My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 67. Penawar Rindu



Warning, hareudang.!!


Sudah 1 minggu ini aku mulai masuk kuliah. Ternyata sesuai dengan ekspektasi ku. Kuliah itu sangat menyenangkan karna jamnya lebih fleksibel.


Juga banyak teman baru dari berbagai kalangan dan daerah di kelasku. Kesan pertama sangat bagus. Kami membaur dengan cepat.


Aku bahkan sudah mendapatkan teman yang menurutku paling asik dan seru, sama seperti Natasha dan Celina.


"Mau pulang bareng nggak Je,,?" Tawar Karin sembari menepuk pundakku. Dia membuatku tersadar dari lamunan.


"Tapi pake angkutan umum,,," Sambung nya lagi lalu terkekeh.


Sejak hari pertama masuk kuliah, aku memang berangkat di antar oleh supir. Aku belum berani berangkat kuliah dengan membawa kendaraan pribadi. Selain karna aku mahasiswa baru, aku juga Menghindari hal - hal yang tidak di inginkan.


Terlebih hal yang bisa memancing senior semakin tidak suka padaku.


Entah kenapa senior perempuan banyak yang menatap tidak suka padaku. Terlebih saat beberapa senior laki - laki mencoba untuk meminta nomor ponselku.


Aku dibilang kegatelan, ganjen, cari muka, dan masih banyak lagi.


"Aku di jemput Rin." Ujarku malu - malu. Aku bahkan tersenyum karna terlalu senang akan di jemput oleh om Kenzo.


"Atau kamu mau sekalian pulang bareng aku.?"


"Cieee,,, di jemput sama siapa tuh.? Sampe merah gitu mukanya,," Ledeknya.


"Pasti di jemput bebeb yah,,," Ujarnya lagi.


"Apa sih Rin,, rese banget kamu tuh." Aku mencubit pelan lengannya.


Entah kenapa aku sangat deg - degan karna akan bertemu dengan om Kenzo. Sudah hampir 1 bulan aku tidak bertemu dengannya. Om Kenzo tidak bisa menemuiku karna dia bilang sedang sibuk dan banyak pekerjaan.


"Habisnya kamu itu lucu banget. Mau di jemput pacar sendiri tapi malu - malu begitu. Kayak baru jadian aja,," Ujarnya panjang lebar.


"Nggak juga sih. tapi nggak tau kenapa bisa semalu ini. Mungkin karna udah lama nggak ketemu,,"


"Ayo keluar,,," Aku berdiri dan menggandeng Karin agar ikut denganku.


"Aku pulang sendiri aja Je. Nggak enak sama pacar kamu." Tolak nya.


"Udah sih, tinggal ikut aja. Lagian rumah kita kan searah,,,"


"Nggak usah nolak, atau kita nggak temenan lagi.!"


Ketusku.


"Kamu itu paling bisa ya kalau ngancem. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang mau temenan sama orang miskin kaya aku,,," Karin merendah, tapi dia masih sempat tertawa.


"Nggak ada yang tau nasib kamu beberapa tahun kedepan, nggak usah merendah hanya karna materi.


Kamu tau, nggak semua orang yang memiliki materi, bisa merasakan kebahagiaan seperti kamu yang memiliki keluarga saling menyayangi,,"


Karin terlihat diam, dia hampir bertanya padaku, namun aku langsung menariknya karna mobil om Kenzo sudah terparkir di depan kampus.


Aku langsung menghampiri mobil om Kenzo.


"Ya ampun Je, itu mobilnya terlalu mewah. Bisa kotor kalo aku ikut naik,," Ujarnya cemas.


"Santai aja Rin,,"


Aku langsung mendekat pada kaca jendela yang sudah diturunkan.


Wajah tampan om Kenzo menyambut ku dengan senyum yang begitu menawan, membuat bebaran jantungku semakin kencang. Om Kenzo menjadi penawar rindu untukku. Rindu yang sudah menggebu karna lama tidak bertemu, kini sedikit terobati dengan melihat wajah dan senyumnya.


"Haii om,," Sapaku.


