
Karin membuang pandangan ke arah jendela. Sejak tadi hanya keheningan yang dia rasakan di dalam mobil bersama Reynald. Berulang kali Reynald menyakinkan dirinya sebelum mereka benar - benar keluar dari apartemen. Entah sudah kali Reynald bertanya seperti itu padanya.
"Kamu yakin mau ikut.? Jangan di paksakan kalau tidak nyaman,,"
Karin tau, Reynald mungkin memang benar - benar mengkhawatirkan dirinya yang nantinya harus berhadapan dengan masa lalu Reynald yang kelam bersama Angel. Bukan karna Reynald bermaksud menyuruhnya untuk tidak ikut menemui Alisha.
Sepertinya Reynald menyadari bahwa masa lalunya bersama Angel sulit untuk di terima dan di pahami oleh Karin, karna kehadiran Alisha tanpa adanya ikatan pernikahan di antara dia dan Angel.
Karin menarik nafas dalam. Entah kenapa semua ini masih saja terasa berat untuknya. Meski saat itu sudah berusaha untuk mengerti dan menerima Alisha beserta masa lalu Reynald, tapi dalam hati kecilnya tetap saja ada perasaan sesak yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata - kata. Hanya seseorang yang mengalami hal serupa yang mungkin bisa merasakan bagaimana perasaan Karin saat ini.
Angel memang sudah bersuami, hubungan dia dan Dion juga terlihat baik dan harmonis. Jika melihat kebahagiaan di antara mereka, rasanya tidak mungkin Angel akan kembali bersama Reynald. Karin sedikit tenang karna hal itu, tapi siapa yang tau apa yang akan terjadi ke kedepannya.? Siapa yang bisa menjamin bahwa cinta di antara Angel dan Reynald tidak akan tumbuh dan bersemi kembali sering dengan pertemuan mereka yang akan intens nantinya.
"Kamu tidak mau membeli sesuatu untuk Alisha.?" Suara Reynald memecah keheningan di dalam mobil setelah hampir 20 menit mereka saling terdiam.
Karin menoleh pelan, raut wajahnya seakan masih mencerna ucapan Reynald setelah tadi cukup lama melamun.
"Aku tidak punya uang,,," Selang beberapa detik, Karin baru menjawabnya.
"Kartu atm nya sudah kosong.? Bukannya kamu tidak pernah memakainya lagi,,," Reynald melirik sekilas. Raut wajah Karin hanya membuatnya tidak tenang sejak tadi. Reynald tau Karin tidak nyaman sejak dia bilang akan bertemu dengan Alisha, itu sebabnya berulang kali dia menyakinkan Karin untuk ikut dengannya atau tidak.
"Aku tidak membawanya, aku simpan di laci,,"
Reynald hanya menghela nafas mendengar penjelasan dari Karin. Istrinya itu seakan tidak mau memakai uang yang dia berikan padanya. Dia tidak pernah memakai uang itu untuk membeli kebutuhan pribadinya, bahkan hanya 1 kali Karin memakainya saat membelikan buah untuk Jeje.
Padahal kalau mau, Karin bisa saja memakai semua uang itu untuk berbelanja online.
"Buang saja kalau kamu tidak butuh." Sahut Reynald acuh. Dia memilih fokus menatap jalanan. Entah kenapa dia merasa kesal karna Karin hanya menyimpan kartu atm itu, seakan tidak membutuhkan dan tidak ingin menggunakannya saat dia pergi kemanapun.
Karin menatap sendu sekaligus kesal. Dia menarik nafas dalam, berusaha untuk bersikap tenang menjawab ucapan Reynald.
"Bukan karna tidak butuh, tapi saat ini aku sedang tidak membutuhkan apapun,,," Tuturnya lirih.
Karin sudah bisa menebak kalau Reynald tidak akan memberikan reaksi apapun atas penjelasannya, karna mood laki - laki itu sudah terlanjur memburuk. Dilihat dari samping saja sudah bisa di tebak, dengan ekspresi wajahnya yang tegas dan sorot mata yang dalam.
Melihat Reynald yang tak kunjung memberikan respon, Karin kembali mengarahkan pandangan ke luar jendela. Dia tidak mau ambil pusing tentang Reynald yang marah padanya hanya karna tidak menggunakan uang yang Reynald berikan.
Memang apa salahnya jika tidak menggunakan uang itu.? Lagipula apa yang Karin butuhkan sudah tersedia di apartemen.
Lalu apa yang harus Karin beli dengan uang itu.?
Membeli baju.? Tas, sepatu atau yang lainnya.?
Apa yang ada di apartemen sudah lebih dari cukup baginya.
Terbiasa hidup sederhana membuat Karin hanya membeli barang - barang itu jika sangat penting dan mendesak. Dia tidak terbiasa membeli baju ataupun sepatu jika apa yang dia punya masih cukup dan masih layak untuk di pakai.
Karin hanya menatap Reynald saat mobil yang dia tumpangi berhenti di sebuah toko khusus yang menjual keperluan anak - anak.
"Mau tunggu disini atau ikut.?" Tawaran dari Reynald terdengar datar. Sepertinya laki - laki itu masih menyimpan kekesalan padanya. Tidak mau membuat Reynald semakin kesal, Karin lebih memilih untuk ikut ke dalam.
