My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
68. Season2



"Siapa.?" Tanya Kenzo. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dan menghampiri Jeje yang baru selesai menerima telfon. Wajah istrinya itu terlihat lesu dan cemas.


"Mama,,," Jawabnya lirih. Diletakannya ponsel itu di atas nakas. Jeje menatap Kenzo yang ikut duduk disebelahnya, kemudian memeluk tubuh Kenzo dari samping dengan kepalanya yang di senderkan pada dada bidang Kenzo. Aroma maskulin dari tubuh Kenzo langsung memberikan energi tersendiri untuknya.


"Mereka sudah pulang.?" Jeje hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Mama menyuruhmu ke rumah besok.?" Tanya Kenzo lagi. Jeje mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Kenzo.


"Kenapa hubby bisa tau.?" Tanyanya penasaran.


Kenzo menarik sudut bibirnya, tersenyum gemas pada Jeje.


"Ekspresi wajah kamu mengatakan seperti itu." Sahut Kenzo dengan kekehan kecil. Tak lupa mengacak gemas pucuk kepalanya.


Jeje diam melongo untuk beberapa detik.


"Memangnya wajah aku kenapa by.?" Jeje melepaskan pelukannya, dia meraba - raba wajahnya sendiri menggunakan dua tangannya.


Kenzo semakin terkekeh dibuatnya, lucu saja rasanya setiap kali melihat tingkah Jeje yang entah polos atau pura - pura bodoh tapi menggemaskan.


Kenzo mendekat dengan berbisik di telinga Jeje.


"Wajah kamu,,,," Bisiknya dengan menggantungkan ucapannya.


"Hubby.!" Protes Jeje sambil mendorong pelan dada Kenzo agar menjauh.


"Jangan bisik - bisik, geli ih,," Jeje mengusap lehernya yang meremang.


"Wajah aku kenapa.?" Dia masih saja penasaran.


"Wajah kamu cantik,,," Ucapnya dengan tatapan yang mampu membuat Jeje bergidik ngeri.


Kenzo kembali mendekat sembari mendorong kedua bahu Jeje hingga membuatnya berbaring di atas ranjang.


"Aaa,,,, hubbyyyy,,,,!" Jeje memberontak di bawah kungkungan Kenzo.


"Cantik dan menggoda,,," Ucapnya lagi tanpa menghiraukan Jeje yang terus menggerakkan tubuhnya.


"Aku ingin imbalan yang ke 2,," Sambungnya cepat.


Mata Jeje membelalak sempurna.


"Jangan bercanda by,,! Kita baru melakukannya tadi siang. Aku sedang hamil, jangan terlalu sering.!"


Kenzo tertawa mendengarkan omelan Jeje.


Dia menyingkir dari atas tubuh Jeje, kemudian membangunkannya.


"Ngeselin.!" Jeje memukul pelan dada Kenzo saat menyadari dirinya hanya sedang di kerjai oleh Kenzo.


"Siapa suruh menggemaskan seperti ini." Kenzo menarik pelan hidung Jeje.


"Bukan aku yang menggemaskan, tapi hubby yang terlalu cinta padaku." Sangkal Jeje cepat.


Kenzo mengangguk, menyetujui pernyataan Jeje.


"lebih dari yang kamu tau,,," Ujar Kenzo lembut.


Bukan hanya terlalu mencintai Jeje, tapi seluruh hidupnya bahkan ada pada diri Jeje.


Tidak ada sesuatu yang bisa menggambarkan berharganya Jeje bagi hidup Kenzo.


Jeje menghambur ke pelukan Kenzo, dia merasa terharu dengan ucapan Kenzo yang di tujukan untuknya.


"Tetap menjadi my hubby, tetap disampingku dan mencintaiku," Gumam Jeje dengan mata yang berbinar.


"Tentu saja." Kenzo membalas pelukan Jeje.


Saat ini hanya ada kebahagiaan yang terus Jeje rasakan selama menikah dengan Kenzo. Tidak ada yang dia inginkan selain kebahagiaan keluarga kecilnya nanti. Jeje hanya bisa berharap akan terus seperti ini sepanjang hidupnya bersama Kenzo.


"Besok kita ke rumah Mama ya by,," Ajak Jeje. Kenzo mengangguk, senyum tipis mengembang di bibirnya.


