
Kenzo dan mama Grace tiba di apartemen Fely tak lama setelah Nicho pergi.
Mungkin jika tadi Fely tidak mengusir Nicho, pasti saat ini keduanya sudah tertangkap basah sedang berduaan di dalam apartemen dengan pintu yang terkunci. Sudah bisa di pastikan Kenzo akan marah besar, dan mama Grace pasti akan syok melihat anak gadisnya berduaan dengan laki - laki diruang tertutup.
Kenzo menuntun mama Grace dengan hati - hati. Kondisi wanita paruh baya itu memang sudah membaik, bahkan hampir pulih seperti semula. Namun Kenzo masih cemas hingga tidak pernah melepaskan gandengan tangannya saat berjalan.
Sementara itu, supir Kenzo membawakan koper milik mama Grace. Mengikuti keduanya di belakang.
Sampainya di depan apartemen Fely, Kenzo langsung memencet bel. Hanya dalam hitungan detik, pintu sudah terbuka.
"Ada apaa,,,,
Ucapan Fely menggantung saat yang dia lihat adalah Mama dan kakaknya. Fely sempat berfikir jika Nicho kembali lagi.
"Mama,,," Seru Fely dengan mata yang berbinar. Wanita itu langsung memeluk erat sang mama. Tangis bahagia dan haru tidak bisa ia bendung.
Setelah 1 tahun lebih, akhirnya dia bisa berkumpul lagi dengan sang mama dalam keadaan yang sudah sehat.
Entah berapa banyak air mata yang dulu Fely keluarkan untuk menangisi orang tua satu - satunya itu. Entah sudah berapa banyak penderitaan yang harus mereka jalani selama ini saat hidup berdua.
Kini mereka tidak perlu khawatir lagi akan datangnya penderitaan. Kenzo sudah datang, menghapus segala penderitaan dan kesusahan mereke selama ini.
"Jangan nangis sayang, mama udah sehat sekarang." Mama Grace membalas pelukan Fely. Putri yang selama belasan tahun menjadi sumber kekuatannya. Putri yang membuatnya mampu bertahan dalam sakit yang dia derita.
"Mama senang, akhirnya kita bisa berkumpul lagi,," Mama Grace melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mata di pipi Fely, lalu mengecup keningnya penuh kasih sayang.
Kenzo itu terharu melihat pemandangan di hadapannya. Kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
Laki - laki itu mengusap punggung mama Grace dan Fely bergantian. Mencoba memberikan ketenangan lewat usapan tangannya yang hangat.
Kenzo tau, kedua wanita itu baru saja melewati masa hidupnya yang berat. Sudah saatnya dia memberikan kebahagiaan pada mereka.
"Nangisnya lanjut di dalam saja,," Ujar Kenzo dengan candaan. Dia enggan membuat keduanya semakin hanyut dalam kesedihan.
Baik mama Grace dan Fely, keduanya langsung menatap Kenzo dengan seulas senyum tipis.
"Ajak mama masuk Fel. Mama harus istirahat,," Sambungnya lagi. Fely mengangguk cepat.
"Ayo mah,,," Digandengnya tangan sang mama untuk masuk ke dalam apartemen. Raut wajah Fely begitu bahagia. Beban hidupnya seakan lenyap begitu saja setelah melihat sang mama yang sudah sehat kembali.
"Taruh koper itu di ruang tamu, kamu bisa langsung pulang setelah ini,," Titah Kenzo pada supirnya.
Dia mengambil dompet, mengambil uang beberapa lembar dan memberikannya pada sang supir.
"Pakai taksi, mobilnya akan aku pakai,,," Ujarnya lagi sembari memberikan uang itu.
"Baik Pak,, permisi,,,"
Setelah menerima uang itu, si supir membawa masuk koper milik mama Grace kedalam apartemen, lalu pamit pulang pada Kenzo.
Kenzo masuk kedalam, ikut bergabung dengan mama Grace dan Fely diruang TV.
Mereka masih saja saling memeluk, meluapkan kerinduannya karena jarang bertemu selama mama Grace menjalani pengobatan.
"Mulai besok akan ada asisten yang tinggal di sini untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk menjaga mama. Jadi kamu bisa tenang kalau berangkat kuliah,,," Tutur Kenzo pada Fely.
Adiknya itu mengangguk pelan. Saat ini dia memang butuh seseorang untuk menjaga sang mama. Fely tidak mungkin meninggalkan sang mama seorang diri di apartemen selama dia berangkat kuliah.
"Mama sudah sehat Ken, sudah bisa jaga diri. Nggak perlu buang - buang uang cuma untuk membayar asisten rumah tangga,. mama masih bisa mengerjakannya sendiri," Tolak mama Grace lembut.
Dia merasa tidak enak hati pada putranya. Putra tampannya itu sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk membiayai pengobatannya selama ini.
Entah berapa banyak uang yang sudah dia keluarkan untuk itu.
"Apa yang Ken lakukan demi kebaikan dan kesehatan mama. Kami juga yang akan repot dan sedih kalau sampai kesehatan mama menurun."
"Jadi turuti saja permintaan Ken,,," Tuturnya lembut.
"Benar apa kata kakak mah. Mama harus banyak istirahat, nggak boleh kecapean. Apa lagi kalau sampai harus mengerjakan semua pekerjaan rumah."
"Fely nggak mau liat mama sakit lagi,,"
Fely kembali memeluk mama Grace.
Kenzo hanya mengulum senyum, sembari mengusap kepala adiknya.
