My Sugar (Jenifer Alexander)

My Sugar (Jenifer Alexander)
Bab 101. Pengganggu



Gerakan Kenzo saat turun dari ranjang, membuat Jeje terbangun. Gadis itu hampir saja memanggil suaminya, namun dia mengurungkan niatnya saat Kenzo mengangkat telfon dan menyebut nama Cla. Nama panggilan yang pernah dia dengar saat Kenzo memanggil Clara.


Tentu saja hal itu mengundang rasa penasaran Jeje. Meski ada sedikit kecemburuan dan kecurigaan pada suaminya yang ternyata berkomunikasi baik dengan wanita itu.


Jeje mengikuti Kenzo yang keluar dari kamar. Dan saat itu dia mendengar semua cerita tentang masa lalu suaminya dengan wanita itu.


Apa Jeje cemburu.? kesal.? marah.? setelah mengetahui kedekatan mereka yang sangat intim dulu.


Gadis berparas cantik itu bahkan tidak tau dengan perasaannya saat ini.


Tapi yang pasti ucapan Clara yang menyebut jika Kenzo menikahinya hanya untuk membalaskan dendam pada Nadine, sedikit mengusik hatinya.


Jeje tau, sejak awal Kenzo memang menjadikan dirinya sugar baby sebagai pelampiasan atas kekecewaannya terhadap Nadine.


Tapi dia yakin Kenzo tidak main - main dengan pernikahan mereka.


Jeje hanya menatap datar ke arah Kenzo yang mendekat padanya. Berbeda dengan wajah Kenzo yang terlihat cemas. Tentu saja laki - laki itu takut Jeje akan salah paham padanya.


"Tidur kamu terganggu,,?" Tanya Kenzo, dia sedang berusaha bersikap santai. Satu tangannya mengusap lembut pipi Jeje. Remaja itu hanya menggeleng pelan tanpa suara.


"Jadi benar dia istri kamu Ken.?" Tiba - tiba saja Clara mendekat, menatap Jeje dari ujung kaki hingga kepala. Manik matanya kembali turun, berhenti tepat di dada Jeje yang sedikit terbuka dengan beberapa tanda kepemilikan di sana.


"Sejak kapan kamu bermain dengan anak kecil seperti ini." Cibirnya.


"Dia lebih pantas jadi adik kamu,,"


"Jangan kelewat batas Cla.!!" Geram Kenzo, dia mencengkram pergelangan tangan Clara dan menyeretnya untuk keluar.


"Menjijikan,,,!" Umpat Jeje ketus. Matanya tajam menatap ke arah Clara dengan tatapan sinis dan jijik.


Tidak terima mendapat umpatan dari Jeje, Clara melepaskan diri dari genggaman Kenzo, dia kembali menghampiri Jeje.


"Apa kamu bilang.?!" Geramnya.


"Jika aku menjijikan, Kenzo tidak akan membawaku ke hotel setiap malam,,!" Ucapnya bangga.


"Cukup Clara,,!!" Kenzo kembali menarik Clara.


"Itu karna kamu menjijikan.! Suamiku hanya membawamu ke hotel dan tidak sudi menjalin hubungan lebih denganmu.! Apa lagi menjadikanmu istrinya,,!!" Geram Jeje tak kalah kencang. Suaranya bahkan menggema di ruangan itu.


"Kau.!! Berani sekali menghinaku.!" Clara memberontak dalam cengkraman Kenzo.


"Dasar jal*ng kecil murahan,,,


Plaaakkkk,,,!!!


Tamparan keras mendarat di pipi mulusnya.


"Ken,,," Ucap Clara dengan wajah menyedihkan, juga tangannya yang terus memegang pipinya. Dia menatap Kenzo dengan berkaca - kaca. Tidak menyangka pembawaan Kenzo yang dulu sangat lembut dan baik, tega menamparnya.


"Keluar.!!!" Bentaknya. Kenzo menunjuk pintu keluar.


"Jangan buat kesabaranku habis atau kamu akan berakhir disini.!!" Geramnya dengan wajah yang sudah memerah.


Hinaan Clara terhadap istrinya membuat emosi Kenzo tidak bisa di tahan lagi.


Sambil menatap tajam ke arah Jeje, Clara berjalan ke luar.


"Tunggu..!" Seru Jeje. Dia berjalan mendekat, membalik tubuh Clara dan mendaratkan satu tamparan di wajah Clara.


Hal itu membuat Clara membulatkan matanya. Dia tidak menyangka perempuan yang dia sebut jal*ng kecil itu berani menamparnya.


"Itu balasan karna sudah menghinaku.!!" Geram Jeje.


"Sekarang pergi dari hadapanku.!!"


"Kau.!!"


Clara langsung bungkam saat melihat Kenzo mendekat. Wanita itu segera keluar dari apartment Kenzo dengan amarah yang semakin meluap.


