
"Hubby ayo buruan ih,,," Jeje menarik selimut yang menutupi tubuh polos Kenzo. Di tarik hingga sebatas pinggang, kemudian tidak berani menariknya lagi.
"Hemm,,," Kenzo hanya berdehem tanpa membuka matanya, bahkan tidak terganggu sedikitpun meski Jeje sudah menarik selimutnya. Laki - laki itu terlalu bersemangat, kembali bergulat selesai sarapan dan terlelap sampai saat ini sudah hampir pukul 11 siang.
Rencana untuk datang ke rumah orang tua Jeje terpaksa harus di undur. Harusnya mereka berangkat setelah sarapan, tapi Kenzo malah kembali menyeretnya ke dalam kamar dan meminta imbalan yang kedua.
"Ya ampun By,,, mau tidur sampai kapan.? Ini sudah jam 11 siang. Papa sama mama juga sudah menelfon sejak tadi." Keluh Jeje. Dia duduk disisi ranjang dengan wajah yang berhadapan dengan Kenzo.
Jeje menghela nafas kesal. Suaminya itu kembali terlelap dan dipastikan tidak mendengarkan ucapannya tadi. Sepertinya dia harus menggunakan cara lain untuk membangunkan Kenzo agar suaminya itu langsung membuka mata.
Jeje mendekatkan wajahnya dengan senyum jahil yang mulai mengembang. Suaminya itu memang harus di bangunkan dengan cara seperti ini.
"Hubby,, aku mau main lagi,,," Bisik Jeje dengan suara yang dibuat setengah mendesah, tangannya juga meraba bagian dada bidang Kenzo yang terbuka.
Benar saja, Kenzo langsung membuka matanya saat itu juga. Sementara itu Jeje langsung berdiri agar Kenzo tidak bisa mencegahnya pergi.
"Dengan senang hati,,," Ujar Kenzo. Dia bangun dan hendak menarik tangan Jeje, namun wanita itu langsung menghindar dan menertawakannya.
"Hahaha,,, aku hanya bercanda by." Akunya, kemudian menjulurkan lidah untuk mengejek Kenzo.
"Kau.! Berani sekali menipuku.!" Kenzo turun dari ranjang untuk menangkap Jeje.
"Kamu harus tanggung jawab.!"
Mata Jeje membulat sempurna melihat tubuh telanjang Kenzo. Bagian intinya sudah on sempurna. Ternyata dia membangunkan suami beserta alat tempurnya.
"Hahaha ampun by,,," Jeje langsung berlari keluar
"Cepat mandi, 15 menit lagi aku mau ke rumah Papa. Kalau belum selesai juga, aku akan berangkat sendiri.!" Ancam Jeje sembari menutup pintu kamar.
Kenzo yang akan membuka pintu kamar, langsung mengurungkan niatnya dan bergegas ke kamar mandi.
"Aku menikahi anak kecil,,," Gumamnya dengan gelengan kepala. Kenzo tersenyum gemas membayangkan tingkah Jeje yang selalu membuatnya senyum - senyum sendiri.
Kenzo keluar kamar tepat waktu. Laki - laki yang sudah berumur 30 tahun itu terlihat sangat muda memakai setelan celana jeans hitam yang dipadukan dengan kaos polos berwana putih.
Dia menghampiri Jeje yang sejak tadi menunggunya di ruang keluarga.
"Ayo,,," Anaknya dengan suara datar. Dia berdiri tak jauh dari hadapan Jeje. Seulas senyum mengembang di bibir Jeje begitu melihat Kenzo. Dia menatapnya dari ujung kaki sampai kepala.
Laki - laki di hadapannya itu sudah membuatnya jatuh hati sejak pertama kali bertemu. Membuatnya merasa tertarik untuk pertama kalinya terhadap lawan jenis.
Bagaimana tidak, sosok Kenzo terlalu sempurna jika dinilai dari fisiknya. Selain wajah dan tubuhnya yang sempurna, tatapan matanya mampu memberikan ketenangan. Wajahnya sangat teduh, sejuk untuk di pandang.
"Kenapa.? Suamimu semakin tampan.?" Tegur Kenzo yang menyadari Jeje sedang mengaguminya. Terlihat jelas dari sorot matanya yang berbinar.
