My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 86. Penyesalan



Setelah kepergian om Kenzo, mama menghampiriku dan menceritakan apa saja yang terjadi selama aku ada di New York.


Ternyata sudah 2 kali om Kenzo datang ke rumah, dia memohon pada papa agar aku tidak di pindahkan kuliah di New York. Om Kenzo juga menjelaskan tentang hubungan kami yang sebenarnya sudah terjalin beberapa bulan belakangan ini.


Om Kenzo bahkan terang - terang meminta maaf karna sudah membuatku terluka karna kebohongan yang dia lakukan padaku. Dia pun berjanji pada papa, akan segera membatalkan pernikahannya dengan Nadine.


Setelah mendengar semua penjelasan dari om Kenzo, tentang bagaimana hubungannya dengan Nadine, akhirnya papa memberikan kesempatan pada om Kenzo. Papa mengijinkan om Kenzo menjemputku jika dia sudah berhasil menggagalkan rencana pertunangan itu. Papa bahkan memberikan restu pada om Kenzo.


Setelah om Kenzo membatalkan rencana pertunangannya, dia dan om Andreas secara langsung datang ke rumah untuk melamarku.


Mereka juga sudah menentukan pernikahan kami tanpa berbicara lebih dulu padaku.


Om Kenzo sudah sepakat akan menikahiku setelah aku lulus kuliah, tapi lihat apa yang terjadi sekarang.


Karna ulah om Kenzo, aku akan menikah sebentar lagi.


"Kenzo itu sudah dewasa Je, kamu yang harus bisa menjaga diri, jangan seperti tadi,,,"


Tutur mama lembut.


Aku yang tadinya sudah tidak malu, kini dibuat semakin malu oleh ucapan mama.


Semua ini gara - gara om Kenzo yang asal menciumku tanpa memperdulikan situasi dan kondisi. Sudah tau papa dan mama juga naik keatas, bisa - bisanya dia menciumku.


"Maafin Jeje mah,,," Ucapku tulus, aku tidak berani menatap mama karna malu. Hanya bisa menundukkan pandangan.


"Sudah, tidak apa."


"Sepertinya keputusan untuk menikah lebih awal, akan menjadi keputusan yang tepat."


"Mama harap kamu bisa menjalani pernikahan dengan baik. Dan ingat pesan mama,, tunda dulu kehamilan kamu sampai usia kamu cukup untuk itu, "


"Iya mah,, Jeje akan menuruti perkataan mama,,"


Aku paham akan kekhawatiran mama. Dia pasti tidak mau aku dan om Kenzo berbuat semakin jauh sebelum menikah, apa lagi kalau aku sampai hamil sebelum menikah.


Aku memang sudah keterlaluan dan kelewat batas. Tidak seharusnya aku berbuat sampai sejauh ini.


Aku dengan mudahnya menjerumuskan diri, merusak diriku sendiri dengan menjadi sugar baby. hanya karna mama dan papa tidak memperdulikan saat itu. Mungkin jika aku bisa bersabar sedikit saja, pasti aku tidak akan kehilangan kesucianku. Karna saat ini papa dan mama sudah berubah, mereka tidak lagi mengabaikanku seperti dulu.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Aku hanya bisa mengambil pelajaran atas apa yang sudah terjadi padaku, dan berharap kehidupanku akan jauh lebih baik setelahnya.


...***...


Pagi ini aku sudah harus berangkat kuliah lagi. Keinginanku untuk pindah kuliah di New York, sampai aku langsung terbang kesana saat itu juga, nyatanya hanya menjadi liburan saja disana.


Aku tidak menyangkan akan jadi seperti ini jalannya.


Alih - alih bisa melupakan om Kenzo dan membuka lembaran baru di New York, justru saat ini aku akan semakin dekat dengan om Kenzo dengan ikatan pernikahan. Siapa yang bisa menebak takdir.


Saat aku akan turun ke bawah, satu notifikasi pesan masuk ke ponselku. Rupanya om Kenzo yang mengirimkan pesan padaku.


Hari ini berangkat sama supir saja. Siang nanti aku jemput, kita akan membeli cincin.


Simpan nomorku.


Meski aku sudah tau kalau kita akan menikah, tapi aku masih saja tidak percaya saat membaca pesan ini. Benarkah aku dan om Kenzo akan menikah dalam waktu dekat.?


Dulu aku begitu mendambakan pernikahan dengannya suatu saat nanti, tapi saat hari itu sudah ada di depan mata, entah kenapa perasaanku padanya sudah tidak lagi seperti dulu. Rasa kecewa yang amat besar, membuatku akhirnya memaksakan diri untuk menghapus semua perasaanku padanya.


Aku menyimpan nomornya dengan nama kontak om om, biar saja dia kesal saat melihatnya nanti.


Dia pasti sudah mencuri nomorku saat di apartemennya kemarin.


Ya, nanti aku kabari jam pulangnya.


Setelah membalas pesan dari om Kenzo, ku masukan lagi ponselku kedalam tas, lalu bergegas turun untuk sarapan.


Lagi - lagi aku harus mendapat teguran dan nasehat. Kali ini papa yang menegurku. Aku sadar, apa yang terjadi kemarin sudah kelewatan. Mama bahkan sampai syok melihat aku dan om Kenzo berciuman. Mengingat hal itu hanya membuatku terus merasa malu.


