
Jeje dan Kenzo sedang dalam perjalanan menuju apartemen Nicho. Keduanya sempat berdebat sebelum akhirnya taksi yang mereka tumpangi meninggalkan rumah sakit.
Kenzo bersikeras untuk pulang ke apartemen, sedangkan Jeje menolak dan memaksa pergi ke apartemen Nicho karna khawatir dengan kakaknya yang sejak kemarin tidak bisa dihubungi.
Supir taksi itu hampir saja menyuruh mereka keluar karena sudah pusing mendengar perdebatan yang terjadi antara calon penumpangnya. Dan pada akhirnya Kenzo mengalah untuk menuruti keinginan Jeje.
"Jangan marah by,,," Jeje semakin menempel dan mendekap lengan besar Kenzo. Laki - laki itu langsung diam seribu bahasa setelah mengakhiri perdebatan. Hal itu membuat Jeje tidak nyaman dan merasa bersalah.
Kenzo hanya melirik sekilas dengan tatapan datar. Terdengar helaan nafas pelan kemudian memilih untuk menyandarkan kepalanya. Dia terlihat acuh dengan dengan Jeje yang sedang berusaha untuk membujuknya.
"Hubby,," Rengeknya manja. Supir taksi itu langsung menggelengkan kepalanya melihat dua sejoli yang lama - lama terlihat lucu. Suaminya yang sedang merajuk dan istrinya terus berusaha untuk membujuk.
"Hubby jangan marah, nanti gantengnya berkurang" Bisiknya dengan suara khasnya yang menggemaskan. Ekspresi wajahnya juga terlihat lucu, campuran antara takut dan memelas. Kenzo sampai harus menahan tawa, rasa kesalnya tiba - tiba hilang begitu saja setelah melihat kelakuan Jeje yang selalu membuat moodnya membaik.
"Jangan coba - coba merayuku.!" Ketus Kenzo datar.
"Pikirkan saja kakakmu itu." Kenzo langsung mengalihkan pandangannya. Sebenarnya tidak ada niatan untuk mengerjai Jeje sebelumnya, tapi setelah melihat raut wajah Jeje yang sangat lucu, tiba - tiba saja muncul rencana untuk mengerjainya.
Jeje mendekatkan wajahnya, dia langsung punya jurus jitu untuk membuat mood Kenzo langsung membaik dan yakin jika Kenzo tidak akan marah lagi padanya.
"Aku tambah 1 lagi imbalannya,," Bisiknya menggoda. Kenzo langsung menatap Jeje dengan senyum yang merekah. Dia tidak berfikir jika Jeje akan menambah imbalannya. Pada akhirnya rencana untuk mengerjai Jeje tidak sia - sia, dia langsung mendapatkan bonus tambahan.
"Tawaran yang menarik. Kenapa tidak dari tadi." Ujarnya. Senyum Kenzo semakin merekah dengan sorot mata yang mampu membuat bulu kuduk Jeje meremang.
"Hubby memang paling terdepan kalau urusan pergulatan.!" Ketus Jeje. Rasanya menyesal sudah menambah imbalan untuk suami mesumnya itu.
"Tidak akan seperti ini kalau bukan karna tubuh seksi kamu,," Bisik Kenzo dengan hembusan napas yang sengaja dia kencangkan. Jeje sontak langsung menjauh karna dia buat meremang.
"Hubby ih,,," Jeje mengusap - usap lehernya, hembusan napas Kenzo terasa hangat disana.
Kenzo hanya terkekeh kecil.
Keduanya sudah sampai di apartemen yang baru di tempati oleh Nicho beberapa minggu yang lalu.
Jeje terlihat tidak sabaran untuk menemui kakaknya yang baru saja patah hati. Membayangkan hubungan Nicho dan Fely yang berakhir karna accident, rasanya dada kembali sesak. Terlebih Jeje sudah mengetahui tanggal pernikahan Fely dan Nathan yang akan di gelar beberapa hari lagi. Tidak sanggup rasanya jika harus menyaksikan mantan pacar kakaknya menikah dengan orang lain.
