
"Yeay om udah beli es krim,,"
Begitu masuk ke dalam, Reynald di sambut oleh suara Alisha yang ceria. Dia berlari menghampiri Edwin dan mengambil kantong plastik berisi beberapa es krim yang ada di tangan Edwin.
Alisha hampir saja mengeluarkan es krim dari kantong plastik yang dia pegang, namun begitu melihat sosok Reynald dan Karin yang ada di belakang Edwin, dia langsung tersenyum.
"Hallo sayang,,,," Sapa Reynald dengan wajah yang berbinar. Hanya beberapa minggu tidak melihat Alisha secara langsung, tapi rasanya seperti sudah berbulan - bulan. Dia ingin menghampiri dan memeluk Alisha dengan erat, lalu mengatakan bahwa dia sangat menyayangi Alisha. Namun apa yang bisa Reynald lakukan selain berpura - pura sebagai orang lain, meski dia adalah ayah biologisnya. Reynald belum bisa memberitahukan pada Alisha tentang hal itu, dia khawatir Alisha justru akan menjauh karna selama ini dia hanya mengenal Dion sebagai ayahnya.
"Om tampan,,, tante cantik,,," Ujar Alisha. Dia berjalan mendekat dan memeluk Karin lebih dulu. Karin reflek berjongkok agar bisa sejajar dengan Alisha.
"Hai Alisha cantik, gimana kabar kamu.?" Karin begitu tulus menanyakan kabar Alisha. Dia juga membalas dekapan Alisha dan mengusap lembut punggungnya.
"Seperti yang tante cantik lihat, Alisha baik - baik saja," Jawab Alisha cepat.
Karin mengulas senyum. Alisha memang tidak bersalah dalam hal ini. Dia hadir akibat kesalahan kedua orang tuanya di masa lalu dan dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan cara seperti itu. Karin berusaha untuk mengerti dan memahaminya hingga perlahan benar - benar bisa menerima Alisha sebagai bagian dari Reynald. Namun tidak dengan masa lalu Reynald bersama Angel. Entah kenapa terasa sulit untuk menerima bahwa Angel pernah mengisi hati Reynald selama bertahun - tahun.
"Sini peluk om,,," Reynald berlutut setelah meletakan paper bag di lantai. Dia merentangkan kedua tangannya dan menatap Alisha dengan seulas senyum. Reynald mulai menantikan momen - momen seperti ini saat dia bertemu dan bisa memeluk Alisha.
"Om tampan,,," Begitu melepaskan pelukan Karin, Alisha langsung menghambur ke pelukan Reynald.
Reynald menangkup wajah Alisha dan mendaratkan kecupan di pipi dan keningnya. Bahagia saat memeluk putrinya tidak bisa di ungkapkan dengan kata - kata dan tidak bisa di bandingkan dengan apapun.
Reynald melepaskan pelukannya, dia menarik semua papar bag untuk di dekatkan pada Alisha.
"Tante cantik beliin Alisha baju dan mainan,, Alisha mau lihat.?" Tawar Reynald.
"Wahh banyak sekali om,,,"
"Alisha mau liat,,," Alisha meletakan kantong plastik di lantai yang sejak tadi dia pegang, dan langsung ikut mengintip isi paper bag. Seketika dia langsung lupa dengan es krim yang tadi dia minta pada Edwin.
"Barbie nya cantik sekali, Alisha belum punya barbie yang ini,,," Alisha langsung mendepak barbie beserta tempatnya. Reynald terlihat ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh Alisha.
"Alisha suka.?"
"Of course,,," Sahut Alisha cepat.
"Bilang apa sama tante cantik.?" Mendengar ucapan Reynald, Alisha langsung bergeser ke Karin.
"Thank you tante cantik,," Ucap Alisha tulus, dia mencium sebelah pipi Karin sambil memeluknya.
Karin haha mengangguk dan mengulas senyum. Dia tidak membelikan semua barang itu, tapi sejak tadi Reynald selalu mengatakan pada Alisha kalau semua barang itu adalah pemberian Karin.
"Dasar anak kecil.!" Keluh Edwin gemas. Dia mengambil es krim yang baru saja dia beli di mini market dan membawanya ke dapur untuk di simpan. Padahal tadi Alisha sampai merengek padanya, meminta untuk di belikan es krim.
Alisha berserta Reynald dan Karin sedang duduk bersama di ruang depan. Mereka sibuk membongkar isi paper bag yang di bawa oleh Reynald. Kedekatan Reynald dan Alisha terbilang mengalami kemajuan cukup pesat hanya dalam beberapa kali pertemuan. Sepertinya ikatan batin antara anak dan ayah itu cukup kuat. Karin hanya sesekali menimpali obrolan mereka, selebihnya dia banyak diam dan hanya menyimak saja
"Kapan kamu kuliah lagi,,?" Tiba - tiba Edwin datang mengajukan pertanyaan pada Karin. Dia duduk di depan Karin.
"Belum tau kak, mungkin 1 atau 2 tahun lagi,,," Karin mengulas senyum tipis.
"Jangan terlalu lama, umur kamu semakin bertambah tua,,," Edwin menyahutinya dengan sedikit candaan.
"Aku baru 18 tahun, apa akan jadi tua kalau hanya menunda 1 sampai 2 tahun saja.?" Sahut Karin cepat. Keduanya saling membalas hingga akhrinya saling mengulum senyum geli.
