My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
80. Season2



Misi om Ken mau lewat dulu, udah kangen istri padahal baru semalem pisah rumah. Sampe bawain bunga segala.



...*****...


"Sarah, tolong handle meeting dengan klien setelah makan siang nanti. Saya harus pulang sekarang,,,"


"Ini berkasnya, kamu cek dan pelajari lagi. Pastikan tidak membuat kesalahan,,," Kenzo menyodorkan map hitam pada Sarah yang duduk di depannya.


"Baik Pak,,,"


"Hubungi saya kalau ada kendala,,,"


Sarah mengangguk paham.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak,,," Pamit Sarah sopan. Dia berdiri dan membungkukan badan pada Kenzo.


"Hmm,,,!"


Sarah beranjak dari ruangan Kenzo dengan membawa map hitam di tangannya.


Baru masuk bulan ke 2 di angkat jadi sekretaris bos, dia sudah harus bekerja ekstra karna bosnya itu sering tidak datang dan sering meninggalkan kantor saat masih jam kerja.


Kenzo membereskan meja kerjanya dan mematikan laptop. Dia mengambil jas yang di simpan pada sandaran kursi, lalu merogoh ponsel di saku celananya. Dia baru saja mengerjai Jeje dan masih gemas dengan balasan chat Jeje yang sudah pasti mengomel dan merajuk. Jeje bahkan sampai mematikan ponselnya hingga Kenzo tidak bisa menghubunginya lagi.


Jeje pasti kecewa mendengar kabar bahwa Kenzo tidak bisa datang ke rumah Papa Alex hari ini karna ada meeting yang tidak bisa di handle.


Keluar dari kantor, Kenzo langsung pergi ke toko bunga untuk membeli buket bunga. Sepertinya ini akan menjadi buket bunga pertama yang Kenzo berikan pada Jeje. Laki - laki itu baru sadar kalau selama ini tidak pernah memberikan bunga untuk Jeje. Dia memang tidak pandai menunjukan keromantisan dengan bunga, coklat, hadiah ataupun kejutan lainnya. Kalaupun akan memberikan sesuatu untuk Jeje, Kenzo lebih suka berterus terang dan mengajak Jeje ke toko untuk memilih sendiri apa yang dia inginkan.


Kenzo lebih suka menunjukan keromantisan lewat tindakan dan sikap.


Buket bunga sudah berada di tangan. Kenzo mengulum senyum malu. Dia merasa seperti remaja yang baru jatuh cinta dan akan memberikan bunga pada kekasihnya.


Untuk ke sekian kalinya Kenzo kembali menghubungi Jeje, dia hanya ingin memastikan apa istrinya masih marah atau tidak. Tapi rupanya ponsel Jeje masih belum bisa di hubungi.


"Kita lihat apa kamu masih bisa marah setelah ini,,," Gumam Kenzo, kemudian masuk kedalam mobil dan melajukannya menuju rumah Papa Alex.


Nyatanya tadi malam bukan hanya berat untuk Jeje, tapi juga berat untuk Kenzo. Terbiasa tidur bersama Jeje membuat Kenzo kesulitan untuk memejamkan mata. Biasanya dia akan mendengarkan suara celotehan Jeje yang menggemaskan itu sebelum tidur. Suara Jeje sudah seperti pengantar tidur yang tidak bisa di lewatkan.


Kenzo menarik nafas dalam. Papa mertuanya memang sedikit keterlaluan. Kenzo sudah tau kalau Papa mertuanya hanya sedang mengerjainya, tapi tidak seharusnya memisahkan dia dan istrinya seperti ini. Hal itu benar - benar menyiksanya meski baru 1 malam, lalu bagaimana bisa dia sanggup melewati 13 malam lagi tanpa tidur bersama Jeje.


Tak butuh waktu lama, mobil Kenzo sudah memasuki halaman rumah Papa Alex. Kenzo sengaja melajukan mobilnya dengan kecepatan agar cepat sampai.


Kenzo mengerutkan kening, dia mempertajam penglihatannya saat dari kejauhan melihat mobil mewah terparkir di halaman rumah. Mobil yang Kenzo tau bukan miliki Papa Alex.


Laki - laki itu sedikit was - was, mungkin saja itu mobil rekan bisnis Papa Alex. Dan kemungkinan ada Papa Alex di dalam.


"Jeje bilang mereka akan pulang malam, lalu mobil siapa itu.?" Gumam Kenzo setelah mengingat chat dari Jeje.


Kenzo segera turun dari mobil dengan buket bunga di tangannya. Ada pekerja yang menyapanya saat dia baru menutup pintu mobil.


"Siang Tuan,,," Sapanya ramah.


"Non Jeje sedang memasak di dapur,," Ujarnya memberi tau.


"Memasak.?" Kenzo mengulangi ucapan pekerja rumah dengan dahi yang mengkerut. Untuk apa Jeje sampai memasak segala, sedangkan ada chef khusus di rumahnya.


"Iya Tuan, ada Den Alvin juga di sana."


"Den Alvin baru datang 1 jam yang lalu,,"


Tuturnya. Kenzo langsung bergegas masuk ke dalam tanpa berkata apapun pada pekerja rumah. Dia penasaran dengan laki - laki yang bernama Alvin itu. Kenapa dia bisa ada di rumah Papa Alex dan ada hubungan apa dengan keluarga Jeje.


Membayangkan Jeje sedang bersama laki - laki di dalam sana juga membuatnya kesal.


"Hahaha,,, yang benar saja,,," Suara tawa Jeje yang renyah terdengar menggema hingga ke ruang keluarga. Sepertinya Jeje sangat bahagia.