Jeje menekan bel berulang kali. Kenzo hanya bisa menghela napas melihat kecemasan di wajah Jeje. Dia bisa mengerti kenapa istrinya itu sangat mencemaskan kakaknya, memang sangat berat dan menyakitkan berada di posisi Nicho. Tapi keputusan yang sudah di ambil untuk menyelesaikan permasalahan itu dirasa sangat tepat demi kebaikan Nicho maupun Fely. Ada banyak hal yang pada akhirnya membuat Kenzo bersikeras untuk menikahkan Fely dan Nathan. Jika saja Nicho memaafkan mereka dan masih tetap mempertahankan Fely, pasti akan ada permasalahan dikemudian hari yang muncul karna kejadian itu. Dan Nicho lebih memilih untuk mengakhirnya. Dia pasti sudah memikirkan baik - baik resiko yang akan terjadi nantinya.
"Kak Nicho.!!" Panggil Jeje dengan teriakan.
"Je,, percuma saja kamu teriak - teriak. Tidak akan kedengaran sampai ke dalam." Ujar Kenzo lembut.
"Tapi by, kak Nicho belum keluar juga,," Ujarnya panik.
Belum sempat Kenzo bicara, pintu apartemen sudah lebih dulu terbuka. Jeje langsung mendorong pelan pintu itu dan menghambur kepelukan Nicho.
"Kak,," Suara Jeje bergetar menahan tangis. Dia memeluk Nicho dengan erat. Tidak sanggup rasanya membayangkan berada di posisi Nicho.
Nicho hanya tersenyum samar dan membalas pelukan Jeje. Dia juga melirik Kenzo sekilas dengan tatapan datar.
"Perut kamu sudah membesar sekarang,," Ujar Nicho yang merasakan perut Jeje lebih besar dari sebelumnya.
Jeje melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah sang kakak yang terlihat biasa saja namun tidak dengan sorot matanya.
"Kak Nicho baik - baik saja.?" Tanya Jeje khawatir. Dia tidak menanggapi ucapan Nicho yang mengomentari perutnya. Jeje lebih tertarik untuk mengetahui kondisi kakaknya saat ini.
"Kenapa nomor ponsel kakak belum aktif juga,,," Keluh Jeje kesal.
"Kakak baik - baik saja, jangan khawatir. Fokus saja pada kehamilan kamu, kakak ingin melihat keponakanku secepatnya,," Nicho mengusap pelan perut Jeje. Dia seperti sedang mengalihkan pembicaraan dengan membahas kehamilan Jeje.
"Kamu lihat, kakak kamu baik - baik saja. Ayo pulang,,," Ujar Kenzo sembari menggandeng tangan Jeje. Tentu saja Jeje menolaknya, dia menarik tangannya dari genggaman Kenzo.
"Kita baru sampai by, kenapa harus pulang." Protesnya.
"Aku ingin bicara dengan kak Nicho,," Jeje menyelonong masuk.
Nicho dan Kenzo tanpa saling pandang.
"Dia sangat mengkhawatirkanmu." Tegas Kenzo sembari menepuk pelan pundak Nicho.
"Aku yakin kamu tidak selemah yang Jeje pikirkan, tunjukan padanya kalau kamu baik - baik saja.!"
"Jeje baru saja keluar dari rumah sakit, kondisinya masih belum memungkinkan untuk memikirkan hal yang bisa membuatnya tertekan dan stres."
Nicho tampak syok mendengar penuturan Kenzo.
"Jeje sakit.?! Kenapa tidak memberitahuku.? Apa kalian juga tidak memberitahu mama tentang ini.?!"
Wajah Nicho berubah panik.
"Aku tidak mau membuat kalian khawatir."
"Masuk dan beritahu Jeje kalau kau baik - baik saja."
Pinta Kenzo, dia ikut masuk menyusul Jeje.
"Aku tau semua ini berat untuk kakak,,," Jeje langsung bersuara begitu Nicho duduk.
"Aku harap,,,
"Je,," Potong Nicho cepat.
"Kakak tidak selemah yang kamu pikirkan, jadi jangan mengkhawatirkan kakak."
"Kakak hanya butuh waktu untuk sendiri, kamu pasti bisa mengerti itu."
Jeje hanya mengangguk. Dia sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh kakaknya saat ini.