"Aku bawa teman, boleh ikut sekalian kan om.? Rumahnya searah kok,,,"


Om Kenzo mengangguk.


"Boleh, suruh masuk aja,,"


Aku kembali menghampiri Karin.


"Ayo masuk Rin,,," Ujarku sembari membuka pintu belakang.


"Kamu serius Je.?"


"Kapan aku bercanda." Ucapku menirukan gaya bicara om Kenzo.


"Ayo buruan,," Aku mendorongnya untuk masuk, lalu ikut duduk disebelahnya.


"Aku bukan supir taksi Je, kenapa kamu juga duduk di belakang,," Tergurnya, om Kenzo menatapku dari kaca spion.


"Nemenin Karin om. Nanti aku pindah ke depan kalo Karin udah turun. Boleh ya,,,?" Aku masang wajah imut agar om Kenzo bisa melihatku lewat spion.


Hanya suara deheman yang keluar dari mulutnya, kemudian langsung melajukan mobil. Tak lupa aku memberi tau alamat Karin.


"Pacar kamu nggak jadi jemput.? Kok malah om kamu yang dateng,," bisik Karin padaku.


Aku tersenyum kikuk padanya.


"Aku memang memanggilnya om karna usia kita terpaut 12 tahun. Bukannya cocok kalau panggil om,," Aku menyengir kuda. Karin hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Tapi nggak gitu juga dong Je. Masa manggilnya om, nggak romantis banget."


"Yang penting orangnya romantis,,," Bisikku.


Aku dan Karin langsung terkekeh.


...**...


"Makasih Je,,," Ujar Karin setelah turun dari mobil.


Kami hanya berhenti di depan gang, karna jalan menuju rumah Karin tidak bisa dilalui mobil.


"Sama - sama. Sampai jumpa besok,,,"


Aku melambaikan tangan sebelum om Kenzo kembali melajukan mobilnya.


Saat ini aku sudah duduk di sebelah om Kenzo.


"Gimana kuliah kamu.? Apa ada masalah.?"


"Nggak ada om,, semuanya lancar." Sahutku.


Om Kenzo hanya tersenyum.


Aku menatap lekat wajahnya, ada sesuatu yang berbeda dari om Kenzo.


Senyumnya, entah kenapa senyumnya tidak terlihat sebahagia saat terakhir kali kami bertemu.


Apa ada masalah di perusahaannya.? Atau om Kenzo punya masalah lain.?


"Minggu ini kamu ada acara.?"


Om Kenzo melirikku sekilas, lalu kembali fokus menyetir.


Apa mungkin om Kenzo akan mengajakku liburan lagi.? Ah,,, tidak sabar rasanya menghabiskan waktu bersamanya. Setelah hampir 1 bulan dia tidak menemuiku, mungkin om Kenzo akan menggantinya dengan menghabiskan waktu berdua.


"Nggak ada om,, emang kenapa.?"


"Felicia akan ke Singapura untuk menjenguk mama. Kamu mau ikut.? Bukannya kamu pernah bilang ingin ikut,,?" Jelasnya. Om Kenzo menatapku lebih lama.


Aku senang mendengarnya, akhirnya setelah sekian lama aku bisa diberi kesempatan untuk bertemu dengan ibu Grace lagi. Rasanya rindu sekali dengan perhatian dan kasih sayangnya dulu.


"Om serius.? Aku boleh ikut,,,?" Tanyaku dengan mata yang berbinar.


"Tentu saja. Sekalian temani Fely karna aku nggak bisa ikut."


"Minggu pagi jam 8 dia akan jemput kamu,,"


Aku pikir kami akan pergi bersama. Ternyata hanya aku dan kak Fely saja. Apa om Kenzo sangat sibuk.? Dia sampai tidak punya banyak waktu untukku. Biasanya sesibuk apapun dia, masih bisa menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. Kecuali kalau dia pergi ke luar negeri.


"Apa om Ken masih sibuk.?" Tanyaku hati - hati. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku. Entah kenapa aku sangat merindukannya dan ingin lebih lama menghabiskan waktu dengannya.


Ternyata menahan rindu sangat berat dan sakit.


Sepertinya om Kenzo bisa memahami kesedihanku, dia meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Aku janji setelah ini akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama."