Reynald hanya bisa memberikan tatapan kesal sejak tadi. Dia ingin menghentikan obrolan mereka, namun tidak tega pada Karin yang hanya akan bengong saja kalau Edwin tidak mengajaknya bicara.
Karin lebih banyak diam saat dia sedang berinteraksi dengan Alisha, seakan enggan untuk masuk ke dalam obrolan mereka. Reynald bisa memahami, tidak mudah bagi Karin untuk menerima anak dari wanita lain.
Suara tangis bayi membuat suasana di ruang depan s eketika hening.
"Siapa,,,,
"Yeay,,, adek sudah bangun,,!" Seru Alisha sambil turun dari sofa dan membawa mainan di tangannya.
"Alisha mau kasih adek mainan ini,," Tutur Alisha dengan wajah yang selalu ceria.
"Bayi siapa.?" Reynald bertanya pada Edwin dengan wajah dan suara yang datar. Sejujurnya dia malas untuk bertanya pada laki - laki menyebalkan itu, tapi karna rasa penasarannya yang tinggi, akhirnya terpaksa untuk bertanya.
"Anak kak Angel sama Bang Dion, memangnya anak siapa lagi,,," Jawab Edwin ketus. Dia terlihat kesal pada Reynald karna tidak sopan saat bertanya padanya.
Reynald hanya memutar bola matanya malas mendengar sahutan ketus dari Edwin.
Dia tidak terlalu memperdulikan jawabannya, namun sempat kaget. Dia baru tau kalau Angel dan Dion sudah memiliki anak.
Berbeda dengan Reynald yang menunjukan reaksi datar, Karin justru terlihat lega saat mengetahui Angel dan Dion sudah memiliki anak. Setidaknya kemungkinan bagi Angel dan Reynald kembali bersama sangat kecil, atau bahkan mereka tidak akan pernah mengulang masa lalu. Angel sudah menemukan kebahagiaan dan memiliki keluarga kecil bersama Dion, jadi tidak ada yang perlu Karin cemaskan untuk itu.
"Ayo embak, bawa adek kesini,,," Rengekan Alisha terdengar dekat dari ruang depan.
"Iya sayang sebentar, adeknya minum susu dulu,,,"
Tak berselang lama, Alisha datang dengan tangan yang sedang menarik - narik baju baby sitter. Baby sitter itu terlihat kesulitan karna sedang menggendong adik Alisha dan memegang botol susu di tangannya.
"Alisha jangan seperti itu, nanti adek jatuh,,," Edwin langsung menghampiri Alisha dan menggendongnya.
"Turun om,, Alisha mau turun,,," Alisha terlihat memberontak dalam dekapan Edwin. Melihat hal itu, Reynald langsung berdiri dan merebut Alisha dari tangan Edwin.
"Kau tidak dengar.! Alisha mau turun.!" Ucapnya ketus. Reynald segera menurunkan Alisha.
"Embak duduk sini,,," Alisha menyuruh baby sitter itu duduk di samping Karin. Babu sitter itu terlihat malu dan tersenyum pada Karin.
"Maaf mbak,,," Ujarnya sopan sembari duduk di samping Karin.
"Tidak apa,,," Karin tersenyum. Dia menatap bayi perempuan yang ada di gendongan baby sitter itu. Terlihat menggemaskan dengan badan yang cukup berisi dan wajah yang cantik. Wajahnya lebih mirip Angel, tapi hidung mancungnya seperti Dion.
"Adek minum susu dulu tante cantik,,," Ujar Alisha memberi tahu. Sepertinya dia memperhatikan Karin yang sejak tadi memandangi adiknya.
"Iya sayang. Adek Alisha cantik,,," Puji Karin dengan suara yang disesuaikan untuk anak - anak. Dia mengangkat Alisha dan mendudukannya di pangkuan.
"Cantik seperti Alisha.?" Tanya Alisha dengan wajah polos, dia menoleh untuk menatap wajah Karin. Karin tersenyum tipis dan mengangguk kecil.
"Berapa bulan mbak.?" Tanya Karin sembari menyentuh tangan bayi itu.
"7 bulan non,,," Sahutnya ramah.
"Lucu sekali,," Karin terlihat gemas. Badan yang cukup besar untuk bayi seusianya.
Reynald yang duduk di sebrang mereka hanya diam saja sambil terus menatap Karin yang sedang menggendong Alisha. Kedekatan mereka membuat Reynald merasa lega. Setidaknya Karin bisa bersikap baik pada buah hatinya dengan Angel.
...****...
Udah berapa kali ya othor bilang mau namatin novel ini tapi nggak jadi - jadi. 🤣
Rasanya sayang mau di tamatin, soalnya tiap hari makin banyak yang mampir.
Mau di bikin terpisah nanti gak semangat upnya, soalnya pasti banyak yang gak mampir (Ada 2 kubu soalnya.wkwk). Kalo di lanjut terus disini kan pembaca gak kemana - mana 😁.
novel Nicholas aja cuma beberapa doang yang mampir, dari puluhan ribu pembaca yang ada disini.
BTW kemaren siapa yang sampe histeris bacanya pas Nicho nyium Sisil.? 🤣🤣
Sisil yang dicium, readers yang salah tingkah. 🤣