Jeje menyengir kuda, kemudian menganggukkan kepalanya. Jeje terang - terangan mengakuinya.
Dia berdiri dan memeluk Kenzo seperti anak kecil yang sedang memeluk ayahnya.
Kebahagiaan tidak akan lari darinya selama Kenzo ada disisinya.
...*****...
"Mah,,, Pah,,,,!!" Teriak Jeje. Dia masuk kedalam rumah dengan berjalan cepat. Kenzo hanya menggelengkan kepalanya, mengikuti langkah Jeje berada cukup jauh di depannya.
Istrinya itu tidak sabaran untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia lebih dulu keluar dari mobil saat Kenzo memarkirkan mobil, dan meninggalkan Kenzo begitu saja.
"Ibu sama Bapak sedang makan siang non,," Ujar ART yang langsung menghampiri Jeje. Jeje tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, kemudian bergegas ke ruang makan.
"Siang Mah, Pah,," Sapaan Jeje membuat suasana yang hening menjadi ramai. Mereka langsung menoleh dan tersenyum begitu melihat anaknya.
"Sayang,,, kenapa baru datang,,," Mama Rissa merentangkan kedua tangannya, Jeje mendekat dan menghambur kepelukan mama Rissa.
"Kak Kenzo ada urusan mendadak tadi pagi, jadi baru sempat kesini." Ujar Jeje beralasan. Tidak mungkin kalau dia berkata jujur pada mama Rissa kalau tadi pagi Kenzo menyeret dan mengurungnya di kamar untuk bergulat.
"Sekarang dimana dia.?" Tanya Papa Alex. Jeje melepaskan pelukannya kemudian beralih memeluk Papa Alex.
"Uughh,,, my dad,," Ujar Jeje dengan kekehan kecil.
"Itu dia,,," Jeje menunjuk Kenzo yang baru saja sampai disana.
"Siang Mah, Pah,," Sapanya ramah sembari membungkukan badan.
"Duduk Ken.! Apa kabar kamu.?"
"Bagaimana perkembangan bisnis barunya.?" Tanya Papa Alex. Jeje langsung cemberut mendengarnya.
Dia duduk di seberang kedua orang tuanya dengan sedikit menghentikan kaki.
"Kenapa cuma kak Kenzo yang di tanya,," Protesnya.
"Apa Papa tidak mau tau kabarku.?" Ujar Jeje dengan wajah yang semakin cemberut.
Papa Alex dan Mama Rissa terkekeh dengan tingkah anaknya.
"Papa sudah lihat kalau kamu baik - baik saja, jadi tidak perlu di tanya. Kenapa harus cemburu dengan suamimu sendiri.?" Goda Papa Alex.
Mama Rissa langsung menegur Papa Alex.
Sementara itu Kenzo mengacak gemas pucuk kepala Jeje, kemudian ikut duduk di sampingnya.
"Semuanya baik dan berjalan lancar."
"Untuk proyek baru dengan Nicho masih belum di bicarakan lagi, sepertinya harus di tunda sampai tahun depan." Jelas Kenzo. Mengingat hubungan Papa Alex yang kembali renggang, juga keadaan Nicho yang tidak memungkinkan untuk menjalankan bisnis keluarganya.
"Jalankan saja sesuai rencana awal, Papa akan membicarakannya dengan Nicho nanti." Kenzo hanya mengangguk patuh.
"Ayo makan,,," Seru mama Rissa pada Jeje dan Kenzo. Jeje mengangguk cepat dan langsung mengambilkan makanan untuk Kenzo.
Mereka melanjutkan makan siang tanpa bersuara. Sedangkan mama Rissa terus memperhatikan Jeje yang terlihat lebih berisi. Jeje juga makan dengan lahap. Tidak biasanya mama Rissa melihat cara makan Jeje yang cepat.
Selesai makan, mereka tidak langsung beranjak dari sana. Obrolan ringan kembali terjadi.
Sesekali Jeje menyenggol kami Kenzo, meminta suaminya untuk memberitahukan kehamilannya.
Untuk ke tiga kalinya, akhirnya Kenzo memberikan anggukan kecil.
