
Meski mendapat tatapan intimidasi dari orang tua dan kakak Karin, laki - laki arogan itu seolah menutup mata, tidak peduli dan masih bersikap santai layaknya orang yang tidak memiliki kesalahan. Reynald tidak memiliki rasa takut sedikitpun dalam bertatap muka dengan orang tua gadis yang sudah dia hamili.
"Jadi kapan saya bisa menikahi anak Bapak,,,?"
Sontak pertanyaan datar Reynald yang tak beretika itu membuat semua orang di ruangan itu tercengang. Bapak Karin sampai memegangi dadanya, mengucap istighfar dalam hati.
Baru pertama kali dia bertemu dengan laki - laki yang tidak ada sopan santunnya terhadap orang tua.
Meminta ijin untuk menikahi anak orang lain, seperti sedang meminta ijin untuk meminta anak kucing.
"Ya Allah neng, kamu ini mimpi apa sampe bisa punya urusan sama orang kayak gitu."
"Laki - laki kayak begitu mana pantes neng di jadiin suami,," Keluhan Bapak pada Karin. Wanita itu hanya menunduk malu sekaligus sedih. Perkataan orang tuanya memang benar. Dari sikap yang di tunjukan oleh Reynald, sudah bisa di lihat seperti apa kualitasnya jika di jadikan suami. Yang ada Karin akan selalu perang batin menghadapi Reynald yang arogan dan sombong itu.
"Memangnya saya kenapa.? Bukannya saya sudah bersedia bertanggung jawab, saya juga bisa menghidupi mereka nantinya." Reynald menyahuti dengan nada tak terima. Ucapan Bapak Karin seperti hinaan untuknya.
"Bukan masalah tanggung jawab dan mampu menafkahi, tapi sikap kamu itu bisa membuat anak saya tertekan batinnya.!" Geram Bapak. Laki - laki paruh baya itu merasa kalau calon menantunya tidak normal layaknya laki - laki dewasa pada umumnya.
Reynald langsung menatap Karin.
"Apa kamu tertekan.?" Tanyanya. Karin sudah tau dari tatapan dan nada bicara Reynald yang seakan memintanya untuk menjawab tidak.
"Kak Reynald nggak seperti itu Pak, dia baik. Karin sama sekali nggak tertekan,,"
Hanya itu yang bisa Karin lakukan agar kedua orang tuanya merestui Reynald. Baginya masa depan anaknya kelak jauh lebih penting, dan nama baik kedua orangtuanya pun harus tetap di jaga.
Dia tidak mungkin membiarkan kedua orang tuanya menanggung malu karna anaknya hamil di luar nikah dan tanpa ada yang menikahinya.
"Anak Karin butuh ayahnya Pak, Karin juga nggak mau hamil dan punya anak tanpa suami,," Suara Karin bergetar, dia sudah berfikir jauh tentang nasibnya beberapa bulan ke depan jika dia tidak menikah dengan Reynald.
Kedua orang tua Karin menghela nafas berat, keduanya terlihat bimbang untuk menentukan keputusan yang tepat agar Karin tidak menderita nantinya.
"Tapi neng, Bapak sama Ibu khawatir kalau kamu nikah sama dia. Gimana kalo dia jahat, nyakitin kamu sama anak kamu,,,"
Reynald mendelik menatapnya. Dia kembali tidak terima dengan ucapan orang tua Karin.
"Kak Reynald nggak sejahat itu Pak, Bapak nggak usah khawatir." Karin masih saja berusaha untuk menyakinkan kedua orang tuanya agar mau menikahkan dia dan Reynald.
"Sudah Pak, biarkan saja mereka menikah. Ibu juga nggak tega kalo liat anak kita hamil nggak ada suami. Nanti apa kata orang - orang Pak,,"
Mendengar pembelaan dari Ibu Karin, Reynald tersenyum puas. Setidaknya dia tidak akan kesulitan lagi untuk mendapatkan restu dari Bapak Karin, karna istri dan anaknya berada di pihak Reynald.
"Ya sudah, kalau itu keinginan Ibu sama Karin." Bapak terlihat pasrah saja. Setelah di pikir - pikir memang sebaiknya mereka berdua di nikahkan demi kebaikan Karin dan anaknya.
"Besok saya bawa orang tua saya kesini, langsung menikah saja hari itu juga." Tegasnya.
Tanpa memperdulikan ekspresi mereka yang lagi - lagi di buat kesal, Reynald dengan santainya melirik Karin.
"Kamu nggak keberatan kan kalau acaranya sederhana.?" Pertanyaan Reynald membuat Karin terlihat kikuk.
"Kenapa jadi kamu yang ngatur - ngatur.?!" Geram Bapak. Lama - lama Reynald semakin menyebalkan saja dengan sikap angkuhnya. Bapak Karin jadi punya pikiran untuk mengerjai calon menantunya itu.
"Kamu niat mau menikahi anak saya atau mau bikin keluarga saya malu.?!" Geramnya.
"Karin itu masih kuliah dan tidak pernah pacaran, tetangga di sini semuanya tau. Apa kata mereka kalau tiba - tiba besok Karin menikah.!"
"Kamu mau bikin semua orang curiga.?!"
Reynald hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Dia tidak peduli akan hal itu. Kenapa harus pusing memikirkan omongan orang lain. Kalaupun mereka mencurigai Karin sedang hamil, memang seperti itu kenyataannya.
"Lalu harus bagaimana.?" Tanya Reynald santai.
"Kami harus pindah kontrakan dulu, saya tidak mau mereka menghina Karin dan Istri saya nantinya."
"Jadi sewakan dulu kontrakan baru untuk kami di daerah lain." Pinta Bapak.