"Aku yang akan bicara pada mereka tentang kehamilan kamu. Jangan khawatir dan tidak perlu cemas seperti ini,,"


Jeje menyengir kuda, rupanya Kenzo bisa membaca pikirannya. Pantas saja tadi bisa menebak kalau kedua orang tua Jeje sudah pulang.


"Aku cemas karna takut mereka akan memarahi hubby. Bukankah mereka sudah memperingatkan hubby untuk tidak menghamiliku dalam waktu dekat,," Tutur Jeje mengingatkan.


Jeje hanya mengkhawatirkan suaminya. Dia sangat yakin kalau Papa Alex akan marah besar pada Kenzo karna sudah melanggar perintahnya.


Meski Jeje juga yakin mereka akan senang mendengar kabar kehamilannya, tapi bukan perkara mudah Kenzo bisa lolos dari kemarahan papa Alex.


Kenzo tersenyum dengan wajah yang terlihat santai dan tenang. Dia sama sekali tidak mengkhawatirkan akan seperti apa reaksi ayah mertuanya nanti. Lagipula Kenzo merasa bahwa apa yang dia lakukan pada Jeje hingga membuat hamil bukanlah sebuah kesalahan. Dia sudah menikahi Jeje, jadi apa yang salah jika saat ini Jeje hamil.


Kalaupun Papa Alex memarahinya, Kenzo akan punya seribu kalimat untuk memberikan pembelaan.


"Kenapa harus takut.? Kita tidak melakukan kesalahan. Memang sudah sewajarnya kamu hamil karna kita melakukannya setiap hari. Bukankah itu bagus, artinya kita itu subur,,," Ujar Kenzo dengan candaan. Jeje mencebik kesal, dia mencubit pelan pinggang Kenzo.


"Sudah malam, ayo tidur. Atau mau aku tiduri.?" Goda Kenzo sembari mengedipkan sebelah matanya. Jeje membelalak, dia langsung naik ke atas ranjang.


"Aku bisa tidur sendiri by.!" Serunya sembari merebahkan diri dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


...****...


Semalam Karin tidak bisa tidur dengan nyenyak. Matanya bahkan baru bisa di pejamkan saat sudah larut malam. Dan setelah itu terus terbangun hingga beberapa kali. Ada hal yang mengganjal pikirannya sampai akhirnya membuatnya tidak bisa tidur.


Karin masih saja merasa bahwa ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan darinya.


Meski semua orang mengatakan jika Bapaknya baik - baik saja, tapi tatapan mata mereka mengatakan hal yang berbeda.


Mereka tidak akan terlihat sedih jika memang Bapaknya baik - baik saja.


Karin menghebuskan nafas berat. Dia melirik jam weker yang sudah menunjukan pukul 6 pagi. Matanya beralih pada sosok Reynald yang masih tertidur pulas. Jika di lihat - lihat, wajah Reynald sangat polos dan menggemaskan saat tertidur. Jauh berbeda ketika dia membuka mata. Wajahnya seketika terlihat dingin dan tegas.


Mata Reynald benar - benar memiliki pengaruh besar pada karakternya.


Sifatnya bisa dilihat dari sorot matanya yang tajam.


Karin mengulas senyum, setidaknya saat ini sudah ada perubahan baik pada diri Reynald meski baru sedikit. Perlahan laki - laki itu semakin bisa menunjukan perhatiannya.


Hal yang masih melekat di ingatan Karin adalah saat Reynald mengusap kepalanya dengan tatapan mata yang teduh dan seulas senyum. Untuk pertama kalinya Reynald melakukan hal itu. Mungkin hal yang biasa bagi sebagian wanita beruntung di luar sana, tapi bagi Karin hal itu sangat manis dan menyentuh hati.


Seorang Reynald yang biasa dingin dan kaku, tiba - tiba tersenyum teduh padanya dan mengusap gemas pucuk kepalanya. Seakan ujung kutub yang mencair. Benar - benar mengagetkan Karin.


"Sebegitu kagumnya kamu padaku.?" Suara serak Reynald membuat Karin tersentak dan reflek mundur.