Tatapan mata om Kenzo membuatku yakin. Dan ucapannya berhasil membuatku jauh lebih baik.


Aku mengangguk dan berusaha memberikan senyum terbaikku.


Om Kenzo memang paling bisa membuatku tenang.


Sampainya si apartemen, aku dan om Kenzo duduk di ruang TV.


Di langsung bersandar pada sofa, lalu memejamkan mata.


Sepertinya banyak pekerjaan membuat om Kenzo terlihat begitu stres dan kelelahan.


Aku beranjak ke dapur untuk mengambil minuman.


Begitu kembali, om Kenzo sudah melepaskan jas dan sepatunya.


Aku tersenyum saat dia melihatku. Debaran jantung ini masih sama, selalu berdetak kencang jika bertatap mata.


"Minum dulu om,,," Satu kaleng minuman dingin ku berikan padanya.


Aku kembali duduk disebalah om Kenzo, setelah dia menerima minuman dari tanganku.


Om Kenzo meneguk habis minuman di tangannya, kemudian beralih menatapku. Tatapan dalam penuh cinta, membuat wajahku bersemu merah.


Aku tidak pernah menyangka akan mendapat balasan cinta yang begitu besar darinya. Aku pikir, hanya aku saja yang mencintainya dan suatu saat akan terluka karna cinta ini bertepuk sebelah tangan. Namun takdir berpihak padaku. Aku mendapatkan cinta dan kasih sayang dari laki - laki yang begitu ku damba.


Laki - laki yang mampu mengubah hidupku. Laki - laki yang memberikanku berjuta kebahagiaan.


Dia berhasil mengambil hati ku, berhasil mengambil perhatian ku dan menyita pikiranku untuk terus memikirkan tentangnya. Aku jatuh cinta, jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku.


Aku berharap kebahagiaan ini tak akan pernah berakhir.


"Aku mencintaimu,,," Ucapnya lembut dengan tatapan yang dalam. Aku membisu dibuatnya.


Terlebih om Kenzo semakin mendekatkan wajahnya. Mengulurkan sebelah tangannya dan menempelkannya di pipiku. Telapak tangannya terasa begitu hangat, bergerak kebelakang hingga berhenti di tengkukku.


Mataku reflek terpejam saat bibir hangatnya menempel pada bibirku. Aku membuka mulut dengan perlahan, memberikan ruang untuknya agar bebas memagut bibirku.


Semakin lama, ciumannya semakin panas dan menuntut lebih. Aku mulai mengeluarkan desahan tertahan, saat kedua tangan om Kenzo semakin bergerak liar menjelajahi kedua bukitku.


Kemeja lengan pendek yang aku kenakan, perlahan mulai terbuka. Om Kenzo membuka satu persatu kancing kemejaku.


Tubuhku semakin panas, aku pun menuntut lebih.


Aku membalas ciuman om Kenzo dengan rakus, meluapkan kerinduan yang hampir 1 bulan ini aku pendam.


Tidak mau hanya aku saja yang hampir t*lanj*ng, aku pun membuka kancing kemeja om Kenzo hingga terlepas seluruhnya.


Ku cengkraman kuat punggung om Kenzo, menahan kenikmatan yang terus menjalar akibat hisap*n di aset kembarku.


"Eummm,,, om,,," Desahku tertahan.


"Jangan di tahan sayang,,," Bisiknya. Aku semakin kehilangan akal sehat mendapat panggilan sayang yang terdengar seksi di teligaku.


Aku bangkit dan merubah posisi dengan duduk dipangkuannya.


"Di kamar saja,," Bisiknya lagi. Om Kenzo berdiri dengan menahan tubuhku yang bergelayut pada lehernya.


Badanku panas dingin dibuatnya. Aku begitu candu dengan cumbuannya.


...****...


Yang belum vote, jangan lupa vote dulu.


Cara vote ada di bab 65.


Gratis kok nggak bayar🄰 nggak pake poin juga.


Dari 4400 pembaca, boleh lah 1000 orang vote di novel ini🤣 (halu aja dulu)


Makasih dan happy reading,,,