My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
88. Season2



Karin setengah berlari menuju ruang tamu. Sudah lebih dari 10 menit yang lalu dia mendengar bunyi bel yang tak kunjung berhenti. Juga ponselnya yang terus berdering. Dia sampai harus buru - buru mengakhiri kegiatannya di kamar mandi, bahkan memakai baju dengan gerakan super kilat. Rambut basahnya juga masih terurai berantakan karna tidak punya waktu lagi untuk menyisirnya. Semakin lama dia tidak membukakan pintu, maka singa di depan sana akan mengamuk padanya.


"Kenapa lama sekali.?!" Suara geraman Reynald hanya membuat Karin menghela nafas.


Sebelum menjawab Reynald sudah masuk begitu saja dan perjalan cepat menuju dapur. Karin menutup pintu dengan wajah lesu sekaligus kesal, dia menyusul Reynald dengan langkah cepat agar si singa tadi tidak semakin mengamuk.


"Sudah lebih dari 10 menit baru di bukain pintu.!" Lagi - lagi Reynald kembali menggerutu. Sepertinya laki - laki itu tidak suka dibuat menunggu, atau mungkin tidak pernah menunggu hingga membuatnya emosi hanya karna menunggu selama 10 menit.


"Maaf, aku sedang mandi tadi. Rambutku saja bahkan seperti ini,,," Karin mencoba merapikan rambutnya yang entah seperti apa bentuknya.


Kedua manik mata Reynald terlihat melirik ke arahnya, kemudian terdengar helaan nafas berat dari mulutnya. Dia meletakan 2 paper bag coklat di atas meja makan.


"Keringin dulu rambutnya,,,!" Suara perintah yang terdengar datar itu langsung membuat Karin beranjak dari dapur dan segera pergi ke kamar.


"Dasar menyebalkan.!" Seru Karin sewot. Siapa yang tidak kesal karna langsung mendapat omelan begitu membuka pintu. Harusnya laki - laki itu bertanya lebih dulu apa yang dia lakukan hingga membuatnya lama membukakan pintu. Bukan langsung memarahinya begitu saja.


"Tadi pagi lembut dan manis, sekarang marah - marah.!! Benar - benar mirip singa.!!" Karin menggerutu di depan cermin sembari mengeringkan rambutnya.


"Siapa yang mirip singa.?"


Karin langsung menoleh begitu mendengar suara Reynald. Dia tersenyum kikuk pada suaminya yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.


"Aku baru saja menonton drama, tokoh prianya selalu marah - marah, mirip seperti singa,,," Sahut Karin beralasan. Dia kembali fokus menghadap cermin untuk kembali mengeringkan rambutnya.


"Benarkah.?" Tanya Reynald.


Karin melihat Reynald menarik sudut bibirnya. Senyum smirk yang terlihat menawan dan membuatnya semakin manis.


"Berikan padaku,,," Reynald menyambar hairdryer dari tangan Karin.


"Tidak usah kak, biar aku saja,,," Karin tidak bisa merebut hairdryer itu dari tangan Reynald karna langsung di tepis olehnya.


"Diam dan jangan banyak protes.!" Pintanya tegas. Karin mencebikan bibirnya. Melirik malas wajah Reynald dari pantulan cermin. Memang hal ini termasuk perlakuan romantis seorang suami terhadap istri, tapi kalau caranya ketus seperti itu, rasanya sangat jauh dari kata romantis.


"Kamu ngapain aja dari pagi,,?" Suara datar Reynald membuat karin kembali menatapnya. Laki - laki itu terlihat sangat serius mengeringkan rambut panjangnya.


"Menurut kakak apa yang bisa aku lakukan.?" Karin bertanya balik dengan nada bicara yang terkesan menyindir.


Reynald menyeringai. Dia sempat menatap sekilas wajah Karin yang terlihat cemberut.


"Tidak ada, karna aku melarangmu untuk tidak melakukan apapun,,," Sahut Reynald enteng. Dia terlihat puas setelah menjawabnya, karna wajah Karin semakin cemberut.


"Kalau sudah tau, kenapa harus bertanya.!" Suara Karin terdengar meninggi. Sepertinya kesabarannya dalam menghadapi sikap Reynald yang menyebalkan itu sudah sampai di ubun - ubun.


"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak melakukan apapun,," Kilahnya.


"Lalu kenapa mandi siang - siang begini.?" Tanyanya lagi. Reynald mematikan hairdryer, meletakan nya di atas meja kemudian mengambil sisir.


"Aku menonton tv dan drama seharian, lama - lama mengantuk dan tertidur di sofa. Begitu bangun sudah banjir keringat,," Karin menjelaskannya dengan wajah yang terlihat kesal. Dia lupa menurunkan suhu ruangan diruang keluarga hingga membuatnya kepanasan.


"Selesai,," Reynald meletakan sisir. Dia sudah merapikan rambut panjang Karin.


"Ayo makan,,," Ajaknya sembari beranjak dari sana. Dia sama sekali tidak menunggu Karin, jalan begitu saja keluar dari kamar.


Karin bergegas menyusulnya.


"Kenapa banyak sekali.?" Karin hanya bisa bengong menatap beberapa menu makanan dan dessert serta minuman yang tertata rapi di meja makan sesuai dengan jenisnya.


Ada 4 jenis jus buah dalam 4 botol sedang. Ada salad buah, salad sayur, cake, coklat, juga makanan berat yang pastinya banyak dan menyehatkan.