"Aaaa,,," Teriak Karin. Dia hampir jatuh dari ranjang karna mundur terlalu jauh hingga ketepi ranjang. Beruntung Reynald masih bisa meraih tangan Karin dan menariknya ke tengah. Kini badan Karin justru jatuh di atas tubuh Reynald dengan wajah yang saling berhadapan. Keduanya saling pandang untuk beberapa saat. Karin kembali melihat tatapan teduh itu. Tatapan yang mampu membuatnya merasakan cinta dari seorang Reynald. Tatapan yang mampu membuat hatinya bergetar.


"Kamu ini ceroboh sekali.!" Ketus Reynald. Sorot matanya seketika berubah tajam, kembali pada bentuk asalnya.


Karin langsung menyingkir dari atas tubuh Reynald. Merasa kecewa karna hanya bisa menikmati tatapan teduh itu hanya dalam hitungan detik.


"Bukan aku yang ceroboh, tapi kakak yang mengagetkan ku.!" Sahut Karin dengan bibir yang mencebik. Apa harus dia membalas keketusan Reynald dengan sikap ketus juga.? Dia sudah pernah melakukannya, tapi sikap Reynald masih sama seperti itu.


"Makanya jangan melamun.! Aku sudah bangun sejak tadi, kenapa sampai kaget mendengarku bicara.!" Ketusnya lagi.


Namun ada seulas senyum tipis di bibir Reybald yang tidak di sadari oleh Karin. Laki - laki itu sedang membayangkan Karin yang tadi melamun di depan wajahnya. Wanita itu tertangkap basah memandangi wajahnya sampai sorot matanya menerawang jauh hingga tidak sadar saat Reynald membuka mata.


"Bukan masalah aku melamun, tapi karna suara kakak terlalu besar.!" Karin kembali berbicara ketus.


"Jangan menyalahkanku kalau kenyataannya kamu itu memang melamun.!" Tukas Reynald.


Keduanya lebih mirip kakak adik yang selalu bertengkar jika bersama, tapi rindu saat jauh.


Berdebatan itu terus terjadi tanpa ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya ketukan pintu kamar membuat keduanya kompak mengakhiri perdebatan.


"Buka pintunya.!" Perintah Reynald dengan gerakan kepala. Wajahnya masih saja ketus, sangat menyebalkan di mata Karin.


"Tidak mau. Kakak saja.!" Jawab Karin acuh.


"Kau.!!" Pekik Reynald.


Dia hampir saja tersenyum melihat Reynald yang geram semabari mengepalkan tangan ingin meninjunya. Matanya membuat sempurna dengan bibir yang sedikit maju. Meski sedikit menyeramkan, tapi terlihat sangat lucu.


"Aku Karin.!" Sahut Karin cepat. Dia berusaha menahan diri untuk tidak tertawa, sedangkan Reynald terlihat semakin geram dan ikut membuat Karin puas karna bisa membuat Reynald kesal.


"Aku sudah tau.!"


"Ya sudah,," Balas Karin acuh.


"Itu buka pintunya kak, kasian mbaknya gedor - gedor pintu terus." Pinta Karin. Reynald mendengus kesal, namun dia turun dari ranjang dan membukakn pintu kamarnya.


"Sial.!" Gumam Reynald saat menyadari dirinya menurut begitu saja di perintah oleh Karin.


"Sial kenapa Tuan.?" Tanya ART. Reynald hanya menggeleng.


"Ada apa.?" Tanya Reynald datar.


"Itu Tuan, ada tamu katanya kakaknya non Karin. Mau bicara sama Tuan katanya penting. Sudah menelfon nomor Tuan 1 jam yang lalu tapi katanya tidak aktif. Jadi,,,,


"Jangan bilang Karin kalau kakaknya datang.! Aku akan keluar sebentar.! Bilang saja ada urusan.!" Pinta Reynald tegas. ART itu mengangguk patuh.


Reynald langsung menghampiri Radit tanpa mengganti baju lebih dulu.


"Kak,, Bapak,,," Seru Radit begitu Reynald datang. Reynald langsung mendelik, memberikan isyarat agar Radit tidak bicara.


"Ayo keluar.!" Ajak Reynald. Radit menurut dan mengikuti langkah Reynald. Reynald terlihat cuek keluar dari apartemen meski masih memakai baju tidur.


...*****...


Yang mau getok kepala Reynald karna gregetan, nih othor kirim fotonya. Pergetokan kepala dipersilahkan 🤣 kali aja abis di getok ribuan readers, otak Reynald jadi normal.