My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
77. Season2



Saat membuka mata, Jeje tidak mendapati Kenzo ada di sampingnya. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 4 sore. Rupanya sudah hampir 3 jam Jeje tertidur. Apa yang di katakan Kenzo memang benar, dia benar - benar kelelahan sampai tidur dengan pulas selama itu tanpa terbangun sedikitpun.


Jeje turun dari ranjang, dia pergi ke balkon kamarnya untuk memastikan jika mobil Kenzo masih terparkir di halaman rumah. Jeje berharap Kenzo masih ada di sini dan belum pulang ke apartemennya. Membayangkan akan di tinggal oleh Kenzo, membuat wajahnya seketika sendu.


2 minggu. Bukankah itu waktu yang lama.?


Pasti akan sulit tidur karna tidak ada yang bisa di peluk sebelum memejamkan mata.


Senyum Jeje mengembang. Mobil suaminya masih terparkir di tempat semula sejak mereka datang.


Saat ini dia harus mencari suaminya untuk memintanya tidak pulang lebih dulu sebelum makan malam.


Suasana di lantai 1 sangat sepi. Jeje tidak mendapati siapapun di sana.


"Kemana semua orang,,,?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri. Dia juga mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan.


"Hubby,,,!!"


"Mah,,! Pah,,!" Jeje berteriak sembari melangkahkan kakinya ke dapur. Dia harus menanyakan keberadaan mereka pada ART.


Jeje menghela nafas, dia juga tidak mendapati siapapun di dapur.


"Ya ampun, apa mereka pergi dari rumah.? Tega sekali meninggalkan aku sendirian,,," Jeje menggerutu kesal.


Dia duduk di depan meja makan, menuang air putih dan meneguknya.


Dia bisa saja menghubungi lewat telfon, tapi malas untuk mengambil ponselnya yang dia tinggalkan di kamar.


"Apa mereka benar - benar pergi.?" Gumamnya lagi. Wajahnya semakin cemberut saja.


"Ah,, di halaman belakang,,!" Seru Jeje. Dia langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke halaman belakang. Begitu menggeser pintu kaca, Jeje dibuat melongo dengan pemandangan indah yang ada di depan matanya.


"Happy pregnancy sayang,,,," Seru Mama Rissa dan Papa Alex bersamaan.


Mata Jeje berkaca - kaca. Kejutan yang mengharukan.


Taman di dengan cantik, di sisi kolam renang juga dilengkapi dekorasi kayaknya orang yang sedang merayakan ulang tahun. Lengkap dengan meja yang berisi berbagai macam kue dan makanan.


Jeje tidak bisa berkata - kata. Dia diam di tempat dan hanya menatap semua orang dari kejauhan.


Kejutan yang di berikan oleh keluarganya mampu membuatnya terharu. Semua pegawai yang bekerja di rumah itu juga berkumpul di sana.


Kenzo tersenyum, dia segera menghampiri Jeje dan memberikan pelukan singkat padanya. Istrinya itu masih saja diam.


"Mereka yang membuat kejutan ini. Lihat, mereka terlihat sangat bahagia,,," Kenzo menatap ke arah kedua orang tua Jeje yang saat ini matanya berbinar.


"Apa Papa tidak marah lagi karna aku hamil.?" Tanya Jeje lirih.


"Papa memang tidak marah. Orang tua manapun pasti akan bahagia saat akan punya cucu,,," Jelas Kenzo, tangannya sembari merangkul pinggang Jeje dan menuntunnya untuk bergabung bersama mereka.


Jeje melongo mendengarnya, kalau Papa Alex tidak marah, lalu kenapa dia harus memberikan hukuman pada Kenzo dengan membuat dia dan suaminya harus tinggal terpisah selama 2 minggu.


"Tapi kenapa,,,"


"Papa kamu hanya ingin mengerjaiku. Kita lihat saja usahanya berhasil atau tidak,,," Kenzo tersenyum puas. Dia masih bisa menemui Jeje saat jam kantor. Setidaknya kedua mertuanya sedang tidak ada di rumah saat itu.


"Selamat sayang,,," Mama Rissa menghampiri Jeje, dia merentangkan tangannya dan membawa Jeje kedalam pelukannya. Tidak ada hubungan darah di antara mereka, tapi kasih sayang antara keduanya lebih dari sekedar hubungan darah.


"Makasih Mah,,," Jeje memeluk erat Mama Rissa.


Dia semakin bahagia dengan kehamilannya. Apa lagi saat tau kedua orang tuanya terlihat sangat bahagia saat ini. Jeje semakin tidak sabar untuk melahirkan dan memberikan kebahagiaan yang jauh lebih besar pada kedua orang tuanya.


Semua orang akan bahagia menyambut kelahiran seorang anak. Mereka akan memberikan yang terbaik saat anak itu masih di dalam kandungan.


Lalu apa yang membuat orang terkadang membuang anak yang baru saja mereka lahirkan.? Atau menukarnya dengan sesuatu yang pastinya tidak akan sebanding dengan seorang anak. Bagaimana bisa mereka tega melakukannya.?


Jeje menarik nafas dalam. Dia semakin sakit membayangkan Ibu kandungnya yang lebih memilih harta ketimbang dirinya. Setidak berarti itukah dia untuknya.?


