My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
36. Season2



Kenzo dan Jeje baru saja keluar dari apartemen Fely. Mereka dalam perjalanan untuk pulang ke apartemen Kenzo. Laki - laki itu harus bersiap untuk pergi ke kantor pagi ini.


Niat untuk memberitahukan kehamilan Jeje pada Mama Rissa dan Papa Alex pun harus mereka tunda karena kemarin tidak sempat untuk datang ke rumah Papa Alex.


"Kita ke rumah Papa setalah hubby pulang dari kantor kan.?" Jeje menengok Kenzo sekilas, kemudian kembali menyantap buah - buahan yang dibekali oleh Mama Grace tadi.


Nafsu makan Jeje jadi bertambah berkali - kali lipat dari biasanya. Bahkan saat sarapan tadi, Jeje yang paling banyak makan di banding mereka.


"Hemm."


"Aku akan pulang cepat nanti. Papa berangkat sore kan.?"


Jeje menganggukkan kepalanya dengan mulut yang penuh menguyah buah.


Melihat tingkah istrinya, Kenzo hanya bisa menggeleng pelan dengan sudut bibir yang terangkat.


"Pelan - pelan makannya,," Ujarnya sembari mengusap kepala Jeje. Jeje menyengir kuda, dia terus menatap Kenzo dengan sorot kekaguman.


Hidupnya sudah sangat bahagia karena memiliki suami seperti Kenzo yang penuh cinta dan kasih sayang dalam memperlakukannya.


Meski dulu dia sempat sakit hati dan kecewa pada Kenzo, namun rasa kecewa itu sudah lenyap. Jeje bahkan enggan mengingat saat terberat dan tersakit dalam hidupnya. Saat ini dia hanya ingin menikmati hidupnya yang amat bahagia karena kehadiran Kenzo dan calon anak mereka.


"Aku ingin ke rumah Karin. Boleh kan by.?"


Sambil menunjukan wajah manisnya, Jeje mengedipkan mata beberapa kali. Wanita hamil itu bermaksud untuk merayu Kenzo agar mengijinkan dia pergi ke rumah Karin. Selain rindu dengan sahabatnya itu, Jeje juga ingin memberitahukan kabar bahagia itu pada Karin. Jeje ingin bilang kalau saat ini mereka sama - sama sedang hamil.


Wanita itu bahkan sempat berfikir untuk menjodohkan anak mereka jika Karin melahirkan anak laki - laki dan Jeje melahirkan anak perempuan, atau sebaliknya.


"Boleh, asal di antar supir. Nanti aku suruh supir jemput kamu di apartemen."


"Dan jangan terlalu lama berada di luar. Ingat kamu sedang hamil muda, tidak boleh kelelahan dan harus banyak istirahat."


Jeje langsung mencondongkan badan ke arah Kenzo, dia memeluk lengan Kenzo dan bergelayut manja di sana.


"Makasih Hubby tampan,,," Seru Jeje dengan kekehan kecil. Kenzo hanya memamerkan senyum smirknya.


Mereka sudah sampai di apartemen. Kenzo juga sudah mandi dan rapi dengan setelan jasnya. Dia sudah siap untuk berangkat ke kantor.


"Sayang,,," Kenzo berteriak didepan pintu kamar mandi. Dia bermaksud pamit pada Jeje yang sedang mandi.


"Kenapa by.?" Jeje membuka pintu dan menjulurkan kepalanya keluar.


"Mau berangkat sekarang ya.?" Tanyanya begitu melihat Kenzo yang sudah rapi.


"Ya, aku berangkat dulu."


"Hati - hati by,,"


Kenzo mengerutkan keningnya.


"Hanya itu saja.?" Tanya Kenzo sembari mendorong pelan pintu kamar mandi. Laki - laki itu merasa penasaran karena Jeje hanya menunjukan kepalanya saja.


"Hubby mau cium.?" Tawar Jeje tanpa ragu.