Nicho jauh lebih tenang dan bisa mengontrol dirinya, tidak seperti dulu saat pertama kali di tinggalkan oleh Fely. Setidaknya Jeje bisa bernapas lega setelah mengetahui kondisi Nicho yang memang terlihat baik - baik saja. Jeje hanya bisa berharap Nicho bila memulai kembali hidupnya dan menemukan kembali cintanya.
"Aku hanya khawatir saja kak. Syukurlah kalau kakak baik - baik saja, aku jadi lebih tenang sekarang."
Nicho hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Kalian sudah makan.?" Tanya Nicho. Jeje langsung menggeleng cepat.
"Ada spageti di dapur, makan saja."
"Spageti.? Sejak kapan kakak suka spageti.?" Tanya Jeje heran.
"Kalau kakak suka, nggak mungkin kakak tawarin ke kamu." Jawab Nicho cepat.
"Habiskan saja, ajak juga laki - laki menyebalkan itu ke dapur.!" Ketus Nicho.
"Kau.!!" Kenzo melotot tajam.
"Kak Nicho jangan seperti itu.! Ini suami adikmu,," Rajuk Jeje sembari memeluk lengan Kenzo.
"Ya terserah kamu saja.!"
"Makan dulu sebelum kamu pulang. Kamu sedang hamil, jangan sampai telat makan." Nicho beranjak dari duduknya.
"Ada buah dan susu di kulkas kalau mau,,," Tambahnya lagi, kemudian pergi ke kamarnya.
"Pulang saja, kita bisa makan di luar." Kenzo sedang membujuk Jeje agar istrinya itu mau segera pulang dari apartemen Nicho. Kenzo tau kalau Nicho masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Kedatangan mereka hanya akan mengganggu Nicho dan mungkin saja membuatnya kembali mengingat Fely.
"Tanggung by, kita makan dulu saja." Jeje berdiri dan menarik tangan Kenzo.
"Aku juga ingin makan spageti."
Meski terlihat keberatan dengan permintaan Jeje, namun Kenzo menurutinya dan mengikuti langkah Jeje yang membawanya ke dapur.
"Aneh sekali,," Gumam Jeje sembari menatap sepiring spategi dengan porsi yang cukup banyak. Dia merasa heran, entah kenapa ada spageti di apartemen sang kakak. Padahal kakaknya itu tidak suka spageti, lalu untuk apa dia membeli spategi.
"Aneh kenapa.?" Kenzo datang dengan membawa 2 piring kosong. Dia duduk dan meletakan piring itu di depannya dan di depan Jeje.
"Kak Nicho tidak suka spageti, kenapa harus membelinya.?" Jeje bertanya - tanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa repot - repot memikirkan hal yang tidak penting seperti itu. Sudah makan saja dan pulang ke apartemen kita." Sela Kenzo cepat. Dia menyendokan spategi ke piring Jeje.
Jeje mendengus kesal, dia sudah paham dengan isi kepala Kenzo.
Jeje dan Kenzo baru saja selesai makan. Nicho menghampiri keduanya dengan pakaian yang sudah rapi. Dia membuka kulkas dan meneguk minuman kaleng.
"Kakak mau kemana.?"
"harusnya kemarin kakak sudah membuka cafe tapi harus tertunda."
"Sekarang harus kesana untuk mengecek lagi sebelum dibuka besok." Tuturnya dan ikut bergabung di meja makan.
Jeje diam sesaat.
"Kakak tidak ada rencana untuk kembali ke rumah.?" Tanya Jeje hati - hati. Dia pikir tidak ada alasan lagi bagi Nicho untuk meninggalkan rumah, karna wanita yang membuat Nicho pergi dari rumah sudah tidak bisa lagi di perjuangkan.
"Nanti kakak pikirkan."
"Saat ini ingin fokus mengembangkan usaha lebih dulu." Jelasnya. Jeje mengangguk, dia tidak akan memaksa Nicho untuk kembali ke rumah. Kakaknya itu sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri.
"Kita pulang Nich.!" Pamit Kenzo sembari beranjak dari duduknya. Dia juga menepuk pelan pundak Nicho.
"Aku pulang dulu kak, makasih spagetinya yang super duper enak." Ujar Jeje sembari tersenyum lebar. Nicho mengulas senyum tipis dan mengangguk pelan.
...*****...
Kok belum vote.? Lupa yah.? 😅
Canda lupa ✌