"Ikut,,," Jawab Karin singkat. Dia segera keluar dari mobil, begitu juga dengan Reynald yang bahkan sudah membuka pintu lebih dulu sebelum Karin menjawabnya.
Reynald menghampiri Karin dan menggandeng tangannya. Tidak ada perasaan apapun saat Reynald meraih tangannya, karna saat ini Reynald masih bersikap datar dengan raut wajah kesalnya yang belum mereda. Sepertinya dia melakukan hal itu hanya untuk menjaga calon anaknya agar baik - baik saja.
"Kamu saja yang pilih, aku tidak tau apa yang di sukai anak - anak seusianya,,," Ujar Reynald sembari menarik troli dengan 1 tangannya.
Karin hanya mendengarkan apa yang di perintahkan oleh Reynald, kemudian mengangguk pelan.
Aneh rasanya berada di posisi yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya. Menikah dengan laki - laki yang ternyata sudah memiliki anak dari wanita lain, dan harus terbiasa menerima kehadirannya, juga harus terbiasa ikut andil dalam membelikan sesuatu untuknya.
Karin mengerutkan kening saat melihat Reynald mengambil 3 mainan sekaligus dan memasukannya ke dalam troli. Bukannya tadi dia bilang menyuruhnya untuk memilih, tapi sekarang malah mengambil banyak mainan.
"Banyakin baju dan sepatu saja, lebih bermanfaat,,," Tegur Karin lirih. Reynald menoleh, dia mengangguk pelan.
"Aku melihatnya sedang memainkan ini saat menelfonnya,,," Tutur Reynald, ada gurat kebahagiaan di wajahnya saat mengatakan itu. Dia bahkan menatap ke tiga mainan di dalam troli dengan mata yang terlihat berbinar.
Karin hanya mengulas senyum tipis, kemudian mengajak Reynald untuk memilih baju dan sepatu.
Tanpa di suruh lagi oleh Reynald, Karin langsung memilih beberapa baju yang menurutnya bagus dan cocok untuk Alisha. Dia tidak pernah membeli baju anak - anak sebelumnya, tapi tidak kesulitan saat memilih ukuran yang pas untuk Alisha. Alisha termasuk anak - anak yang memiliki badan sempurna, tidak kurus ataupun gemuk. Badannya tinggi berisi, mirip seperti ibunya.
"Kamu ingin membeli sesuatu untuk anak kita.?"
Tawaran Reynald langsung menarik perhatian Karin. Dia merasa bahagia, tapi juga merasa lucu bahkan ingin tertawa.
Apa yang harus dia beli untuk calon anaknya yang baru berumur 3 bulan di dalam kandungan.? Jenis kelaminnya saja bahkan belum tau.
"Apa yang bisa aku beli.?" Tanya Karin, dia terlihat menahan senyum.
"Usianya baru masuk 3 bulan, katanya pamali kalau beli perlengkapan bayi sebelum usia kehamilan 7 bulan,,," Jelas Karin.
Reynald hanya mengangguk saja.
"Beli saja apa yang kamu inginkan kalau sudah waktunya nanti,,," Ujar Reynald.
"Aku akan membeli yang dibutuhkan saja,," Sahut Karin cepat.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan setelah membeli beberapa barang untuk Alisha.
Dari yang Karin tau, mereka akan pergi ke hotel dimana Angel menginap selama berada di Jakarta.
Jantung Karin semakin berdegub kencang, dia belum siap untuk kembali merasakan situasi canggung itu seperti saat menjenguk Alisha di rumah sakit.
Berada di tengah - tengah Reynald dan Angel rasanya bercampur aduk.
Sampainya di basement hotel, Reynald langsung turun dan mengeluarkan semua paper bag yang ada di dalam bagasi. Karin hanya mengikutinya dan berdiri di samping Reynald.
"Pelan - pelan saja jalannya,,," Ujar Reynald mengingatkan. Kedua tangannya sudah penuh dengan paper bag hingga tidak bisa menggandeng tangan Karin.
"Tidak usah khawatir, aku akan hati - hati,," Sahutnya. Karin mengulas senyum tipis pada Reynald.
Keduanya langsung menuju ke kamar yang di tempati oleh Alisha.
"Kalian mau bertemu Alisha.?"
Suara itu membuat Reynald dan Karin berbalik badan. Reynald menatap tak suka pada sosok yang baru saja menyapanya, berbeda dengan Karin yang mengulas senyum tipis.
"Kak Edwin,,," Sapa Karin ramah.
"Iya, apa itu kamar mereka.?" Karin menunjuk pintu kamar yang ada di depannya.
"Iya, ayo masuk,,," Edwin langsung membuka pintu kamar itu dengan access card di tangannya.
"Kak Angel dan Bang Dion sedang rapat, 15 menit lagi baru pulang,,," Jelasnya.
Reynald terlihat membulatkan mata.
"Lalu Alisha sendirian di dalam.?!" Tanya Reynald dengan suara yang meninggi.
Edwin tersenyum kecut.
"Ada baby sitter,,!" Jawabnya singkat.
Mereka mengikuti langkah Edwin yang sudah masuk lebih dulu.
...****...
Nicholas libur dulu 🙏 Di usahain besok up.