"Jangan di dorong by, aku nggak pake apapun,," Jeje menahan pintu sekuat tenaga.


"Sini bibir hubby, biar aku cium,," Jeje berkata dengan senyum yang merekah, kemudian memajukan bibirnya untuk membuat Kenzo mendekat.


Rupanya Kenzo tidak menyia - nyiakan kesempatan, dia langsung meraih tengkuk Jeje dan mencium bibirnya dengan rakus. Jeje bahkan mulai terbuai, kedua tangannya tidak lagi menahan pintu, melainkan berpegangan pada lengan dan pinggang Kenzo. Pintu Kamar mandi bahkan sudah terbuka sebagian, hingga tubuh polos Jeje terlihat seluruhnya.


Menyadari hal itu, satu tangan Kenzo mulai bergerak liar. Meraba punggung Jeje dan perlahan bergerak ke bagian depan.


"Eumm,,," Jeje mengeluarkan desahan tertahan. Dia segara mendorong tubuh Kenzo saat merasakan asetnya di remas oleh tangan besar itu. Kenzo terlihat kecewa karena aksinya dihentikan oleh Jeje.


"Hubby iihh,, udah sana berangkat, nanti terlambat." Jeje kembali bersembunyi di balik pintu kamar mandi, kali ini dia menutup pintunya.


"Memangnya kenapa kalau terlambat.? Bahkan nggak berangkat sekalipun nggak masalah." Sahut Kenzo enteng.


"Buka pintunya, kita main sebentar,,!" Ujarnya setengah berteriak. Kenzo tidak bisa lagi untuk menahannya. Sejak pergi ke Singapur, hingga detik ini dia belum melakukan penyatuan dengan Jeje.


Rasanya sudah terlalu lama dia menahannya.


"Nggak mau, nanti malam saja.!" Teriak Jeje. Dia langsung mengunci pintu agar Kenzo tidak memaksa masuk. Jeje tidak bermaksud untuk menolak, hanya saja dia tidak mau rencana untuk ke rumah Karin harus gagal karena adegan percintaan mereka. Bisa dipastikan akan membutuhkan waktu lama jika Kenzo sudah memintanya.


"Sudah hubby berangkat saja ke kantor, aku mau ke rumah Karin by,,!" Serunya lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Kenzo, Jeje kembali berendam di bathtub.


"Je,,! Ayolah sebentar saja.!" Teriak Kenzo setengah merengek. Dia juga menggedor pintu, namun Jeje tak kunjung menjawabnya.


"Jeje.!" Teriaknya lagi. Tapi tetap saja Jeje tidak meresponnya hingga membuat Kenzo akhirnya menyerah.


Lagi - lagi dia harus menunda hasratnya yang sudah menggebu. Rasanya sangat menyiksa setiap kali menahannya.


Kenzo sampai di kantor dengan wajah yang tidak bersahabat. Moodnya belum juga membaik setelah mendapat penolakan dari Jeje.


Sapaan karyawan dan staff nya bahkan di abaikan.


Dia bergegas menuju ruangan kerjanya dengan langkah tegap.


"Akhirnya berangkat juga.! Udah puas nyiksa gue.?!" Tegur Reynald saat Kenzo akan masuk kedalam ruangan kerjanya. Kenzo memberikan lirikan tajam pada Reynald yang baru saja keluar dari ruangannya. Reynald berjalan mendekat ke arah Kenzo.


"Kamu bisa mengajukan pengunduran diri kalau mau,," Jawab Kenzo sinis dengan menekankan kalimatnya. Moodnya sedang kacau saat ini, ditambah dengan sikap Reynald yang entah kenapa membuatnya semakin kesal.


Mendapat jawaban yang menohok dari Kenzo, Reynald tidak bisa berkutik lagi. Hidupnya akan terancam jika Kenzo memecatnya.


"Haha,,, kamu bercanda.?" Reynald tertawa kaku. Dia menepuk pelan pundak Kenzo.


