
Jeje dan Kenzo sudah sampai di ruang kerja. Keduanya duduk saling berhadapan di meja kerja Kenzo. Wajah Kenzo masih terlihat pucat, perutnya masih terasa mual akibat mencium bau parfum Reynald. Sedangkan wajah Jeje terlihat cemberut.
"Kak Reynald menyebalkan sekali by.!" Adu Jeje kesal. Dia ingat dengan ucapan Reynald yang mengatakan kalau dia bau busuk.
"Apa dia nggak bisa bedain mana parfum mahal.!" Geramnya tersungut - sungut.
Jeje seolah lupa kalau Kenzo juga seperti itu. Yang mengatakan kalau parfum Reynald bau busuk.
"Sini,,," Kenzo menepuk pahanya, meminta Jeje untuk duduk di pangkuannya.
Bagai kerbau yang cucuk hidungnya, wanita cantik itu langsung berdiri dan menghampiri Kenzo, lalu duduk di pangkuannya.
Kenzo melingkarkan tangan di pinggang Jeje, memeluk eratnya. Dia bahkan membenamkan wanjah di ceruk leher istrinya.
"Kamu itu wangi. Reynald yang punya masalah dengan indera penciumannya." Ujar Kenzo sembari menghirup dalam - dalam aroma parfum Jeje yang perlahan membuat rasa mualnya menghilang.
Jeje tertawa dalam hati. Wanita itu punya cara untuk mengerjai Reynald yang menyebalkan itu. Laki - laki itu perlu diberi belajaran karena sudah membuatnya kesal berulang kali. Setiap bertemu dengan Reynald, pasti terjadi berdebatan diantara mereka.
"Hubby suka aroma parfumku,,?" Tanya Jeje antusias. Kenzo mengangguk cepat.
"Tentu saja. Aku akan selalu suka apa yang ada di tubuh kamu, termasuk aroma parfum ini,,," Kenzo sengaja menempelkan bibir dan hidungnya di leher Jeje. Wanita itu menggeliat kecil karna buluk kuduknya meremang.
"Jangan seperti ini by, malu,,," Jeje mendorong pelan wajah Kenzo.
"Nggak ada orang lain disini, cuma ada kita,," Kenzo kembali mendekatkan wajahnya, kali ini dia menyambar bibir Jeje hingga membuat wanita itu tidak bisa memberikan protes. Dilumatnya lembut bibir Jeje penuh cinta.
Jeje terlihat pasrah, lebih tepatnya hanyut karna permainan lembut dari bibir Kenzo.
Dia mengalungkan tangan di kehen Kenzo, sedikit menarik tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.
"By,,,!" Tegur Jeje saat tangan Kenzo mulai kelewat batas.
"Ini kantor, nanti saja kalau sudah dirumah,," Ujar Jeje lembut.
Kenzo mengangguk dengan seulas senyum.
"Apa aku boleh meminta semua karyawan disini untuk memakai parfumku.? Hanya hari ini saja,," Pinta Jeje dengan wajah memohon. Wanita itu benar - benar ingin mengerjai Reynald dengan aroma parfum yang nantinya akan membuat Reynald terus mual.
Dia ingin melihat Reynald tersiksa karena mencium aroma parfumnya.
Kenzo tersenyum, dia seolah paham dengan niat jahil yang akan dilakukan Jeje.
"Tentu saja. Asal bisa membuatmu senang,," Sahut Kenzo tanpa ragu.
Jeje bersorak girang. Dia sudah tidak sabar ingin melihat Reynald menahan mual selama berada di kantor.
Saat itu juga Kenzo langsung menghubungi salah satu stafnya. Dia memberikan parfum milik Jeje dan menyuruh stafnya itu untuk menyemprotkan parfum ke semua karyawan yang ada di kantor, tanpa terkecuali. Termasuk OB dan security.
Melihat hal itu, Jeje semakin tertawa puas dalam hati.
...***...
Kenzo dan Jeje pulang dari kantor lebih dulu. Kenzo harus bersiap untuk pergi ke Singapur beberapa jam lagi. Tapi yang pasti tujuannya mengajak Jeje pulang lebih awal, untuk menuntaskan hasratnya yang sempat tertunda tadi pagi.
Keduanya keluar dari kantor dengan tawa puas karena berhasil membuat Reynald mual hingga terlihat saat lemas.
Selang 3 jam setelah Jeje dan Kenzo pulang, Reynald keluar dari gedung apartemen dengan wajah yang pucat pasi. Dilepaskannya saputangan yang sejak pagi dia jadikan masker untuk menutup hidungnya.
"Bos sialan.!!" Geram Reynald kesal.
"Istrinya apa lagi.!" Cibirnya.
Reynald menghirup dalam - dalam udara di luar kantor. Selama di dalam kantor, laki - laki itu tidak bisa bernafas dengan baik.
Reynald selalu berpapasan dengan karyawan yang memakai parfum milik Jeje. Hal itu membuatnya mual hingga harus bolak - balik ke kamar mandi.
Terlebih saat Kenzo mengumpulkan semua karyawannya dalam satu ruangan untuk mengumumkan hubungannya dengan Jeje.
Saat itulah Reynald benar - benar tersiksa karna di ruangan itu aroma parfum Jeje sangat kuat.
