saya bantu.?"
"Adek cari siapa,,?"
Ucap resepsionis begitu Jeje menghampirinya.
"Emm,,, saya mau ketemu sama Pak Kenzo dan pak Reynald."
Wanita dewasa di depannya nampak mengerutkan keningnya. Merasa heran karna ada remaja yang mencari bosnya.
"Apa sudah ada janji,,?"
Jeje menggeleng pelan.
"Maaf dek, bos kami tidak bisa sembarangan menemui seseorang kalau belum ada janji."
"Sebaiknya adek buat janji dulu, dan bisa datang lagi nanti,," Ucapnya sopan.
"Tapi kak, ada urusan penting dan mendesak,,"
"Saya mohon telfon pak Kenzo atau pak Reynald,,"
"Sekali lagi maaf dek, ini peraturan dari kantor."
"Lagipula bos kami sedang berada di luar,,"
Suara tawa dari pintu masuk, menarik perhatian Jeje. Dia sangat tau siapa pemilik suara itu. Siapa lagi kalau bukan suaminya.
Jeje segera menoleh ke sumber suara, nampak suaminya itu sedang tertawa lebar bersama wanita seusianya yang berjalan beriringan. Di ikuti dengan Reynald yang berjalan di belakang mereka.
Ada sedikit perasaan aneh yang menggelitik hatinya, yang perlahan berubah menyakitkan dan sesak. Jeje tau yang sedang dia rasakan adalah perasaan cemburu yang menyiksa.
Melihat suaminya tertawa dengan wanita cantik, membuatnya sangat cemburu.
Keduanya bahkan terlihat sangat dekat. Wanita itu bahkan berkali - kali menepuk lengan Kenzo.
Jeje hanya mematung, dengan pandangan mata yang tak lepas dari suaminya.
Saat Kenzo dan wanita itu semakin mendekat, jantungnya terasa berdenyut nyeri.
"Kamu emang nggak pernah berubah Ken,, masih gila seperti dulu,," Kata wanita itu dengan mengulas tawa.
Baik Kenzo maupun wanita di sampingnya, tidak menyadari keberadaan Jeje. Keduanya melewati Jeje begitu saja Karna asik berbicara dan saling menatap.
"Wah ada nyonya Kenzo,," Seru Reynald dengan gaya playboynya. Rupanya hanya Reynald yang melihat keberadaannya.
Kenzo menghentikan langkah saat mendengar Reynald yang menyebut namanya. Dia berbalik badan, saat itu juga melihat Jeje yang masih memaku dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Kita harus bicara kak,,"
Jeje menarik tangan Reynald, menyeretnya cepat tanpa memperdulikan Kenzo yang berjalan ke arahnya.
"Tunggu,, ada apa ini.?" Tanya Reynald heran.
"Kakak akan tau setelah melihat dia,,," Jeje menunjuk Karin yang sedang duduk melamun.
"Aku udah nggak punya urusan sama dia. Bukannya kamu sendiri yang minta sama suamimu agar aku melepaskan sahabatmu itu,," Ujarnya.
Jeje tidak menjawabnya, dia terus menarik Reynald sampai berhenti di depan Karin. Wanita cantik itu terlihat kaget melihat kehadiran Reynald dan Jeje di hadapannya. Lamunannya buyar seketika, Karin menatap dalam sosok Reynald yang sudah menghancurkan masa depannya.
"Sayang,,, ada apa.?" Kenzo terlihat panik menatap. istrinya. Terlebih istrinya itu terkesan mengabaikannya saat dia berusaha mengejarnya.
Jeje menoleh, menatap suaminya dengan tatapan datar, lalu beralih menatap wanita yang berdiri di belakang Kenzo. Rupanya dia juga mengikutinya.
"Aku ada urusan sama kak Reynald. Maaf pinjam sebentar kak Reynald nya." Ucapnya datar.
Kenzo menyadari ada sesuatu yang berbeda dari istrinya. Terlebih tatapan matanya yang seolah malas untuk melihat dirinya.
"Reynald buat masalah sama kamu,,?" Tanya Kenzo lembut.
"Siapa yang buat masalah sama istri kamu Ken. Gue aja baru bertemu dengannya beberapa kali,," Celetuk Reynald.
"Diam kamu.!!" Bentak Kenzo. Tatapan tajam Kenzo membuat Reynald langsung diam.
"Aku datang kesini bukan mau melihat kalian berdebat." Ujar Jeje sedikit sinis.
"Aku mau kak Reynald bertanggung jawab pada Karin.!"
"Karin hamil,,"
"What.?!"
"Apa.?!!"
Pekik Reynald dan Kenzo bersamaan. Keduanya terlihat kaget, lalu bersamaan menatap Karin yang tertunduk lemah.
Suasana sempat riuh dan tegang, hingga akhirnya Kenzo menyuruh mereka untuk ikut ke ruangannya dan membicarakan masalah mereka di sana.
...*****...
...Novel Baru...
"Sudah Zi.! Percuma saja,,"
Kata - kata itu selalu menjadi cambuk yang menyakitkan bagi Zia. Semangatnya meredup seketika, hatinya kembali merasakan sakit atas penolakan yang dilakukan oleh Gavin.
Zia menyingkir dari atas tubuh Gavin. Turun dari ranjang lalu memunguti satu persatu bajunya yang berserakan di lantai dengan sesak di dada yang kian menyiksa. Sejak tadi, wanita cantik itu berusaha menahan air matanya agar tidak membasahi pipi putihnya. Meski sejujurnya dia amat terluka dengan sikap Gavin.
Novel baru author di akun Ratna Wullandarrie.
Judul : Bukan Wanita Mandul
Langsung di jadiin favorit yuk, baca nanti kalau udah banyak babnya 😁