Reynald membeli makanan sebanyak itu hanya untuk mereka berdua.


"Kamu bisa memakannya nanti kalau aku kembali ke kantor, bukan untuk di habiskan saat ini juga." Jelas Reynald.


"Simpan saja beberapa makanan yang tidak ingin kamu makan sekarang,,,"


Karin mengangguk patuh, dia menyimpan 2 botol jus dan beberapa dessert.


Keduanya mulai menyantap makan siang dengan tenang.


"Hari ini aku pulang jam 8, ada tugas mendadak yang harus di selesaikan,,," Tutur Reynald dengan wajah datarnya. Sebenarnya dia sedikit kesal pada Kenzo yang memberinya perintah untuk mengalihkan sebagian asetnya atas nama Jeje.


Bukan kesal karna perintahnya, tapi kesal karna Kenzo tidak memberinya banyak waktu untuk mengerjakan semua itu.


...*****...


Kenzo tersenyum lebar menyambut kedatangan Jeje. Dia beranjak dari kursi kerjanya dan langsung menghampiri sang istri.


"Bagaimana keadaan kamu dan anak kita.?" Kenzo memeluk Jeje sekilas, mendaratkan kecupan di keningnya lalu beralih pada perut Jeje.


"Baik - baik di dalam sayang,," Bisik Kenzo lalu mengecup perut Jeje beberapa kali.


"Oke daddy,,," Sahut Jeje dengan suara yang dibuat seperti anak kecil. Kenzo terkekeh dan mencubit gemas hidung Jeje.


"Kamu bawa apa.?" Kenzo mengambil launch box dari tangan Jeje.


"Semua makanan kesukaan hubby,," Jawab Jeje dengan senyum lebar.


"Tapi bukan aku yang masak,," Lanjutnya dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Tidak apa, lagipula aku tidak menyuruhmu untuk memasak."


"Kita makan sekarang,,," Kenzo menggandeng Jeje ke sofa.


Keduanya makan siang di dalam ruangan kerja Kenzo. Keceriaan Jeje membuat suasana menjadi ramai penuh tawa meski hanya berdua.


"Kita fitting baju besok, sama mama juga,," Ujar Kenzo memberitahu. Jeje meletakan minuman di tangannya, dadanya sudah mulai merasa sakit.


"Pernikahan kak Fely benar - benar akan terjadi.?" Tanya Jeje dengan perasaan yang kacau karna membayangkan keadaan kakaknya nanti yang akan semakin terpuruk jika tau Fely menikah.


"Mereka sudah melakukannya Je, Nathan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Suara Kenzo terdengar meninggi. Dia merasa geram setiap kali membahas tentang hal ini. Merasa kasihan pada adiknya yang harus mengalami hal buruk itu.


"Tapi by, belum tentu kak Fely akan mengandung anaknya kan. Jadi kenapa harus di percepat seperti ini."


Kenzo terlihat tidak suka dengan pemikiran Jeje.


"Jadi maksud kamu kita harus menikahkan mereka setalah Fely positif hamil.?" Pertanyaan Kenzo mampu membuat Jeje terdiam.


"Itu bukan hal baik sayang,," Ujarnya lembut.


"Kalaupun nantinya Fely tidak hamil, laki - laki itu harus tetap menikahi Fely."


Jeje hanya menarik nafas dalam. Keputusan Kenzo memang tidak akan bisa di ubah.


"Sudah, tidak perlu mencemaskan hal itu. Fely ataupun Nicho, keduanya akan bahagia dengan jalan hidup masing - masing." Kenzo berusaha menenangkan Jeje.


Keduanya memilih untuk mengalihkan pembicaraan dan tidak lagi membahas tentang hubungan yang rumit itu.


"Kamu disini saja ya, temani aku kerja." Pinta Kenzo.


Tangannya terus berada di atas perut Jeje dan mengusapnya perlahan.


"Memangnya hubby pulang jam berapa.?"


"Aku bisa pulang kapan pun,,," Sahut Kenzo dengan seulas senyum. Jeje mencubit pinggangnya.


"Mentang - mentang CEO, pulang seenaknya,,," Balas Jeje cepat. Kenzo semakin terkekeh.


"Kita ke meja ku, aku harus menyelesaikan pekerjaan,,," Kenzo beranjak sambil menggandeng tangan Jeje.


"Aku tunggu di sini saja by, biar tidak mengganggu,,," Tolak Jeje.


"Justru kamu akan mengganggu kalau duduk disini, aku tidak bisa konsentrasi karna terus melirikmu,,"


"Ayo,,," Kenzo menarik paksa tangan Jeje. Dia ke meja kerjanya dan langsung duduk di kursinya.


"Duduk disini,,," Pinta Kenzo. Dia menepuk pahanya. Jeje terlihat akan protes, namun Kenzo langsung menarik Jeje dan membawanya duduk di pangkuan.


"Jangan menolak permintaan suami,," Ujarnya lembut.


"Hubby akan terganggu kalau aku seperti ini,,," Jeje terpaksa melingkarkan tangan di leher Kenzo agar tidak jatuh.


"Tidak, aku suka seperti ini,,," Kenzo membuka kembali laptopnya dan mulai menggerakan jarinya di keyboard.


Jeje hanya diam saja dalam pangkuan suaminya.


...*****...