Reynald masuk kedalam mobil, dia melajukan kencang mobilnya menuju kediaman keluarga Karin. Saat ini laki - kaki itu butuh sesuatu untuk mengembalikan tenaganya dan menghilangkan rasa mual yang saat ini masih menggulung perutnya.
Sementara itu, Karin sedang duduk di teras rumahnya. Menatap berbagai tanaman dan pohon yang tumbuh terawat di halaman rumah itu.
Karin seorang diri di rumah. Kedua orang tua dan kakaknya belum pulang.
Wanita itu sudah rapi karna baru saja selesai mandi.
Karin berdiri saat melihat mobil Reynald memasuki halaman rumah. Dia terlihat gerogi untuk menyambut kepulangan suaminya.
Karin tidak sadar kalau dia sudah mulai menaruh hati pada laki - laki kaku dan arogan itu.
Sebagai wanita yang memiliki kelembutan hati, terlalu sering berinteraksi dengan Reynald selama beberapa bulan terakhir, tanpa sadar menghadirkan perasaan dalam hatinya.
Terlebih keduanya sudah sering melakukan hubungan terlarang saat belum menikah.
Meski awalnya Karin sangat membenci Reynald, namun dari rasa benci itulah yang akhirnya menghadirkan perasaan cinta dalam hatinya.
Sejak tadi Karin melamun hingga tidak sadar kalau reynald sudah menghampirinya.
"Jangan kasar - kasar kak.! Aku sedang hamil.!" Pekik Karin kesal. Ada kekecewaan dalam hatinya melihat sikap Reynald yang tidak berubah meski mereka sudah menikah.
Reynald menghentikan langkannya. Dia menatap Karin dengan tatapan datar.
"Maaf," Ujarnya singkat.
Karin menatap intens wajah Raynald yang terihat pucat.
"Kak Rey sakit.?" Tanyanya cemas.
"Ya. Kalau kamu ingin aku sembuh, maka turuti perkataanku,,!" Tegas Reynald.
Dia kembari menarik tangan Karin dengan perlahan.
Wanita itu terus mengikuti langkah Reynald hingga masuk kedalam kamar.
Dikuncinya pintu itu oleh Reynald.
"Mau ngapain kak.?" Karin terlihat panik. Dia masih bertanya meski sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Reynald didalam kamar.
"Jangan banyak tanya dan protes. Nikmati saja apa yang aku lakukan nanti,," Ucapnya datar.
Karin hanya bisa menelan kasar salivanya. Reynald tidak bisa menahan diri meski sudah diberi tau, kalau melakukan hubungan saat usia kandungan karin masih muda bisa beresiko.
"Tapi kak,,,
"Aku akan pelan - pelan. Kalau perlu kamu yang di atas, biar bisa mengatur kecepatan,,," Seru Reynald tanpa rasa malu sedikitpun. Karin. langsung menunduk malu. Meski kesal, tapi wanita itu tidak bisa menolak permintaan Reynald.
Karin hanya pasrah saat Reynald membaringkan tubuhnya di ranjang. Sentuhan demi sentuhan diberikan oleh Reynald pada semua daerah sensitif Karin.
Selang beberapa menit, keduanya sudah semakin hanyut dalam permainan yang memabukan itu.
Reynald semakin lembut dalam meminta haknya. Laki - laki itu sudah mulai mengkhawatirkan kehamilan Karin.
Keduanya mengakhiri pergulatan panas itu setelah Reynald mencapai puncak untuk pertama kalinya.
Laki - laki itu membalut tubuh mereka dalam selimut yang sama.
"Sakit.?" Tanya Reynald sembari meletakkan telapak tangannya di perut Karin.
Karin hanya menggeleng. Dia terus menatap Reynald dengan perasaan yang menghangat.
"Sudah minum obat dan vitamin.?"
"Sudah tadi siang,,"
"Sekarang juga harus minum." Tegas Reynald.
"Dimana obatnya.?"
"Nanti malam saja kak,,,"
*Aku tanya dimana obatnya.?!".Tanyanya lagi setengah membentak.
Karin menatap kesal ke arahnya.
"Di laci.!" Ketuanya semabri menunjuk nakas yang berada di sisi kanan ranjang.
Masih dalam keadaan polos, Reynald turun dari ranjang dan mengambil obat itu.
Karin. hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Reynald.
"Malam ini kita pindah ke apartemen,," Ujar Reynald sembari menyodorkan obat dan vitamin pada Karin.
Sedangkan sebelah tangannya memegang gelas bersisi air minum yang dia ambil di atas nakas.
"Memangnya kenapa kalau tinggal disini.?"
"Kakak nggak suka tinggal satu rumah dengan keluargaku.?" Karin begitu serius menatap Reynald. Dia sangat penasaran ingine dekatkan jawaban dari Reynald.
"Kita sudah menikah. Ada privasi yang tidak seharusnya di ketahui oleh orang tua kita mauaoun keluarga."
"Jadi tidak perlu protes dan turuti saja perkataanku "
Helaan nafas keluar dari mulut Karin. Dia ragu untuk tinggal berdua saja dengan Reynald. Takut jika sewaktu - waktu Reynald berbuat kasar padanya dan calon anak mereka.
...***...
Maaf baru up. Lagi banyak kerjaan 🙏 harap maklum. Ditambah anak lagi sakit.
Jangan lupa mampir😊