"Sebenarnya ada hal yang ingin kita sampaikan,," Ujar Kenzo tegas, wajahnya juga berubah serius.
Mama Rissa semakin yakin dengan kecurigaannya.
"Ada apa.?" Tanya Papa Alex penasaran. Dia justru takut ada sesuatu yang mungkin saja terjadi pada hubungan Kenzo dan Jeje.
"Jeje sedang hamil, usia kandungannya sudah 2 bulan." Tutur Kenzo tanpa ragu. Wajahnya bahkan tidak menunjukan ketakutan sedikitpun. Tentu saja, karna Kenzo tidak merasa melakukan kesalahan. Dia menghamili Jeje setelah mereka menikah, jadi tidak ada yang perlu di permasalahkan.
Berbeda dengan Jeje yang sudah memucat. Dia menggenggam tangan Kenzo di bawah meja makan. Wanita itu takut jika kedua orang tuanya memarahi Kenzo.
"Apa.?!!" Pekik Papa Alex dan Mama Rissa bersamaan. Ekspresi wajah mereka antara kaget, senang dan marah.
"Jangan salahkan kak Kenzo Pah, Mah,,," Pinta Jeje memohon. Dia tidak tega jika suaminya harus menerima kemarahan orang tuanya.
"Ken.!!" Seru Papa Alex dengan membentak.
"Papa kecewa sama kamu.!! Bukannya sejak awal kami sudah memperingatkan kamu untuk menunda kehamilan.! Jeje masih terlalu muda untuk hamil dan melahitkan, dia juga baru masuk kuliah.! Lalu bagaimana dengan kuliahnya.?!"
Ujarnya panjang lebar.
"Kenapa kamu tidak berpikir sejauh itu.?!"
Kenzo menarik nafas dalam.
"Jeje bisa melanjutkan lagi kuliahnya setelah melahirkan nanti, dan tidak ada masalah dengan usia Jeje untuk hamil."
"Apa susahnya untuk menunda beberapa tahun lagi.?!"
"Pah,,, Jeje mohon jangan salahkan kak Kenzo. Jeje tidak keberatan untuk berhenti kuliah saat ini, dan tidak ada masalah dengan kehamilan Jeje pah, semuanya baik - baik saja." Jeje memasang badan untuk membela suaminya.
"Tetap saja pada khawatir.! Papa benar - benar kecewa.!"
"Kamu.!" Papa Alex menunjuk Kenzo.
"Sebagai hukuman karna sudah melanggar perintah kami, mulai malam ini sampai 2 minggu kedapan kamu tidak boleh menemui Jeje. Dia akan tinggal disini dan kamu tetap di apartment.!" Ujar Papa Alex tegas. Kenzo langsung terdiam. Sedangkan Jeje terlihat syok.
"Apa.?!" Seru Jeje.
"Tapi Pah,,,,
"Tidak ada tapi - tapian, itu hukuman untuk suamimu.!" Papa Alex beranjak dari duduknya.
"Ayo mah.!" Dia menarik tangan Mama Rissa agar ikut pergi dengannya.
"Mah,,,," Ujar Jeje merengek.
Mama Rissa memberikan kode dengan anggukan kepala dan seulas senyum. Jeje langsung tersenyum lebar.
"Pah, jangan keterlaluan seperti itu. Apa Papa tidak senang akan memiliki cucu.?" Tanya mama Rissa begitu sampai di lantai 2.
"Yes.!!! Akhirnya Papa akan punya cucu. Papa akan punya cucu mah,,," Seru Papa Alex sembari memeluk erat mama Rissa.
Mama Rissa langsung syok mendengarnya.
"Papa ini bagaimana.?" Mama Rissa mendorong Papa Alex.
"Sekarang malah senang karna akan punya cucu, tapi kenapa tadi memarahi Kenzo dan sampai memberikan hukuman.?" Tanyanya bingung.
Papa Alex tertawa.
"Biarkan saja, anak itu harus diberi pelajaran." Ujarnya dengan senyum jahil. Mama Rissa hanya melongo.
...******...
Jangan lupa mampir ke Nicholas dan vote di sana yah. ☺