
Aku terkejut melihat om Kenzo yang menyusul ku ke bandara. Entah tau darimana kalau aku ada disini. Kedatangan om Kenzo membuat mama akhirnya mengetahui hubungan kami. Terlebih om Kenzo secara terang - terangan mengakuinya di depan mama. Mengatakan jika hampir selama 5 bulan ini kami menjalin hubungan.
Mama terlihat kecewa saat mengetahui akan hal itu. Dia menatapku penuh selidik, mengatakan jika aku telah menjalin hubungan dengan laki - laki yang sudah memiliki calon istri. Aku tau kekecewaan dan kekhawatiran yang di rasakan oleh mama. Dia pasti tidak mau aku menjadi penyebab hancurnya hubungan orang lain. Seperti yang pernah di lakukan oleh ibu kandungku terhadap hubungan mama dan papa.
Rupanya curhatan mama yang mengatakan kalau dulu dia hampir bercerai dengan papa karna ambisi seseorang yang iri terhadap mama, seseorang itu tak lain adalah ibu kandungku.
Aku mendengar percakapan antara mama dan papa selepas kak Nicho memilih untuk kembali ke New York. Aku tidak sengaja saat papa mengatakan kalau anak kandung mama tidak bisa di andalkan.
Lalu papa bilang, sedangkan aku sangat penurut mesti tidak dilahirkan dari rahim mama.
Papa pun sempat mengaku menyesal karna dulu enggan menerima kehadiranku. Bahkan dia lebih sering mengabaikan ku sampai saat ini.
Pantas saja aku merasa perhatian yang diberikan mama dan papa terhadap kak Nicho, sangat berbeda dengan perhatian yang mereka berikan untukku. Seakan ada pembatas yang menghalangi perhatian mereka padaku.
Mendengar kenyataan itu, sudah pasti membuatku terluka. Namun aku enggan bertanya pada mereka bagaimana aku terlahir ke dunia ini. Jika memang papa tidak menginginkan kehadiranku, maka sudah bisa aku pastikan kalau ibu kandungku menggunakan cara yang salah sampai akhirnya aku terlahir ke dunia ini. Seperti apapun kisah masa lalu ku, aku tidak akan mempermasalahkannya. Lagipula saat ini sikap mama dan papa sudah jauh lebih baik padaku.
"Jeje nggak mau seperti ibu kandung Jeje yang sudah merusak kebahagiaan mama dan papa dulu,,," Suara ku tercekat, aku menahan tangis yang terasa sesak di dada.
"Sayang,, jadi kamu,,,," Mama terlihat kaget karna aku mengetahui tentang asal usul ku dan tau kalau aku bukan anak kandungnya.
"Jeje sudah tau semuanya mah." Ucapku lirih.
"Jeje mohon, suruh dia pergi mah. Jeje nggak mau merusak hubungan orang lain, lagi pula saat ini Jeje membencinya.!" Ucap ku tegas. Ku lirik om Kenzo dengan tatapan penuh kebencian.
"Jangan seperti ini Je, aku mohon dengarkan penjelasan ku dulu,,"
Lagi - lagi om Kenzo meraih tanganku, tidak ada yang bisa aku lakukan selain menepis tangannya. Aku sudah terlanjur kecewa dan sakit hati, entah kenapa tangan yang dulu terasa hangat dan memberikan gelayar luar biasa pada hatiku, kini tidak berasa apapun lagi.
"Nak Kenzo, tante mohon akhiri hubungan kalian. Jeje sudah mengambil keputusan yang tepat. Sebagai laki - laki, kamu tidak bisa membiarkan 2 wanita sekaligus berada dalam genggaman mu dan pada akhirnya hanya akan menyakiti keduanya."
"Kamu dengar sendiri apa yang Jeje katakan, dia tidak mau merusak hubungan kalian. Jadi jangan menahannya untuk pergi,,"
"Lagipula Jeje masih terlalu muda untuk berada dalam permasalahan yang rumit. Biarkan dia pergi dan mencari kebahagiaannya,,,"
Aku bernafas lega karna mama mau membantuku untuk bicara pada om Kenzo. Sejujurnya aku sudah tidak sanggup lagi berbicara dengannya lebih lama.
Hal itu hanya membuat hatiku terasa sakit kembali.
Om Kenzo menatapku putus asa. Aku memang bisa melihat kehancuran di matanya, namun aku berusaha untuk tidak peduli. Nyatanya sakit yang dia goreskan pada hatiku, membuatku tidak lagi merasa iba padanya.
"Maaf kan saya tante, mungkin saya yang terlalu memaksakan kehendak dan tidak bisa jujur dari awal."
"Hubungan saya dan Nadine tidak seperti yang terlihat di depan publik, bahkan sebentar lagi hubungan kami akan berakhir.
"Saya sungguh - sungguh mencintai Jeje, tante. Tapi kalau memang itu yang terbaik untuknya saat ini, saya akan membiarkan Jeje pergi." Ucapnya lirih.
Om Kenzo mengucapkan kata demi kata dengan penuh kesedihan di matanya. Tidak ada semangat dalam dirinya, dan rona bahagia diwajahnya juga memudar. Aku tau dia merasakan hal yang sama sepertiku, sama - sama terluka namun dia sendiri yang menjadi penyebab atas luka yang kami rasakan. Dia menyembunyikan kebohongan besar padaku yang akhirnya menjadi bom waktu. Sampai akhirnya membuat hubungan kami jadi seperti ini, hancur tak tersisa seperti hatiku. Hingga tidak ada lagi cinta yang tersisa untuknya.