Mama Rissa melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata Jeje.


"Kenapa menangis.?" Tanyanya, Jeje hanya tersenyum tipis.


"Kamu harus selalu bahagia, agar dia tumbuh dengan baik,,," Mama Rissa mengusap perut Jeje dengan penuh kasih sayang.


Dulu dia merasakan masa - masa tersulit saat harus menerima Jeje dan merawatnya. Bukan karna dia membenci Jeje, tapi karna teringat perbuatan Ibu kandung Jeje yang sudah mengecewakannya.


Sahabat baiknya itu tega mengkhianati kepercayaan yang sudah dia berikan padanya.


"Jeje akan selalu bahagia selama ada kalian,,," Jeje merentangkan tangannya untuk memeluk Mama Rissa dan Papa Alex.


"Sini sayang,,," Papa Alex merangkul bahu Jeje, dia membawa Jeje mendekati meja yang tertata banyak makanan di atasnya.


"Papa sudah siapkan semua makanan ini untuk kamu,," Ujarnya memberi tau.


"Biasanya saat hamil muda akan menginginkan makanan tertentu, Papa menyuruh mereka untuk membuatkan membelikan semua ini,,,"


Jeje hanya menggelengkan kepala dengan mulut yang sedikit terbuka. Entah ada berapa jenis makanan dan buah - buahan yang tersaji di sana. Semuanya makanan itu memang sering diminta oleh wanita yang sedang hamil muda.


"Kamu harus cicipi semuanya,,," Ucapan papa Alex membuat mulut Jeje semakin menganga.


"Papa ini yang benar saja,,," Mama Rissa menegurnya dengan menepuk lengan Papa Alex.


Dan pada akhirnya terjadi perdebatan menggemaskan di antara mereka.


Jeje dan Kenzo hanya tertawa saja melihatnya. Mereka terlalu bahagia dan antusias untuk menyambut cucu pertama mereka.


"Sekarang coba yang ini,,," Papa Alex menyuapkan mangga muda ke mulut Jeje. Entah sudah berapa macam makanan yang masuk kedalam mulutnya.


Papa Alex masih saja menyuruhnya untuk membuka mulut.


"Pah,, Jeje sudah kenyang. Tidak mungkin mencicipi semuanya,,," Jeje menolak halus saat Papa Alex akan menyuapkan makanan lagi ke mulutnya.


"Papa kamu memang berlebihan,," Ujar Mama Rissa.


"Ayo masuk, biarkan saja Papa yang menghabiskan semua makanan itu,," Jeje tersenyum lega saat Mama Rissa menggandengnya untuk mengajaknya masuk.


"Hubby ayo,,,"


Kenzo mengangguk dan melangkahkan kakinya untuk menyusul istrinya.


"Ken.!!!" Teriak Papa Alex.


"Kembali.!! Kamu juga harus ikut menghabiskan semua makanan ini..!"


Kenzo menghela nafas kasar. Papa mertuanya benar - benar hobi mengerjainya.


Setelah membuatnya harus tinggal terpisah dengan Jeje, Papa Alex masih saja memberikannya hukuman.


Kenzo masuk ke dalam kamar dengan wajah yang di tekuk. Perutnya terasa akan meledak setelah ikut menghabiskan makanan itu. Dia tidak habis pikir, kenapa Papa mertuanya sangat berlebihan sampai harus menyediakan makanan sebanyak itu.


"Mandi dulu by,,," Jeje menghampiri Kenzo yang tengah duduk di sofa dengan menyenderkan tubuhnya.


"Nanti saja, perutku masih penuh,,," Kenzo beberapa kali menarik nafas panjang. Perutnya terasa begah hingga sulit untuk bernafas.


"Papa benar - benar suka mengerjai hubby,," Ujar Jeje sembari terkekeh. Dia duduk di samping Kenzo dan mengusap perut Kenzo yang sedikit mengembang.


"Sepertinya roti sobek hubby hilang dua,,," Ucapnya setelah meraba - raba perut bagian bawah Kenzo.


Kenzo langsung menghentikan gerakan tangan Jeje.


"Berhenti atau kamu akan membangunkannya."


Jeje langsung menarik tangannya.


"Kenapa gampang sekali bangun,,," Protes Jeje.


"Karna normal.!" Seru Kenzo.


"Tapi hubby kelewat normal,,," Balasnya sedikit mencebik.


"Kamu tidak suka.?"


Jeje langsung terdiam. Wajahnya langsung merona.


Bagaimana dia tidak suka, Kenzo terlalu berenergi hingga membuatnya terus memikirkannya. Tapi saat ini kondisinya berbeda. Dia tidak bisa lagi mengimbangi Kenzo.


"Kenapa diam.?" Ulah jahil Kenzo mulai keluar. Dia meletakan tangan di paha Jeje dan merabanya di balik dress.


"Hubby geli,,," Jeje berusaha menyingkirkan tangan Kenzo.


"Kamu bahkan sudah on hanya dengan sentuhan tangan,,," Ledek Kenzo. Dia membalikkan ucapan Jeje.


Jeje tersipu malu dan mendekap tubuh Kenzo dari samping.


...****...


Ada give away di novel "Nicholas". Yang mau ikutan bisa cek S&K nya di Bab 13 ☺