Nafas Jeje terlihat naik turun karna baru saja meluapkan emosinya. Dia tidak habis pikir ada wanita yang tidak punya malu seperti Clara, yang masih gigih mendatangi suaminya meski sudah berulang kali Kenzo mengatakan jika dirinya sudah menikah.


Jeje menghela nafas, dia merasa kesal dengan asal - usulnya. Bahkan sedikitpun tidak ingin tau siapa ibu kandungnya. Jeje yakin, ibu kandungnya tidak benar - benar mengharapkan dirinya terlahir ke dunia ini. Dia pasti hanya di jadikan pancingan untuk merebut papa Alex dari mama Rissa.


"Sayang,,," Kenzo meraih tangan Jeje.


"Kamu baik - baik saja.?" Tanya lembut. Jeje hanya melirik Kenzo sekilas tanpa ekspresi. Dia menarik tangannya dari genggaman Kenzo.


"Aku mau tidur lagi by,," Ucapnya datar. Jeje berlalu dari hadapan Kenzo, dia berjalan ke kamar tamu.


"Kenapa disitu.?" Tegur Kenzo sembari menyusul langkah istrinya.


"Kamu marah padaku.?"


Kenzo terus membuntuti Jeje hingga di depan pintu kamar.


"Aku mau tidur disini,,," Jeje masuk kedalam tanpa menatap Kenzo sedikitpun. Dia bahkan langsung menutup pintu dan menguncinya.


Sementara itu Kenzo hanya diam mematung di depan kamar. Dia tidak tau apa yang terjadi pada istrinya. Entah marah padanya atau marah pada Clara.


Padahal gadis itu bersikap biasa saja saat masih ada Clara. Bahkan terkesan cuek dan berani menghadapi Clara.


Beberapa kali Kenzo mencoba membuka pintu, dia bahkan terus memanggil nama istrinya, namun tidak sedikitpun Jeje meresponnya.


"Hubungi aku kalau butuh sesuatu,,!" Teriak Kenzo.


"Aku akan pergi sebentar,,,!" Teriaknya lagi. Kenzo pergi ke kamarnya, mengambil jaket dan keluar dari apartement.


Sementara itu, Jeje masih dia balik pintu kamar. Dia mendengar ucapan Kenzo, namun enggan menjawabnya.


Pikirannya menerawang jauh, memikirkan asal usul dirinya dan kisah masalah lalu orang tuanya yang rumit.


Cukup lama Jeje merebahkan dirinya di dalam kamar tamu, dia memutuskan keluar karna Kenzo tak kunjung kembali.


Pikirannya juga sudah jauh lebih tenang. Dia tidak mau di pusingkan dengan asal usulnya yang sangat memalukan untuk di ketahui orang lain.


Sudah 3 jam sejam Kenzo pergi, Jeje mencoba untuk menghubungi ponsel suaminya, namun ponselnya tidak bisa di hubungi. Entah kemana perginya Kenzo.


Mungkin ada pekerjaan mendadak yang harus dia tangani.


Jeje memilih keluar apartemen untuk membeli ice cream di supermarket yang ada di depan gedung apartemen. Dia butuh sesuatu yang bisa menyegarkan pikiran dan hatinya saat ini.


Jeje mengambil jaket di kamarnya, memakainya dan menutup resleting hingga sebatas leher untuk menutupi kiss mark di dadanya.


Sampainya di supermarket, dia membeli banyak ice cream dan cemilan. Rupanya perut gadis itu juga minta di sisi setelah meluapkan emosinya pada Clara. 1 paperbag berukuran besar, terisi penuh dengan makanan.


Jeje segera kembali ke apartemen. Namun saat dia baru sampai di depan gedung yang menjulang tinggi itu, dia di bingungkan dengan banyaknya orang dan beberapa orang berseragam polisi. Mereka berjalan cepat ke arah basement.


Jeje langsung mengejar langkah mereka karna penasaran dengan apa yang yang terjadi di basement. Beberapa dari mereka bahkan terlihat panik, saling berbicara satu sama lain.


Rasa penasaran Jeje perlahan berubah, kini remaja itu terlihat ketakutan. Jantungnya berdetak kencang, sesuatu yang mengerikan muncul di benaknya.


Bagaimana tidak, dari kejauhan dia bisa melihat banyak orang sedang mengerumuni 1 mobil.


Jeje sudah bisa memastikan, ada sesuatu yang terjadi di sana.


Kedatangan ambulance membuat Jeje menjatuhkan paperbag yang ada di tangannya. Badannya seketika melemas, bahkan bergetar karna ketakutan.


Jeje tidak mau berfikir buruk, namun apa yang ada di depan matanya terus memaksa dirinya untuk berfikir buruk.


"Nggak mungkin,,," Lirihnya dengan suara bergetar.


...****...


Bwt udah pada mampir ke akun author yang satunya belum (Ratna Wullandarrie) .?


Baca juga novel author di akun itu yah.


Makasih yang udah pada mampir, jadi tambah pembaca baru lagi karna popularitasnya kembali naik. 🥰