"Kamu nggak pulang Ken.? Jeje pasti nungguin kamu,," Ujar mama Grace. Sejujurnya dia sudah tau kalau Kenzo ingin buru - buru pulang. Dia terlihat tidak tenang dan gelisah. Bahkan mama Grace beberapa kali memergoki Kenzo yang melihat jam di pergelangan tangannya.
"Iya mah, Ken harus pulang dulu." Kenzo beranjak dari duduknya.
"Kabari mama hasilnya. Dan langsung bawa 'Jeje kesini besok pagi,,," Ujar mama Grace dengan raut wajah yang berbinar. Dia terlihat sangat bahagia.
Fely terlihat bingung, dia tidak paham dengan apa yang baru saja dibicarakan oleh sang mama.
"Hasil,,,? Hasil apa mah.?" Tanyanya bingung.
"anak kecil nggak boleh tau.! Ini urusan orang dewasa." Celetuk Kenzo. Fely mencebik kesal.
"Aku juga sudah dewasa kak." Protesnya.
"Ya.! Aku tau._" Sahut Kenzo cepat.
"Ken pulang dulu mah. Mamah harus istirahat setelah ini,," Kenzo memeluk mama Grace sekilas.
"Ikut kaka sebentar,," Kenzo menarik tangan Fely, meminta adiknya untuk beranjak.
"Kaka mau bicara,," Tambahnya.
Fely langsung berdiri dan mengikuti langkah Kenzo hingga ke ruang tamu.
"Dimana Nicho.?!" Tegas Kenzo dengan tatapan matanya yang dalam. Fely tercengang mendengarnya, dia juga terlihat ketakutan hingga tidak bisa berkata - kata.
"Aku tau si brengsek itu baru saja ke apartemen. aada bau parfum laki - laki di dalam,,," Penuturan Kenzo tidak bisa dibantu oleh Fely.
Rupanya sejak tadi Kenzo sudah curiga sejak masuk ke ruang TV. Aroma parfum maskulin tercium jelas di hidungnya.
Fely menelan kasar ludahnya. Dia terlihat pasrah jika nantinya harus dimarahi habis - habisan oleh sang kaka karena memasukan Nicho ke apartemen.
"Apa saja yang kalian lakukan.?!" Geram Kenzo.
"Apa Nicho sudah,,
"Kak, aku dan Nicho nggak ngapa - ngapain. aku tau batasan kak, jangan berfikir terlalu buruk tentangku,,," Ujar Fely lirih. Sejujurnya dia merasa bersalah karena sampai bercumbu dengan Nicho.
Kenzo menghela nafas berat.
"Hubungi Nicho, suruh dia pulang kerumahnya dan menemukannya disana."
"Dia harus bisa membujuk papanya untuk segera menikahi kamu.!"
"Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.! Laki - laki tidak bisa menahan terlalu lama Fely,,,"
Ucapan Kenzo sukses membuat Fely syok berat.
Padahal Kenzo melarangnya agar tidak menikah sebelum menyelesaikan magisternya.
Tapi sekarang Kenzo malah menyuruh Nicho agar secepatnya menikahi Fely.
"Tapi kak,,,
"Nggak ada tapi - tapian.!" Tegas Kenzo.
"Cepat hubungi Nicho sekarang.! Aku tunggu dia di rumahnya,,"
Kenzo langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Fely.
Laki - laki itu buru - buru ingin pulang menemui istri tercintanya.
Kenzo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasanya sudah tidak sabar untuk melihat wajah cantik istrinya yang menggemaskan itu.
Dia juga sudah tidak sabar untuk memberikan. kejutan untuk Jeje.
Sampainya di rumah mertuanya, Kenzo hanya di sambut oleh Papa Alex dan Mama Rissa yang sedang duduk di ruang keluarga.
Kenzo menyapa ramah kedua mertuanya itu
"Kamu sudah pulang Ken,," Ujar papa Alex.
"Iya pah, baru saja sampai,,,"
"Apa Jeje sudah tidur.?" Tanyanya sopan.
"Jeje di kamar, tadi mama lihat sudah tidur."
"Kata pelayanan, setelah pulang dari mall anak itu tidak keluar kamar lagi. Makan malam pun minta di antar ke kamar." Jelas mama Rissa.
"Mungkin kecapean,,," Tambahnya lagi.
Kenzo hanya mengangguk beberapa kali.
"Kalau begitu saya ke atas dulu Pah, Mah,,,"
Kenzo langsung naik ke lantai dua setelah pamit pada kedua mertuanya.
Dibukanya dengan perlahan. pintu kamar yang tidak terkunci itu. Setelah masuk, Kenzo segera menutup pintu kembali dan menguncinya.
Dia berjalan mendekati ranjang, ditatapnya dengan lekat wajah cantik istrinya yang tertidur lelap. Kenzo tersenyum lebar dengan sorot mata yang dipenuhi cinta.
Laki - laki itu mengeluarkan benda dari saku celananya, meletakan benda itu di atas nakas. Kemudian naik keatas ranjang dengan hati - hati dan ikut berbaring disamping Jeje.
Kenzo memeluk erat wanita cantik itu. Rasa bahagia menjalar dalam hatinya. Dia sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba.
...****...
Hayu atuh mampir,🤪
Nggak kalah menarik loh ceritanya, tuh buktinya masuk rangking karya baru (Sombong amat🤣) Canda ya adek², kk kk, emak².
BTW disini ada readers cowo.? 😁
Era ih aink,,😅