"Jeje pergi dulu mah,,," Aku beranjak saat mendengar panggilan untuk boarding pada pesawat yang akan aku tumpangi.
Aku menghiraukan om Kenzo yang saat ini masih berdiri di depanku, dan terus menatap wajahku.
"Hati - hati sayang. Jangan pikirkan apapun yang membuat kamu sedih, mama dan papa akan selalu ada buat kamu. Maaf sudah menyembunyikan rahasia besar ini dari kamu. Mama akan menceritakan semuanya di waktu yang tepat."
"Fokus pada kuliah dan kebahagiaan kamu." Lanjutnya lagi.
Dengan berurai air mata, mama memelukku. Aku tau mama tidak bermaksud untuk menyembunyikan tentang asal usul ku, pasti semua ini berat untuk mama. Dia terlihat terluka saat menceritakan masa lalunya yang terdengar memilukan. Aku justru berterimakasih padanya karna sudah membiarkanku utuk tinggal bersamanya. Padahal, aku terlahir dari wanita yang hampir merusak rumah tangganya.
"Mama nggak perlu minta maaf, justru Jeje yang harusnya meminta maaf pada mama. Karna kehadiran Jeje, rumah tangga mama dan papa,,,
"Terus bahagia,, mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu,,"
Mama melepaskan pelukannya, lalu mencium kening ku.
"Kabari mama kalau sudah sampai,,"
Aku mengangguk lemah.
Om Kenzo menahan tanganku saat aku berjalan melewatinya. Dia berdiri dihadapan ku dan langsung memelukku.
"Bagaimana aku bisa menjalani hidup tanpamu. Lalu untuk apa aku berusaha mencari bukti agar bisa membatalkan pernikahan ku dan Nadine, jika pada akhirnya kamu akan tetap pergi."
"Hari ini aku membiarkan mu pergi, tapi jangan menahanku saat aku menjemputmu untuk kembali,,"
"Maaf sudah mengecewakanmu. Satu hal yang harus kamu tau, aku sangat mencintaimu."
Om Kenzo membisikan kata demi kata yang mampu membuat hatiku kembali tercabik. Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa. Entah aku harus sedih atau bahagia mendengarkan pengakuannya.
Tapi yang pasti, hanya ada kehampaan yang aku rasakan.
Pelukan om Kenzo bahkan tidak mampu lagi membuatku nyaman. Tidak ada lagi ketenangan di dalamnya. Sakit yang aku rasakan mampu menghapus semua perasaanku padanya.
Ku dorong pelan dada om Kenzo. Aku menatap lekat kedua manik matanya, berusaha untuk menyakinkan diriku kalau aku benar - benar sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya.
Aku segara mengalihkan pandangan, menatap matanya hanya membuatku kembali merasakan sakit. Tiba - tiba muncul bayangan saat dia memasangkan cincin di jari manis Nadine.
"Jangan mendramatisir keadaan. Lupakan aku saja, begitu juga aku yang akan melupakan om. Tidak perlu menjemput ku, karna hati ini tidak akan mampu untuk kembali,,"
"Permisi,,,"
Aku berlalu, melangkah untuk pergi dengan segenap hati yang masih dipenuhi luka.
Setiap kali ku langkahkan kaki, saat itu aku mulai meninggalkan satu persatu kenangan indah yang sudah kami lalui.
Aku ingin membuka lembaran hidup baru tanpa adanya bayang bayang masa lalu. Sudah cukup aku terluka, sudah cukup aku tersiksa dan menderita karna cinta. Tidak akan aku biarkan kebahagiaanku terhambat hanya karna kenangan masa lalu.
Kenyataan pahit ini memberikan banyak pelajaran berharga yang bisa aku ambil di dalamnya.
Jika dulu aku melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekwensinya, kali ini aku akan lebih hati - hati dalam melakukan sesuatu dan mengambil keputusan, agar aku tidak menyesal kembali di kemudian hari.
Penyesalan terbesarku adalah, aku memberikan seluruh cintaku pada orang lain, tanpa menyisakan nya untuk diriku sendiri. Disaat dia mengecewakanku, maka kehancuran yang sudah pasti aku dapatkan.
Aku juga menyesal karna sudah membiarkannya mengambil sesuatu yang berharga dalam diriku.
Mungkin ini akan menjadi penyesalan terbesarku. Aku begitu bodoh karna terbuai janji manis dan kata - kata manis dari mulutnya. Hingga semudah itu aku memberikan kesucian ku. Padahal belum tentu kami akan bersatu dalam ikatan pernikahan.
Saat pesawat lepas landas, saat itu juga aku pergi dalam keadaan hati yang jauh lebih tenang. Semua kenangan indah dan burukku sudah tertinggal di sana. Kini saatnya aku menata hati, untuk mengobati luka yang amat dalam.
...****...
Bye bye om Ken. Jangan nyesel kalo nanti Jeje pulang bawa gandengan. 😁
Vote itu gratis gaess,,, kenapa banyak yang nggak vote, padahal othor udah rajin up loh. Teganya kalian 🤣
Canda ya vote ✌