"Bukan ditikung namanya kalau belum ada status. Kak Al nya saja yang kurang cepat dan tidak memberikan kepastian."


"Wanita itu butuh kepastian.! Percuma saja kak Al sering mengajaknya jalan tapi tidak mengungkapkan perasaan padanya,"


Meski bicara panjang lebar, Jeje masih saja menahan tawa.


"Kurang ajar kamu, lagi sad malah di ketawain,,," Alvian menoyor pelan kepala Jeje.


"Ekhemm.!!!" Suara deheman Kenzo membuat keduanya reflek menengok kebelakang.


Tatapan tajam Kenzo sempat membuat Jeje bergidik ngeri. Tapi begitu melihat buket bunga di tangan Kenzo, Jeje langsung berjalan cepat menghampiri Kenzo dengan senyum yang mengembang.


"Hubby,,," Seru Jeje sambil memeluk Kenzo dengan erat.


"Hubby membohongiku.? Katanya tidak bisa datang hari ini,,," Jeje mendongakkan kepalanya dengan wajah yang cemberut. Sementara itu Kenzo hanya diam saja, sorot matanya bahkan masih tajam seperti tadi.


"Sedang apa kalian.?!" Tanya Kenzo dengan suara tegas. Dia beralih menatap Alvin yang saat ini juga sedang memperhatikannya dari atas sampai bawah.


Jeje melepaskan pelukannya, kemudian menarik tangan Kenzo untuk mengajaknya menghampiri Alvin.


"Jadi ini suami kamu.?" Tanya Alvin.


"Selera kamu lumayan juga, tapi sayang sudah berumur,," Ujar Alvin menilai Kenzo.


Ucapan Alvin yang seakan mencibirnya membuat Kenzo terlihat meradang.


"Siapa si brengs*k ini.?" Tanya Kenzo pada Jeje. Dia juga melirik sinis ke arah Alvin.


"Apa.?! Brengs*k kamu bilang.?" Seru Alvin tak terima. Jeje hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia sudah paham dengan situasi ini. Kenzo terlihat cemburu pada Alvin, hingga terus memasang wajah dingin dan sorot mata tajam.


"Hubby,,, ini kak Alvin." Ujar Jeje lembut.


"Dia kakak sepupu ku yang pernah aku ceritain waktu itu. Dia tidak bisa datang saat kita menikah karna masih kuliah di Jepang,,"


Mendengar penjelasan Jeje, Kenzo terlihat bernafas lega.


"Ikut aku,,," Kenzo menggandeng tangan Jeje, mengajaknya untuk pergi dari sana.


"Mau kemana by,? Aku sedang membuat makan siang." Jeje terlihat enggan untuk beranjak karna sedang membuatkan makan siang untuk Alvin.


Kenzo mendekatkan wajahnya dan membisikan sesuatu pada Jeje, setelah itu melepaskan apron yang si tubuh Jeje dan melemparnya pada Alvin.


Apron itu hampir saja mengenai wajah Alvin, tapi akhirnya jatuh ke lantai karna Alvin menghindar.


"Masak saja sendiri.!" Seru Kenzo pada Alvin.


"Jeje sedang hamil, jangan menyuruhnya untuk meladenimu.!" Ujar Kenzo lagi, kemudian beranjak dari dapur. Alvin menggeram kesal.


"Dasar sialan.!" Gumam Alvin. Dia hanya bisa menatap sepasang suami istri itu dengan pikiran yang entah kemana.


"Wah bunga cantik sekali by,," Jeje mengambil buket bunga dari tangan Kenzo.


"Kamu jauh lebih cantik,,," Bisik Kenzo, dia mengeratkan pegangannya di pinggang Jeje.


"Aku rindu padamu dan anak kita,,," Kenzo tersenyum penuh arti. Jeje yang sudah paham dengan gerak - gerik suaminya, hanya bisa menarik nafas dalam.


"Imbalan terakhirnya nanti saja ya by, jangan sekarang,," Jeje langsung to the point. Dia sedang berusaha mengantisipasi hal yang mungkin akan Kenzo lakukan padanya, karna saat ini Kenzo sedang membawanya menuju kamar.


"Siapa yang akan meminta imbalan.?" Ucapan Kenzo seperti angin segar untuk Jeje. Bukan karna dia tidak mau membayar sisa imbalannya, tapi Jeje merasa kondisi badannya tidak terlalu sehat. Sepertinya karna kurang tidur tadi malam.


"Aku hanya ingin meminta hak ku sebagai suami." Mendengar kelanjutan ucapan Kenzo, membuat Jeje langsung melongo.


"Tapi by aku,,,,"


"Pakai cara lain saja,," Bisik Kenzo.


"Aku juga tidak mau membuat kamu dan anak kita kelelahan,,,"


Jeje langsung mengangguk patuh. Percuma saja menolak, karna Kenzo pasti akan tetap memintanya dengan cara apapun.


Begitu masuk kamar, Kenzo langsung menggiring Jeje ke ranjang. Dia mencium bibir Jeje tanpa permisi dan memberikan sentuhan di kedua asetnya.


"Hubby.!" Protes Jeje setelah berhasil mendorong tubuh Kenzo.


"Kalau seperti ini caranya, aku tidak akan tahan.!" Ujarnya kesal.


"Sebaiknya hubby diam saja, biar aku yang bekerja dan jangan kemana - kemana tangannya.!"


Kenzo hampir saja tertawa mendengar keluhan Jeje. Dia tidak bermaksud untuk memberikan rangsangan pada Jeje, hanya saja dia tidak tahan saat berduaan di dalam kamar bersama Jeje.


...****...