"Hueeekk,,," Kenzo langsung menjauh dari Reynald dengan satu tangan menutup hidungnya.


"Sialan.! Kamu masih pakai parfum busuk itu.?!" Geram Kenzo kesal.


Reynald melongo mendengarnya. Kata - kata parfum busuk membuat Reynald seketika down. Terlebih saat itu ada beberapa staff wanita yang lewat didekat mereka. Harga diri Reynald seakan terjun bebas ke jurang.


"Damn..!"


"Parfum gue mahal, mana ada bau busuk.!" Protes Reynald tak terima.


"Aku nggak peduli.! Mau mahal atau murah, jangan sampai kamu pakai parfum itu lagi ke kantor atau lebih baik keluar dari kantorku.!"


Kenzo terlihat menahan perutnya yang bergejolak karena mencium aroma parfum Reynald.


"Ganti baju dan parfum kamu sekarang.! Jangan tunjukin wajah kamu sebelum mengganti baju dan parfum.!" Kenzo langsung masuk kedalam ruangannya. Dia tidak menghiraukan raut wajah Reynald yang terlihat kesal.


"Bos sialan.!" Umpatnya sembari berlalu.


Meski kesal pada Kenzo, Reynald tetap berkerja sepenuh hati pada bosnya itu. Dia berdedikasi penuh pada Kenzo dan perusahaan. Karna bagaimanapun Kenzo sudah banyak membantunya. Kenzo yang sudah membuatnya bangkit dari keterpurukan kala itu.


Baginya Kenzo adalah salah satu orang yang paling berjasa bagi keluarganya.


...*****...


"Karin,,," Jeje berteriak saat keluar dari mobil. Dia berjalan cepat menghampiri Karin yang sudah berdiri di teras rumah. Rupanya dia sudah menunggu kedatangan Jeje sejak tadi.


Jeje langsung memeluk Karin dengan erat.


"Hai Je, gimana kabar kamu.?"


Karin terlihat senang dengan kehadiran Jeje. Wajah sendunya kini mulai mengembangkan senyum.


Kesedihan di mata Karin perlahan tertutup dengan hadirnya Jeje. Sifat ceria yang terpancar dari dalam diri Jeje selalu memberikan energi positif bagi siapa saja yang berada di dekatnya. Termasuk Karin yang bisa merasakan hal itu.


"Aku baik - baik saja." Jeje melepaskan pelukannya.


"Kamu gimana.?" Tanya Jeje antusias. Wajah Karin berubah sendu. Pertanyaan Jeje membuat Karin teringat dengan kehidupan rumah tangganya yang tidak baik - baik saja. Saat ini dia bahkan dalam keadaan bingung dan tidak tau harus seperti apa menjalani hari - harinya bersama Reynald.


"Ok, jangan dijawab dulu. Kamu harus dengar kabar bahagia ini,,," Jeje memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Dari ekspresi wajah Karin, Jeje bisa menebak jika sahabatnya sedang mengalami masalah.


"Kabar bahagia apa.?" Karin terlihat antusias.


"Kita masuk dulu yuk,,," Digandengnya tangan Jeje menuju ruang tamu.


Karin menyuruh Jeje untuk duduk lebih dulu, dia bergegas ke dalam untuk mengambilkan minum dan makanan untuk sahabatnya itu.


"Jadi ada kabar apa.?" Karin bertanya sembari meletakan nampan berisi makanan dan minuman, kemudian ikut duduk di samping Jeje.


"Aku sedang hamil,,," Jeje menjawabnya cepat dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


"Wah,,, kita hamil bersamaan.?" Karin juga terlihat ikut senang mendengar kabar kehamilan Jeje.


Dia bahkan merasa iri dengan kehidupan rumah tangga Jeje yang terlihat sangat harmonis dan bahagia. Jeje pasti menjalani kehamilannya dengan perasaan yang selalu bahagia, tidak seperti dirinya yang selalu dilanda kecemasan dan kesedihan akibat sifat Reynald.


...****...


Jeje Kenzo