Karin dan Ibunya tercengang, begitu juga dengan Kakak Karin. Mereka tidak menyangka Bapak akan meminta hal seperti itu pada Reynald.
Reynald mengangguk dua kali.
"Tidak masalah, saya carikan rumah sekarang juga,,"
Dia merogoh ponsel di saku jasnya, dan menghubungi seseorang.
"Bersihkan rumah di cluster cendana nomer 3. Aku akan kesana 30 menit lagi.!" Perintahnya, tanpa menunggu jawaban dari orang yang dia telfon, Reynald mematikan telfonnya begitu saja.
"Kemasi baju kalian. Hanya baju saja, tidak perlu membawa barang - barang,,"
Ke empat orang yang ada di hadapannya tercengang. Seakan tidak percaya Reynald akan mengajak mereka pindah secepat itu.
"Siapa yang main - main.?" Sahutnya tak terima.
"Bilangin sama orang tua kamu, aku itu serius. Dan cepat kemasi baju - baju kamu.!" Geram Reynald pada Karin.
"Jadi ini teh beneran neng.?" Tanya Ibu Karin.
"Iya Pak, Bu. Udah sekarang kita beresin saja baju - bajunya."
"A Radit, ayo buruan,,," Karin sudah beranjak dari duduknya. Radit sedikit malas, namun dia juga ikut beranjak.
"Awas yah kalau kamu ngerjain saja.!" Geram Bapak Karin sembari menunjuk wajah Reynald.
"Ayo Bu,,," Dia mengajak istrinya dan masuk kedalam, menyusul Karin dan Radit.
Reynald hanya mendengus kesal. Merasa waktu terbuang sia - sia untuk berdebat dengan Bapak Karin, tapi pada akhirnya mereka menyetujuinya juga. Kenapa tidak sejak awal mereka langsung setuju, agar waktunya tidak terbuang.
Mereka sudah mengemasi baju, masing - masing membawa tas ransel besar. Dan ada 2 box besar berisi perlengkapan kuliah Karin dan Radit.
"Kamu pesan taksi online saja buat bawa baju - baju itu,," Perintah Reynald. Karin mengangguk.
Sebelum pergi, mereka berpamitan lebih dulu pada tetangga. Beruntung saat keributan terjadi, suasana di luar sepi. Jadi tidak akan menimbulkan gosip.
"Ini mobil kamu.?" Tanya Bapak Karin setelah mereka keluar dari gang.
Mereka tercengang melihat mobil mewah milik Reynald. Rupanya calon menantunya itu benar - benar orang kaya. Pantas saja dia minta ganti rugi 50 juta pada Karin.
Karin dan kedua orang tuanya, ikut di mobil Reynald. Sedangkan Radit menggunakan taksi online.
Mereka langsung menuju ke rumah baru yang akan di tempat oleh keluarga Karin. Mereka terlihat sangat penasaran, entah seperti apa wujud rumah yang disewakan Reynald untuk mereka.
...***...
Di lain tempat, Kenzo sedang menatap wajah istrinya yang terlihat kelelahan. Dia sedang berbaring disampingnya dalam keadaan polos, hanya berbalut selimut.
Kenzo mengulum senyum penuh kemenangan, rupanya tidak sulit membuat Jeje melupakan kekesalannya. Hanya dengan sentuhan panasnya yang penuh kenikmatan, membuat Jeje seketika tidak berdaya.
Remaja itu bahkan sempat mendominasi permainan dalam ronde ke 2.
"Ayo ke mall by,," Ucap Jeje setelah nafasnya terlihat tenang.
Kenzo melotot dibuatnya, rupanya istrinya itu masih gigih untuk membalasnya.
"Oke,, tapi dengan 1 syarat."
Jeje menaruh curiga dengan syarat yang akan di ajukan oleh Kenzo. Terlebih tatapan matanya yang terlihat sedang membayangkan hal mesum.
"Syarat apa.?" Tanya Jeje malas.
"Syaratnyaaaa,,,," Tangan Kenzo menyusup kedalam selimut, menggerayangi bagian atas tubuh Jeje.
"Hubby,,!" Pekik Jeje dengan menahan desahan. Tangan Kenzo sudah meremas aset kembarnya.
"Jangan berlagak menolak,," Bisiknya di telinga Jeje.
Satu tangannya bergerak kebawah, memainkan daerah inti milik istrinya.
"Emm,, sudah by,, aku cape,,," Ucapnya tidak sejalan dengan suara desahan Jeje yang tertahan. Sangat jelas kalau Jeje sudah berkabut gairah.
"Nikmati saja,," Ujar Kenzo. Dia menarik selimut yang menutupi tubuh polos Jeje, lalu membuangnya ke lantai.
Kenzo langsung mengungkung tubuh Jeje, lalu memberikan ciuman panas di bibir istrinya. Bersamaan dengan itu, dia mengarahkan miliknya untuk masuk.
"Eumhh,,," Desahan Jeje tertahan oleh bibir Kenzo yang terus melu**t bibirnya.
Kenzo melepaskan ciumannya, dia mulai memacu tubuhnya dengan gerakan cepat. Desahan Jeje membuatnya semakin bersemangat, laki - laki itu semakin liar dan mempercepat gerakannya.
Kedua tangannya terus meremas aset kembar Jeje yang ikut bergerak liar.
Setelah cukup lama, erangan panjang penuh kenikmatan menggema di kamar itu.
Jeje semakin tidak berdaya. Dia dibuat heran dengan permainan Kenzo yang setiap harinya semakin liar hingga membuatnya candu dan tidak bisa menghindar.
"I love you,,," Bisikan Kenzo.
Jeje hanya mengangguk dengan mata yang terpejam, dia tidak sanggup lagi meskipun hanya sekedar untuk berbicara. Tubuhnya terasa lemas dan remuk.