Bisa - bisanya mama memergoki aksi om Kenzo yang sedang melu**t bibirku dengan rakus.


Untung saja mama tidak memergoki kami saat acara makan malam waktu itu. Mungkin malam itu juga kami akan langsung di nikahkan.


...***...


Kedatangan ku di kelas, di sambut antusias oleh Karin. Dia langsung menghambur untuk memelukku.


"Kamu kemana Je,, sebulan tanpa kabar, tiba - tiba muncul lagi. Nomor kamu juga nggak bisa di hubungi,,"


"Ada sedikit masalah Rin,,"


"Duduk dulu ah, cape nih baru nyampe,,"


Aku langsung mendudukkan diri di kursi, di ikuti oleh Karin.


"Apa gara - gara pacar kamu yang tunangan sama sama model itu.?"


"Sssttt,,," Aku langsung memberikan isyarat pada Karin.


"Jangan kenceng - kenceng ngomongnya,," Ucapku setengah berbisik.


"Sorry,,"


"Jadi bener karna itu.?" Tanya lagi.


Aku mengangguk.


"Kamu tau, berita pertunangan itu membuatku syok. Tapi 2 hari yang lalu, model itu justru di kabarkan menikah sama orang lain,," Ujarnya dengan raut wajah yang terlihat bingung.


"Panjang ceritanya,,"


Aku mulai menceritakan semua yang terjadi pada Karin. Bukannya paham, Karin justru semakin bingung dengan permasalahan yang rumit ini.


Aku hanya bisa tertawa melihatnya kebingungan seperti itu.


Mataku membulat sempurna saat melihat beberapa tanda merah di dada Karin. Gerakan Karin yang sedikit menunduk tadi, membuat dadanya terlihat. Terlebih kancing kemeja yang dipakai Karin tidak terpasang seluruhnya. Aku tidak menyangka gadis sepolos Karin juga bisa berbuat sejauh itu.


Aku langsung mendekat pada Karin.


"Katanya nggak punya pacar, tapi bekas ciuman ada di dada. Pacar kamu ganas juga,,," Bisikku.


Sontak Karin langsung meletakan kedua tangan di dadanya. Setelah itu membenarkan kancing kemejanya.


"Je,,," Karin memegang tanganku dengan tatapan sendu.


"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan."


"Aku emang nggak punya pacar, bahkan nggak pernah pacaran. Aku bakal cerita ke kamu, tapi nanti kalau aku udah siap,,"


Karin mengusap air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Aku jadi khawatir padanya.


Apa mungkin Karin sudah mengalami pelec*h*n *****al.?


"Rin,, jangan bilang kalau kamu di,,,


Karin langsung menggelengkan kepalanya.


"Nggak Je,,"


"Jangan bahas lagi ya, nanti aja aku ceritain." Ucapnya lemah.


Aku hanya mengangguk dan tidak lagi mencecar Karin dengan pertanyaan yang mengarah kesana. Sepertinya Karin sangat terpukul akan hal itu. Aku tau Karin anak baik - baik, tidak mungkin dia yang menjerumuskan diri ke hal buruk semacam itu. Karin tidak sepertiku yang dengan mudahnya menyerahkan diri pada laki - laki. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya.


...**...


Aku sudah mengabari om Kenzo 30 menit yang lalu sebelum jam pulang kuliah. Saat ini aku dan Karin sedang jalan keluar kampus.


Kami sama - sama sedang menunggu jemputan. Aku penasaran dengan orang yang akan menjemput Karin, dia bilang orang itu yang sedang memiliki urusan dengannya.


Sebuah mobil mercy berhenti di depan kami, dia menurunkan kaca jendela dan membunyikan klakson.


Aku dibuat terperangah melihat laki - laki yang ada di dalam mobil itu.


"Je,, aku duluan ya,," Karin menepuk pundakku, lalu segera berlalu masuk kedalam mobil.


Aku masih mematung di tempat, masih bingung dengan apa yang baru saja aku lihat.


"Ngeliatin apa.?" Surat teguran dari om Kenzo membuatku langsung menoleh padanya.


"Ayo ke mobil,," Om Kenzo menggandeng tangaku menuju mobil yang sudah terparkir di depanku.


"Om,,, ada hubungan apa asisten pribadi om sama Karin.?" Tanyaku setelah kami masuk kedalam mobil.


"Karin.?"


"Temen aku yang waktu itu pulang bareng kita,,"Jelasku.


"Kenapa memangnya.?" Om Kenzo mulai melakukan mobilnya.


"Barusan dia jemput Karin ke sini,,"


"Biarkan saja. Reynald memang sudah biasa berburu wanita. Mungkin temen kamu sudah jadi mangsanya." Jawabnya datar.


"Kita makan siang dulu, aku belum sempat makan karna banyak kerjaan,,"


Aku hanya diam, masih sibuk memikirkan keadaan Karin. Kasian juga kalau dia menjadi korban asisten pribadi om Kenzo.


...****...


Makasih yang udah mampir di akun othor yang satunya. 🥰


Jadi nambah semangat karna ada pemasukan lagi disana😁. lumayan 24rb.


Nama akun : Ratna Wullandarrie


jangan lupa mampir yang belum🥰